‹
30. Jangan Tidur, Jangan Menjawab

Jangan Tidur, Jangan Menjawab

Kos Nomor 13 • 1,227 kata

Ilustrasi Jangan Tidur, Jangan Menjawab

“Jangan disentuh,” kata Bu Sarmi.

Kami berempat berdiri berdesakan di ambang pintu kamar nomor tujuh, menatap bantal saya. Sepasang sandal jepit kecil itu berjejer rapi di sana, basah, menghadap ke arah kami. Di layar HP Sari — dia sempat memotretnya, dengan tangan gemetar — bantal itu kosong. Hanya bantal. Tidak ada sandal sama sekali.

“Hapus,” bisik Fajar. “Hapus fotonya, Sar.”

Sari menghapusnya tanpa berkedip. “Saya nggak mau tahu kenapa cuma saya yang bisa lihat.”

Saya bisa melihatnya. Saya satu-satunya yang bisa melihatnya — di foto maupun aslinya. Pikiran itu membuat perut saya mual. Sepasang sandal itu ada di sana untuk saya. Hanya untuk saya.

“Kita kunci kamar ini,” kata Sari. “Malam ini kita di ruang tamu. Semua. Tidak ada yang masuk ke kamar masing-masing.”

“Kuncinya?” tanya saya.

Bu Sarmi menggeleng. “Kamar nomor tujuh tidak pernah bisa dikunci. Dari dulu. Gemboknya selalu—” Dia tidak menyelesaikan. Dia tidak perlu.

Kami menutup pintu kamar saya — pelan, seperti menutup pintu kamar orang sakit — dan kembali ke ruang tamu yang terang benderang. Dua lampu sorot tambahan menyala. Lampu ruang tamu menyala. Lampu dapur menyala. Lampu teras menyala. Kos kami malam ini seperti kapal yang menyalakan semua lampunya agar tidak ditabrak kegelapan.

Jam delapan malam. TV menyala keras — sinetron yang tidak ada satu pun dari kami yang menonton. Termos kopi mengepul di atas meja. Kartu remi tergeletak, tidak tersentuh. Kami duduk melingkar di atas kasur lipat, empat orang yang berpura-pura mengobrol.

“Eh, inget nggak,” kata Fajar, tertawa dengan suara yang terlalu keras, “waktu Paijo—” Dia berhenti. Tawa itu mati di tengah jalan, seperti tersedak.

Tidak ada yang melanjutkan. Nama Paijo menggantung di udara, lalu jatuh dan pecah.

“Main kartu saja,” kata Sari cepat. “Cangkulan. Yang kalah—”

“Yang kalah bikin kopi,” sambung saya.

Kami main. Tangan-tangan kami bergerak otomatis. Saya kalah dua kali berturut-turut dan tidak peduli. Setiap beberapa menit, salah satu dari kami melirik ke arah koridor — ke arah pintu kamar nomor tujuh yang tertutup — lalu cepat-cepat membuang muka.

Di tengah permainan, Bu Sarmi bersenandung pelan. Nada yang sama — lagu anak-anak itu. Kami bertiga membeku. Bu Sarmi berhenti, wajahnya pucat. “Maaf,” bisiknya. “Saya nggak sadar. Lagu itu sudah tiga puluh tahun nempel di kepala saya. Kadang keluar sendiri.” Tidak ada yang berkomentar. Sari membagikan kartu baru dengan tangan gemetar.

Jam sepuluh. Dari arah belakang kos, samar-samar, terdengar nyanyian itu.

Pelan. Jauh. Riang. Lagu anak-anak yang diajarkan Lasmi kepada Bu Sarmi tiga puluh tahun lalu, kini dinyanyikan kembali oleh tenggorokannya yang sudah lama berhenti bernapas.

Bu Sarmi memutar volume TV sampai maksimal. Tetangga pasti mengumpat, tapi tidak ada dari kami yang peduli. Nyanyian itu menembus suara TV seperti jarum menembus kain.

“Dari sumur,” bisik Sari. “Masih jauh.”

Kami tahu polanya dari cerita-cerita sebelumnya: sumur, lalu kebun pisang, lalu atap. Semakin dekat. Semakin riang.

Jam sebelas. Nyanyian itu kini terdengar dari kebun pisang — lebih dekat, lebih jelas. Saya bisa mendengar jeda-jedanya, seperti anak kecil yang bernyanyi sambil melompat-lompat. Lampu sorot di ruang tamu berkedip sekali. Kami semua menahan napas. Lampu itu stabil kembali.

“Kopi,” kata Fajar tiba-tiba, berdiri. “Gue bikin lagi.” Tangannya gemetar saat menuang air panas. Setengah tumpah ke meja.

“Biar saya,” kata Bu Sarmi, mengambil alih dengan lembut.

Di bawah meja, saya melirik kaki saya. Kaus kaki saya — yang tadi sore sempat mengering — kini lembap lagi. Saya tidak menginjak apa-apa. Lantai ruang tamu kering. Tapi kaus kaki saya basah, seolah kaki saya berkeringat air sumur.

“Kaki kalian?” tanya saya pelan.

Sari mengangguk. Fajar mengangguk. Bu Sarmi tidak menjawab — dia hanya menatap kakinya sendiri, lalu memejamkan mata.

Tengah malam. Nyanyian itu berhenti.

Keheningan yang menggantikannya lebih buruk. Di TV, sinetron sudah berganti berita malam. Tidak ada dari kami yang berani mengecilkan volumenya — suara TV kini satu-satunya bukti bahwa dunia normal masih ada di luar sana.

