Malam Ini Saja
Kos Nomor 13 β’ 1,823 kata
"Siapa yang mau turun duluan?"
Tidak ada yang menjawab. Tidak ada yang BISA menjawab. Kami bertiga berdiri membeku di lantai dapur yang basah, sementara suara itu β suara Lasmi, periang, seperti tersenyum β menunggu dengan sabar dari bawah lantai.
Bu Sarmi yang pertama bergerak. Dengan kecepatan yang mengejutkan untuk perempuan seusianya, ia meraih gayung di ember dapur dan menyiramkan air ke lantai β bukan air sumur, air keran biasa β sambil berteriak, "PERGI! DIA BUKAN MILIKMU! MEREKA BUKAN LASMI!"
Hening.
Tes... tes... tes... β berhenti.
Suara nyanyian itu berhenti. Keheningan yang tertinggal terasa seperti luka.
Sari jatuh terduduk, menangis tanpa suara. Fajar memegangi kepalanya. Aku berdiri dengan kaki gemetar, menatap lantai dapur yang sekarang basah oleh dua jenis air.
"Bu," kataku, suaraku parau, "apa yang barusan Ibu lakuin?"
Bu Sarmi terengah-engah, gayung masih di tangannya. "Air yang mengalir... air hidup... dia nggak suka. Dia cuma suka air yang diam. Air yang menunggu." Ia menatapku dengan mata merah. "Mas Dimas, kita harus bicara. Sekarang. Semuanya. Ibu udah nggak bisa sembunyi lagi."
Kami pindah ke ruang tamu. Bu Sarmi mengunci semua pintu dan jendela β tindakan yang terasa sia-sia tapi tetap kami butuhkan. Ia menyalakan semua lampu. Terang. Kami butuh terang.
"Catatan kakek Ibu terputus," kataku, meletakkan buku itu di meja. Buku itu sudah kering lagi β halamannya kembali kosong, tulisan Lasmi hilang seperti tidak pernah ada. "Kalimat terakhirnya: 'DAN YANG PALING PENTING β ' Terus apa, Bu? Ibu tahu?"
Bu Sarmi diam lama. Kemudian ia bangkit, berjalan ke kamarnya, dan kembali dengan buku catatannya sendiri β buku yang tadi ia pakai menulis untukku. Ia membukanya di halaman terakhir dan mendorongnya ke arahku.
Di situ, dengan tulisan tangannya yang gemetar, tertulis:
Dan yang paling penting: JANGAN KASIH DIA NAMA. Sekali dia tahu namamu, dia bisa manggil. Sekali dia bisa manggil, kamu akan jawab. Semua orang selalu jawab, pada akhirnya. Kakek tahu ini. Lasmi tidak.
"Dia tahu nama aku," bisikku. "Tadi... di gudang. Dia manggil nama aku."
"Karena Ibu yang kasih tahu," kata Bu Sarmi pelan. "Waktu Ibu tulis cerita ini buat kamu... waktu Ibu sebut-sebut nama kamu di dekat sumur... Ibu ceroboh. Ibu tua dan ceroboh. Maafkan Ibu, Mas."
Aku ingin marah. Tapi melihat perempuan tua ini β bahunya merosot, tangannya gemetar β amarahku bocor seperti air dari ember retak. Ia bukan jahat. Ia hanya... lelah. Tiga puluh tahun mendengarkan tetesan sendirian akan membuat siapa pun ceroboh.
"Bu," kata Fajar, "waktu Ibu bilang kos ini butuh orang di kamar tujuh 'supaya tetesannya punya yang didengerin' β itu beneran? Atau... Ibu kasih kami ke dia?"
Bu Sarmi menatap Fajar, lalu menunduk. "Dua-duanya, Nak. Ibu nggak akan bohong lagi. Waktu kos ini kosong, tetesannya datang ke Ibu. Setiap malam. Di bawah tempat tidur Ibu. Di dalam dinding kamar Ibu. Ibu mimpi tenggelam, setiap malam, tiga puluh tahun. Kaki Ibu basah setiap pagi. Ibu pikir Ibu akan gila. Lalu..." ia menarik napas, "lalu Ibu ingat kata kakek. Jangan kasih dia nama. Tapi kakek nggak pernah bilang... kakek nggak pernah bilang kalau dia juga butuh didengerin. Kayak... kayak anak kecil yang nangis. Kalau ada yang dengerin, dia tenang. Kalau nggak ada... dia nyari."
"Jadi Ibu sebar anak kos," kata Sari dingin. "Buat jadi... apa? Penenang? Tumbal bergilir?"
"Bukan tumbal!" Bu Sarmi menatap Sari dengan mata berkaca. "Nggak ada yang mati! Lihat kalian β kalian masih hidup! Lasmi... Lasmi beda. Lasmi yang nyamperin. Lasmi yang buka tutupnya. Lasmi yang nunduk. Selama nggak ada yang buka sumurnya, selama nggak ada yang jawab panggilannya, dia cuma... nunggu. Cuma manggil. Itu aja. Dan kalau ada yang nempatin kamar tujuh, panggilannya fokus ke situ. Nggak nyebar. Nggak ke Ibu. Nggak ke anak kos lain."
