β€Ή
67. Rumah Pulang

Rumah Pulang

Kos Nomor 13 β€’ 1,417 kata

Ilustrasi Rumah Pulang

Langkah-langkah kecil itu tidak berhenti di bawah lantai kamar saya. Mereka berjalan, beriringan, seperti rombongan yang sudah tahu ke mana tujuannya, dan setiap langkah itu membuat bel di leher saya bergetar pelan, seperti bel yang sedang dihitung oleh banyak tangan kecil.

Saya berdiri di tengah kamar, dalam gelap, dan saya membuat keputusan yang sudah lama seharusnya saya buat: saya tidak akan menunggu di kamar saya sampai cerita datang kepada saya. Pencerita tidak menunggu di dalam rumahnya sementara antrean berjalan ke arahnya. Pencerita pergi ke tempat cerita itu berasal. Ke bibir sumur. Ke tempat nenek bercerita tiga puluh tahun. Ke tempat yang memang dibuat untuk bercerita.

Saya memakai sandal, mengambil lampu minyak yang kini sudah kembali ke tangan saya entah sejak kapan β€” mungkin sejak pintu itu memudar, mungkin sejak saya menceritakan akhir rumah masa kecil saya β€” dan saya berjalan keluar kamar, melewati koridor yang kosong, melewati pintu kamar 7 yang tertutup rapat, menuju halaman belakang. Langkah-langkah kecil di bawah lantai itu mengikuti saya, bukan mengejar, melainkan mengiringi, seperti rombongan yang berjalan di belakang penceritanya menuju panggung.

Di bibir sumur, saya duduk, kaki menggantung ke dalam, lampu minyak di samping saya. Dari bawah, tidak ada lagi bisikan yang berebut. Yang ada adalah diam yang penuh, diam yang menunggu, diam dari banyak orang kecil yang sudah sepakat tentang apa yang mereka minta.

"Satu rumah buat semua," kata saya, dan suara saya terdengar lebih tenang dari yang saya kira. "Itu yang kalian gambar di dinding kamar Abang. Rumah Pulang. Abang dengar. Abang datang ke sini buat ceritain rumah itu. Malam ini. Satu cerita, satu rumah, buat semua yang antre."

Diam itu berubah. Bukan menjadi ribut, melainkan menjadi hangat, seperti ruangan yang baru saja dinyalakan lampunya. Dari bawah sumur, terdengar napas-napas kecil yang terlepas bersamaan, dan satu suara maju ke depan, suara anak pertama, yang kini sudah tidak lagi takut, tidak lagi kecil, melainkan utuh, seperti seseorang yang sudah punya rumah dan kini sedang membantu orang lain mendapatkan rumahnya.

"Bang, ceritain yang besar, ya," katanya. "Yang muat semua. Yang nggak ada yang ketinggalan."

Saya mengangguk, walaupun ia tidak bisa melihat anggukan saya. Lalu saya bercerita, dengan cara yang berbeda dari semua cerita saya sebelumnya. Selama ini, saya selalu bercerita tentang satu anak, satu rumah, satu kamar, satu jendela. Malam ini, saya harus bercerita tentang semua anak sekaligus, dan itu berarti saya harus bercerita tentang sesuatu yang lebih besar dari rumah: tentang tempat yang bisa menampung banyak orang tanpa membuat siapa pun merasa menumpang.

"Rumah Pulang itu besar," kata saya, pelan, seperti meletakkan fondasi. "Bukan besar karena mewah. Besar karena lapang. Rumah itu punya banyak kamar, dan setiap kamar punya jendela sendiri, yang menghadap ke halaman yang sama. Jadi setiap anak bisa membuka jendelanya di pagi hari dan melihat halaman yang sama, dan tahu bahwa ia tidak sendirian, tapi ia juga tidak berdesakan. Setiap kamar punya kasur kapuk sendiri, selimut sendiri yang dijemur setiap pagi, dan kunci sendiri yang ringan, yang tidak panas, yang tidak berdenyut. Kunci itu dipegang oleh yang tinggal di kamar itu. Bukan oleh Abang. Bukan oleh siapa-siapa."

Dari bawah sumur, terdengar suara-suara kecil yang mengangguk, yang berbisik setuju, yang mengulang kata-kata saya dengan pelan, seperti anak-anak yang sedang menghafal denah rumah barunya.

"Di tengah rumah itu ada dapur yang besar," lanjut saya. "Dapurnya tidak pernah dingin, karena selalu ada yang memasak di sana, bergantian, dan bau masakannya selalu keluar dari jendela dapur, jadi siapa pun yang pulang dari halaman akan tahu bahwa di dalam ada yang menunggu. Di depan rumah itu ada serambi yang panjang, dengan kursi-kursi rotan yang berderit kalau diduduki, dan di serambi itu, siapa pun boleh duduk, tanpa antre, tanpa giliran, karena serambi itu dibuat untuk semua orang sekaligus."

Cahaya dari dasar sumur mulai naik. Bukan cahaya yang rakus seperti dulu, melainkan cahaya yang tenang dan merata, seperti lampu yang dinyalakan di tengah rumah besar dan cahayanya jatuh ke semua kamar sekaligus. Dinding sumur yang basah itu kini terlihat lebih jelas, dan di dinding itu, saya melihat sesuatu yang membuat mata saya panas: goresan-goresan crayon merah yang dulu menjalar seperti akar kini berubah bentuk. Mereka tidak lagi menjalar ke bawah. Mereka menyebar ke samping, membentuk garis-garis yang rapi, seperti denah, seperti gambar rumah besar yang sedang dibangun dari dalam sumur ke atas, lapis demi lapis.

