Turun ke Dalam Sumur
Kos Nomor 13 β’ 1,302 kata
Tali tambang itu mengencang di pinggangku β dan untuk satu detik yang memalukan, aku ingin berteriak membatalkannya.
Bukan karena aku pengecut. Tapi karena pada detik itu, dari lubang sumur di depanku, bau melati itu berubah. Bukan lagi wangi bunga. Melainkan wangi sesuatu yang sudah lama terendam β manis, busuk, dan sabar. Seperti napas orang yang menunggu di bawah air selama puluhan tahun dan akhirnya mendengar langkah kaki di atas.
"Dim." Fajar menggenggam bahuku. Tangannya gemetar, tapi genggamannya keras. "Ingat kodenya. Satu sentakan: berhenti. Dua sentakan: turunin pelan. Tiga sentakan β tiga kali, Dim β berarti tarik lu naik secepatnya. Jangan kurang, jangan lebih."
"Tiga sentakan," ulangku. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.
Sari berlutut di tepi lingkaran garamnya β lingkaran besar yang dia buat mengelilingi bibir sumur, selebar tiga meter, garis putih tebal yang tidak terputus. Di dalamnya, Bu Sarmi duduk bersila, diselimuti sarung sampai ke dagu. Tenang. Terlalu tenang untuk seorang ibu kos yang anak buahnya akan turun ke lubang gelap tengah malam begini.
"Bu," kataku. "Bu yakin?"
Bu Sarmi menatapku. Di bawah cahaya senter Fajar, wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun dari usianya. "Dimas," katanya pelan, "tujuh tahun aku pura-pura tidak dengar. Malam ini aku dengar. Turun, Nak. Dan apa pun yang kamu temukan di bawah... jangan percaya semuanya."
Jangan percaya semuanya. Kalimat itu menempel di kepalaku seperti garam menempel di telapak tangan yang basah.
Jam tanganku menunjukkan pukul 23.47 ketika kakiku melewati bibir sumur.
Di atas, aku mendengar Sari mulai membaca doa β lirih, berulang-ulang, seperti menenun jaring suara di sekeliling lingkaran garamnya. Bu Sarmi tidak bersuara sama sekali. Keheningannya lebih menakutkan daripada doa Sari. Orang yang sudah memutuskan sesuatu tidak perlu lagi bicara β dan Bu Sarmi malam ini terlihat seperti orang yang sudah selesai berdebat dengan dirinya sendiri, tujuh tahun lamanya, dan akhirnya kalah. Atau menang. Aku belum tahu yang mana.
Dinginnya langsung merambat naik dari bawah β bukan dingin udara malam, tapi dingin yang basah, dingin yang punya bau. Tanganku mencengkeram tali, kaki mencari pijakan di dinding sumur yang licin oleh lumut. Batu-batunya tua, disusun tanpa semen, beberapa menonjol keluar seperti gigi. Fajar dan β aku dengar suara Sari ikut membantu β mulai mengulur tali, senti demi senti.
"Pelan-pelan!" seru Fajar dari atas, suaranya sudah terdengar jauh padahal aku baru turun dua meter.
Cahaya dari atas menyempit. Langit malam β yang tadi penuh bintang β menciut menjadi lingkaran kecil yang semakin jauh, seperti mata yang perlahan menutup. Aku menyalakan senter yang kuikat di dahi. Berkas cahayanya menari-nari di dinding sumur: lumut hitam, akar-akar kecil yang menjuntai seperti rambut, dan β
Goresan.
Pada awalnya kukira itu retakan alami batu. Tapi senterku berhenti pada satu petak dinding yang lebih terang dari sekitarnya, seolah sering tersentuh. Goresan-goresan itu berderet rapi. Pendek-pendek. Seperti tally mark orang menghitung hari di penjara.
Aku menghitung tanpa sadar. Tujuh kelompok. Masing-masing tujuh goresan.
Tujuh kali tujuh. Empat puluh sembilan.
Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa itu kebetulan. Bahwa seseorang β entah siapa β pernah terjebak di sini dan menghitung hari. Tapi jari-jariku yang menyentuh goresan itu merasakan sesuatu yang meruntuhkan logikaku: goresan-goresan itu masih baru. Tidak ada lumut tumbuh di atasnya. Tidak ada endapan kapur. Seolah dibuat kemarin. Seolah dibuat menungguku β agar aku menghitung, agar aku paham: sesuatu di bawah sini sangat pandai bersabar, dan sangat pandai menghitung.
Tanganku berhenti bergerak. Di bawahku, kegelapan tampak... menebal. Bukan sekadar gelap β tapi gelap yang punya tekstur, seperti kain beludru yang basah. Bau melati semakin kuat sampai mataku berair.
Dan kemudian aku mendengarnya.
Dari bawah. Sangat pelan, sampai aku tidak yakin itu suara atau hanya darahku sendiri yang berdesir di telinga.
Nina bobo... oh nina bobo...
Suara perempuan. Bernyanyi. Nada lullaby yang biasa dinyanyikan ibu-ibu β tapi dinyanyikan terlalu lambat, setiap suku kata ditarik panjang seperti direkam pada kaset yang melambat. Ka-la-u ti-dak bo-bo... di-gi-git nya-muk...
Aturan nomor satu Nek: jangan jawab panggilan apa pun.
Aku menggigit bibirku sampai berdarah dan terus turun. Tali berderit di atas. Satu meter. Dua meter. Nyanyian itu tidak semakin keras β jaraknya tetap, seolah penyanyinya ikut turun bersamaku, menjaga jarak yang sama, sabar menunggu aku tiba.
