β€Ή
57. Cerita yang Tak Pernah Selesai

Cerita yang Tak Pernah Selesai

Kos Nomor 13 β€’ 1,290 kata

Ilustrasi Cerita yang Tak Pernah Selesai

Api lampu itu membiru β€” dan dingin merambat naik dari lantai tanah ke tulang kering saya.

Saya menatap sosok kecil itu. Mulutnya masih terbuka sedikit, tapi suara Ibu Lastri sudah hilang, menyisakan dengung tipis di telinga saya seperti gema di dalam tempurung. "Jaga dia." Dua kata. Titipan tiga puluh tahun. Janji yang saya ucapkan tanpa tahu kepada siapa saya berjanji β€” dan ternyata janji itu punya alamat.

"Kenapa..." Suara saya serak. "Kenapa Nenek titip itu ke saya?"

Sosok kecil itu sudah kembali menjadi dirinya β€” suara anak kecil yang lelah. Ia mengangkat bahu kecilnya. "Karena Abang yang datang, Bang. Nenek bilang, yang datang itu yang dipilih. Yang dipilih itu yang janji."

"Tapi saya nggak kenal Nenek. Saya pindah ke kos ini dua bulan lalu. Saya nggakβ€”"

"Abang dengerin dongeng saya," potongnya lembut. "Lima malam. Dari depan pintu. Nggak ada yang nyuruh. Abang cuma... denger Abang lapar, terus Abang kasih makan." Ia tersenyum. "Nenek juga gitu dulu, Bang. Nggak ada yang nyuruh dia duduk di bibir sumur tiap malam. Dia cuma denger saya sepi, terus dia cerita."

Saya terdiam. Di atas sana, Ustadz pernah bilang: janji adalah satu-satunya mata uang di bawah sana. Sekarang saya paham kursnya: didengarkan. Ditemani. Diceritakan.

"Bang," kata sosok kecil itu, "Abang mau nolong saya?"

"Caranya?"

"Selesaiin cerita Nenek." Ia menatap saya β€” mata saya sendiri, memohon. "Cerita tentang saya. Yang berhenti di tengah jalan."

Saya menggeleng pelan. "Saya nggak tahu ceritanya. Saya nggak pernah denger."

"Abang tahu awalnya." Ia menepuk tanah. "Dengerin."

Dan sosok kecil itu mulai bercerita β€” tapi bukan dengan suaranya sendiri. Suaranya berubah, menjadi lebih tua, lebih berat, menirukan irama seorang perempuan yang bercerita setiap malam selama tiga puluh tahun.

"Alkisah," katanya β€” dan bulu kuduk saya meremang karena saya seperti mendengar Ibu Lastri sendiri, "ada seorang anak yang tinggal di tempat yang tidak punya pagi. Ia tidak ingat bagaimana ia sampai di sana. Yang ia ingat hanya satu: suara. Suara seorang nenek yang turun dari atas, seperti tali. Nenek itu berkata: selama kamu mendengar suaraku, kamu tidak sendirian. Dan anak itu percaya. Tiga puluh tahun ia percaya."

Sosok kecil itu berhenti. Napasnya pendek-pendek.

"Terus Nenek bilang," lanjutnya dengan suaranya sendiri yang kecil, "'Nak, Nenek mau cerita tentang kamu. Tentang kamu yang sebenarnya. Dulu, sebelum sumur ini, kamuβ€”'"

"Terus?" bisik saya.

"Nggak ada terusnya, Bang." Ia menunduk. "Sampai situ doang. Malam itu juga suaranya berhenti. Kayak orang ketiduran di tengah kalimat." Ia mengangkat tangannya yang kecil. "Saya ingat potongan-potongannya doang: anak itu suka menggambar pakai crayon merah. Anak itu manggil setiap pendatang 'Abang'. Anak itu takut gelap total β€” takut sama gelap yang nggak punya suara."

"Terus?" tanya saya.

"Nggak ada terusnya, Bang." Ia menunduk. "Sampai situ doang yang saya inget. Nenek nggak sempat nyeritain akhirnya. Saya nggak tahu saya siapa. Saya nggak tahu kenapa saya di sini. Saya cuma..." Ia mengangkat tangannya yang kecil, menatap merah di bawah kukunya. "Saya cuma nunggu ada yang nyelesaiin."

Beban itu jatuh di pundak saya seperti karung basah. Di bawah sini β€” saya melirik gambar-gambar crayon di dinding, dongeng-dongeng saya yang diilustrasikan dengan teliti β€” cerita yang selesai menjadi dinding. Menjadi nyata. Menjadi tempat tinggal. Akhir yang saya pilih untuk cerita ini akan menjadi nasibnya. Menjadi... dia.

