Kamar untuk Siapa
Kos Nomor 13 β’ 1,324 kata
Tetesan itu tidak berhenti semalaman.
Malam setelah kaset kedua itu, aku tidak tidur. Bukan karena tidak mengantuk β badanku remuk seperti habis kerja bakti seharian β tapi karena setiap kali aku hampir terlelap, bunyi itu datang: tes... tes... tes... dari kamar mandi umum di ujung lorong. Kadang terdengar dekat, kadang jauh, kadang seperti berasal dari dalam dinding kamarku sendiri. Jam tiga pagi aku menyerah, duduk di tepi kasur sambil menatap pintu kamar mandiku yang gelap, menghitung tetesannya seperti orang gila sampai angka seratus, lalu mengulang lagi dari awal.
Pagi harinya, kekacauan kecil meledak di dapur umum. Mas Yoga β penghuni kamar tiga, sopir travel yang jarang nongol di kos β mengomel sambil menyeret ember. "Keran kamar mandi gue netes semalaman, bro! Padahal udah gue tutup rapet-rapet sampai tangan gue pegel. Bangun-bangun lantai basah semua, handuk gue basah, keset gue basah!" Dia menunjukkan video di ponselnya: lantai kamar mandinya becek menggenang, dan keran yang memang tertutup rapat itu... menetes. Tes. Tes. Tes. Teratur, sabar, mustahil.
Mbak Rina dari kamar lima pucat seperti mayat hidup. "Gue mimpi," katanya pelan, kedua tangannya memeluk gelas kopi seperti memeluk pelampung. "Ada perempuan... basah kuyup, rambutnya nutupin muka sampai ke lutut. Dia jongkok di depan gue, terus bilang..." Mbak Rina menelan ludah, matanya berkaca-kaca. "'Bacakan nama saya.' Gitu doang. Terus-terusan. 'Bacakan nama saya.' Gue kebangun jam tiga pagi, bantal gue basah kuyup. Basah, padahal gue nggak nangis. Gue nggak nangis, sumpah."
Fajar, Sari, dan aku saling pandang. Kami tahu persis jam berapa Mbak Rina terbangun β karena kami juga terbangun di jam yang sama, oleh bunyi yang sama.
Siangnya, Bu Sarmi memanggilku ke kamarnya β kamar ibu kos di lantai satu yang tidak pernah kumasuki selama dua tahun ngekos di sini. Ruangan itu sempit dan pengap, penuh tumpukan kardus mie instan dan galon kosong, tapi ada satu meja kecil di sudut yang rapi luar biasa: di atasnya buku catatan bersampul batik, sebuah pulpen, dan segelas teh yang sudah dingin dan berlapis tipis.
Bu Sarmi menatapku lama, lalu mulai menulis. Tangannya gemetar, tulisannya miring-miring seperti anak SD yang baru belajar, tapi masih bisa dibaca:
"7 kelopak = tanda terima. Dulu waktu Nisa masuk kamar 7, dia bawa 7 kuntum melati. Ditaruh di bantal. Katanya buat 'tamu'."
Aku membaca dua kali. "Tamu? Tamu siapa, Bu?"
Bu Sarmi menulis lagi, lebih lambat. Lama sekali, sampai aku pikir dia tidak akan menjawab.
"...dia nggak bilang. Cuma senyum. Senyum sedih."
Dia membalik halaman. Menulis lagi β kali ini tangannya berhenti beberapa kali di tengah kalimat, seperti menahan sesuatu yang berat.
"Malam dia teriak β aku di tangga. Aku dengar jelas. Dia nggak teriak minta tolong. Dia teriak: JANGAN DIA. AMBIL AKU."
Darahku berdesir dingin sampai ke ujung jari. "Maksudnya... malam itu ada orang lain di sumur? Ada yang mau diambil?"
Bu Sarmi mengangguk pelan. Menulis: "Anak kecil. Tetangga sebelah. Main petak umpet sore itu, ngumpet dekat sumur. Nisa lihat."
Jadi Nisa tidak terpeleset. Nisa tidak diseret paksa. Nisa... menukar dirinya. Tujuh tahun lalu, seorang anak kecil yang bahkan mungkin sudah tidak ingat apa-apa hampir menjadi korban ketujuh β dan Nisa melompat duluan, menawarkan dirinya sebagai pengganti.
"Kenapa Ibu nggak cerita dari dulu?" bisikku, tenggorokanku tercekat.
Bu Sarmi menatapku lama sekali. Lalu menulis satu baris, dan air matanya jatuh ke kertas sampai tintanya lumer dan meleber:
"Aku takut. Maaf. Maafin ibu."
Aku tidak bisa marah. Aku hanya duduk di sana, di kamar pengap itu, sampai bahuku ikut berguncang dan kami berdua menangis tanpa suara seperti dua orang bodoh yang kehabisan kata-kata.
Sore harinya, kami bertiga β aku, Fajar, Sari β membongkar arsip ibu kos atas izin Bu Sarmi: tumpukan buku induk penghuni kos dari tahun ke tahun, kertasnya menguning, rapuh, dan berbau apek gudang. Sari yang paling teliti menemukan polanya duluan: setiap beberapa tahun, ada nama perempuan yang berhenti membayar kos tiba-tiba, dengan catatan tulisan tangan Bu Sarmi di kolom keterangan β selalu kalimat yang sama: "pulang kampung mendadak."
Minah β 1986. Yuni β 1994. Ratna β 2001. Wulan β 2008. Tari β 2014. Nisa β 2019.
Persis seperti urutan di kaset. Enam nama. Enam perempuan. Enam kali "pulang kampung mendadak" yang tidak pernah benar-benar pulang ke mana-mana.
