β€Ή
50. Tawaran dari Balik Pintu

Tawaran dari Balik Pintu

Kos Nomor 13 β€’ 1,541 kata

Ilustrasi Tawaran dari Balik Pintu

Pagi itu saya bangun dengan warna merah di bawah kuku-kuku jari saya β€” lebih banyak dari semalam, lebih tegas, seperti seseorang semalaman memegang tangan saya dan mewarnainya perlahan-lahan.

Saya duduk di tepi ranjang menatap kesepuluh jari saya. Merah crayon. Di sela kuku, di lipatan kulit. Saya menggosoknya dengan sabun sampai kulit perih dan air wastafel berubah merah muda. Menipis β€” tapi tidak hilang. Seperti kemarin. Seperti akan selalu begitu.

"Tanganmu kenapa, Nak?"

Saya menoleh. Bu Sarmi berdiri di ambang pintu kamar saya dengan nampan sarapan. Matanya langsung tertuju ke jari-jari saya yang masih basah. Wajahnya berubah β€” bukan kaget. Lebih buruk dari kaget. Seperti orang yang melihat hantu yang sudah lama ia kenal.

"Bu..." Saya menyembunyikan tangan di balik punggung, terlambat dan sia-sia. "Cuma... kotor, Bu."

Bu Sarmi meletakkan nampan di meja dengan tangan gemetar. Ia mendekat, meraih pergelangan tangan saya β€” lembut tapi tidak memberi pilihan β€” dan menatap kuku-kuku saya lama sekali.

"Tiga puluh tahun," bisiknya.

"Bu?"

"Ibu Lastri." Suara Bu Sarmi serak. "Tiap pagi, waktu dia masih masak di dapur ini, kukunya begini. Saya tanya, dia cuma senyum. 'Tanda,' katanya. 'Tanda sumur sudah kenal saya, Mi.'" Bu Sarmi mengangkat wajahnya, matanya basah. "Saya kira itu cuma... kebiasaan orang tua. Nggak taunya..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.

Saya sarapan dalam diam. Nasi uduk Bu Sarmi yang biasanya harum terasa seperti kapas di mulut saya. Di luar, kos berjalan seperti biasa β€” suara motor Fajar yang dipanasi, Sari menyapu teras sambil bersenandung pelan, azan dari musala seberang jalan. Normal. Dunia yang normal, dengan saya yang duduk di tengahnya membawa merah di bawah kuku.

Siang harinya Ustadz Mahmud datang tanpa diundang. Ia duduk di kursi plastik ruang tamu kos, menyeruput teh yang dibuatkan Bu Sarmi, dan menatap saya dengan tatapan yang membuat saya ingin mengaku dosa yang bahkan belum saya lakukan.

"Ceritakan," katanya. "Yang semalam. Yang sebenarnya."

Saya menceritakan semuanya. Tentang suara Ibu Lastri yang asli β€” hangat, lelah, damai. Tentang "Jaga dia ya." Tentang jawaban saya.

"Janji, Bu."

Dua kata itu menggantung di udara ruang tamu seperti asap.

Ustadz Mahmud meletakkan cangkirnya perlahan. Sangat perlahan.

"Dimas," katanya, "kamu tahu kenapa sumur itu masih lapar setelah dua puluh tiga tahun saya tutup?"

Saya menggeleng.

"Karena sumur tidak ditutup dengan semen dan doa, Nak. Sumur ditutup dengan JANJI." Ia mencondongkan tubuh. "Dua puluh tiga tahun lalu saya berjanji akan menjaga segelnya. Tapi janji saya retak β€” karena saya menutup sumur tanpa memberi dia teman. Ibu Lastri yang menambalnya, dengan caranya sendiri: tiga puluh tahun memanggil, tiga puluh tahun bercerita ke dalam gelap, tiga puluh tahun menjadi... temannya." Ustadz menatap jari-jari saya. "Merah di kukumu itu bukan kotoran, Dimas. Itu tanda tangan sumur. Dia sudah memilih penjaga barunya."

Dingin merambat dari tengkuk saya ke punggung.

"Penjaga... baru?"

