β€Ή
17. Suara yang Tertinggal

Suara yang Tertinggal

Kos Nomor 13 β€’ 1,483 kata

Ilustrasi Suara yang Tertinggal

Pagi setelah malam sumur itu, aku bangun dengan badan remuk seperti habis digebukin satpam komplek β€” padahal yang menggebukiku cuma udara dingin, tali tambang, dan rasa takut yang belum kering. Bau melati masih menempel di hidungku, samar tapi bandel, seperti parfum murahan yang tidak mau hilang meski bajunya sudah dicuci tiga kali. Aku duduk di tepi kasur, menatap kedua tanganku yang masih gemetar halus. Di luar jendela, kos nomor 13 terdengar... normal. Ayam tetangga berkokok fals. Motor lewat dengan knalpot bocor. Tidak ada lolongan anjing, tidak ada lampu berkedip, tidak ada bau busuk. Seolah semalam tidak pernah terjadi apa-apa.

Tapi semalam terjadi. Buktinya sedang duduk di ruang tengah: Bu Sarmi, berselimut sarung, menatap kosong ke arah dapur yang kompornya bahkan belum dinyalakan. Sejak subuh dia tidak bicara β€” bukan karena tidak mau. Karena tidak bisa. Setiap kali dia mencoba membuka mulut, yang keluar hanya desis udara, seperti ban bocor. "...lunas," bisiknya tadi pagi waktu Sari menyodorkan teh hangat, dan satu kata itu saja membuat Sari menangis lagi di depan kompor.

Aku ikut duduk di ruang tengah, menyeruput teh yang rasanya seperti air hangat biasa β€” lidahku masih kebas. Fajar datang dari gudang belakang dengan kantong plastik hitam, napasnya tersengal. "Dapat," katanya, mengeluarkan sebuah tape recorder tua berwarna abu-abu, sudut-sudutnya penyok. "Peninggalan bapak kos yang dulu, kayaknya. Gue tes pakai kaset dangdut tadi β€” suaranya cempreng, tapi jalan."

Sari menatap benda itu seperti menatap ular. "Lu yakin mau... di kamar tujuh?"

"Kasetnya di sana," kataku. "Tinta labelnya ditulis di sana. Kalau ada apa-apa β€” dia yang mulai, biar dia yang jelasin."

Kami naik berempat siang itu, sekitar jam dua. Bu Sarmi berjalan pelan, satu tangannya berpegangan pada bahu Sari. Lorong lantai dua terang oleh matahari, biasa saja, tapi kakiku terasa berat setiap melangkah mendekati ujung lorong. Pintu kamar tujuh masih terbuka β€” menganga beberapa senti, persis seperti kemarin, seperti undangan yang tidak pernah ditarik kembali.

Fajar mendorongnya. Engselnya tidak berderit.

Kamar itu masih terlalu bersih. Terlalu rapi. Seprai putih tanpa satu lipatan pun, bantal ditegakkan seperti di hotel, lantai dipel sampai mengkilap. Tidak ada debu, tidak ada sarang laba-laba, tidak ada bau apek tujuh tahun. Malah ada bau... sabun. Bau sabun colek yang murah dan bersih. Itu justru yang paling mengerikan β€” kamar yang mati tujuh tahun tidak seharusnya berbau sabun.

Dan di atas bantal: tujuh kelopak melati, tersusun rapi seperti kemarin. Masih segar. Mustahil β€” sudah hampir dua puluh empat jam berlalu. Salah satu kelopak bahkan masih menggantungkan setetes embun yang berkilau kena cahaya jendela.

"Gila," bisik Fajar. "Ini kamar apa kamar hotel bintang lima."

Kaset pitanya masih di samping bantal. Label kertasnya β€” untuk yang mau dengerin (2) β€” tintanya kini kering, tapi aku ingat jelas kemarin sore masih basah dan mengkilap. Sari mengambilnya dengan dua jari, seperti memegang kembang api yang sumbunya sudah dinyalakan.

"Kita dengerin di sini atau di bawah?" tanyanya, suaranya kecil.

"Di sini," kataku. "Di tempat dia naruhnya."

Kami duduk melingkar di lantai kamar tujuh. Lantainya dingin β€” dingin yang aneh untuk siang bolong, dingin yang merambat lewat celana dan menempel di kulit. Fajar memasukkan kaset ke tape recorder, menekan tombol play dengan ibu jari yang gemetar sampai bunyi kliknya terdengar dua kali. Mekanisme tua itu berputar, lalu: desis pita.