"Bu Sarmi tahu," gumam Fajar pelan, menatap daftar itu. "Dari dulu dia tahu ada yang nggak beres. Makanya dia nulis 'mendadak'. Dia tahu mereka nggak pulang kampung."
Di dasar salah satu kardus, di bawah tumpukan kwitansi tahun sembilan puluhan, Sari menemukan sesuatu yang dibungkus plastik bening: kliping koran yang sudah kuning kecokelatan, tanggalnya 1983. Judulnya pendek dan dingin: "Gadis 19 Tahun Ditemukan Tewas di Sumur Tua." Isinya singkat β jasad seorang gadis bernama Lasmi ditemukan warga pagi hari di dasar sumur tua, diduga terpeleset malam Jumat. Tidak ada penyelidikan lanjutan. Sumur itu bahkan waktu itu sudah dianggap angker dan tidak dipakai.
"Tujuh tahun Nisa nahan dia," kataku pelan, lebih kepada diriku sendiri. "Tujuh tahun Lasmi nggak bisa narik siapa-siapa lagi. Makanya Tari tahun dua ribu empat belas itu yang terakhir. Setelah itu... Nisa."
Sari tiba-tiba menunjuk ke pinggir salah satu halaman buku induk, ke catatan kecil tulisan tangan Bu Sarmi di margin β tintanya berbeda, lebih baru, seperti ditulis belakangan sambil gemetar: "kamar 7 jangan disewakan ke perempuan muda. jangan."
Kami bertiga membaca kalimat itu berulang-ulang dalam diam. Tujuh tahun Bu Sarmi menyimpan kamar itu kosong β bukan karena tidak laku, tapi karena dia melindunginya. Melindungi calon korban berikutnya dari kamar itu. Atau melindungi kamar itu dari calon korban.
"Dia tahu," bisik Sari. "Selama ini dia tahu semuanya. Dan dia diam."
Malam harinya kami berkumpul di kamarku, duduk melingkar di lantai seperti kemarin di kamar tujuh β tapi kali ini tidak ada yang berani menyalakan tape recorder. Pertanyaan yang menggantung sejak siang tidak ada yang berani mengucapkannya duluan. Akhirnya Sari yang bicara, suaranya hampir berbisik:
"Kamar tujuh disiapin kayak buat tamu. Tujuh kelopak. Tanda terima." Dia menatap kami satu-satu. "Pertanyaannya... tamu siapa? Buat siapa kamar itu disiapin?"
Hening panjang. Kipas angin di langit-langit berderit pelan.
"Enam nama udah ada di kaset," kata Fajar perlahan, seperti takut suaranya sendiri. "Enam-enamnya mau kita lepasin. Tapi suara di side B ngitung sampai tujuh. 'Satu belum pulang.'"
"Yang ketujuh," bisikku, dan bulu kudukku berdiri, "mungkin... tamunya. Kamar itu disiapin buat yang ketujuh."
Kami tidak melanjutkan. Tidak ada yang mau melanjutkan. Sari mematikan lampu kamarku yang terlalu terang, dan kami duduk dalam gelap sampai lewat tengah malam, mendengarkan tetesan air dari kamar mandi umum yang tidak mau berhenti β seolah seluruh kos ini pelan-pelan berubah menjadi sumur.
"Gue kepikiran satu hal," kata Fajar tiba-tiba di kegelapan, suaranya pelan. "Tujuh kelopak di bantal kamar tujuh. Tujuh tetesan. Yang ketujuh belum pulang." Jeda. "Kamar itu disiapin buat tamu, kata Nisa. Tanda terima, kata Bu Sarmi. Terima... apa? Terima siapa?"
"Tidur aja," kataku β tapi suaraku sendiri terdengar tidak yakin. "Besok kita putusin apa yang harus dilakuin."
Kami membubarkan diri tanpa benar-benar merasa selesai. Aku berbaring dengan lampu kamar mandi sengaja kunyalakan β biar terang, biar tidak ada ruang buat gelap β dan menatap langit-langit sampai mataku berat.
Aku terbangun sedikit lewat jam tiga pagi β bukan karena mimpi, tapi karena bunyi itu berubah. Bukan lagi dari lorong. Bukan dari kamar mandi umum. Bunyinya berasal dari DALAM kamarku. Dari kamar mandi kamarku sendiri.
Tes. Tes. Tes.
Aku duduk tegak. Lampu kamar mandiku mati β aku yakin tadi malam masih nyala, aku yang menyalakannya sebelum tidur. Pintunya terbuka sedikit, dan dari celahnya keluar sesuatu yang membuat napasku tercekat: uap. Bukan asap β uap tipis, seperti cermin yang berembun karena air panas.
Dengan kaki telanjang yang langsung menusuk dinginnya lantai, aku melangkah mendekat. Jantungku berdentam sampai ke tenggorokan. Tanganku yang gemetar mendorong pintu itu hingga terbuka penuh.
Cermin di atas wastafel berembun total β padahal tidak ada air panas yang menyala, keran kering, ruangan dingin. Dan di embun itu, ditulis oleh jari yang tidak terlihat, huruf-huruf besar yang meneteskan air ke bawah:
BACA NAMAKU.
Di lantai, genangan air kecil memantulkan cahaya lampu lorong yang masuk dari celah pintu. Dan dari genangan itu β jejak kaki basah. Kecil, seperti kaki perempuan mungil. Tujuh jejak, berderet rapi, mengarah keluar dari kamar mandi... melintasi lantai kamarku... ke tempat tidurku... dan berhenti tepat di bantalku.
Di atas bantalku, basah dan segar seperti baru dipetik dari tangkainya, tergeletak satu kelopak melati.
Masih meneteskan air.