Cerita yang Diberikan dengan Senang
Kos Nomor 13 • 1,221 kata
Pagi datang dengan cara yang aneh: bukan dengan lega, melainkan dengan kejelasan. Semalam aku belajar satu hal yang tidak bisa lagi kuabaikan. Cermin tidak mengambil ceritaku karena aku bercerita di depannya. Cermin mengambil ceritaku karena aku bercerita kepada sesuatu yang tidak hidup, yang tidak bisa memilih untuk mendengarkan atau tidak. Cerita yang diberikan kepada sumur, kepada cermin, kepada kamar yang kosong, tidak pernah benar-benar menjadi hadiah, karena tidak ada yang menerimanya dengan senang. Ia hanya disimpan, disalin, diceritakan kembali dengan ujung yang diubah. Tetapi cerita anak-anak itu berbeda. Tegar dan Kirana bercerita dengan sukarela, dan bel berdenting sebagai tanda terima, karena ada yang mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Mungkin itu kuncinya, pikirku. Bukan di mana cerita itu diceritakan, melainkan kepada siapa.
Siang itu, di meja warung yang disinari matahari, aku mengajak Tegar dan Kirana duduk bersamaku. Bude Ratna ada di dekat etalase, cukup dekat untuk mendengar, cukup jauh untuk tidak ikut campur. Aku berkata kepada mereka bahwa aku akan bercerita, bukan karena sumur memintanya, bukan karena giliran memaksaku, melainkan karena aku ingin bercerita kepada mereka. Aku ingin mereka mendengar cerita itu dari mulutku sendiri, sebelum rumah ini sempat menceritakannya lebih dulu dengan caranya sendiri. Tegar mengangguk dengan serius. Kirana meletakkan buku gambarnya dan menatapku dengan mata yang jernih, mata anak yang belum memutuskan apakah orang dewasa di depannya sedang berbohong atau sedang berani.
Aku bercerita tentang sore hujan itu. Tentang dapur, tentang meja, tentang petir yang membuatku bersembunyi. Tentang ibuku yang berjongkok di sampingku dan memanggilku pelan dari jarak yang sangat dekat. Aku menceritakan semuanya dengan jujur, termasuk bagian yang tidak pernah kutulis di kertas: celemek yang pudar di bagian kantong, permen yang diberikan setelah aku berhenti menangis, taplak meja yang hampir jatuh. Aku menceritakan kenapa nama kecilku dijaga: karena nama itu hanya dipakai ketika aku sakit atau ketakutan, karena nama itu adalah cara ibuku memastikan bahwa yang datang adalah dia, bukan orang lain. Dan di titik di mana nama itu seharusnya diucapkan, aku berhenti, menatap kedua anak itu, dan berkata, "Namanya tidak kusebutkan di sini. Bukan karena kalian tidak boleh tahu. Karena nama itu adalah hadiah yang tidak boleh diberikan kepada tempat, hanya kepada orang yang sedang menjagamu."
Tegar diam sejenak, lalu berkata, "Berarti Mas ngasih cerita, tapi kuncinya tetap di Mas." Aku mengangguk. Kirana tersenyum, senyum yang pertama kali kulihat darinya sejak malam di sumur, dan ia berkata, "Bagus. Kalau kuncinya di Mas, nanti yang buka pintunya juga harus Mas, bukan yang lain." Kata-katanya sederhana, tetapi ia mengatakannya dengan keyakinan anak-anak yang belum pernah diajari untuk takut pada pintu. Dan pada saat itu, bel di leherku berdenting. Sekali. Jernih, kecil, dan sangat yakin. Bukan denting yang datang sebelum cerita, seperti semalam. Bukan denting tanpa hadiah, seperti sore itu. Denting ini datang sesudah cerita, sesudah pendengar yang hidup mendengarkannya sampai selesai. Tanda terima yang sebenarnya.
Kirana bertanya, dengan suara yang hati-hati, apakah nama itu boleh dibisikkan, kalau tidak diucapkan dengan keras. Aku menggeleng. Aku bilang bisikan tetap ucapan, dan tulisan tetap panggilan, dan rumah ini sudah membuktikan bahwa ia bisa mendengar keduanya. Tegar bertanya apa yang terjadi kalau pintunya benar-benar terbuka. Aku menjawab dengan jujur, karena anak-anak ini sudah cukup sering mendengar jawaban orang dewasa yang menghindar: aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang akan masuk, dan justru karena aku tidak tahu itulah aku menjaga kunci ini. Bukan karena aku yakin akan ada bencana, melainkan karena aku tidak mau membuka pintu untuk sesuatu yang bahkan tidak bisa kusebut namanya. Tegar mengangguk, seperti anak yang menghargai jawaban yang tidak berpura-pura tahu.