Ruangan itu sunyi. Aku memproses kata-katanya. "Jadi selama ini... aku yang nahan dia? Aku yang jadi... peredam?"
Bu Sarmi mengangguk pelan. "Dan Ibu berterima kasih, Mas. Ibu tahu itu jahat. Tapi Ibu udah tua. Ibu cuma pengen tidur tanpa mimpi tenggelam, sekali aja sebelum mati."
Aku berdiri dan berjalan ke jendela. Di luar, hujan sudah berhenti total. Bulan separuh menggantung pucat. Dari sini aku bisa melihat atap gudang β dan di baliknya, samar, bibir sumur tua.
"Ibu bilang jangan jawab panggilannya," kataku. "Tapi Lasmi jawab. Paijo jawab. Kakek... kakek kayaknya juga, akhirnya. Apa yang terjadi kalau jawab?"
Bu Sarmi tidak menjawab. Tapi Sari yang menjawab, suaranya kecil: "Lasmi nunduk ke sumur. Paijo berdiri di dasar galian. Kakek..." Ia menatap buku catatan tua itu. "Kakek jalan keluar kamar dengan kaki basah. Ke mana? Ke sumur, kan?"
Tidak ada yang membantah.
"Jadi aturannya sederhana," kata Fajar, mencoba terdengar rasional. "Jangan buka sumurnya. Jangan jawab kalau dipanggil. Terus kita aman. Kan?"
"Selama ini aman," kata Bu Sarmi. "Tiga puluh tahun, nggak ada yang mati. Anak-anak kos datang dan pergi, denger tetesan, mimpi buruk sesekali, terus pindah. Nggak ada yang... kayak Lasmi. Karena nggak ada yang sebodoh Lasmi, buka tutupnya."
"Tapi sekarang dia tahu nama aku," kataku. "Apa artinya? Apa yang berubah?"
Bu Sarmi menatapku. Dan di matanya aku melihat sesuatu yang membuat darahku dingin: kasihan.
"Mas Dimas," katanya pelan, "Ibu mau tanya. Dua minggu kamu di kamar tujuh. Pernah... kepikiran buat nengok sumur itu? Malam-malam? Pernah kepikiran, 'pengen lihat aja, sebentar, apa sih isinya'?"
Aku membuka mulut untuk menyangkal β dan berhenti.
Karena jawabannya: ya. Pernah. Sering, malah. Setiap malam, setelah tetesan itu mulai, ada pikiran kecil yang menyelinap: lihat aja. Sebentar. Buka tutupnya sedikit. Intip. Apa sih susahnya?
Aku selalu menganggap itu rasa penasaranku sendiri. Rasa penasaran yang normal.
Sekarang aku tidak yakin itu pikiranku.
"Kamu udah mulai jawab, Mas," bisik Bu Sarmi. "Bukan dengan mulut. Dengan pikiran. Dia nggak butuh kamu ngomong. Dia butuh kamu MAU. Sekali kamu mau... tinggal selangkah lagi."
Fajar berdiri. "Udah. Cukup. Kita pergi. Malam ini juga. Kita bertiga cabut dari kos ini, sekarang juga. Cari kos lain besok. Selesai."
"Tidak sesederhana itu," kata Bu Sarmi.
"Kenapa nggak?"
"Karena dia udah tahu nama kalian. Bukan cuma Mas Dimas." Bu Sarmi menatap Sari, lalu Fajar. "Tadi di gudang, dia manggil... siapa? Coba ingat."
Kami bertiga saling pandang. Di gudang tadi, suara itu berkata: "Di-mas... Di-mas..."
Hanya namaku.
"Tapi kaki kalian bertiga basah," lanjut Bu Sarmi. "Artinya dia udah... nyentuh kalian. Udah nandain. Kalau kalian pergi, dia ikut. Dia selalu ikut. Paijo dibawa pulang ke kampungnya β dia tetap denger tetesan sampai mati. Mbak Ratna pindah kos β dia tetap mimpi tenggelam, sampai sekarang, katanya. Sekali ditandai, nggak ada pergi yang cukup jauh."
Sari mulai menangis lagi, kali ini bersuara. Fajar memeluknya, tapi tangannya sendiri gemetar.
"Terus kita harus apa, Bu?" tanyaku. "Kalau pergi nggak bisa, bertahan... bertahan jadi apa? Nunggu sampai salah satu dari kami 'mau'?"
Bu Sarmi diam. Lama. Kemudian ia berkata, sangat pelan, "Ada satu cara. Kakek nggak sempat nulis. Tapi Ibu... Ibu nebak. Dari semua yang Ibu lihat selama ini."
"Apa?"
