β€Ή
28. Sandal Sebelah di Atas Bantal

Sandal Sebelah di Atas Bantal

Kos Nomor 13 β€’ 1,709 kata

Ilustrasi Sandal Sebelah di Atas Bantal

"Tinggal dua jam sampai subuh."

Sari mengatakannya sambil menatap jam dinding gudang yang berdetak terlalu keras di tengah keheningan. Pukul setengah empat pagi. Di luar gudang, nyanyian Lasmi mengelilingi kos seperti kabut β€” kadang dari sumur, kadang dari kebun pisang, kadang dari atap. Selalu periang. Selalu semakin dekat.

Saya tidak menoleh ke belakang. Saya tidak berani. Napas dingin di belakang telinga saya sudah hilang β€” atau saya hanya meyakinkan diri begitu. Yang jelas, tidak ada lagi yang berdiri di sudut gudang saat senter Sari menyapu ke sana. Hanya rak-rak, perkakas berkarat, dan belasan sak semen yang sudah menjadi batu.

"Rencana," kata Bu Sarmi. Dia duduk di atas sak semen yang mengeras, tasbihnya sudah putus β€” butir-butirnya berserakan di lantai, dan dia tidak repot-repot memungutnya. "Kita tidak bisa keluar lagi malam ini. Sumur setengah tercor, semen habis dirusak, air habis. Yang bisa kita lakukan..." Dia menatap kami bertiga. "Bertahan. Sampai adzan subuh. Dia tidak suka cahaya. Dia tidak suka ramai. Siang bolong, ramai-ramai β€” itu sebabnya rencana awal kita benar. Kita hanya... terlalu cepat."

"Atau terlalu lambat," gumam Fajar. Dia duduk memeluk lutut, menatap kakinya yang basah. Sejak genangan hitam menyentuh sandalnya di sumur tadi, dia tidak banyak bicara.

"Kita kembali ke dalam rumah," kata Sari. "Kunci semua pintu. Kita tunggu di satu ruangan. Jangan ada yang tidur. Jangan ada yang jawab kalau dipanggil. Jangan ambil apa pun." Dia menatap saya. "Dimas. Terutama kamu."

"Kenapa terutama saya?"

"Karena dia manggil kamu 'Bang'." Sari tidak berkedip. "Karena dia nawarin gorengan ke kamu, bukan ke kita. Karena..." Dia ragu. "Karena kamar nomor tujuh itu kamarmu. Dan tadi malam, yang pertama dengar lantai berderit dari kamar nomor tujuh... kamu."

Saya ingin membantah. Tapi saya ingat: akhir chapter hidup saya yang kemarin β€” terbangun di sofa jam tiga pagi, mendengar seseorang bangun dari tempat tidur di kamar nomor tujuh yang kosong. Kamar saya. Seseorang tidur di kasur saya.

Perjalanan dari gudang ke rumah adalah dua puluh meter terjauh dalam hidup saya. Kami bergerak beriringan, senter Sari di depan, saya di belakang. Nyanyian itu mengikuti β€” sekarang terdengar dari dalam rumah, padahal kami di luar. Atau dari dalam kepala saya. Saya tidak bisa bedakan lagi.

Di teras, genangan-genangan hitam menutupi lantai. Kami melangkahinya dengan melompat dari satu keset kering ke keset kering lainnya β€” usaha yang sia-sia dan kami semua tahu itu, tapi manusia tetap butuh merasa sedang berusaha.

Ruang tamu: air hitam setinggi mata kaki. Sofa tempat kami tidur tadi malam sudah basah kuyup. Lampu-lampu masih menyala β€” satu berkedip-kedip, sekarat.

"Kamar saya," kata Sari tiba-tiba. "Kamar nomor empat. Paling jauh dari sumur. Kita kunci dari dalam."

Kamar Sari kecil dan rapi β€” atau dulunya rapi. Sprei bergambar bunga, poster-poster, meja belajar dengan tumpukan buku. Sekarang semuanya terasa seperti properti dalam mimpi buruk. Kami mendorong lemari ke depan pintu. Fajar mengganjal jendela dengan kursi. Bu Sarmi duduk di lantai, bersandar ke dinding, memejamkan mata β€” bukan tidur, hanya... menghemat tenaga.

Kami menunggu.

Menit pertama: hanya suara jam dinding dan napas kami sendiri.

Menit kelima: tetesan mulai. Dari langit-langit kamar Sari. Plak. Plak. Plak. Jatuh ke sprei bunga, meninggalkan noda hitam.

"Jangan lihat ke atas," kata Sari cepat. Tapi kami semua sudah melihat. Noda-noda itu membentuk pola. Bukan pola acak β€” seperti... tulisan? Atau seperti jejak kaki kecil yang berjalan di langit-langit.

Menit kedua puluh: suara-suara mulai.

"Bu Sarmi." Suara laki-laki. Tua. Lembut. Dari balik pintu yang diganjal lemari. "Sarmi... bukain pintu. Dingin di luar."

Bu Sarmi membuka mata. Wajahnya β€” saya belum pernah melihat wajah seperti itu. Seperti seseorang yang ditampar oleh masa lalu.