Saya teringat kata-kata Ustadz di ambang pintu tadi pagi β€” rasanya sudah bertahun-tahun lalu, padahal baru satu jam. "Kalau lampu itu padam saat ia bermimpi, ia akan bangun dalam gelap total. Dan yang bangun dalam gelap total akan mencari cahaya β€” dengan wajah yang sudah dipelajarinya sampai sempurna." Wajah saya. Wajah yang kini duduk di depan saya, memohon, dengan merah di bawah kukunya. Kalau saya gagal β€” kalau cerita ini tidak selesai sebelum minyak habis β€” yang naik dari sumur ini bukan anak kecil yang lelah. Melainkan lapar yang memakai wajah saya, berjalan di koridor kos nomor 13, mengetuk pintu kamar satu per satu dengan suara saya. Menyebut nama Bu Sarmi. Nama Fajar. Nama Sari. Nama Rizky.

"Kalau saya salah?" bisik saya. "Kalau akhir yang saya kasih... menyakitkan?"

Sosok kecil itu berpikir β€” kening kecilnya berkerut persis seperti kening saya waktu berpikir. Saya menatapnya β€” dan untuk sesaat saya melihat diri saya umur tujuh tahun, duduk di lantai rumah ibu, menunggu dongeng sebelum tidur yang tidak pernah datang karena ibu lembur. "Nenek pernah bilang," katanya akhirnya, "cerita yang bagus bukan yang bener, Bang." Ia menatap saya. "Tapi yang berani selesai."

Api lampu berdenyut. Birunya memudar kembali menjadi kuning β€” tapi lebih kecil sekarang. Jauh lebih kecil. Saya baru sadar napas saya memburu.

"Minyaknya," kata saya.

"Menipis." Sosok kecil itu mengangguk, tenang dengan cara yang mengerikan. "Dongeng Abang nahan tiga malam, kata Pak Ustadz. Tapi dongeng yang diulang bukan dongeng baru." Ia menatap api yang menciut. "Di bawah sini, yang baru cuma satu, Bang: akhir."

Lalu saya mendengarnya.

Samar β€” dari jauh di atas, memantul turun lewat tangga batu: suara memanggil nama saya.

"Mas Dimas!"

Fajar.

Langkah-langkah tergesa di anak tangga. Suara Bu Sarmi, panik, memanggil nama saya disusul isak. Sari memanggil-manggil dengan suara melengking. Mereka turun. Mereka mencemaskan saya dan mereka turun ke sini β€” ke tempat yang seharusnya tidak ada.

Saya bisa mendengar mereka sekarang dengan jelas β€” derap sepatu Fajar yang terburu-buru, suara sendal Bu Sarmi yang terseret, Sari yang memanggil "Mas Dimas!" dengan nada meninggi di setiap pengulangan. Dan di antara suara-suara itu, suara Ustadz yang berat menyebut nama saya, diselingi komat-kamit doa. Mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu bahwa setiap langkah mereka ke bawah adalah undangan. Bahwa di bawah sini, suara adalah alamat β€” dan alamat yang terdengar akan didatangi.

Tubuh saya bergerak sendiri β€” saya membuka mulut untuk menjawab, untuk berteriak jangan turun β€”

Tangan kecil yang dingin membekap mulut saya.

"Jangan, Bang." Wajah masa kecil saya kini sejengkal dari wajah saya β€” dan untuk pertama kalinya, senyum itu hilang. Yang tersisa bukan anak kecil yang lelah. Yang tersisa adalah lapar yang sudah menunggu tiga puluh tahun, menatap saya dari balik mata saya sendiri. "Kalau Abang jawab, suaranya ikut turun. Dan yang ikut turun..." Ia melirik ke arah tangga yang gelap. ""Nggak naik lagi, Bang."

Tangan kecil itu menekan lebih keras. Saya mencium bau tanah dari telapaknya β€” bau yang sama dengan dinding sumur ini. Dari dekat, saya melihat wajah saya sendiri tanpa senyum untuk pertama kalinya: poni berantakan itu, pipi bulat itu β€” dan di baliknya, sesuatu yang tua. Sesuatu yang sudah menunggu sebelum saya lahir. "Saya nggak mau mereka turun, Bang," bisiknya β€” dan suaranya bergetar, antara anak kecil dan sesuatu yang jauh lebih tua. "Kalau mereka turun, saya nggak bisa nahan. Lapar saya... lapar saya lebih tua dari saya, Bang.""

Langkah-langkah itu semakin dekat. "Mas Dimas! Mas di mana?!"

Bel kecil di leher saya β€” bel yang Sari kalungkan pagi tadi, "biar Ibu Lastri tahu Mas nggak sendirian" β€” bergetar pelan. Dingin. Getarannya merambat ke tulang leher saya seperti peringatan dalam bahasa yang tidak saya mengerti, tapi tubuh saya mengerti: jangan bergerak, jangan bersuara, jangan... jawab.

Api lampu kini tinggal sebesar biji beras. Bayangan kami menari-nari di dinding, besar dan goyah, di antara gambar-gambar crayon yang seolah ikut menoleh ke arah tangga.

Sosok kecil itu berbisik β€” cepat, putus asa, tidak lagi tenang:

"Cepetan, Bang. Selesaiin cerita saya... sebelum lampunya yang selesai duluan."

Saya menatap api yang sekarat. Saya menatap tangga yang bergema langkah. Saya menatap wajah saya sendiri yang menunggu β€” lapar dan lelah dan berharap, sekaligus.

Dan saya membuka mulut untuk bercerita.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!