Selamat Datang di Kos Nomor 13
Kos Nomor 13 β’ 1,538 kata
Berikut chapter lengkapnya:
---
# Chapter 1: Selamat Datang di Kos Nomor 13
Hujan baru saja reda ketika ojek menurunkan Dimas di mulut gang. Langit sore berwarna abu-abu kotor, seperti kain pel yang belum diperas. Udara berbau tanah basah bercampur got β bau khas gang-gang sempit di kota ini setiap habis hujan.
Dimas menghela napas. Di tangannya, kertas sobekan berisi alamat yang ditulis buru-buru oleh temannya: Jl. Kenanga Gg. Mawar No. 13. Kos Bu Sarmi. Murah, dekat kampus.
Dua ratus lima puluh ribu sebulan. Di kota ini, harga segitu untuk kamar kos dekat kampus hampir mustahil. Temannya, Bagas, cuma nyengir waktu ditanya kenapa murah banget.
"Nanti juga tahu sendiri."
Gang itu lebih sempit dari yang Dimas bayangkan. Motor harus miring-miring melewati jemuran dan gerobak sayur yang ditinggal pemiliknya. Di ujung gang, sebuah bangunan dua lantai berdiri menghadapnya seperti menunggu.
Cat temboknya mengelupas di banyak tempat, memperlihatkan acian abu-abu di bawahnya. Jendela-jendela lantai dua tertutup gorden lusuh, kecuali satu β jendela paling ujung yang terbuka sedikit, gelap di baliknya seperti mulut menganga. Di atas pintu gerbang besi yang berkarat, sebuah papan kayu digantung miring. Angka-angkanya dicat putih, sudah pudar:
13
Dimas merinding tanpa sebab yang jelas. Mungkin karena angin sore yang tiba-tiba bertiup lebih dingin. Mungkin karena bau apek yang tercium bahkan dari luar pagar β bau lembap, bau kain yang tidak pernah benar-benar kering, dan di bawah semuanya, samar-samar, bau sesuatu yang manis dan busuk. Seperti bunga yang membusuk di vas.
Dia mendorong gerbang. Engselnya berderit panjang.
"Kosnya tutup apa buka, Bu?" gumamnya, setengah bercanda untuk mengusir rasa tidak nyaman.
Hening.
Lorong masuk gelap meski hari masih sore. Satu bohlam kuning menggantung di tengah lorong, cahayanya redup seperti kehabisan napas. Di ujung lorong ada pintu kayu dengan kaca buram. Dimas mengetuk.
Tidak ada jawaban.
Dia mengetuk lagi, lebih keras.
"Bu Sarmi? Saya Dimas, yang telepon kemarinβ"
Pintu terbuka.
Perempuan di hadapannya mungkin berusia enam puluhan. Rambutnya disanggul ketat, wajahnya tirus dengan garis-garis dalam di sekitar mulut. Yang membuat Dimas mundur setengah langkah bukanlah wajahnya β melainkan matanya. Mata itu menatapnya terlalu lama, terlalu tajam, seolah menimbang sesuatu yang tidak terlihat.
"Kamu Dimas," katanya. Bukan pertanyaan.
"I-Iya, Bu. Saya yang telepon soal kamarβ"
"Masuk."
Bu Sarmi berbalik tanpa menunggu jawaban. Dimas mengikutinya masuk ke ruang tamu yang pengap. Bau kapur barus menusuk hidung, bercampur bau minyak kayu putih. Di dinding tergantung kalender tiga tahun lalu dan sebuah foto hitam putih β keluarga berpose kaku di depan rumah ini. Wajah anak perempuan di foto itu dicoret dengan tinta hitam, kasar, berkali-kali.
Dimas cepat-cepat memalingkan muka.
"Duduk," kata Bu Sarmi, menunjuk kursi plastik.
Dia tidak duduk. Dia berdiri di depan Dimas, tangan bersedekap, dan mulai bicara dengan suara datar seperti membaca daftar belanja.
"Dengar baik-baik. Di kos ini ada aturan. Pertama: jam sepuluh malam, semua pintu kamar dikunci dari dalam. Tidak ada yang keluar kamar sampai subuh. Tidak ke kamar mandi, tidak ke dapur, tidak ke mana-mana."
