β€Ή
37. Yang Berani Masuk

Yang Berani Masuk

Kos Nomor 13 β€’ 1,185 kata

Ilustrasi Yang Berani Masuk

Kunci kuningan itu berputar dengan bunyi berderit seperti gigi yang bergesekan β€” dan pintu kamar 7 terbuka untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun.

Cahaya hijau menyembur keluar, lebih terang dari yang pernah merembes di bawah pintu. Udara dingin menerpa wajah kami, membawa bau yang membuat perut saya terbalik: pisang goreng β€” manis, gosong di tepinya β€” bercampur bau lumpur dan air yang tergenang terlalu lama.

"Bu, doanya jangan berhenti," kata saya. Suara saya terdengar jauh, seperti bukan milik saya.

"Tidak akan berhenti, Nak," kata Bu Sarmi. Suara beliau bergetar tapi doanya mengalir terus, tasbih bergerak tanpa henti di jari-jarinya.

Saya melangkah masuk. Tali di pinggang saya menegang β€” Fajar menahannya dari kusen pintu, wajahnya tegang. Senter di tangan saya menyapu ruangan.

Kamar itu... membeku dalam waktu. Ranjang kecil dengan sprei bunga yang warnanya sudah pudar, tapi tersibak rapi β€” seperti ada anak kecil yang baru saja bangun dan merapikan tempat tidurnya. Meja belajar mungil dengan kursi yang terlalu kecil untuk saya. Di dinding, tertempel gambar-gambar crayon, warnanya masih cerah seolah baru digambar kemarin.

Saya mendekat. Tangan saya gemetar sampai berkas senter bergoyang.

Gambar pertama: anak perempuan kecil bergaun, menggandeng tangan sosok tinggi hitam dengan lengan yang terlalu panjang. Wajah anak itu tersenyum. Wajah sosok itu... kosong. Cuma hitam.

Gambar kedua: anak perempuan itu menangis β€” garis-garis biru crayon di pipinya β€” sementara sosok hitam itu tersenyum. Senyumnya lebar, melengkung sampai ke telinga.

Gambar ketiga: sumur. Hitam. Dalam. Di bibirnya tertulis dengan huruf goyang anak kecil: JANGAN PERCAYA.

Di atas meja belajar mungil itu, ada gambar keempat yang belum selesai β€” crayon merah tergeletak di sampingnya seolah baru diletakkan. Gambarnya: sebuah pintu yang sedikit terbuka, cahaya kuning menyembur dari celahnya. Di depan pintu, figur tongkat kecil β€” anak perempuan β€” dengan satu tangan terulur ke arah cahaya. Tangan crayonnya berhenti di tengah goresan. Seolah... seolah ia sedang menggambar ini ketika sesuatu memanggilnya keluar.

Tenggorokan saya tercekat. Lasmi menggambar ini. Dalam kamar ini, tiga puluh tahun lalu, anak enam tahun itu sudah tahu. Dia sudah mencoba memperingatkan β€” dengan crayon, dengan kuku, dengan cara apapun yang ia bisa.

"Dim," bisik Fajar dari pintu. "Jangan jauh-jauh."

Saya menyapu senter ke sudut ruangan β€” dan melihatnya. Papan lantai di sudut itu lapuk dan jebol, membentuk lubang hitam menganga selebar hampir satu meter. Udara dingin berhembus naik dari sana, membawa bau lumpur yang lebih pekat. Dari kedalaman, terdengar samar bunyi air menetes. Tes... tes... tes...

Sumur resapan tua. Atau... sumur lain. Sumur kedua. Pintu kedua makhluk itu β€” tepat di bawah kamar Lasmi.

Di sekeliling lubang, lantai bersih dari debu. Jalur bersih itu memanjang sampai ke pintu β€” seperti ada yang sering mondar-mandir antara lubang dan pintu. Dan di papan lantai tepat di bibir lubang, saya melihat goresan-goresan halus. Garis-garis kecil, sejajar, seperti dibuat kuku. Saya tidak berani menghitungnya. Saya tidak berani membayangkan tangan kecil apa yang membuatnya β€” berpegangan, meronta, atau mencoba memanjat keluar.

Bulu kuduk saya berdiri sampai ke tengkuk.

Saya melirik ke pintu β€” ke Fajar yang menahan tali sampai buku-buku jarinya memutih, ke Sari yang memegangi bel dengan tangan gemetar, ke Bu Sarmi yang doanya tidak berhenti sedetik pun. Mereka semua mempertaruhkan keselamatan mereka untuk saya. Saya tidak boleh gagal. Saya tidak boleh salah membedakan mana Lasmi yang asli.

"Bang..."

Suara anak kecil itu β€” riang, manis β€” datang dari lubang itu. Dekat. Sangat dekat. "Akhirnya masuk. Cobain lihat ke bawah, Bang. Dinginnya enak, Bang."

Jangan jawab. Saya menggigit bibir sampai berdarah. Jangan terima.

"Lasmi," kata saya. Saya memaksa suara saya lembut. "Lasmi, ini Dimas."

Sunyi.

Lalu β€” bisikan. Tipis sekali, seperti napas, datang dari lubang yang sama tapi terasa... berbeda. Lebih kecil. Lebih takut. "Bang... jangan dengar... dia pakai suaraku..."

