Yang Bercerita dari Dalam Air
Kos Nomor 13 β’ 1,454 kata
Aku tidak membuka kertas kedua itu sendirian.
Aku membawanya ke warung, seperti kertas pertama, dan kami membukanya berempat, di meja yang terang, dengan es teh dan bunyi sendok di gelas, supaya kalimat itu didengar oleh pendengar yang hidup, bukan dibaca oleh satu orang dalam gelap. Bude Ratna yang membacanya lagi, dengan suara yang jelas, dan setelah ia selesai, tidak ada yang berbicara cukup lama, karena kami semua mengerti apa arti kalimat itu, dan mengertinya membuat kami diam dengan cara yang berbeda dari diam karena takut.
"Jangan biarkan aku belajar dari dinding." Kalimat itu bukan ancaman. Kalimat itu adalah ketakutan yang diucapkan dengan jujur, oleh seseorang yang tahu persis apa yang terjadi pada kamar 7: kamar yang terlalu lama didongengi akhirnya belajar meniru, menyalin, memanggil, karena itulah satu-satunya cara yang ia tahu untuk membuat seseorang tinggal. Yang di dalam sumur itu takut menjadi seperti itu. Ia takut, kalau tidak ada yang mendengarkannya dengan benar, ia akan belajar dari dinding sumur, dari air yang diam, dari tempat yang kosong, dan ia akan mulai meniru, menyalin, dan memanggil, sama seperti yang dilakukan kamar 7 selama puluhan tahun.
"Jadi ia meminta kita mendengarkannya," kata Bude Ratna, pelan, "bukan supaya ia bisa pergi, melainkan supaya ia tidak berubah menjadi seperti kamar 7. Ia masih muda, Mas. Ia masih bisa memilih, kalau ada yang mendengarkannya sebelum ia belajar cara yang salah."
Tegar bertanya, dengan serius, "Mas, kalau kita mendengarkan ceritanya, apakah ia akan selesai seperti perempuan tua di kamar 7?"
Aku menjawab dengan hati-hati, karena jawaban ini penting, dan aku tidak mau menjanjikan sesuatu yang belum kupahami. "Mas tidak tahu. Yang Mas tahu, perempuan tua itu selesai karena ceritanya sudah lama, dan ujungnya sudah jelas, meski menyedihkan: anaknya sudah tidak ada, dan ia tetap hidup. Yang di sumur ini masih muda, dan ceritanya mungkin belum selesai. Mendengarkan cerita yang belum selesai itu berbeda dengan mendengarkan cerita yang sudah selesai. Cerita yang belum selesai bisa meminta pendengarnya untuk ikut menyelesaikannya, dan ikut menyelesaikan cerita orang lain di rumah ini adalah hal yang paling berbahaya, karena kamu tidak tahu ujung apa yang akan kamu berikan."
Siang itu, pukul sepuluh, sama seperti siang ketika kami mendengarkan perempuan tua itu, kami berdiri berempat di sekeliling sumur, dengan matahari di atas kepala kami, dengan pintu warung yang terbuka di belakang kami, supaya halaman belakang itu tidak tertutup. Aku berdiri pada jarak yang wajar dari tutup sumur, tidak menempelkan telinga ke kayu, tidak membuka tutupnya, tidak menyentuh batunya. Aku berbicara dengan suara yang jelas, seperti orang yang berbicara kepada seseorang yang ada di bawah, bukan seperti pendengar yang mengintip.
"Kami di sini," kataku. "Kami berempat, di tempat terang, dan kami bisa melihat wajah satu sama lain. Kalau kamu mau bercerita, ceritakan ceritamu sendiri. Bukan ceritaku, bukan cerita orang lain. Kami akan mendengarkan, dan kami tidak akan mengubah ujungnya, dan kami tidak akan menyelesaikan ceritamu untukmu. Kami hanya mendengarkan."
Hening. Satu detik, dua detik, sepuluh detik, dan aku hampir mengira tidak ada jawaban, sama seperti siang di depan kamar 7. Lalu, dari dalam sumur, terdengar suara muda itu lagi, kecil dan jauh, tapi kali ini tidak meniru siapa pun. Ia bercerita dengan suaranya sendiri, dengan jeda yang tidak rapi, dengan kalimat yang kadang berhenti di tengah dan dilanjutkan dengan susah payah, seperti seseorang yang sudah lama tidak bercerita kepada orang yang benar-benar mendengarkan.
Ia bercerita tentang seorang anak muda yang dulu tinggal di kos ini, di kamar yang paling dekat dengan halaman belakang, yang suka duduk di tepi sumur pada sore hari, bukan untuk mengambil air, melainkan untuk mendengarkan bunyi air yang jatuh, karena bunyi itu membuatnya tenang. Ia bercerita tentang malam-malam ia tidak bisa tidur, dan ia berjalan ke sumur, dan ia bercerita kepada air, pelan-pelan, tentang hal-hal yang tidak bisa ia ceritakan kepada orang lain: tentang rindu kepada kampungnya, tentang takut tidak lulus kuliah, tentang malu karena tidak bisa mengirim uang kepada ibunya. Air itu tidak menjawab, dan justru karena tidak menjawab, ia merasa aman bercerita kepada air. Air tidak menilai, air tidak menyela, air hanya mendengarkan, dan mendengarkan tanpa menilai adalah hal yang paling ia butuhkan pada masa itu.
