Dua Suara dari Sumur
Kos Nomor 13 β’ 1,512 kata
Saya tidak ingat bagaimana kami sampai di dalam rumah.
Yang saya ingat: tangan Fajar mencengkeram kerah kaus saya, menyeret saya mundur. Teriakan Bu Sarmi. Sari tersandung dan Fajar mengangkatnya. Pintu belakang dibanting dan dikunci β untuk pertama kalinya sejak saya tinggal di sini, pintu belakang kos dikunci.
Kami menutup lubang sumur itu dulu β sebelum lari. Saya ingat itu dengan jelas karena tangan saya masih gemetar saat melakukannya: lembaran triplek yang kami bawa untuk alas, ditindih batu-batu besar dari halaman. Bu Sarmi menempelkan kertas bertuliskan doa di atas triplek itu, tangannya gemetar tapi tulisannya tegas.
Di permukaan air yang hitam itu β tangan-tangan kecil yang merayap naik β saya memaksa diri tidak memikirkannya. Kalau saya pikirkan, saya tidak akan bisa tidur. Kalau saya tidak tidur, saya tidak akan kuat. Dan kami harus kuat. Malam ini, kami harus kuat.
Malam itu kami berkumpul di ruang tamu. Lagi. Kasur lipat digelar lagi. Tapi suasananya berbeda dari tadi malam β tidak ada lagi usaha untuk terlihat normal. Fajar tidak bercanda. Sari duduk rapat di samping Bu Sarmi, tidak melepaskan genggamannya.
"Jadi..." kata Fajar akhirnya, suaranya serak. "Jadi selama ini... ada dua?"
Bu Sarmi mengangguk pelan. Tasbih tidak lepas dari tangannya sejak sore. "Lasmi... dan yang manggil dia turun tiga puluh tahun lalu. Penunggu sumur itu."
"Penunggu yang pakai suaranya," bisik Sari. "Yang nawarin pisang goreng. Yang manggil-manggil 'cobain, Bang'."
Saya memejamkan mata. Tiba-tiba semuanya masuk akal β dengan cara yang mengerikan. Kebaikan saya yang "menandai" saya β mungkin bukan Lasmi yang memilih saya. Mungkin penunggu itu yang memilih saya, memakai wajah dan suara Lasmi yang manis. Tangis "tiga puluh tahun aku sendirian" β itu Lasmi yang asli, yang terjebak di bawah bersama sesuatu yang lapar.
"Terus yang nulis 'jangan percaya nyanyiannya'..." kata Fajar.
"Lasmi," kata saya. "Dia nulis itu pakai kukunya, dalam gelap, nggak tahu bakal ada yang baca atau nggak. Peringatan buat kita." Dada saya sesak. "Tiga puluh tahun dia di bawah sama makhluk itu, dan yang dia pikirin... ngasih peringatan ke orang lain."
Sunyi. Di luar, angin menggesek pohon jambu. Tidak ada nyanyian. Belum.
"Kita tutup sumurnya lagi?" tanya Sari kecil. "Dicor penuh?"
Bu Sarmi menggeleng. "Tukang yang dulu aja kabur. Siapa yang mau ngecor sekarang? Lagipula..." Beliau menatap saya. "Mas Dimas janji mau keluarin dia. Janji itu didenger. Kalau kita tutup lagi, kita ingkar janji. Dan..." beliau tidak melanjutkan. Tidak perlu. Kita semua tahu: mengingkari janji pada mereka bukan pilihan.
"Terus kita apa?" Fajar menatap saya. "Rencananya apa, Dim?"
Saya tidak punya rencana. Saya anak kos biasa yang tiga hari lalu masalah terbesarnya cuma telat bayar uang kos. Sekarang saya duduk di ruang tamu yang lampunya menyala semua, membahas cara mengeluarkan arwah dari sumur sambil menunggu makhluk tua yang lapar memutuskan untuk marah.
"Kita bertahan malam ini," kata saya akhirnya. "Besok pagi kita pikir lagi. Aturannya: nggak ada yang keluar kamar sendirian. Nggak ada yang buka pintu belakang. Kalau dengar nyanyian β jangan jawab, jangan nyanyi balik, bangunin yang lain. Sepakat?"