Hening. Lima detik. Sepuluh detik. Aku hampir mengira pitanya kosong, dan sebagian dari diriku berharap begitu.

Lalu β€” suara napas. Dalam. Berat. Seperti seseorang yang baru selesai menangis dan mencoba menata napasnya.

"Halo."

Sari mencengkeram lenganku sampai kuku-kukunya menancap di kulit.

"Kalau kaset ini muter," suara itu melanjutkan, pelan dan serak, "berarti sumurnya udah ketutup. Berarti Bu Sarmi... berhasil." Jeda. Terdengar bunyi menelan ludah. "Bu, kalau Ibu denger ini... makasih. Makasih udah berani manggil namanya. Makasih udah berani ngelepasin."

Bu Sarmi menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang hebat, tapi tidak ada suara tangis yang keluar β€” hanya guncangan.

"Aku nggak punya banyak waktu di pita ini, jadi aku langsung aja." Suara Nisa β€” karena itu pasti Nisa; aku mengenali bisikan yang sama yang kudengar di dasar sumur, di antara bau lumpur dan kegelapan β€” terdengar lelah tapi jernih, seperti orang sakit yang memaksakan diri bicara. "Lasmi udah pergi. Tapi yang dia ambil... belum ikut pergi."

Fajar dan aku saling pandang. Tenggorokanku mengering.

"Selama empat puluh tiga tahun, Lasmi ngumpulin nama. Enam nama. Perempuan-perempuan yang dia tarik ke sumur biar dia nggak sendirian di bawah sana." Di latar rekaman, samar, terdengar bunyi tetesan air β€” atau mungkin itu dari sudut kamar ini. Aku tidak berani menoleh untuk memastikan. "Selama namanya dipegang, mereka nggak bisa pergi. Mereka ketahan di air, di antara hidup dan mati. Sekarang Lasmi udah dilepas. Tapi nama-nama itu nggak ikut lepas. Nggak ada yang megang, tapi nggak ada juga yang ngelepasin. Mereka... gantung."

"Terus gimana caranya?" bisikku ke arah tape recorder, bodoh, seolah dia bisa mendengarku.

Seolah dia mendengarku, Nisa menjawab: "Ada caranya. Nama itu tali dua arah β€” kalian udah tahu aturannya. Yang ngikat bisa ngelepasin. Lasmi udah nggak ada, jadi yang bisa ngelepasin sekarang... orang hidup yang nyebut nama mereka. Satu-satu. Di depan sumur. Lewat tengah malam." Jeda. "Terus bilang satu kata: pulang."

Sari sudah mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi catatan dengan jari gemetar. "Sebutin namanya, Nisa," desaknya pelan, seperti berdoa.

"Aku bacain pelan-pelan. Dengerin baik-baik." Bunyi kertas di kaset β€” dia seperti membaca dari catatan. "Pertama: Minah. Jatuh tahun delapan enam. Kedua: Yuni, tahun sembilan empat. Ketiga: Ratna, dua ribu satu. Keempat: Wulan, dua ribu delapan. Kelima: Tari, dua ribu empat belas." Napasnya tersengal, panjang. "Dan keenam... aku. Nisa. Dua ribu sembilan belas."

Tujuh tahun lalu. Kamar ini. Jeritan yang didengar Bu Sarmi dari tangga β€” jeritan yang dia pilih untuk tidak dia datangi.

"Tapi inget," suara Nisa menurun, hampir menjadi bisikan, "ada aturannya. Baca namanya satu-satu. Jangan diburu-buru. Dan kalau kalian denger tetesan airnya berhenti di tengah-tengah... kalian juga berhenti. Jangan diterusin. Ulangi besok malamnya."

"Kenapa?" tanya Fajar ke udara, suaranya serak.

"Karena yang netes itu mereka. Yang ngantri nunggu giliran." Jeda yang panjang. "Satu nama, satu tetes. Kalau tetesnya berhenti... berarti yang nunggu udah nggak sabar. Dan percayalah β€” kalian nggak mau mereka nggak sabar."

