β€Ή
73. Cerita yang Dibayar Cerita

Cerita yang Dibayar Cerita

Kos Nomor 13 β€’ 1,206 kata

Ilustrasi Cerita yang Dibayar Cerita

Saya tidak tidur malam itu. Bukan karena ketukan, karena tidak ada ketukan sama sekali. Justru ketiadaan itulah yang membuat saya terjaga. Setelah apa yang saya lihat di air sumur, lorong kos terasa terlalu sunyi, seolah semua penghuninya menahan napas bersamaan. Saya berbaring dengan lampu kamar menyala, menatap langit-langit, dan memikirkan satu hal yang tidak bisa saya hindari lagi: cerita yang saya sampaikan di sumur tidak lagi sepenuhnya milik saya. Ia sudah berpindah sisi. Dan kalau cerita bisa berpindah, maka cepat atau lambat akan ada yang datang untuk menagih cerita yang lain. Cerita yang belum pernah saya ceritakan kepada siapa pun.

Keesokan paginya, saya melakukan hal yang selama ini saya hindari. Saya pergi ke kamar mandi dan menatap cermin dengan sengaja, bukan sekadar lewat. Bayangan saya menatap balik. Kali ini ia tidak terlambat. Ia bergerak bersamaan dengan saya, persis seperti seharusnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda pada matanya. Bukan mata saya yang sedang takut, melainkan mata seseorang yang sudah lama menunggu dan akhirnya melihat orang yang ditunggunya datang. Saya tidak berkata apa-apa. Saya hanya berdiri di sana, dan untuk pertama kalinya, saya merasa cermin itulah yang sedang bercerita kepada saya, tanpa suara, tentang kesabaran yang sudah terlalu lama.

Sore itu saya kembali ke sumur, bukan karena ada yang bertanya, melainkan karena saya ingin bertanya. Saya ingin tahu apa sebenarnya yang harus saya bayar. Saya duduk di batu yang sama, meletakkan kedua tangan di lutut agar tidak gemetar terlihat, dan berbicara dengan suara pelan, seperti orang yang tidak yakin apakah ia sedang berbicara kepada seseorang atau hanya kepada dirinya sendiri. Saya bilang saya sudah bercerita dua kali. Saya bilang antrean sudah saya layani. Saya bertanya, dengan jujur, apa lagi yang diminta dari saya.

Jawabannya tidak datang dari sumur. Ia datang dari tempat yang sudah saya kenal: dari bayangan di balik kaca, dari sosok yang wajahnya sama dengan wajah saya, memegang lampu minyak yang apinya tenang. Ia tidak muncul di depan saya seperti orang yang berjalan mendekat. Ia hanya ada di sana, di tepi penglihatan saya, di tempat antara cahaya sore dan bayangan pohon pisang, dan suaranya terdengar seperti suara saya sendiri yang diucapkan dari ruangan sebelah.

"Setiap cerita harus dibayar dengan cerita," katanya, mengulang kalimat yang pernah saya dengar di bibir sumur. "Kamu sudah bercerita kepada mereka. Sekarang berceritalah tentang dirimu sendiri."

Saya terdiam. Saya mengerti maksudnya, dan justru karena saya mengerti, saya takut. Bercerita tentang penjaga pintu adalah satu hal. Itu cerita tentang tempat ini, tentang aturan, tentang sesuatu yang berada di luar saya. Bercerita tentang diri sendiri adalah hal lain. Itu berarti menyerahkan sesuatu yang tidak bisa saya ambil kembali. Saya bertanya cerita tentang diri saya yang seperti apa yang ia maksud. Ia menjawab dengan kalimat yang sederhana dan sulit untuk ditolak: cerita tentang pertama kali saya merasa takut sendirian di gelap.

Saya tahu persis cerita itu. Saya tidak perlu mencarinya. Ia tersimpan di tempat yang jarang saya buka. Waktu itu saya masih kecil, mungkin seusia Tegar sekarang. Malam hari, di rumah lama kami, lampu padam dan saya terbangun sendirian di kamar yang gelap. Saya memanggil, dan tidak ada jawaban. Saya memanggil lagi, lebih keras, dan yang menjawab hanya gema dari dinding. Saya tidak berani keluar kamar karena lorong rumah gelap dan saya yakin ada sesuatu yang berdiri di sana, meski saya tidak tahu apa. Saya akhirnya tertidur dengan selimut menutupi kepala, mendengarkan napas saya sendiri sampai pagi. Pagi harinya, semua orang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada yang menjelaskan ke mana mereka pergi malam itu. Tidak ada yang bertanya mengapa saya menangis. Sejak malam itu, saya belajar satu hal yang terbawa sampai dewasa: ketakutan yang tidak diceritakan akan tinggal lebih lama daripada ketakutan yang diucapkan.

