β€Ή
23. Lalu Dia Mulai Mendengar Tetesan Itu

Lalu Dia Mulai Mendengar Tetesan Itu

Kos Nomor 13 β€’ 1,658 kata

Ilustrasi Lalu Dia Mulai Mendengar Tetesan Itu

Bu Sarmi berhenti menulis tepat setelah kata itu: mangg.

Bukan manggil. Bukan mangg... sesuatu. Pulpen tua itu berhenti di tengah huruf, tintanya merembes membentuk titik hitam kecil yang membesar pelan-pelan di kertas, seperti air sumur yang merembes dari dasar. Aku menatap titik itu sampai mataku perih.

"Manggil," kata Bu Sarmi akhirnya. Suaranya serak, jauh lebih tua dari umurnya yang sebenarnya. "Lasmi mulai mendengar tetesan itu... manggil namanya."

Di luar, hujan sudah reda sejak tadi. Tapi dari dinding ruang tamu, aku masih mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ada: tes... tes... tes. Pelan. Teratur. Seolah dinding bata kos ini punya nadi.

"Bu," kataku, "tetesan itu dari mana? Ini bukan musim hujan."

Bu Sarmi menatapku lama. Kemudian ia berdiri β€” lututnya berderak seperti kayu lapuk β€” dan berjalan ke kamarnya tanpa berkata apa-apa. Aku hampir mengikutinya, tapi Fajar yang sejak tadi diam di sudut ruangan menahan lenganku.

"Jangan," bisik Fajar. "Biarin. Dia lagi ambil sesuatu. Gw kenal tatapan itu."

Lima menit berlalu. Dari dinding, tes... tes... tes. Aku mencoba meyakinkan diri itu sisa air hujan di talang. Tapi talang kos ini tidak ada di sisi ruang tamu. Dan ritmenya β€” terlalu sempurna. Tetesan air tidak pernah se teratur itu. Itu bukan air. Itu seperti... jari. Seperti seseorang mengetuk dinding dari sisi lain. Pelan-pelan. Sabar. Punya waktu seumur dunia.

Bu Sarmi kembali membawa kotak kayu. Kotak rokok zaman dulu, yang gambarnya sudah luntur, baunya campuran kapur barus dan sesuatu yang manis-busuk. Ia meletakkannya di meja di depanku dengan hati-hati, seolah isinya bisa pecah β€” atau bisa melompat.

"Surat-surat Lasmi," katanya. "Bu yang nulis... eh, dia yang nitip ke Bu. Sebelum... sebelum dia pindah."

"Pindah ke mana, Bu?"

Bu Sarmi tidak menjawab. Ia membuka kotak itu. Di dalamnya: tumpukan kertas surat bergaris, kuning kecokelatan, tulisan tangan perempuan yang rapi dan ceria β€” huruf-hurufnya melengkung seperti tersenyum. Ada juga foto. Foto hitam putih yang sudah menguning di tepi: seorang gadis berambut dikepang dua, tersenyum lebar ke kamera, berdiri di depan kos ini. Kos ini β€” aku mengenalinya dari kusen pintu yang sama, hanya saja waktu itu catnya masih baru dan pohon mangga di samping belum setinggi sekarang. Di belakang gadis itu, samar-samar, ada sumur tua. Tutup kayunya masih utuh waktu itu.

"Lasmi," kata Bu Sarmi, jarinya yang gemetar menyentuh foto itu. "Umur sembilan belas. Baru lulus SMA, kerja di pabrik tekstil. Anaknya periang, Mas. Suka nyanyi waktu nyuci baju. Suka bagi-bagi gorengan. Semua anak kos sayang sama dia."

Aku mengambil surat paling atas. Tanggalnya: 14 Maret 1983.

Bu Sarmi yang baik,

Aku pinjam buku resep Ibu ya, yang sayur asem kemarin enak banget, aku mau coba masak buat anak-anak. Oh iya, semalam aku dengar suara aneh dari arah belakang kos. Kayak tetesan air, tapi sumurnya kan ditutup? Mungkin tikus. Jangan khawatir ya Bu, aku nggak takut kok. Hehe.

Salam, Lasmi

Aku membaca surat kedua. 21 Maret 1983.

Bu,

Tetesannya makin jelas. Aku tanya Mbak Ratna kamar 5, dia bilang nggak dengar apa-apa. Aku tanya Mas Jono kamar 2, dia ketawa, bilang aku mimpi. Tapi Bu, aku nggak mimpi. Tadi malam aku bangun jam setengah tiga, dan suaranya jelas banget, dari bawah lantai kamarku. Tes... tes... tes. Kayak ada yang ngetuk dari bawah. Aku sampai tempel kuping ke lantai. Dingin banget lantainya, Bu. Padahal siang panas.