"Itu..." bisiknya. "Itu suara almarhum bapaknya anak-anak. Suami saya."

"Jangan jawab," kata Sari dan saya bersamaan.

Bu Sarmi mengangguk. Air matanya jatuh. "Saya tahu. Saya tahu. Tapi..." Suaranya hancur. "Tiga puluh tahun saya tidak dengar suara dia."

Lalu giliran Fajar. Dari jendela yang diganjal kursi: ketukan pelan. "Nak Fajar." Suara perempuan. Hangat. "Nak, pulang. Ibu masakin sayur asem kesukaanmu."

Fajar menutup telinga dengan kedua tangan. Badannya bergoyang maju-mundur. "Itu bukan ibu saya," bisiknya keras-keras, seperti mantra. "Ibu saya di kampung. Ibu saya sehat. Itu bukan ibu saya. Itu bukan ibu saya."

Lalu giliran saya.

Tidak ada suara dari pintu atau jendela. Suaranya datang dari koridor β€” jernih, dekat, seolah dia berdiri tepat di luar kamar Sari. Dan kali ini bukan panggilan. Ini tawaran.

"Bang Dimas." Suara Lasmi. Periang. "Bang, aku bawain gorengan. Kayak dulu. Waktu aku masih jualan keliling kos ini, Abang belum lahir sih, tapi..." Dia terkekeh. "Cobain satu, Bang. Pisang gorengnya masih anget. Aku goreng sendiri."

Bau itu merembes dari bawah pintu. Pisang goreng. Minyak panas. Gula aren. Bau yang membuat perut saya berbunyi β€” kapan terakhir saya makan? Kemarin sore? Bau itu begitu nyata, begitu hangat, begitu... manusiawi.

Saya berdiri. Saya tidak memutuskan untuk berdiri. Kaki saya yang basah bergerak sendiri menuju pintu.

"Dimas!" Sari melompat, mencengkeram lengan saya. "Jangan!"

"Tapi diaβ€”" Saya menatap pintu. Di bawah celah pintu, saya bisa melihat bayangan kaki. Kaki kecil. Satu bersandal, satu telanjang. "Dia cumaβ€” dia cuma nawarinβ€”"

"Jangan ambil apa pun darinya!" Sari mengguncang saya. "Itu aturannya! Jangan ambil! Jangan jawab! Dimas, lihat aku!"

Saya menatap Sari. Lalu menatap pintu lagi. Dan di sanalah dia.

Pintu kamar Sari tidak terbuka β€” tapi dia ada di sana. Di dalam kamar. Atau bayangannya. Atau dia selalu ada di kamar ini sejak kami masuk. Lasmi berdiri di sudut kamar, di antara lemari dan dinding, tempat senter tidak mencapai. Jelas. Utuh. Bukan bayangan.

Gadis sembilan belas tahun. Rambut panjang basah. Seragam lama yang menempel. Satu sandal jepit di kaki kanan. Di tangannya, kantong plastik yang mengepul. Senyumnya β€” Tuhan, senyumnya persis seperti yang diceritakan Bu Sarmi. Periang. Tulus. Seperti dia benar-benar senang melihat kami.

"Bang Dimas," katanya. "Cobain satu."

Tangannya terulur. Kantong plastik itu mendekat. Uapnya menyentuh wajah saya. Hangat.

Tangan saya terangkat.

"SARI bilang jangan!" Saya tidak tahu siapa yang berteriak β€” ternyata saya sendiri, suara saya sendiri, dari tempat yang jauh. Tapi tangan saya terus bergerak. Jari-jari saya hampir menyentuh kantong itu.

Lalu Sari menghantam bahu saya dengan seluruh berat badannya. Kami berdua jatuh ke lantai. Kantong plastik itu β€” atau apa pun itu β€” tersentak mundur ke sudut gelap.

"Lihat tanganku!" Sari menyodorkan lengannya ke depan wajah saya. Di pergelangan tangannya, tempat tadi dia mencengkeram saya β€” ada bekas. Basah. Dingin. Bukan keringat. "Rasain! Dingin! Itu bukan manusia, Dimas! Itu bukan Lasmi!"

Dari sudut gelap, suara periang itu berubah. Lapisan tuanya naik β€” seperti minyak di atas air, seperti yang pernah saya dengar di kamar mandi.

"Sayang sekali," katanya. Bukan suara Lasmi lagi. Bukan sepenuhnya. "Hampir."

Lalu dia tidak ada lagi. Sudut kamar itu kosong. Hanya noda basah di lantai, berbentuk dua kaki kecil. Satu dengan sandal. Satu tanpa.

Kami berempat tidak bicara. Tidak ada yang perlu dikatakan. Bu Sarmi merangkak mendekati saya, dan untuk pertama kalinya malam itu, dia memeluk saya β€” erat, seperti ibu memeluk anaknya yang hampir hilang.

"Maafkan saya," bisiknya. "Maafkan keluarga saya."

"Bu..."