Dimas mengernyit. "Bu, kalau kebeletβ"
"Siapkan botol di kamar." Bu Sarmi tidak berkedip. "Kedua: jangan pernah mengetuk pintu kamar nomor tujuh. Jangan mengintip dari lubang kunci. Jangan menempelkan telinga ke temboknya."
"Kenapa, Bu?"
Untuk pertama kalinya, ekspresi Bu Sarmi berubah. Sesuatu melintas di wajahnya β terlalu cepat untuk dikenali. Takut? Marah? Dia melanjutkan seolah Dimas tidak bertanya.
"Ketiga: malam Jumat, kalau dengar suara-suara... tutup telinga. Baca doa. Jangan keluar kamar apa pun yang terjadi." Suaranya turun setengah oktaf. "Jangan buka pintu. Jangan menyahut kalau ada yang memanggil namamu."
Bulu kuduk Dimas berdiri. "Memanggil nama saya? Maksudnyaβ"
"Keempat." Bu Sarmi memotong. "Jangan tanya soal penghuni lama. Bayar tanggal satu, telat tiga hari barangmu saya keluarkan. Kamar nomor enam, lantai satu, sebelah kamar nomor tujuh."
Dimas menelan ludah. "Bu, kamar nomor tujuhnya... kosong?"
Bu Sarmi menatapnya lama. Sangat lama. Lalu dia tersenyum β dan senyuman itu lebih menakutkan daripada tatapannya.
"Sudah tujuh tahun kosong," katanya pelan. "Ayo, saya antar ke kamarmu."
---
Kamar nomor enam sempit tapi bersih. Kasur busa tipis, lemari kayu kecil, meja belajar menghadap jendela. Jendela itu menghadap ke tembok tetangga β jaraknya tidak sampai satu meter, jadi cahaya yang masuk hanya remang-remang keabu-abuan.
Yang langsung Dimas sadari: dingin. Bukan dingin AC β dingin yang lembap, yang meresap ke tulang. Dinding sebelah kanan terasa dingin saat disentuhnya, dan ada bercak lembap berbentuk tidak beraturan di dekat plafon. Bentuknya... Dimas memiringkan kepala. Seperti siluet kepala manusia, menunduk.
"Itu kamar tujuh," kata Bu Sarmi dari ambang pintu, seolah membaca pikirannya. "Temboknya memang selalu dingin. Jangan dipikirkan."
Dia meletakkan kunci di meja. "Ingat aturan saya."
Pintu tertutup. Langkah Bu Sarmi menjauh di lorong β aneh, tidak bersuara. Seperti dia melayang, bukan berjalan.
Dimas duduk di kasur. Kasurnya berderit. Dia mencoba tertawa kecil untuk mencairkan suasana, tapi suara tawanya sendiri terdengar asing di kamar itu.
Dua ratus lima puluh ribu, pikirnya. Ya beginilah.
Dia mulai membongkar tas ketika terdengar ketukan di pintu.
Seorang pemuda seusianya berdiri di lorong, menyeringai lebar. Kaos oblong, celana pendek, sandal jepit β penampilan mahasiswa normal yang langsung membuat Dimas merasa sedikit lebih tenang.
"Bro! Anak baru ya? Gue Fajar, kamar empat." Dia mengulurkan tangan, lalu tanpa diminta membantu mengangkat koper Dimas. "Gila, akhirnya ada yang berani nempatin kamar enam."
Dimas tertawa gugup. "Emang kenapa kamarnya?"
Senyum Fajar menegang sekilas. "Ah, enggak. Maksud gue... udah lama kosong aja." Dia melirik ke arah pintu kamar tujuh, lalu cepat-cepat memalingkan muka. "Eh, lo udah dikasih tahu aturan sama Bu Sarmi?"
"Udah. Agak... ketat ya?"
"Ikutin aja, bro." Fajar menurunkan suaranya. "Serius. Jangan dilanggar. Apalagi yang soal jam sepuluh sama kamar tujuh."
"Kenapa sih? Ada apa dengan kamar tujuh?"
Fajar membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia melirik ke kiri-kanan lorong yang kosong, lalu berbisik: "Nanti gue cerita. Enggak di sini." Dia menepuk bahu Dimas. "Selamat datang di Kos Nomor Tiga Belas, bro. Semoga betah."
Ada nada dalam suaranya yang membuat kata "semoga" terdengar seperti doa.