"Sepakat," kata mereka bertiga.
Kami tidur β atau berusaha tidur β dengan lampu menyala semua. Saya memaksa mata saya terpejam. Saya menghitung napas. Satu. Dua. Tiga.
Saya terbangun karena sunyi.
Bukan suara yang membangunkan saya β justru ketiadaannya. Dengkuran Fajar berhenti. Napas Bu Sarmi tidak terdengar. Ruangan terasa... kosong.
Saya membuka mata. Lampu masih menyala. Fajar tidur di kasur lipatnya. Bu Sarmi tidur miring. Tapi tempat Sari β kosong. Selimutnya tersingkap.
Dan pintu belakang β yang tadi kami kunci β terbuka sedikit. Angin malam masuk dari celahnya, dingin.
"Sari!" Saya membangunkan Fajar dan Bu Sarmi dengan panik. "Sari nggak ada! Pintu belakang kebuka!"
Kami menyambar senter. Tidak sempat pakai sandal β kaki telanjang kami langsung basah begitu menginjak teras belakang. Basah. Dingin.
Jejak kaki basah mengarah ke sumur.
Kami berlari. Senter kami bergoyang-goyang liar di kegelapan halaman.
Sari duduk di bibir sumur.
Triplek penutupnya tersingkap β didorong ke samping, batu-batu penindihnya berserakan. Kertas doa Bu Sarmi sobek, setengahnya hilang entah ke mana. Dan Sari duduk di sana, di tepi lubang yang menganga hitam, kakinya menjuntai ke dalam. Bergoyang pelan.
Bernyanyi. Lagu anak-anak itu. Riang.
Di sampingnya β berjejer rapi, basah, menghadap kami β sandal jepit kecil. Sepasang. Lengkap.
"SARI!" teriak Fajar.
Dia tidak menoleh. Dia terus bernyanyi, suaranya manis, seperti anak kecil yang sedang bermain dan tidak mau diganggu.
Saya maju perlahan. Sangat perlahan. Ingat, Dimas. Ingat aturannya. Jangan menjawab panggilannya. Jangan menerima tawarannya.
Tapi sebut namanya. Itu yang berhasil kemarin.
"Sari." Saya berhenti tiga langkah di belakangnya. Suara saya bergetar tapi saya memaksanya lembut. "Sari, ini Dimas."
Nyanyiannya berhenti β terputus, seperti benang digunting. Persis seperti Lasmi kemarin.
Sari menoleh. Perlahan. Wajahnya pucat, matanya kosong β tapi senyumnya... senyum kecil, manis, periang. Bukan senyum Sari.
Dan ketika dia bicara, suaranya bertumpuk. Suara Sari β dan di bawahnya, suara anak kecil yang riang. Dua suara dari satu mulut.
"Bang Dimas baik," katanya. "Bang Dimas mau cobain gorenganku. Bang Dimas nggak takut sama aku kayak yang lain." Dia memiringkan kepala. "Ikut, Bang? Di bawah nggak dingin kalau berdua. Ada aku. Ada yang lain juga. Yang lain laper, Bang..."
Di belakang saya, Bu Sarmi merapal doa semakin cepat, semakin keras. Fajar berbisik, "Dim, jangan deket-deketβ"
"Aku nggak ikut," kata saya. Saya melangkah maju selangkah lagi. "Dengar, Sari. Aku nggak ikut ke bawah. Tapi aku di sini. Kamu nggak sendirian." Saya mengulurkan tangan β terbuka, kosong, seperti kemarin ke arah Lasmi. "Ini Dimas. Temen kos kamu. Yang kemarin makan nasi goreng bareng. Inget?"
Wajah Sari bergetar. Senyum periang itu retak β seperti topeng yang pecah. Matanya yang kosong berkedip. "D-Dim...?"
"Ya. Gue di sini." Saya melangkah lagi. Dua langkah memisahkan kami dari lubang hitam itu. Dari bawah, saya mendengar sesuatu mendidih β suara rendah, basah, marah. Bau lumpur dan minyak goreng menyengat naik, membuat mata saya berair.