"Kasih dia yang dia mau. Bukan orang. Tapi..." Ia menatap buku catatan kakeknya. "Waktu kakek gali, dia bilang tetesannya makin keras semakin dalam digali. Kayak sesuatu memanggil TURUN. Kayak sesuatu mau NAIK tapi nggak bisa. Mungkin... mungkin dia kejebak. Mungkin yang dia mau cuma... keluar. Atau... pulang."
"Maksud Ibu?"
"Sumur itu digali BUKAN di atas mata air. Nggak ada air di bawah sana, secara logika. Tapi airnya ada. Airnya naik sendiri. Dari mana?" Bu Sarmi mencondongkan tubuh. "Bagaimana kalau... di bawah sana bukan air? Bagaimana kalau yang kita lihat sebagai 'air hitam' itu... dia? Tubuhnya? Dan tetesan itu... dia mengetuk? Minta dibukain jalan?"
"Bu, itu nggak masuk akal β "
"APAPUN DI SINI NGGAK MASUK AKAL, MAS!" Bu Sarmi berdiri, suaranya pecah. "Kakek Ibu gali 34 meter dan nemu air tanpa mata air! Lasmi hilang dan sandalnya cuma satu! Kamu dengar orang nyanyi dari dalam sumur yang udah ketutup tiga puluh tahun! Kita udah lewat batas masuk akal dari tadi!"
Hening. Ia benar.
"Jadi rencananya apa?" tanya Fajar pelan. "Buka sumurnya? Setelah semua peringatan JANGAN buka?"
"Bukan buka," kata Bu Sarmi. "Tutup. Permanen. Bukan tutup kayu kayak sekarang β itu cuma... penutup. Maksud Ibu: COR. Tutup pakai semen, beton, total. Kubur. Kayak ngubur orang mati. Mungkin kalau dia nggak bisa 'napas' lagi lewat celah tutup kayu itu, tetesannya berhenti. Mungkin dia... tidur lagi."
"Atau mungkin dia marah," kata Sari lirih.
"Atau itu," akui Bu Sarmi. "Ibu nggak tahu. Ibu cuma... Ibu udah tua, Nak. Ibu nggak kuat lagi. Kalau kalian mau pergi, pergi aja β Ibu nggak akan tahan. Tapi kalau kalian mau coba... Ibu bantu. Semen, pasir, semua ada di gudang. Kakek dulu nyimpen material buat nutup galian, nggak pernah kepakai."
Aku menatap kedua temanku. Fajar menatapku. Sari menghapus air matanya.
"Kita voting?" tanya Fajar lemah, mencoba bercanda. Tidak ada yang tertawa.
Aku memikirkan kamar nomor 7. Kasurku. Dua minggu aku tidur di sana, mendengarkan tetesan, mengira itu pipa. Aku memikirkan Lasmi β gadis periang berumur sembilan belas tahun yang suka bagi-bagi gorengan, yang tulisannya melengkung seperti tersenyum, yang menunduk ke dalam sumur sambil ketawa lega karena akhirnya ketemu yang dicari seumur hidup.
Aku memikirkan pikiran kecil yang menyelinap setiap malam: lihat aja. Sebentar. Apa sih susahnya?
"Kita cor," kataku akhirnya. "Besok pagi. Siang bolong. Ramai-ramai. Jangan malam."
"Setuju," kata Fajar cepat.
"Setuju," bisik Sari.
Bu Sarmi mengangguk, matanya berkaca. "Makasih, Nak. Makasih."
Malam itu kami tidur β atau mencoba tidur β di ruang tamu, berlima... berempat, dengan semua lampu menyala. Bu Sarmi, Fajar, Sari, dan aku. Tidak ada yang berani ke kamarnya masing-masing. Tidak ada yang berani sendirian.
Aku terbangun jam 3 pagi. Bukan karena mimpi. Karena sunyi.
Tetesannya berhenti.
Untuk pertama kalinya dalam dua minggu, tidak ada tes... tes... tes.
Aku seharusnya lega. Tapi bulu kudukku berdiri. Karena dalam sunyi itu, aku mendengar sesuatu yang lain. Dari kamar nomor 7 β kamarku yang kosong β terdengar suara lantai berderit. Pelan. Seperti seseorang bangun dari tempat tidur. Seperti seseorang berjalan ke pintu. Seperti seseorang... keluar.
Lalu suara nyanyian Lasmi. Bukan dari sumur. Dari koridor. Mendekat.
Aku ingin berteriak membangunkan yang lain. Tapi tubuhku tidak bisa bergerak. Kakiku β kakiku basah. Basah kuyup. Padahal aku tidur di sofa ruang tamu yang kering.
Dan di bawah sofa, dari bawah lantai ruang tamu, terdengar bisikan β bukan nyanyian lagi, bisikan β tepat di bawah telingaku:
"Besok siang kalian mau ngecor aku?"
Hening sekejap.
"Ya udah. Kalau gitu... malam ini aja."
Langkah kaki di koridor berhenti tepat di depan pintu ruang tamu.
Gagang pintu mulai berputar.