Satu Kali Diam
Kos Nomor 13 β’ 1,313 kata
Aku tidak menjawab.
Suara itu tidak mengulang. Ia hanya diam, dan diamnya terasa seperti seseorang yang berdiri sangat dekat dengan pintu, menunggu dengan sabar yang tidak dimiliki manusia. Di leherku, bel kecil itu dingin. Tidak berdenting. Tidak ada tanda terima, karena tidak ada yang kuberikan. Aku duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan terkepal di atas lutut, menahan napas sampai dadaku perih, lalu melepaskannya pelan-pelan lewat hidung, seperti yang kulakukan setiap kali suara-suara dari kamar 7 mulai menghitung.
Aku tahu aturannya, atau setidaknya aku kira aku tahu. Nama kecilku, nama dari ibuku, adalah nama yang tidak boleh kuucapkan dua kali. Sekali adalah panggilan. Dua kali adalah pintu yang dibuka. Suara dari sisi cermin itu baru saja mengucapkannya sekali, dengan pelan, dengan cara yang persis seperti ibuku mengucapkannya dulu ketika aku bersembunyi dan ia pura-pura tidak tahu tempatku. Ia tidak memintaku mengulang dengan kata-kata. Ia hanya menunggu. Dan seluruh rumah ikut menunggu bersamanya.
Lalu suara-suara kecil itu mulai lagi. Satu, dua, tiga. Mereka menghitung giliran seperti anak-anak menghitung kelereng sebelum permainan dimulai. Hitungannya rapi, teratur, dan berhenti tepat pada suara yang paling pelan. Suara itu tidak lagi membisikkan namaku. Ia mengatakan satu kata lain, pendek, dan datar.
"Lewat."
Aku tidak langsung mengerti maksudnya. Giliranku lewat. Bukan dibatalkan, bukan ditunda. Lewat, seperti antrean di warung ketika orang yang dipanggil tidak menjawab dan penjualnya beralih ke pembeli berikutnya. Ada kelegaan yang aneh di sana, tipis seperti kulit ari, dan di bawahnya ada rasa takut yang jauh lebih besar. Karena antrean tidak pernah berhenti di rumah ini. Antrean hanya berpindah.
Dari kamar 7, cerita Kirana mulai diceritakan kembali. Tentang layang-layang yang putus, tentang benang yang lepas dari tangan kecil, tentang langit sore yang menelan kertas warna-warni itu. Aku sudah mendengar cerita itu sore tadi, di sumur, dari mulut Kirana sendiri, dengan suaranya yang masih malu-malu dan bangga karena ia berani bercerita sukarela. Tetapi malam ini, cerita itu diceritakan dengan suara lain. Suaranya seperti suaraku. Bukan mirip. Persis. Seolah-olah aku yang sedang duduk di kamar 7, menceritakan layang-layang Kirana seakan-akan itu layang-layangku, seakan-akan benang itu pernah ada di tanganku.
Aku berdiri tanpa sadar. Lantai kamarku dingin di telapak kaki. Cermin di dinding menangkapku, dan untuk sesaat aku mengira tidak ada yang salah. Lalu bayanganku berkedip lebih lambat dariku. Aku mengangkat tangan, dan bayangan itu mengangkat tangannya setengah detik kemudian, seperti seseorang yang meniru dari balik kaca yang tebal. Mulutnya bergerak. Tidak ada suara yang keluar dari kamarku, tetapi aku bisa membaca gerak bibirnya. Ia sedang membentuk nama kecilku, huruf demi huruf, tanpa suara, dengan sangat hati-hati, seperti anak yang sedang belajar mengeja.
Aku mengambil sarung dari gantungan dan menutupi cermin itu. Kainnya jatuh menutupi seluruh permukaan, dan kamarku langsung terasa lebih sempit, seolah-olah ada dinding baru yang tumbuh di tempat kaca itu berada. Dari balik kain, suara yang paling pelan itu berkata, "Terima kasih." Bukan dengan nada mengejek. Dengan nada lega, seperti seseorang yang akhirnya menerima sesuatu yang sudah lama ia tunggu. Aku tidak menjawab itu juga. Aku tidak tahu apakah terima kasih itu untuk ceritaku, untuk diamku, atau untuk sesuatu yang sudah diambil tanpa seizinku.
Langkah kaki terdengar di lorong. Bukan langkah orang dewasa yang berat dan tergesa. Langkah itu ringan, teratur, dan berhenti tepat di depan pintuku. Di bawah celah pintu, bayangan itu tidak bergerak untuk waktu yang lama. Aku menahan napas lagi. Tiga ketukan, pelan, berjarak sama, seperti orang yang mengetuk bukan untuk masuk, melainkan untuk memastikan bahwa di dalam masih ada orang yang mendengar. Aku tidak membuka pintu. Aku tidak bersuara. Ketukan itu tidak berulang. Sebagai gantinya, aku mendengar bunyi yang sangat kukenal dari cerita Kirana: bunyi benang yang ditarik sampai tegang, bunyi tipis seperti senar yang siap putus. Bunyi itu datang dari arah kamar 7, dan berhenti tepat ketika aku mulai berpikir bahwa benang itu akan putus.