Lalu, dari atap — krek. Genteng berderit, seperti ada yang berjalan di atasnya dengan kaki kecil. Satu. Dua. Berhenti. Tepat di atas ruang tamu.

Kami berempat menatap langit-langit.

Krek. Krek. Berjalan lagi. Melambat. Berhenti lagi — tepat di atas kepala saya.

Satu tetes air jatuh dari celah plafon. Tepat ke dahi saya. Dingin. Berbau lumpur.

Saya menghapusnya dengan punggung tangan. Tangan saya gemetar hebat sampai Sari harus memeganginya.

“Dimas,” bisiknya. “Lihat saya. Jangan lihat atas. Lihat saya.”

Saya menatapnya. Di pergelangan tangannya — bekas basah yang kemarin dia tunjukkan kepada saya, tempat dia mencengkeram lengan saya saat menahan saya dari kantong plastik Lasmi — kini menggelap. Seperti memar berbentuk jari-jari kecil.

“Masih dingin?” tanya saya.

“Makin ke dalam,” bisiknya. “Rasanya sampai ke tulang sekarang.”

Jam satu pagi. Salah satu lampu sorot mati dengan bunyi pletik — bohlamnya pecah, kacanya berserakan di lantai. Tidak ada yang berani memungutnya. Ruang tamu sedikit meredup, dan kegelapan di sudut-sudut tampak mengental, seperti menunggu giliran.

“Ganti bohlamnya?” tanya Fajar, suaranya kecil.

“Jangan,” kata Bu Sarmi cepat. “Jangan ada yang jalan sendirian. Ke mana pun — berdua.”

Kami mengganti bohlam itu beramai-ramai, seperti iring-iringan pengantin yang takut. Lampu menyala lagi. Kami menghela napas bersamaan.

Jam dua pagi. Nyanyian berhenti total — bahkan gema jauhnya hilang. TV masih menyala, tapi suara berita malam terdengar seperti berasal dari planet lain.

Lalu, dari luar jendela ruang tamu — dekat, sangat dekat, seperti bibir menempel di kaca — suara itu memanggil:

“Bang Dimas...”

Darah saya berhenti mengalir. Saya menatap lantai. Jangan menjawab. Jangan menjawab. Jangan—

“Bang...” Suara itu — periang, manis, seperti adik kecil yang merindukan kakaknya. “Bang Dimas... keluar, Bang...”

Sari mencengkeram tangan saya. Kukunya menancap. Saya tidak merasakan sakit. Saya hanya menatap lantai, menghitung ubin, satu, dua, tiga—

“Mbak Sari...”

Sari tersentak. Wajahnya memutih.

“Mas Fajar...”

Fajar menutup telinganya dengan kedua tangan, menggeleng-geleng seperti anak kecil.

Bu Sarmi mulai merapal doa dengan suara bergetar. Saya tidak tahu doa apa — saya hanya mendengar bisikannya yang putus-putus, seperti orang mendayung di tengah badai.

“Bang...” Suara itu kini berubah. Lebih tua. Lapisan tuanya naik, seperti minyak di atas air. “Bang Dimas... cobain... satu...”

Bau pisang goreng merembes dari bawah pintu depan. Hangat. Manis. Manusiawi. Perut saya — yang seharian tidak diisi apa-apa — berbunyi keras. Saya menggigit bibir sampai berdarah.

Jangan ambil apa pun darinya. Jangan jawab. Jangan tidur.

Jam tiga pagi. Suara itu berhenti. Keheningan lagi. Lalu — dari koridor — bunyi langkah.

Kecil. Basah. Plok... srek... plok... srek... Satu kaki bersandal, satu kaki telanjang. Mendekat. Berhenti di depan pintu ruang tamu.

Bayangan muncul di bawah celah pintu. Dua kaki kecil. Satu bersandal. Satu tidak.

Gagang pintu bergerak. Pelan. Krek...

“Fajar, jangan!”

Tapi Fajar sudah berdiri. Matanya kosong, setengah terpejam — dia hampir tertidur, atau sudah tertidur sambil berdiri. Dia berjalan ke arah pintu seperti orang kena hipnotis, tangannya terulur ke gagang pintu.

“Dia manggil nama ibu gue...” gumamnya. “Ibu gue manggil...”

Saya melompat dan menubruknya. Kami berdua jatuh ke lantai, dan Sari langsung menindih kaki Fajar. Fajar meronta, menangis seperti anak kecil. “Lepasin! Ibu! Ibu!”

“Itu bukan ibumu, Fajar!” Sari mengguncang bahunya. “Itu bukan siapa-siapa! Dengar saya!”

Di luar pintu, suara periang itu tertawa kecil. Tawa anak perempuan yang senang.

Lalu gagang pintu itu — yang tidak satu pun dari kami menyentuhnya — berputar sendiri. Pelan. Pasti. Seperti diputar oleh tangan yang sabar.

Pintu terbuka, selebar dua jari.

Udara dingin menyelinap masuk, membawa bau lumpur dan minyak goreng. Dan di celah itu, setinggi lantai — tangan kecil yang basah menyelinap masuk, mendorong sesuatu ke dalam ruangan.

Sepasang sandal jepit kecil. Basah. Berjejer rapi.

Tangan itu mendorongnya pelan ke arah saya. Berhenti tepat di depan kaki saya.

Dan dari celah pintu, suara periang itu — dekat, sangat dekat, seperti berbisik tepat di telinga saya — berkata:

“Bang... sandalnya muat nggak? Cobain, Bang.”

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!