"JANGAN!" Suara itu meledak dari mulut Sari β bukan suara Sari, bukan suara anak kecil. Suara yang tua, gelap, dan lapar. Tubuh Sari menegang. "DIA MILIKβ"
"SEKARANG, JAR!" teriak saya.
Fajar menerjang dari samping, memeluk tubuh Sari dan menariknya mundur dari bibir sumur. Sari meronta β kuat, tidak wajar β kukunya mencakar lengan Fajar sampai berdarah. Tapi Fajar tidak melepas.
Bu Sarmi maju, tasbih terangkat, doanya membahana di halaman yang gelap: "A'udzubillahi minasy syaithanir rajimβ"
Dari dalam sumur, air hitam menyembur naik β setinggi hampir satu meter β seperti air mancur yang busuk. Bau anyir memenuhi udara. Dan suara itu β suara tua itu β menggeram dari kedalaman, menggetarkan tanah di bawah kaki kami.
Lalu β dari masjid di ujung jalan β adzan subuh berkumandang.
Semburan air itu jatuh kembali ke dalam sumur dengan bunyi berdebur. Geraman itu berhenti β terputus, seperti benang digunting. Sari terkulai di pelukan Fajar, tidak sadarkan diri. Kaus kakinya basah kuyup. Di pergelangan tangannya β saya melihatnya saat Fajar mengangkatnya β ada memar baru. Berbentuk jari-jari kecil.
Kami membawanya masuk. Mengunci pintu belakang β kali ini dengan kursi didorong ke depannya. Kami menutup sumur lagi β triplek, batu, dan kali ini Fajar menindihnya dengan potongan besi tua yang berat. Bu Sarmi menulis doa baru, menempelkannya dengan lakban.
Sari siuman di sofa, menangis. "Aku... aku mimpi main di halaman. Terus ada yang gandeng tanganku. Dingin." Dia menatap pergelangan tangannya yang memar, lalu menatap saya. "Dim, aku nggak mau... aku nggak mau jadi kayak Lasmi."
"Kamu nggak akan," kata saya. Saya menggenggam tangannya β tangan yang dingin seperti es. "Kita keluarin dia dulu. Terus semuanya selesai."
Tapi saya tidak yakin. Dan dari cara Bu Sarmi menatap saya, beliau juga tidak yakin.
Pagi merangkak masuk dari ventilasi. Abu-abu. Pucat. Kami tidak tidur lagi.
Setelah memastikan Sari tenang β Bu Sarmi menemaninya di kamar, Fajar tertidur di sofa karena kelelahan β saya keluar ke teras belakang sendirian. Matahari sudah naik. Burung-burung berkicau seolah tadi malam tidak terjadi apa-apa.
Sumur itu tertutup triplek dan besi tua. Kertas doa Bu Sarmi tertempel. Aman β untuk sekarang.
Tapi ada yang hilang.
Sandal kecil sepasang itu β yang tadi malam berjejer rapi di bibir sumur β tidak ada. Saya memeriksa sekeliling. Di bawah pohon jambu. Di semak-semak. Tidak ada.
Saya kembali masuk dengan perasaan tidak enak yang menggerogoti perut saya.
Dan saat itulah saya mendengarnya.
Dari dalam kos. Dari koridor.
Plok... srek... plok... srek...
Langkah kecil. Basah. Pelan. Menyusuri koridor β bukan ke arah kamar saya, bukan ke arah kamar Sari β ke arah ujung koridor. Ke arah pintu yang tidak pernah terbuka sejak saya tinggal di sini.
Langkah itu berhenti. Tepat di depan pintu kamar 7.
Sunyi. Satu detik. Dua detik.
Lalu suara anak kecil β periang, manis, sabar:
"Bang... kamarnya dingin. Cobain masuk, Bang."
Saya berdiri mematung di ruang tamu. Tangan saya dingin. Di ujung koridor, di bawah pintu kamar 7 yang selalu terkunci itu, saya melihat sesuatu merembes masuk dari dalam.
Cahaya. Tipis. Kehijauan. Seperti cahaya dari dasar air.
Dan dari dalam kamar 7 β untuk pertama kalinya β terdengar nyanyian. Lagu anak-anak itu. Riang. Dekat. Sangat dekat.