Malam menjadi sangat panjang setelah itu. Aku tidak ingat apakah aku tertidur atau hanya duduk dengan mata terbuka sampai cahaya pertama masuk lewat ventilasi. Yang kuingat adalah leherku pegal, seperti aku sudah menunduk terlalu lama, dan tenggorokanku kering, seperti aku sudah berbicara semalaman padahal aku yakin aku tidak mengeluarkan satu kata pun sejak suara itu membisikkan namaku. Ketika aku akhirnya berani menyingkap sarung dari cermin, pagi sudah datang, pucat dan ragu-ragu, dan kamarku tampak biasa saja. Terlalu biasa, seperti kamar yang baru saja dirapikan oleh seseorang yang tidak ingin meninggalkan jejak.
Tetapi di permukaan cermin ada tulisan. Bukan tulisan dengan spidol atau jari yang berkeringat. Debu tipis yang selalu menempel di kaca itu tersibak membentuk huruf-huruf kecil, rapi, dan sangat pelan, seperti ditulis oleh seseorang yang takut membangunkan penghuni kamar. Itu namaku. Nama kecilku. Ditulis sekali. Hanya sekali. Aku membacanya tanpa suara, dan tanganku bergerak sendiri untuk menghapusnya, seolah-olah menghapus tulisan itu bisa membatalkan sesuatu.
Pada huruf terakhir, ketika ujung jariku menyentuh debu itu, suara dari dalam cermin mengucapkan nama itu dengan jelas. Bukan bisikan. Bukan dari sisi lain yang jauh. Dari dalam kaca, dengan suaraku sendiri, lengkap, dan tanpa ragu, seolah-olah aku baru saja menjawab panggilan yang sudah menungguku semalaman. Aku menarik tangan dan mundur sampai punggungku menabrak ranjang. Cerminku kosong. Bayanganku tidak ada di sana. Untuk satu detik yang terasa sangat lama, kaca itu hanya memantulkan dinding di belakangku, dan tidak memantulkan aku sama sekali.
Bayanganku kembali perlahan, dari kaki ke atas, seperti air yang mengisi gelas. Ia kembali dengan gerakannya yang benar, mengangkat tangan ketika aku mengangkat tangan, menunduk ketika aku menunduk. Tetapi ada satu hal yang tidak kembali dengan benar: ia tersenyum sedikit lebih dulu dariku, senyum kecil yang tidak kumaksudkan, seolah-olah ia sudah tahu apa yang akan terjadi sebelum aku mengetahuinya. Aku memalingkan wajah, dan ketika aku menoleh lagi, senyum itu sudah hilang, dan bayanganku tampak sama lelahnya denganku. Aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan: bayangan yang bergerak terlambat, atau bayangan yang bergerak lebih cepat.
Dari kamar 7, cerita Kirana diceritakan kembali untuk kedua kalinya. Kali ini ujungnya berubah lagi. Dalam penceritaan yang baru itu, benang layang-layang yang putus tidak hilang di langit. Benang itu jatuh, melayang turun, dan ujungnya terikat pada sebuah bel kecil yang tergantung di leher seseorang yang sedang berdiri di depan sumur. Anak dalam cerita itu mengikuti benang itu pulang, langkah demi langkah, sampai ia tiba di sebuah pintu yang tidak bernama, dan ia mengetuknya tiga kali dengan sabar. Aku menutup telinga dengan kedua tangan, tetapi suara itu tidak datang dari telingaku. Ia datang dari dinding, dari lantai, dari udara kamarku sendiri.
Ketika aku akhirnya berani membuka pintu kamarku sedikit, aku melihatnya. Seutas benang layang-layang yang sangat tipis membentang di lorong, dari bawah pintu kamarku menuju arah kamar 7. Benang itu nyaris tidak terlihat dalam cahaya lampu lorong, tetapi ia bergetar pelan, seperti ada sesuatu di ujung sana yang sedang menariknya dengan sangat hati-hati, takut benang itu putus untuk kedua kalinya. Aku tidak menyentuhnya. Aku menutup pintu kembali dengan pelan, dan aku mendengar benang itu, entah bagaimana, tetap bergetar di balik pintu yang tertutup, seperti bunyi senar yang dipegang terlalu lama.
Di sanalah aku mengerti sesuatu yang tidak pernah dikatakan siapa pun kepadaku. Diamku semalam bukanlah jawaban yang netral. Diamku dihitung sebagai giliran yang lewat, dan giliran yang lewat tidak hilang. Ia diambil. Diambil oleh sesuatu yang memakai suaraku untuk menceritakan cerita Kirana, sesuatu yang menulis namaku di debu cermin, sesuatu yang mengucapkan nama itu dari dalam kaca seolah-olah akulah yang mengucapkannya. Aturan yang selama ini kupahami ternyata hanya setengahnya. Cerita sukarela adalah hadiah, ya. Tetapi giliran paksa bukan hanya jebakan bagi yang dipanggil. Giliran paksa adalah jebakan yang akan mencari mulut lain, mulut siapa pun yang tersedia, bahkan mulut bayangan di cermin, untuk mengucapkan apa yang tidak mau diucapkan oleh pemiliknya.
Kemudian bel di leherku berdenting. Sekali. Jernih, kecil, dan sangat yakin. Tanda terima untuk sesuatu yang tidak pernah kuberikan. Dari kamar 7, suara-suara kecil itu mulai menghitung lagi, dan kali ini hitungan pertama mereka bukan angka. Hitungan pertama mereka adalah giliran yang baru saja lewat, yang kini kembali lagi, dan mengetuk dari arah yang tidak pernah kukira.