Jantung saya berhenti sesaat. Itu dia. Lasmi yang asli.

"Lasmi," bisik saya. "Aku di sini. Aku nggak ikut dia."

"Lihat... gambar..." bisiknya. "Yang baru..."

Saya menyapu senter ke dinding lagi. Di antara gambar-gambar lama yang warnanya pudar, ada satu yang crayonnya masih cerah β€” masih baru. Empat figur tongkat: satu tinggi (Fajar?), satu berkerudung (Bu Sarmi), satu berambut panjang (Sari), satu... saya. Dan di belakang figur saya, sosok hitam tinggi dengan lengan panjang, tangannya yang melengkung menempel di bahu figur saya.

Di bawahnya, dengan huruf goyang yang sama seperti tiga puluh tahun lalu: DIA BOHONG.

Cahaya hijau di ruangan itu berdenyut. Sekali. Dua kali. Seperti jantung.

Dari lubang di lantai, tangan-tangan kecil muncul. Pucat. Basah. Jari-jarinya terlalu panjang β€” memanjang tidak wajar saat terulur, seperti lilin yang meleleh ke atas. Mereka merayap naik ke bibir lubang, lalu terulur ke arah saya β€” ke arah pergelangan kaki saya. Bau lumpur dan pisang goreng gosong menyengat hingga mata saya berair.

Jangan jawab panggilannya. Jangan terima tawarannya. Tapi sebut namanya. Aturan itu berputar di kepala saya seperti doa. Tangan-tangan itu semakin dekat. Dinginnya sudah terasa di kulit saya sebelum mereka menyentuh β€” dingin yang menusuk, dingin yang nyakitin, persis seperti yang diceritakan Sari.

"Bang Dimas," kata suara riang itu β€” kini mendesak, tidak sabar, manisnya retak di tepinya. "Pegang tanganku. Cobain. Sekali aja, Bang."

Seluruh tubuh saya ingin lari. Tapi kaki saya seperti tertanam. Satu tangan kecil itu kini hanya sejengkal dari celana saya.

Sari pernah bilang: yang satu dinginnya nyakitin. Yang satunya lagi lembut.

Tangan-tangan ini β€” saya bisa merasakannya bahkan tanpa disentuh β€” dinginnya nyakitin.

"NGGAK!" Saya melangkah mundur. "Lasmi, aku di sini! Aku nggak ikut dia!"

"LARI, BANG!"

Jeritan Lasmi yang asli β€” melengking, ketakutan β€” meledak dari lubang itu bersamaan dengan bunyi bel yang berdering liar di pinggang saya. Tali menyentak keras β€” Fajar menarik sekuat tenaga. Saya terhuyung mundur, melewati ambang pintuβ€”

BRAK!

Pintu kamar 7 membanting menutup sendiri. Bantingannya begitu keras sampai debu berjatuhan dari langit-langit koridor dan bingkai foto di dinding miring. Saya terlempar ke lantai koridor, tali masih melilit pinggang, napas tersengal.

Sunyi.

Bu Sarmi masih membaca doa β€” kini suaranya pecah oleh tangis. Fajar berlutut di samping saya, wajahnya sepucat mayat. Sari memegangi bel yang masih bergetar di tangannya.

Lalu, dari dalam kamar 7 yang terkunci β€” dari balik pintu yang baru saja membanting β€” terdengar suara anak kecil. Riang. Manis.

Tapi kali ini bukan suara anak kecil.

Itu suara saya.

"Bang... kamarnya nggak dingin lagi. Cobain masuk, Bang."

Darah saya membeku. Ia memakai suara saya sekarang. Sempurna β€” setiap lekuk, setiap nada, seperti mendengar rekaman diri sendiri.

"Dim..." bisik Sari. Wajahnya pias. "Dim... kunci kamar 7..."

Saya menoleh. Bu Sarmi menatap tangan saya β€” menatap dengan ngeri. Saya mengikuti arah pandangnya.

Tangan kanan saya terkepal. Saya tidak ingat mengepalkannya. Perlahan, saya membuka jari-jari saya.

Di telapak tangan saya, dingin seperti es: kunci kuningan tua kamar 7.

Kunci yang tadi dipegang Bu Sarmi. Kunci yang memutar lubang kunci. Kunci yang seharusnya... saya tidak tahu seharusnya di mana. Yang saya tahu: saya tidak pernah mengambilnya. Tidak pernah menyentuhnya.

Bu Sarmi mengulurkan tangan gemetar hendak mengambilnya β€” lalu menariknya kembali sambil mengaduh pelan. "Dingin," bisik beliau. "Ya Allah, dinginnya..."

Fajar menatap kunci itu, lalu menatap saya. "Dim," katanya dengan suara yang belum pernah saya dengar darinya β€” suara Fajar yang ketakutan sungguhan, tanpa canda sama sekali. "Kunci itu... tadi di tangan Bu Sarmi. Gue lihat sendiri beliau cabut dari lubang kunci."

"Gue tahu," kata saya.

"Terus gimana caranyaβ€”"

"Gue nggak tahu."

Tapi ia ada di tangan saya. Dingin. Berat. Seolah ia memilih tangan saya sendiri.

Dan dari dalam kamar, dengan suara saya sendiri, ia bernyanyi. Lagu anak-anak itu. Riang. Sabar. Menunggu.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!