Lasmi

Surat ketiga. 28 Maret 1983. Tulisannya sudah tidak serapi dulu. Huruf-hurufnya lebih rapat, lebih menekan, beberapa sobek menembus kertas.

Bu Sarmi,

Aku tahu Ibu sibuk, maaf ganggu. Tapi aku harus cerita ke seseorang. Semalam aku mimpi. Aku tenggelam di air hitam, dalam banget, nggak ada dasarnya. Ada sesuatu berenang muterin aku, makin lama makin dekat. Aku mau teriak tapi air masuk ke mulut. Pas bangun, kaki aku basah, Bu. Basah kuyup. Seprai juga basah. Aku nggak ngompol, Bu, sumpah. Ini air sumur, baunya... bau lumut dan besi.

Aku takut, Bu.

Lasmi

Tanganku gemetar. Aku menatap Bu Sarmi. "Ini... sama persis kayak yang Ibu tulis tadi. Mimpi yang sama. Persis kayak mimpi orang-orang yang minum air sumur setelah magrib."

Bu Sarmi mengangguk pelan. "Tapi Lasmi nggak pernah minum air sumur itu, Mas. Nggak ada yang berani. Sumur itu udah ditutup sejak zaman kakek Bu. Lasmi cuma... dengar. Cuma dengar tetesannya."

"Terus?"

Bu Sarmi mengambil surat keempat. Yang terakhir. 4 April 1983.

Bu,

Aku nggak tahan lagi. Tadi malam tetesannya manggil nama aku. Jelas banget. LAS-MI. LAS-MI. Kayak suara dari dalam air. Aku coba tutup kuping pakai bantal, tapi suaranya dari dalam kepala. Bu, aku mau lihat. Aku harus lihat apa yang di dalam sumur itu. Mungkin cuma katak. Mungkin cuma pipa bocor. Tapi aku harus lihat sendiri, kalau nggak aku gila.

Besok malam, habis magrib, aku mau buka tutup sumurnya. Jangan cegah aku ya Bu. Aku mohon.

L.

Hening. Fajar yang membaca dari sampingku mengumpat pelan.

"Habis itu?" tanyaku.

Bu Sarmi menutup kotak itu. "Habis magrib tanggal 5 April 1983, Lasmi buka tutup sumur. Mbak Ratna lihat dari jendela β€” Lasmi bawa senter, jalan ke belakang kos sendirian. Mbak Ratna mau nyusul, tapi... dia bilang kakinya kayak dipaku ke lantai. Nggak bisa gerak. Dia cuma bisa lihat."

"Lihat apa?"

"Lasmi jongkok di bibir sumur. Senternya jatuh. Terus dia... dia nunduk. Dalam. Kayak mau mencium airnya. Terus β€” " Bu Sarmi berhenti. Napasnya pendek-pendek. "Mbak Ratna bilang, dia dengar suara. Bukan teriakan. Suara kayak orang ketawa lega. Kayak orang yang akhirnya ketemu yang dicari seumur hidup. Terus sunyi."

"Terus Lasmi ke mana?"

Bu Sarmi menatapku. Matanya basah tapi tidak menetes. "Nggak ada yang tahu, Mas. Pagi-pagi sumurnya udah ketutup lagi. Rapi. Kayak nggak pernah dibuka. Senternya ada di bibir sumur. Sandalnya... satu. Cuma satu, yang kiri. Yang kanan nggak pernah ketemu."

"Polisi?"

"Dilapor. Dicari seminggu. Nggak ketemu. Akhirnya dibilang kabur sama pacarnya. Tapi Mas..." Bu Sarmi meraih tanganku. Tangannya dingin seperti lantai kamar Lasmi. "Mbak Ratna bersumpah, malam itu dia dengar tetesan juga. Dari dalam kamarnya. Dan seminggu setelah Lasmi hilang, Mbak Ratna pindah. Sebulan kemudian, Mas Jono pindah. Tiga bulan kemudian, kos ini kosong. Nggak ada yang berani ngekos di sini selama... lama."

Aku merinding sampai ke tulang. "Sampai kapan, Bu?"

"Sampai Ibu yang megang. Tahun sembilan puluh. Ibu pikir... Ibu pikir udah aman. Udah lama. Sumurnya udah Ibu tutup permanen, Ibu cor pinggirnya, Ibu kunci pakai rantai. Tapi Mas..." Ia menunjuk dinding ruang tamu. "Dua minggu lalu, tetesannya mulai lagi. Setelah... tiga puluh tahun diam."

Dua minggu lalu. Aku menghitung cepat. Dua minggu lalu adalah saat aku pindah ke kos ini.