Senterku menyapu dinding lagi β dan kali ini aku melihat sesuatu yang membuat napasku tercekat.
Sandal jepit. Sebelah. Tersangkut di celah batu, sekitar empat meter di bawah bibir sumur. Sandal jepit perempuan, berwarna pink pudar, ukurannya kecil. Talinya putus. Di sampingnya β pita rambut. Pita satin berwarna merah marun, sudah kehitaman oleh lembap, tapi masih terikat simpul rapi.
Tanganku terulur sendiri. Jari-jariku menyentuh pita itu β dingin, licin β dan pada detik itu nyanyian di bawah berhenti.
Bukan memudar. Bukan menjauh. Berhenti β seperti seseorang menutup mulutnya rapat-rapat di tengah nada. Keheningan yang jatuh begitu total sampai aku bisa mendengar tetesan air. Tes. Tes. Tes. Berirama. Sabar. Dari kegelapan di bawah kakiku.
Dan aku sadar β dengan kepastian yang membuat perutku mual β bahwa nyanyian itu berhenti karena aku menyentuh pita itu. Karena aku menyentuh miliknya. Karena dia tahu aku sudah sampai. Tidak perlu lagi memanggil dari jauh.
Tamu sudah di depan pintu. Tidak perlu lagi bernyanyi di jendela.
Anehnya β sumur ini seharusnya berair. Tapi sejauh ini turun, aku belum melihat permukaan air. Hanya bau air. Hanya suara air. Seolah airnya ada, tapi bersembunyi.
"Dim! Aman?" teriak Fajar dari atas. Suaranya kini kecil sekali, seperti dari ujung telepon yang jauh.
Aku tidak menjawab. Aturan nomor satu. Jangan jawab panggilan apa pun. Bahkan Fajar. Bahkan β terutama β kalau suaranya terdengar sedikit berbeda dari biasanya. Karena aku tidak bisa memastikan itu Fajar.
Aku menyentak tali sekali. Berhenti. Lalu dua kali. Turun pelan.
Tali mengulur lagi. Kakiku menyentuh sesuatu yang padat β dasar. Aku mengarahkan senter ke bawah.
Tidak ada air.
Dasar sumur ini kering. Lantainya batu dan lumpur yang mengeras, retak-retak seperti kulit tua. Tapi bau air β bau terendam β justru paling kuat di sini, menusuk sampai ke belakang tenggorokan. Dan di tengah lantai, tersusun rapi seperti sesajen:
Tujuh kelopak melati. Masih segar. Masih basah oleh embun β atau oleh sesuatu yang lain.
Di sampingnya, tergeletak sebuah kaset.
Jantungku berhenti berdetak. Kaset pita β sama persis seperti yang kami bakar tiga malam lalu di halaman belakang. Label kertasnya ditulis tangan. Aku mendekat, berjongkok β tali di pinggangku menegang menahanku β dan membaca tulisan itu di bawah cahaya senter:
untuk yang berani turun
Tulisan tangan yang sama. Tulisan tangan Nisa.
Kami membakar kasetnya. Aku sendiri yang menaburkan abunya ke selokan. Sari melihatnya. Fajar melihatnya. Bu Sarmi melihatnya. Kaset itu hancur. Tapi di sini, di dasar sumur kering sedalam tujuh meter, ada kaset lain β dengan tulisan tangan yang sama, ditujukan untukku.
Atau untuk siapa pun yang berani turun.
Tanganku gemetar saat meraihnya. Pitanya masih utuh. Labelnya kering β tidak lembap seperti semua benda lain di sini. Seolah baru diletakkan. Seolah β
Refleks aku melirik jam tanganku β dan bulu kudukku berdiri. Jarumnya berhenti tepat di angka dua belas. Bukan mati baterai β jarum detiknya masih bergetar, berusaha merangkak maju, tapi tidak bisa melewati angka itu. Seolah waktu di dasar sumur ini menolak berjalan melewati tengah malam. Seolah di sini, selamanya, adalah malam Jumat pukul nol-nol.
Klik.
Senter di dahiku berkedip. Sekali. Dua kali. Berkas cahayanya menyempit, menguning, lalu β
Padam.
Kegelapan menelanku bulat-bulat.
Aku tidak panik β aku membeku. Ada bedanya. Panik masih punya gerakan. Beku tidak punya apa-apa selain napas yang tercekat dan jantung yang menghantam tulang rusuk. Tanganku meraba senter itu, memukul-mukulnya dengan panik yang akhirnya datang juga. Tidak menyala. Baterainya β aku memeriksa tadi sore β penuh.
Lalu aku menciumnya. Bau melati itu bergerak. Mendekat. Bukan lagi bau yang diam di udara β tapi bau yang berjalan, melayang mendekatiku dari kegelapan di depan, semakin kuat, semakin manis, semakin busuk.
Tes. Tes. Tes. Tetesan air itu kini terdengar dari atas β menetes dari sesuatu yang berdiri di depanku.
Aku bisa mendengar napasnya. Pelan. Basah. Sabar.
Tujuh tahun sabar. Empat puluh sembilan goresan sabar.
Dan dalam kegelapan total di dasar sumur kering itu, sedekat jarak napas dari wajahku, sebuah suara berbisik β bukan suara curian, bukan suara pinjaman. Suara aslinya. Suara yang basah:
"Dimas."
Dia menyebut namaku dengan sempurna. Seperti sudah melatihnya selama tujuh tahun.
Dan aku β bodoh, beku, manusia β hampir menjawab.