‹
31. Cobain, Bang

Cobain, Bang

Kos Nomor 13 • 1,226 kata

Ilustrasi Cobain, Bang

Sepasang sandal itu berhenti tepat di depan kaki saya.

Basah. Kecil. Berjejer rapi, seperti menunggu dipakai. Di celah pintu yang terbuka dua jari, tangan kecil yang basah itu masih terlihat — jari-jarinya pucat dan keriput seperti terlalu lama berendam. Bau lumpur dan minyak goreng memenuhi ruang tamu.

“Bang... sandalnya muat nggak? Cobain, Bang.”

Suara itu periang. Manis. Seperti adik kecil yang membawakan hadiah untuk kakaknya dan tidak sabar melihatnya dibuka.

Di belakang saya, Fajar terisak di lantai, masih ditindih Sari. Bu Sarmi merapal doa semakin cepat, suaranya pecah. TV masih menyala — berita malam, volume maksimal — tapi tidak ada satu pun dari kami yang mendengarnya lagi.

Saya menatap sandal itu. Lalu menatap tangan kecil di celah pintu.

Dan saya melakukan hal yang semalaman dilarang: saya berbicara.

Bukan menjawab panggilannya. Bukan menerima tawarannya. Saya hanya menyebut namanya — nama yang tiga puluh tahun dikubur diam-diam oleh sebuah keluarga.

“Lasmi.”

Sunyi.

Tawa periang di balik pintu itu berhenti — terputus, seperti benang digunting. Tangan kecil itu tersentak mundur sedikit. Dan suara itu — ketika kembali — terdengar bingung. Kecil. Seperti anak yang tertangkap basah.

“Kok... kok Bang tahu nama aku?”

Tenggorokan saya kering. Jantung saya berdebar sampai ke telinga. Tapi saya terus bicara, karena berhenti rasanya seperti akan membunuh kami semua.

“Bu Sarmi cerita. Kamu teman mainnya, waktu kecil. Kamu yang ngajarin dia lagu itu.”

Lama tidak ada jawaban. Hanya napas — basah, berat — dari balik pintu.

“Bude Sarmi...” bisik suara itu. Ada kehangatan di sana, tipis seperti benang. “Bude Sarmi masih ingat lagunya?”

“Masih,” kata Bu Sarmi tiba-tiba, suaranya pecah tapi tegas. “Bude masih ingat, Nduk. Bude nggak pernah lupa.”

Nduk. Panggilan sayang Jawa untuk anak perempuan.

Di balik pintu, terdengar isakan. Bukan tawa. Bukan nyanyian. Tangis — tangis gadis sembilan belas tahun yang pecah seperti bendungan jebol.

“Dingin...” raungnya. “Di bawah gelap... sendirian... tiga puluh tahun, Bude... tiga puluh tahun aku sendirian...”

Lampu sorot yang tersisa berkedip-kedip. Satu padam. TV mati dengan bunyi letupan kecil. Ruang tamu kami yang terang benderang kini hanya diterangi satu lampu — dan kegelapan di sudut-sudut merangkak maju, sabar, pasti.

Air hitam merembes dari bawah pintu depan. Dari bawah pintu kamar mandi. Dari retakan ubin. Pelan. Dingin. Naik membasahi kaus kaki kami yang memang tidak pernah kering.

“Lasmi,” kata saya. Air mata saya jatuh tanpa saya sadari. “Aku nggak bisa pakai sandal itu. Aku nggak bisa ikut kamu.”

“Kenapa?” Tangisnya berubah menjadi rengekan anak kecil. “Bang Dimas baik. Bang Dimas mau cobain gorenganku. Bang Dimas nggak takut sama aku kayak yang lain...”

Dan di sanalah kebenarannya, telanjang dan mengerikan dalam kesederhanaannya: dia memilih saya bukan karena saya istimewa. Dia memilih saya karena tadi malam — di kamar Sari, di sudut gelap — saya hampir mengambil pisang goreng dari tangannya. Karena di antara kami berempat, sayalah satu-satunya yang menatapnya seperti manusia, bukan seperti monster. Sayalah satu-satunya yang membuat tangannya terangkat untuk menerima, bukan untuk menolak.

Kebaikan saya — kebaikan yang bahkan tidak saya sadari — telah menandai saya.

“Dengar, Lasmi,” kata saya. Suara saya bergetar, tapi saya memaksanya tetap lembut. “Aku nggak bisa ikut kamu ke bawah sana. Tapi aku janji — dengar ya, aku janji — aku akan buka sumur itu. Aku akan keluarin kamu dari gelap. Aku akan cerita ke semua orang siapa kamu, supaya nggak ada lagi yang diam. Kamu nggak akan sendirian lagi. Janji.”

Tangan saya terulur — bukan ke arah sandal itu, bukan menyentuhnya, hanya terulur ke arah celah pintu, terbuka, kosong. Saya tidak mengambil apa pun darinya. Saya hanya menawarkan kata-kata. Satu-satunya yang saya punya.

“Percaya sama aku, Lasmi.”

Dari balik pintu, terdengar napas yang tertahan. Lama. Lalu — pelan, seperti anak kecil yang akhirnya memutuskan untuk percaya setelah terlalu sering dikecewakan — suara itu berbisik: “Janji ya, Bang? Janji... jangan bohong kayak yang lain.”