Bude Ratna lalu datang ke meja dengan tiga gelas es teh, meletakkannya tanpa diminta, dan berkata satu kalimat sambil kembali ke etalase: "Cerita yang diberikan dengan senang itu hadiah, Mas. Dan hadiah tidak boleh diminta kembali oleh yang memberi, atau ditagih lagi oleh yang menerima." Aku mencatat kalimat itu, karena ia terdengar seperti aturan yang baru saja dibuat di hadapanku, aturan yang mungkin berlaku untukku dan mungkin juga berlaku untuk rumah ini. Kalau ceritaku sudah kuberikan dengan senang kepada Tegar dan Kirana, rumah ini tidak berhak lagi menagih cerita yang sama dariku. Setidaknya begitu yang kuharapkan. Setidaknya begitu yang ingin kupercaya pada siang yang terang itu.
Aku merasakan sesuatu yang longgar di dadaku untuk pertama kalinya dalam berhari-hari. Bude Ratna, dari balik etalase, mengangguk pelan, seperti seseorang yang baru saja melihat tebakannya terbukti. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi anggukan itu cukup. Aku berpikir bahwa mungkin inilah jalan keluar yang selama ini kucari: bukan menolak giliran, bukan pula menyerahkan kunci, melainkan memberikan cerita itu sebagai hadiah kepada orang yang benar, di tempat yang terang, pada siang hari, dengan syarat yang kujaga sendiri. Giliran sudah terisi. Antrean sudah menerima ceritanya. Malam ini, pikirku, tidak akan ada lagi yang mengetuk dari sumur atau menulis di kaca. Aku bahkan sempat membayangkan tidur tanpa lampu lorong yang menyala, tidur yang benar-benar tidur.
Sore berjalan dengan lambat dan biasa, dan justru kebiasaan itulah yang membuatku lengah. Tegar bermain di teras, Kirana menggambar layang-layang baru, kali ini dengan benang yang pendek dan pintu yang tertutup. Aku duduk di kamarku dengan cermin yang sudah kututup kain sejak semalam, dan aku tidak membuka kain itu. Aku tidak perlu melihat apakah tulisan di kaca itu masih ada. Aku sudah memutuskan bahwa tulisan itu bukan lagi urusanku, karena cerita yang benar sudah kuberikan kepada pendengar yang benar. Tetapi menjelang magrib, ketika langit mulai menguning dan warung mulai menyalakan lampu, Tegar datang ke kamarku. Ia tidak duduk. Ia berdiri di ambang pintu, seperti dulu, dan berbisik dengan cara yang sama seperti dulu, seolah-olah takut suaranya sendiri akan dicatat oleh dinding.
"Mas," katanya. "Cerita Mas tadi siang, sekarang diceritakan lagi di kamar 7."
Aku berdiri. Aku bertanya bagaimana ia tahu, dan ia menjawab bahwa ia mendengarnya ketika lewat di lorong, suara yang pelan tetapi jelas, menceritakan sore hujan, dapur, meja, celemek, permen, persis seperti yang kuceritakan di warung. Aku bertanya apakah ujungnya berubah, seperti cerita-cerita sebelumnya yang diceritakan kembali. Tegar mengangguk, dan wajahnya pucat, bukan karena takut, melainkan karena ia sedang berusaha mengingat sesuatu yang tidak ingin ia ingat. "Ujungnya bukan anak yang pulang, Mas," katanya. "Ujungnya anak itu menjawab. Ada yang manggil pakai nama itu, terus anak itu jawab, terus pintunya kebuka."
Aku berlari ke lorong, dan Tegar mengikutiku dari belakang. Bel di leherku terasa dingin sekarang, bukan hangat, dan dingin itu membuatku merinding, karena bel yang dingin adalah bel yang sedang menunggu, bukan bel yang sedang menerima. Lorong itu sepi, lampu-lampunya menyala tetapi cahayanya terasa tipis, seperti cahaya yang sedang dihemat untuk sesuatu yang belum datang. Dari celah pintu kamar 7 tidak keluar cahaya, hanya suara, dan suara itu terus berjalan, tenang dan yakin, seperti pencerita yang sudah menghafal ceritanya di luar kepala. Pintu kamar 7 tertutup, tetapi dari celahnya keluar suara yang sangat kukenal, karena suara itu adalah suaraku sendiri. Ia sedang menceritakan ceritaku, dengan detail yang sama, dengan jeda yang sama, sampai pada bagian ibuku berjongkok di samping meja. Aku menempelkan telingaku ke pintu, dan aku mendengar suara itu sampai pada kalimat yang tidak pernah kuucapkan di warung, kalimat yang hanya ada di kertas dan di cermin: kalimat tentang nama yang hanya dipakai untuk jarak dekat. Lalu suara itu berhenti sejenak, seperti pencerita yang sedang menunggu pendengarnya menarik napas. Dan dari dalam kamar 7, dengan suaraku sendiri, seseorang mulai mengucapkan nama kecilku untuk kedua kalinya, "Di—"