"Di tengah rumah itu ada satu lampu," kata saya, dan suara saya mulai bergetar, karena saya sampai ke bagian yang paling sulit. "Lampu itu tidak dipegang oleh satu orang. Lampu itu ditaruh di tengah rumah, dan setiap malam, anak yang berbeda yang menjaganya, bergantian. Jadi tidak ada satu anak pun yang harus menjaga lampu itu sendirian selamanya. Tidak ada satu pencerita pun yang harus bercerita sendirian selamanya. Itu perjanjiannya. Itu yang membuat rumah itu tidak akan lapar lagi."

Diam. Lalu dari bawah, suara anak pertama itu bertanya, dengan nada yang hati-hati, seperti seseorang yang sedang menanyakan hal yang paling penting, "Bang, rumahnya namanya apa? Rumah yang besar harus punya nama, biar yang pulang nggak salah alamat."

Saya terdiam. Saya tahu apa yang sedang diminta. Bukan nama rumah. Nama panggilan. Rumah yang besar, rumah untuk semua yang antre, membutuhkan satu hal terakhir sebagai kunci: nama yang benar-benar milik seseorang, nama yang belum pernah diberikan kepada cerita mana pun, nama yang masih hangat karena masih dijaga.

Nama itu adalah nama panggilan saya waktu kecil. Nama yang dulu dipakai ibu saya. Nama yang sudah lama tidak sanggup diucapkan oleh lidah saya, nama yang di malam-malam sebelumnya hanya keluar sebagai suara orang lain dari mulut saya.

Saya memejamkan mata. Saya menarik napas panjang. Dan saya membisikkannya, pelan, ke dalam sumur, ke dalam gelap yang menunggu, ke dalam cerita yang sedang dibangun. Nama itu keluar dengan susah payah, seperti sesuatu yang sudah lama terkunci dan akhirnya menemukan kuncinya, dan begitu keluar, ia tidak lagi terasa seperti milik saya. Ia terasa seperti milik rumah itu.

Dari bawah sumur, suara-suara itu mengulang nama itu bersamaan, bukan dengan keras, melainkan dengan pelan dan hormat, seperti orang-orang yang baru saja diberi tahu alamat rumahnya sendiri. Dan begitu nama itu diucapkan oleh banyak suara sekaligus, sesuatu berubah di sekitar saya: cahaya dari dasar sumur itu naik sampai ke bibir sumur, hangat, kuning, dan tenang, seperti cahaya lampu di tengah rumah besar yang semua kamarnya sudah terisi. Langkah-langkah kecil di bawah lantai kos itu berhenti, satu per satu, seperti rombongan yang akhirnya sampai di depan pintu rumahnya dan tidak perlu berjalan lagi.

"Bang," kata suara anak pertama itu, kini dari jarak yang terasa lebih jauh, bukan karena ia pergi, melainkan karena ia sudah berada di tempatnya. "Rumahnya ada. Kamarnya ada. Lampunya ada. Namanya ada. Makasih, Bang. Kami pulang sekarang."

Saya duduk di bibir sumur lama sekali setelah suara itu hilang, sampai lampu minyak saya meredup dengan sendirinya, sampai dingin malam kembali menjadi dingin biasa, dingin yang tidak memanggil siapa-siapa. Ketika saya berjalan kembali ke kos, koridor itu terasa seperti koridor biasa. Pintu-pintu tertutup. Dari kamar-kamar penghuni terdengar napas yang teratur. Di kamar saya, dinding di samping ranjang polos, putih, dengan bekas paku dan noda lembap yang sudah lama ada. Gambar rumah besar itu sudah tidak ada. Bel di leher saya dingin dan diam, untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, dingin seperti logam biasa yang tidak menyimpan apa-apa.

Saya berbaring, dan saya tidur, tidur yang dalam dan tanpa mimpi, tidur yang pertama kali terasa seperti tidur orang biasa setelah sekian lama.

Pagi harinya, saya bangun dengan tubuh yang ringan, dan saya pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka, seperti orang biasa yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Saya menatap cermin, dan saya tersenyum, karena untuk pertama kalinya, saya merasa bahwa cerita ini mungkin, hanya mungkin, sudah selesai.

Lalu saya menyadari bahwa senyum di cermin itu bukan senyum saya.

Saya tidak sedang tersenyum. Mulut saya tertutup, datar, lelah. Tapi sosok di cermin itu tersenyum lebar, senyum yang hangat dan lega, senyum seseorang yang baru saja pulang ke rumahnya setelah antre tiga puluh tahun. Sosok itu memakai bel di lehernya, dan di tangannya ada lampu minyak yang menyala. Ia menatap saya dari dalam cermin, dan ia berkata, dengan suara saya sendiri, tapi dengan nada yang bukan nada saya, nada yang jauh lebih ringan, jauh lebih bebas, "Terima kasih sudah pulang, Dimas. Sekarang giliran aku yang jaga pintu."

Saya mengangkat tangan untuk menyentuh kaca. Tangan di dalam cermin itu tidak ikut terangkat. Ia tetap memegang lampu itu, dan ia melambai, pelan, seperti seseorang yang sedang mengucapkan selamat tinggal β€” atau selamat datang.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!