Dingin merambat di tengkukku seperti jari-jari es. Dan di sudut kamar β€” aku bersumpah aku mendengarnya β€” bunyi "tes" yang sangat pelan terdengar sekali, lalu hilang, seperti ditelan.

Nisa menghela napas di kaset, panjang dan gemetar. "Satu hal lagi. Kaset ini... aku ngerekamnya tadi malam. Di kamar ini. Duduk di lantai ini, sambil nungguin kalian bangun." Suaranya pecah. "Tintanya masih basah waktu aku taruh di bantal. Maaf ya... aku nggak sempat pamit beneran. Tujuh tahun nunggu, giliran waktunya tiba malah nggak sempat pamit. Lucu ya."

Sari menangis tanpa suara, air matanya jatuh ke lantai yang dipel mengkilap itu. Bu Sarmi meraih tangannya, menggenggam erat-erat.

"Aku harus pergi sekarang. Pitanya mau habis." Desis pita makin kencang, berderak. "Makasih udah dengerin. Beneran. Tujuh tahun... kalian orang pertama yang mau dengerin sampai habis."

Klik. Pita berhenti. Side A selesai.

Kami diam lama sekali. Di luar jendela, burung gereja ribut di kabel listrik. Motor lewat. Dunia berjalan normal, tidak tahu apa-apa.

"Balik pitanya," kata Sari akhirnya, menyeka pipi dengan punggung tangan. "Siapa tahu ada side B."

Fajar membalik kaset dengan hati-hati, seperti menangani barang bukti. Menekan play.

Desis. Lalu β€” tetesan air. Jelas. Dekat. Tes... tes... tes... berirama, sabar, seperti detak jantung yang sangat pelan.

Lalu suara. Bukan Nisa. Suara ini lebih kecil, lebih basah β€” seperti keluar dari tenggorokan yang penuh air, kata-katanya bergelembung.

"Satu."

Kami membeku. Sari berhenti bernapas.

"Dua."

Bu Sarmi mundur merapat ke dinding, wajahnya pucat seperti kertas.

"Tiga. Empat. Lima. Enam."

Jeda. Panjang. Hanya desis pita yang memenuhi kamar β€” dan detak jantungku yang kudengar di telingaku sendiri.

Lalu, pelan, hampir manja, seperti anak kecil yang menemukan mainan baru:

"Tujuh."

Tanganku mencengkeram lantai sampai buku-buku jariku memutih.

"Tujuh," suara itu mengulang, dan kali ini terdengar... senang. Puas. "Satu belum pulang."

Klik. Pita berhenti sendiri β€” atau dihentikan.

Dan saat itu juga β€” aku bersumpah demi apapun yang masih suci β€” bunyi tetesan air yang sejak tadi kudengar samar dari sudut kamar tujuh itu BERHENTI. Mendadak. Total. Seperti seseorang menutup keran dengan paksa.

Keheningan yang tersisa terasa... penuh. Sesak. Seperti kamar ini tiba-tiba dipenuhi sesuatu yang tidak terlihat tapi menahan napas, menunggu, mendengarkan kami mendengarkan.

Fajar mematikan tape recorder dengan tangan yang gemetar hebat. "Udah," katanya, suaranya pecah. "Udah. Cukup buat hari ini. Gue... gue butuh udara."

Kami turun tanpa bicara, berdesakan di tangga sempit seperti anak-anak yang ketakutan. Di bordes, Bu Sarmi menarik lengan bajuku. Dia menatapku β€” matanya merah dan basah β€” dan berbisik, nyaris tak terdengar, satu kata yang membuat perutku mual:

"...tujuh?"

Aku tidak punya jawaban. Tidak ada yang punya.

Malam itu, aku berbaring di kamarku sendiri menatap langit-langit yang retak, menghitung dalam hati sampai berkali-kali. Enam nama. Enam perempuan. Enam tetes. Lalu suara kecil yang basah itu bilang: tujuh.

Satu belum pulang.

Dan untuk pertama kalinya sejak sumur itu tertutup rapat, aku bertanya-tanya dengan ngeri: yang ketujuh itu... siapa? Dan... kenapa kamar tujuh disiapkan seperti sedang menunggu tamu?

Dari kamar mandi umum di ujung lorong, samar-samar menembus dinding kamarku, terdengar bunyi yang kini kukenali di luar kepala:

Tes. Tes. Tes.

Sabar. Menunggu. Menghitung.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!