Saya menceritakan semua itu di bibir sumur, dengan suara yang pelan dan tidak saya buat-buat. Saya tidak menambahkan apa-apa. Saya tidak mengurangi apa-apa. Saya hanya menyerahkan kenangan itu seperti seseorang menyerahkan kunci yang sudah lama ia simpan. Saat saya selesai, sosok itu diam cukup lama. Api lampu minyaknya tidak bergoyang, wajahnya tidak berubah, dan untuk sesaat saya merasa ia sedang mendengarkan bukan sebagai penjaga pintu, melainkan sebagai seseorang yang juga pernah menunggu jawaban di gelap dan tidak mendapatkannya.

Lalu ia berkata bahwa cerita itu diterima. Ia berkata bahwa penjaga tetap di cermin, dan wajah saya tidak akan dipakai untuk memanggil siapa-siapa. Kesepakatan tetap berlaku. Saya seharusnya merasa lega. Sebagian dari diri saya memang lega. Tapi sebagian yang lain merasa ada sesuatu yang hilang dari dalam diri saya, seperti ruangan yang perabotnya digeser sedikit tanpa saya sadari. Kenangan tentang malam lampu padam itu masih ada di kepala saya. Saya masih ingat selimutnya, gelapnya, gemanya. Tapi ia terasa lebih jauh sekarang, seperti cerita yang pernah saya baca, bukan cerita yang pernah saya alami. Saya mencoba mengingat detail kecilnya, warna dinding kamar itu, suara langkah di dapur, dan detail-detail itu datang dengan lambat, seperti nama orang yang sudah lama tidak saya temui.

Saya pulang ke kamar dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan sedih, bukan takut, melainkan seperti baru saja kehilangan sesuatu yang tidak bisa saya tunjuk dengan jari. Di kamar, saya mencoba menuliskan kenangan itu di buku catatan, sekadar untuk memastikan ia masih milik saya. Tapi kalimat-kalimat yang saya tulis terasa asing di tangan saya sendiri, seperti menyalin cerita orang lain dari buku yang tidak saya kenal. Saya menulis tentang lampu yang padam, tentang selimut, tentang gema di dinding, dan setiap kata terasa benar sekaligus jauh, seperti nama jalan di kota yang pernah saya tinggali tapi tidak lagi saya kenali sudut-sudutnya. Saya menutup buku itu dengan perasaan tidak enak yang sulit dinamai. Bukan karena kenangan itu hilang, melainkan karena saya tidak lagi yakin apakah kenangan itu akan tetap tinggal di tempat yang sama besok pagi. Di kos ini, sesuatu yang sudah diceritakan di sumur tampaknya tidak pernah benar-benar kembali utuh kepada pemiliknya.

Saya makan seadanya, membersihkan kamar, dan mencoba tidur lebih awal. Kos kembali ke kebiasaannya: keran diputar, pintu ditutup, langkah-langkah mereda satu per satu. Saya hampir percaya bahwa malam ini akan menjadi malam yang biasa, malam pertama yang biasa sejak kesepakatan itu dibuat.

Sekitar tengah malam, bel di leher saya berdenting dua kali. Bukan sekali seperti sebelumnya. Dua kali, dengan jeda yang teratur, seperti seseorang yang mengetuk pintu dengan sopan sebelum masuk. Saya duduk di tempat tidur, jantung berdetak keras, dan menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Tidak ada ketukan. Tidak ada suara anak kecil. Tidak ada langkah di lorong. Hanya hening yang begitu pekat sehingga saya bisa mendengar napas saya sendiri.

Lalu suara itu datang, bukan dari lorong, bukan dari sumur, melainkan dari arah kamar 7. Pintu kamar 7 sudah lama tidak berpenghuni, dan tidak ada yang boleh membukanya. Tapi dari balik pintu itu, dengan sangat jelas, terdengar seseorang sedang bercerita dengan suara saya. Ia bercerita tentang seorang anak kecil yang terbangun di kamar gelap saat lampu padam, yang memanggil dan tidak dijawab, yang tertidur dengan selimut menutupi kepala. Ia menceritakan kenangan saya, kata demi kata, dengan nada yang persis sama seperti saat saya menceritakannya di bibir sumur sore tadi. Saya tidak menjawab, karena saya tahu jawaban apa pun akan menjadi cerita baru.

Dan di akhir cerita itu, sebelum suara tersebut berhenti, terdengar kalimat yang membuat darah saya berhenti mengalir sesaat. Suara saya sendiri, dari balik pintu kamar 7, berkata dengan pelan, "Besok, giliran siapa yang bercerita?"

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!