"Ibu Lastri bebas karena ada yang menggantikan." Suara Ustadz pelan tapi tiap katanya menghantam. "Kamu yang bilang 'janji'. Di bawah sana, janji adalah satu-satunya mata uang β€” dan kamu baru saja membayar dengan dirimu sendiri."

"Ustadz... saya cumaβ€”"

"Saya tahu kamu cuma bermaksud baik." Ustadz tersenyum getir. "Ibu Lastri juga. Saya juga, dua puluh tiga tahun lalu. Niat baik adalah pintu yang paling sering dipakai gelap untuk masuk, Nak."

Sore itu saya mencoba menjalani hari seperti manusia normal. Saya ke pasar membeli kebutuhan, memperbaiki keran kamar mandi yang menetes, membantu Fajar mengganti oli motornya. Tangan saya bekerja; pikiran saya ada di bawah lantai, di tempat tali lampu minyak saya turun sepuluh, lima belas meter ke dalam gelap, dan kembali dengan gambar crayon.

Menjelang magrib, Fajar menghampiri saya di teras. Wajahnya biasanya ceria β€” anak rantau yang menertawakan apa saja β€” tapi sore itu ia serius.

"Dim," katanya pelan, "tadi pagi waktu kamu cerita ke Ustadz... saya denger. Soal janji itu."

Saya tidak menjawab.

"Gue nggak akan ceramahin lu," lanjutnya. "Gue cuma mau bilang: termos gue masih penuh. Tiap malam jam tiga kurang sepuluh, gue di belakang lu. Itu nggak berubah." Ia menepuk bahu saya. "Tapi kalau sampai ada malam di mana lu nyuruh gue pulang... gue nggak akan pulang."

Tenggorokan saya tercekat. Saya mengangguk, tidak percaya suara saya sendiri.

Malam itu ritual berjalan seperti biasa. Jam tiga kurang sepuluh, saya duduk bersila di depan pintu kamar 7. Fajar di belakang saya dengan termosnya. Taburan garam Bu Sarmi masih melingkari kusen pintu β€” butir-butir putih yang tidak pernah bergeser, seolah bahkan debu pun takut mendekat.

Saya mengetuk pelan dua kali. Kebiasaan yang terbentuk sendiri.

"Abang datang," kata saya.

Sunyi. Lalu, dari bawah pintu, suara kecil itu β€” yang empat belas malam terakhir selalu menyambut saya dengan lapar yang nyaris tak tertahankan β€” berkata sesuatu yang baru.

"Abang... capek?"

Saya terpaku.

Empat belas malam ia hanya tahu tiga kalimat: "cerita?", "Abang janji", dan "besok lagi?". Malam ini ia bertanya apakah saya lelah. Ia BELAJAR. Dari dongeng-dongeng saya β€” dari cerita tentang anak desa yang meminjam lampu, tentang ibu yang menunggu β€” ia belajar bahwa orang bisa lelah, dan bahwa menanyakannya adalah... perhatian.

Kasihan. Kata Ustadz terngiang: kasihan adalah bahasa yang ia mengerti. Dan dada saya sesak dengan bahasa itu.

"Nggak," bohong saya. "Abang nggak capek. Mau denger cerita apa malam ini?"

"Mau..." jeda kecil, seperti anak memilih permen, "...tentang nelayan."

Saya bercerita tentang nelayan tua yang meminjamkan perahunya kepada anak muda yang kapalnya karam. Dalam cerita itu, nelayan berkata: "Perahu boleh kau pakai, tapi jangan kau miliki. Yang dipinjam harus kembali β€” kalau tidak, laut akan menagihnya darimu dengan cara yang tidak kau duga." Anak muda itu mengembalikan perahu setiap senja, sampai suatu hari ia lupa, dan laut mengambilnya β€” bukan perahunya, tapi bayangannya, sehingga ia hidup tanpa bayangan sampai ia meminta maaf kepada laut.

Saya tidak tahu kenapa saya memilih cerita itu malam ini. Mungkin karena saya sedang memikirkan pinjaman dan kepemilikan. Mungkin karena saya takut saya sudah meminjamkan sesuatu yang tidak bisa kembali.

Saat saya selesai, sunyi yang panjang. Lalu suara kecil itu berkata:

"Cerita... tentang Abang."