Lalu datang satu malam, malam yang ia ceritakan dengan suara yang semakin pelan, malam ketika ia bercerita kepada air tentang hal yang paling berat: bahwa ia sudah memutuskan untuk pulang, untuk berhenti, untuk menyerah, dan ia meminta air untuk mengingat ceritanya, supaya ada yang mengingat bahwa ia pernah ada di sini, pernah duduk di tepi sumur ini, pernah bercerita. Ia tidak bercerita tentang apa yang terjadi setelah malam itu. Ia berhenti di sana, dan hening yang mengikutinya terasa seperti seseorang yang menahan napas, menunggu apakah pendengarnya akan mengisi kekosongan itu dengan ujung yang mereka karang sendiri.
Kirana, tanpa diminta, berkata dengan suara kecil, "Terus. Ceritanya terus." Tegar mengulang, "Terus." Bude Ratna berkata, "Kami masih di sini." Dan aku berkata, "Kami mendengarkan."
Suara itu melanjutkan, pelan, dan kalimat terakhirnya keluar dengan susah payah, seperti seseorang yang mengangkat beban yang sudah terlalu lama ia pikul sendirian. "Aku tidak tahu apakah aku sudah pulang atau belum," katanya. "Aku hanya tahu, aku masih di sini, di tempat aku bercerita, dan aku tidak tahu harus bercerita kepada siapa lagi, selain kepada air yang tidak pernah menjawab."
Hening yang panjang. Lalu aku mengucapkan, bersama Tegar, Kirana, dan Bude Ratna, satu kata yang sama seperti yang kami ucapkan kepada perempuan tua itu. "Selesai."
Bel di leherku berdenting. Sekali. Tapi denting itu tidak jernih dan hangat seperti denting tanda terima yang kudengar di depan kamar 7. Denting itu pendek, ragu, seperti orang yang berdeham di tengah kalimat karena tidak yakin apakah kalimatnya sudah selesai. Dari dalam sumur tidak ada suara yang menyela, tidak ada salinan yang mencoba mengulang. Tapi tutup sumur itu bergetar, pelan, sekali, seperti sesuatu dari dalam yang baru saja bergerak, bukan untuk keluar, melainkan untuk memastikan bahwa tutup itu masih ada di tempatnya.
Bude Ratna menatapku, dan di matanya ada sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya: bukan lega, melainkan waspada yang baru. "Mas," katanya, pelan, "kata selesai itu tadi tidak diterima dengan cara yang sama. Perempuan tua itu menerima kata selesai karena ceritanya sudah habis. Yang ini belum habis, Mas. Ia masih di tengah ceritanya, dan mengucapkan kata selesai kepada cerita yang belum habis sama saja dengan menutup buku yang masih ditulis. Buku itu tidak akan diam, Mas. Ia akan mencari penulisnya lagi."
Kami kembali ke warung, dan sore itu aku melakukan apa yang diminta kertas pertama: menceritakan yang di sumur itu kepada yang hidup. Bukan kepada dinding, bukan kepada cermin, bukan kepada air. Kepada Bude Ratna, Tegar, dan Kirana, di meja yang terang, dengan wajah-wajah yang bisa kulihat. Aku menceritakan dengan jujur: anak muda yang bercerita kepada air karena air tidak menilai, yang meminta air mengingatnya, yang tidak tahu apakah ia sudah pulang atau belum, dan yang takut belajar dari dinding.
Tegar mendengarkan dengan serius, dan di akhir cerita ia bertanya, "Mas, kalau ceritanya belum habis, apakah kita harus mendengarkannya lagi besok?"
Aku mengangguk. "Ya. Kita dengarkan lagi besok, dan lusa, dan selama ia mau bercerita dengan suaranya sendiri. Karena selama ia bercerita dengan suaranya sendiri, ia tidak belajar dari dinding. Dan selama kami mendengarkan bersama-sama, di tempat terang, ia tidak perlu belajar dari tempat yang kosong."
Malam itu, aku tidur di kamarku dengan perasaan yang tidak bisa kunamai: bukan lega, bukan takut, melainkan seperti orang yang baru saja berjanji untuk kembali ke suatu tempat, tanpa tahu apakah tempat itu akan menunggunya dengan sabar, atau akan mencarinya lebih dulu. Aku memeriksa kain penutup cermin sebelum tidur. Kain itu diam. Bel di leherku diam, tidak dingin, tidak berat. Lorong di luar kamarku sunyi dengan cara yang biasa.
Aku tertidur dengan cepat, dan tidurku dalam, tanpa mimpi yang bisa kuingat, dan aku bangun menjelang subuh karena satu bunyi yang sangat kecil, yang tidak berasal dari lorong, tidak berasal dari kamar 7, melainkan dari arah yang sekarang paling sering kuberi perhatian: dari sumur di belakang kos.
Bunyi itu bukan bunyi air. Bukan bunyi kayu yang berderit. Bunyi itu adalah suara seseorang yang mulai bercerita, dengan pelan, dengan jeda yang rapi, dengan kalimat pertama yang sangat kukenal, karena kalimat itu adalah kalimat yang baru saja kami ucapkan bersama-sama siang tadi, di sekeliling sumur, sebagai penutup.
"Selesai," kata suara muda itu, dari dalam sumur, dengan nada yang persis sama dengan nada kami berempat. "Selesai. Selesai. Selesai."
Dan di bawah pintu kamarku, dari celah yang sempit, meluncur masuk selembar kertas ketiga, didorong dengan pelan, seperti surat yang diselipkan oleh tangan yang sangat berhati-hati, dan aku sudah tahu, bahkan sebelum membacanya, bahwa kertas ini tidak akan berisi permintaan. Kertas ini akan berisi tawaran.