"Lasmi itu teman main saya," kata Bu Sarmi. Suaranya datar, seperti orang membaca vonis. "Waktu kecil. Dia yang ngajarin saya lagu itu β€” lagu yang dia nyanyiin terus itu. Lagu anak-anak." Air matanya jatuh ke bahu saya. "Waktu dia hilang ke sumur itu, saya umur delapan. Saya lihat. Saya ada di sana. Saya lihat dia..." Dia tidak melanjutkan. "Kakek bilang jangan cerita ke siapa-siapa. Kakek tutup sumurnya. Keluarga kami menjaga diam itu tiga puluh tahun. Setiap generasi, satu orang harus jadi penjaga. Jaga tutupnya. Jaga jangan sampai ada yang tahu." Dia tertawa β€” tawa yang hancur. "Saya pikir kalau saya diam, dia juga diam. Saya pikir saya bisa lindungi penghuni kos dengan tidak memberi tahu. Bodoh. Saya bodoh."

"Bu Sarmiβ€”"

"Waktu Paijo mati, saya teriak-teriak," potongnya. "Di depan sumur. Saya panik. Saya manggil nama kalian. Dimas! Sari! Fajar! Saya yang kasih dia nama kalian. Saya yang..." Dia memukul dadanya sendiri. "Maafkan saya."

Tidak ada yang menjawab. Tidak ada jawaban yang cukup.

Kami menunggu dalam diam. Tetesan dari langit-langit berhenti. Suara-suara berhenti. Nyanyian β€” yang sedari tadi mengelilingi kos β€” melemah. Menjauh. Seperti surut.

Lalu, dari kejauhan β€” sangat jauh, mungkin dari masjid di ujung jalan β€” terdengar adzan subuh.

Di tengah satu nada, nyanyian Lasmi berhenti. Terputus. Seperti benang yang digunting.

Sunyi. Sunyi yang sesungguhnya, untuk pertama kalinya dalam dua minggu.

Lalu suara air surut. Dari bawah pintu, dari langit-langit, dari dinding β€” genangan-genangan hitam itu tersedot pergi, mengalir kembali ke arah sumur, seperti napas yang dihembuskan kembali. Bau sumur memudar. Bau gorengan hilang.

Cahaya mulai masuk dari ventilasi. Abu-abu. Pagi.

Kami hidup. Kami selamat sampai pagi.

Kami keluar dari kamar Sari dengan kaki gemetar. Ruang tamu masih basah, tapi airnya tinggal genangan biasa β€” tidak hitam lagi, tidak bergerak sendiri. Lampu yang berkedip sudah mati total.

"Kita cek sumur," kata Sari. Suaranya serak.

Di belakang kos, sumur tua itu berdiri dalam cahaya pagi yang pucat. Cor-coran kami malam tadi β€” sebagian menutup lubang. Sebagian. Di tepinya, adukan semen retak-retak, dan dari retakan itu, air hitam merembes. Sedikit. Pelan. Sabar.

"Ditunda," kata Bu Sarmi pelan. "Bukan dikalahkan."

Kami saling pandang. Tidak ada yang mengatakannya, tapi kami semua memikirkannya: semen habis. Tandon kosong. Dan dia tahu semua rencana kami β€” karena kaki kami yang basah adalah kupingnya.

Fajar menatap kakinya. Masih basah. Setelah semua yang terjadi, setelah adzan, setelah pagi β€” kakinya masih basah.

"Kaki saya..." bisiknya.

Saya menatap kaki saya sendiri. Basah juga. Kaus kaki saya bisa diperas.

Kami kembali ke dalam. Bu Sarmi langsung ke dapur, menyalakan kompor β€” gerakan orang yang butuh melakukan sesuatu yang normal. Sari ke kamarnya, mungkin untuk menangis sendirian. Fajar duduk di teras, menatap sumur dari jauh.

Saya... saya ke kamar saya. Kamar nomor tujuh.

Pintunya terbuka. Saya tidak ingat membukanya. Terakhir saya ingat, pintu ini tertutup β€” kami semua tidur di ruang tamu, tidak ada yang berani ke kamarnya masing-masing.

Di dalam, semuanya basah. Kasur saya β€” basah kuyup, seperti baru diangkat dari sumur. Sprei menempel. Bantal...

Di atas bantal saya, ada sesuatu.

Kecil. Basah. Sebuah sandal jepit. Sandal anak perempuan. Ukuran untuk gadis sembilan belas tahun. Hanya sebelah. Yang kanan.

Dan samar β€” sangat samar, sampai saya tidak yakin itu nyata atau hanya ingatan hidung saya β€” bau pisang goreng.

Dari koridor, Bu Sarmi memanggil: "Mas Dimas! Sarapan!"

Saya tidak menjawab. Saya menatap sandal itu. Saya mengerti sekarang. Tadi malam, waktu saya terbangun di sofa jam tiga pagi dan mendengar seseorang bangun dari tempat tidur di kamar nomor tujuh yang kosong β€” itu bukan seseorang yang tidur di kasur saya.

Itu dia. Meninggalkan tempat untuk saya.

Dia sudah memilih. Malam ini, dia memilihku.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!