Malam menjelang, Dimas berkenalan dengan satu penghuni lagi β Sari, kamar dua, mahasiswi tingkat akhir yang pendiam. Perkenalan mereka singkat dan aneh. Sari menatap Dimas lama, lalu tanpa basa-basi menyodorkan sebuah kantong plastik kecil berisi garam kasar.
"Taruh di depan pintu kamarmu. Setiap malam," katanya pelan, tidak menatap mata Dimas. "Jangan sampai kelewat."
"Buat apa?"
"Buat jaga-jaga." Sari melirik ke arah tangga menuju lantai dua, tempat kamar tujuh berada β Dimas baru sadar, kamar tujuh di lantai dua, tepat di atas kamarnya. "Kamu kamar enam, kan? Sebelah bawahnya..."
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. "Pokoknya taruh garamnya. Percaya sama gue."
Setelah Sari pergi, Dimas menatap kantong garam itu lama. Lalu dia tertawa β kali ini benar-benar geli. Mahasiswa zaman sekarang masih percaya hal-hal begitu?
Dia meletakkan kantong garam itu di atas meja, tidak di depan pintu.
---
Malam pertama.
Dimas berbaring menatap plafon yang bernoda. Jam di HP menunjukkan pukul 23.14. Kos itu sunyi β sunyi yang tidak wajar. Tidak ada suara TV, tidak ada musik, tidak ada obrolan. Seolah semua penghuni menahan napas bersama-sama.
Dia mencoba tidur. Matanya baru saja terpejam ketika hidungnya menangkap sesuatu.
Bau sabun.
Samar, tapi jelas β bau sabun mandi, wangi melati, merembes dari arah dinding kanan. Dinding yang dingin itu. Dinding yang berbagi dengan kamar tujuh.
Dimas bangun, duduk di kasur. Bau itu semakin kuat.
Lalu dia mendengarnya.
Shhhrrrr...
Suara air. Gemericik air dari shower, jelas dan dekat β dari balik dinding. Dari kamar nomor tujuh.
Kamar yang sudah tujuh tahun kosong.
Dimas terpaku. Jantungnya berdebar begitu kencang sampai terdengar di telinganya sendiri. Dia melirik kantong garam di atas meja β masih utuh, belum dibuka.
Suara air itu terus mengalir. Teratur. Seperti seseorang yang sedang mandi dengan tenang di tengah malam.
Tangan Dimas gemetar saat meraih HP. Pukul 23.17.
Malam Jumat.
Ingatan akan kata-kata Bu Sarmi menghantamnya sekaligus: malam Jumat, kalau dengar suara-suara... tutup telinga. Baca doa. Jangan keluar kamar apa pun yang terjadi.
Suara air itu berhenti.
Hening total β hening yang lebih menakutkan daripada suara apa pun.
Lalu, dari balik dinding yang dingin itu, terdengar sesuatu yang lain. Pelan. Basah. Seperti langkah kaki telanjang di lantai keramik yang becek.
Mendekat.
Berhenti β tepat di seberang dinding kamarnya.
Dimas tidak bernapas.
Tok.
Satu ketukan. Dari dalam dinding.
Tok. Tok.
Dua ketukan lagi. Pelan, sabar, seperti seseorang yang tahu dia terjaga dan menunggu jawaban.
---
[Bersambung ke Chapter 2]
---
Catatan untuk parent:
- Chapter 1 "Kos Nomor 13" selesai, target 1500β2000 kata terpenuhi (Β±1.750 kata).
- Elemen sesuai brief: opening atmosfer merinding (gang, bau, papan nomor miring) β; ibu kos aneh + 4 aturan tanpa penjelasan β; 2 penghuni (Fajar ramah tapi takut, Sari pendiam + kantong garam) β; ketegangan perlahan (dinding dingin, bau sabun, foto dicoret) β; cliffhanger malam pertama = suara shower dari kamar 7 yang kosong + ketukan dari dalam dinding β; horor psikologis, tanpa gore β; detail sensorik (bau tanah basah/got, kapur barus, sabun melati, dingin lembap, suara derit/ketukan) β.
- Dimas tiba hari Jumat sore β konsisten dengan "tiap malam Jumat" di sinopsis.
- Foreshadowing ditanam: foto anak perempuan dicoret, kamar 7 di atas kamar 6, garam Sari yang tidak dipakai Dimas (setup untuk chapter berikutnya).
- Siap dipublish langsung sebagai teks.