Dan untuk sesaat, lapisan tua dalam suaranya bergejolak — seperti minyak mendidih di atas air, gelap dan lapar — seolah sesuatu yang jauh lebih tua dari Lasmi sedang menimbang-nimbang tawaran saya. Lalu surut. Yang tersisa hanya suara gadis sembilan belas tahun yang lelah. “Aku tunggu, Bang,” bisiknya. “Jangan lama-lama ya.”

Tangis di balik pintu itu berhenti.

Keheningan yang jatuh begitu total sampai saya bisa mendengar tetesan air dari plafon, satu per satu. Air hitam di lantai berhenti merembes — lalu, pelan-pelan, surut. Tersedot kembali ke bawah pintu, ke retakan ubin, seperti napas yang dihembuskan kembali.

Tangan kecil di celah pintu itu — menarik diri. Perlahan.

Lalu langkah kaki. Kecil. Basah. Plok... srek... plok... srek... Menjauh. Menyusuri koridor. Bukan ke arah kamar saya — ke arah belakang. Ke arah sumur.

Dan dari jauh — sangat jauh — nyanyian itu terdengar lagi. Lagu anak-anak. Riang. Tapi kali ini tidak mendekat. Kali ini menjauh, semakin jauh, seperti seseorang yang berjalan pulang sambil bernyanyi.

Kami berempat tidak bergerak. Tidak berani.

Sampai — dari masjid di ujung jalan — adzan subuh berkumandang.

Di tengah satu nada, nyanyian Lasmi berhenti. Terputus. Seperti benang yang digunting.

Sunyi. Sunyi yang sesungguhnya, untuk pertama kalinya dalam dua malam.

Fajar yang pertama roboh — tertidur di lantai ruang tamu dalam tiga detik, mendengkur keras. Sari tertawa — tawa histeris yang berubah menjadi tangis. Bu Sarmi memeluk saya erat, seperti ibu memeluk anaknya yang pulang dari perang.

“Kamu berani sekali, Nak,” bisiknya. “Kamu berani sekali.”

“Saya juga takut, Bu,” kata saya. Dan itu sejujur-jujurnya. “Saya takut sekali.”

Pagi merangkak masuk dari ventilasi. Abu-abu. Pucat. Indah.

Saya berdiri — kaki saya gemetar — dan menatap ke bawah.

Kaus kaki saya kering.

Untuk pertama kalinya dalam dua hari, kaki saya kering. Saya menatapnya lama, tidak percaya, lalu tertawa — tawa yang keluar seperti isakan. “Kering,” kata saya kepada siapa pun yang mendengar. “Kaki saya kering.”

Sari memeriksa pergelangan tangannya. Memar berbentuk jari-jari kecil itu — masih ada, tapi memudar, seperti luka lama yang akhirnya sembuh. “Dinginnya hilang,” bisiknya, matanya berkaca-kaca.

Bu Sarmi ke dapur dan menyalakan kompor — lagi-lagi gerakan orang yang butuh melakukan sesuatu yang normal. Kali ini, baunya — bawang, telur, kecap — terasa seperti surga. Kami makan. Benar-benar makan. Nasi goreng itu mungkin makanan terenak yang pernah saya rasakan seumur hidup.

Fajar makan tiga piring. Di antara suapan, dia tertawa kecil — tawa asli yang pertama dalam dua hari. “Gue mimpi,” katanya, “di mimpi gue, kaki gue kering. Terus gue bangun — dan beneran kering.” Dia menatap kakinya seperti menatap keajaiban. “Gue nggak akan pernah ngeluh soal kaki kering lagi. Demi Tuhan.”

Bu Sarmi menatap kami satu-satu, matanya berkaca-kaca. “Tiga puluh tahun Ibu diam,” katanya pelan. “Tiga puluh tahun Ibu jadi penjaga tutup yang bobrok. Cukup. Mulai hari ini, kita bukan penjaga diam lagi.”

“Sumurnya,” kata Bu Sarmi di tengah sarapan, menatap saya lekat. “Janji kamu tadi malam, Mas Dimas. Ibu pegang. Kita buka sumur itu. Kita keluarin dia. Sudah tiga puluh tahun — cukup.”

“Caranya?” tanya Sari.

“Kita pikirkan besok,” kata Bu Sarmi. “Hari ini kita istirahat. Kita—”

Jeritan Sari memotong kalimatnya.

Dia berdiri di ambang pintu kamarnya — dia masuk ke sana untuk mengambil charger HP, katanya — wajahnya seputih kertas. Tangannya menunjuk ke dalam, gemetar hebat.

Kami berlari. Di ambang pintu kamar Sari, kami berhenti.

Di atas bantal Sari — berjejer rapi, menghadap pintu, basah dan sabar seperti menunggu dipakai — ada sandal jepit kecil.

Hanya sebelah.

Yang kiri.

Dan kaki Sari — kaus kakinya — basah kuyup.

Sari menoleh ke arah saya. Bibirnya bergetar. “Dim,” bisiknya, “tadi malam... waktu kamu ngomong sama dia... aku dengar dia manggil namaku juga.”

Dia menatap sandal sebelah itu, lalu menatap saya. “Dia nggak cuma milih kamu, Dim.”

Dari belakang kos — dari arah sumur yang setengah tercor itu — samar-samar terdengar nyanyian. Lagu anak-anak. Riang. Di siang bolong.

Dia sudah memilih. Tapi ternyata — dia tidak memilih satu orang.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!