Tangan saya mencengkeram lutut sendiri.

"Nggak," kata saya cepat. Terlalu cepat. "Cerita tentang Abang membosankan. Besok Abang ceritakan tentangβ€”"

"Kenapa?" Suara itu kecil. Bukan menuntut. Terluka β€” atau meniru terluka, saya sudah tidak bisa membedakan. "Abang cerita tentang semua orang. Tentang Lasmi. Tentang nelayan. Tentang anak kos yang dengerin tetesan air." Jeda. "Kenapa Abang nggak pernah cerita... tentang Abang yang sebenarnya?"

Karena beberapa cerita adalah pintu, saya ingin menjawab. Karena kalau aku menceritakan diriku yang sebenarnya β€” ketakutanku, kesepianku, janjiku β€” kamu akan tahu persis di mana gagangnya.

"Besok," kata saya. Janji ringan. Janji dongeng. "Besok Abang pikirkan."

"Abang janji?" tanyanya cepat. Terlalu cepat. Seperti sudah menunggu kalimat itu.

Dada saya dingin. "Besok lagi," kata saya, dan beranjak berdiri. Lutut saya berderit. Fajar menggeliat bangun di belakang saya.

Dan saat itulah saya mendengarnya.

Bunyi yang belum pernah ada dalam empat belas malam ritual ini.

Krek.

Gagang pintu kamar 7 β€” gagang tua berkarat yang tidak pernah bergerak, yang bahkan Bu Sarmi bilang "sudah mati sejak sebelum kamu lahir" β€” berputar. Perlahan. Dari dalam.

Pintu terbuka sedikit. Sejengkal. Tidak lebih.

Dan dari celah itu, cahaya tumpah ke koridor.

Cahaya hangat. Kuning. Berkedip pelan seperti nyala lampu minyak.

Lampu yang saya turunkan ke dalam sumur. Lampunya kembali β€” dan sekarang menyala di dalam kamar yang seharusnya kosong.

"Abang..." Suara kecil itu kini terdengar lebih dekat. Di balik celah pintu. "Di dalam hangat. Dongengnya lebih enak di dalam."

Tangan saya β€” saya bersumpah, saya tidak memerintahkannya β€” terangkat dari sisi tubuh saya. Jari-jari saya bergerak ke arah gagang pintu, seperti ada benang tak terlihat yang menariknya. Hangat itu memanggil. Setelah empat belas malam duduk di lantai koridor yang dingin, hangat terasa seperti... pulang.

"Nak, masuk." Suara kedua. Hangat. Tua. Suara yang memuji masakan saya dan menertawakan lelucon garing Fajar. "Ibu sudah siapkan teh. Masuk, Nak."

Ibu Lastri. Atau sesuatu yang memakai suaranya seperti baju.

Jari saya menyentuh gagang pintu yang dingin β€”

PRANG!

Di belakang saya, termos Fajar pecah berkeping-keping di lantai. Teh melati panas menggenang, uap mengepul. Tangan Fajar mencengkeram bahu saya dengan kekuatan yang menyakitkan, menarik saya mundur setengah meter dari pintu.

"JANGAN!" bentaknya, suaranya pecah antara takut dan marah.

Saya tersentak β€” seperti terbangun. Tangan saya masih terulur ke arah pintu, jari-jari gemetar sejengkal dari gagangnya.

Celah pintu itu masih terbuka. Cahaya hangat masih tumpah.

Dan dari dalam kamar, dari dalam cahaya itu, terdengar suara β€” suara yang membuat darah saya berhenti mengalir.

Suara saya sendiri.

"Besok lagi," kata suara saya dari dalam kamar nomor 7. Tenang. Ramah. Persis seperti saya mengatakannya setiap malam.

Lalu, pelan, pintu itu tertutup kembali. Klik. Gelap menelan koridor.

Di belakang saya, Fajar terengah-engah. "Dim... itu... itu suara lu..."

Saya menatap tangan saya. Di bawah kuku-kuku jari saya, merah crayon itu kini tampak... lebih merah. Seperti baru diwarnai.

Dari bawah pintu kamar 7, sangat pelan, terdengar suara anak kecil terkikik bahagia dalam gelap.

Saya tidak tidur sampai pagi.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!