Fajar dan aku saling pandang. Wajah Fajar pucat seperti kertas surat Lasmi.

"Bu," kataku pelan, "kenapa Ibu nggak bilang dari awal? Kenapa Ibu biarin aku ngekos di kamar..."

Aku berhenti. Tenggorokanku kering.

Kamar yang kutempati sekarang β€” kamar nomor 7.

Kamar Lasmi.

Bu Sarmi menunduk. "Karena Ibu butuh orang di kamar itu, Mas."

"Buat apa?"

"Supaya tetesannya punya yang didengerin." Suaranya pecah. "Selama kamar tujuh kosong, tetesannya... nyari. Ke kamar lain. Ke Ibu. Tiga puluh tahun Ibu dengerin sendirian, Mas. Ibu udah tua. Ibu capek. Ibu pikir kalau ada yang nempatin, dia... dia berhenti nyari Ibu."

Aku berdiri begitu cepat sampai kursi terjungkal. "Ibu JADIKAN AKU UMPAN?"

"Bukan umpan, Mas! Ibu pikir... Ibu pikir mungkin dia cuma butuh teman. Kayak Lasmi dulu. Lasmi yang periang, yang suka nyanyi β€” mungkin sumur itu kesepian. Mungkin kalau ada yang nemenin, dia tenang."

"ITU BUKAN KESPIAN, BU!" Aku tidak sadar aku berteriak. "ITU LAPAR! Ibu sendiri yang nulis! 'Dijaga supaya tidak lapar'!"

Fajar berdiri di antara kami. "Dimas. Dimas, tenang. Marah-marah nggak nyelesein apa-apa."

Tapi aku tidak bisa tenang. Dadaku sesak. Dua minggu. Dua minggu aku tidur di kamar Lasmi, di kasur yang mungkin... aku bahkan tidak mau memikirkannya. Dua minggu aku mendengar tetesan itu dan mengira itu pipa.

"Mas." Bu Sarmi meraih kotak kayu itu lagi, membukanya, mengambil sesuatu dari dasar kotak. Sebuah kunci. Kunci besi tua, berkarat. "Ini kunci gudang belakang. Di dalam ada... buku catatan kakek Bu. Catatan asli, dari tahun 1920-an. Waktu dia gali sumur itu. Ibu nggak pernah berani baca sampai habis. Mungkin... mungkin di situ ada jawabannya. Cara berhentiinnya."

Aku menatap kunci itu. Sebagian diriku ingin melemparnya dan pergi dari kos ini malam ini juga. Tapi sebagian yang lain β€” bagian yang sudah dua minggu mendengar tes... tes... tes... β€” tahu aku tidak akan bisa pergi. Bukan karena takut. Karena penasaran. Karena tetesan itu sekarang terdengar... berbeda. Lebih dekat. Seolah pindah dari dinding ruang tamu ke... ke dalam kepalaku.

"Mana gudangnya?" tanyaku.

Bu Sarmi menunjuk ke belakang. Ke arah sumur tua.

"Di sebelah sumur, Mas. Gudangnya nempel sama sumur."

Tentu saja. Tentu saja gudangnya di sebelah sumur.

Aku mengambil kunci itu. Dingin. Terlalu dingin untuk benda yang disimpan di dalam rumah.

"Gw ikut," kata Fajar cepat.

"Aku juga," suara Sari tiba-tiba dari pintu. Ia berdiri di sana dengan senter di tangan, wajahnya tegang. "Aku dengar semuanya dari dapur. Dan..." ia menelan ludah, "kamar aku juga mulai kedengeran. Tadi malam. Dari bawah lantai."

Kami bertiga saling pandang. Tes... tes... tes.

Bu Sarmi menatap kami satu per satu, lalu berbisik, "Jangan buka tutup sumurnya. Apapun yang terjadi. Jangan... nunduk."

Kami berjalan ke pintu belakang. Hujan rintik mulai turun lagi. Di kejauhan, di balik rintik hujan, aku mendengar sesuatu yang lain. Bukan tetesan. Suara perempuan bernyanyi. Pelan. Lagu lama. Suara yang periang β€” tapi nadanya salah, seperti kaset yang diputar terlalu lambat.

Fajar berhenti. "Kalian... dengar itu?"

Sari mengangguk, wajahnya putih.

Aku tidak menjawab. Karena aku mengenali lagu itu. Dua minggu tinggal di kamar nomor 7, dan aku pernah mendengarnya β€” kukira tetangga. Kukira radio.

Itu lagu yang sama yang Lasmi nyanyikan waktu mencuci baju, menurut cerita Bu Sarmi.

Dan suara itu datang dari arah sumur tua.

Dari dalam sumur tua.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!