β€Ή
48. Cicilan

Cicilan

Kos Nomor 13 β€’ 1,631 kata

Ilustrasi Cicilan

"SARI!"

Saya membentak tepat di depan wajahnya β€” bukan mengguncang lagi, tapi membentak, sekeras yang saya bisa tanpa membangunkan seluruh kos.

Matanya terbuka lebar. Cokelat. Normal. Miliknya sendiri. Senyum kecil itu lenyap seperti tidak pernah ada.

"Dim?" Ia menatap saya bingung, lalu ke sekeliling kamarnya yang gelap. "Kenapa gue... kok lo di sini?"

Fajar muncul di ambang pintu dengan linggis besar di tangan, wajah pucat. "Gue denger lo teriak. Dia kenapa?"

"Dia tidur," kata saya. Napas saya memburu. "Dia ngomong sambil tidur. Pakai suara... itu."

Sari menatap kami bergantian. "Gue ngomong apa?"

Saya tidak menjawab. Saya tidak sanggup mengulang kalimatnya.

Malam itu tidak ada yang tidur. Kami bertiga β€” saya, Fajar, Sari β€” duduk di ruang tengah dengan semua lampu menyala. Bu Sarmi terbangun dan membuatkan teh manis tanpa bertanya, lalu duduk ikut, merajut dengan tangan gemetar. Tidak ada yang membahas Ibu Lastri. Tidak ada yang berani.

Sari memeluk lututnya di sofa. "Gue nggak ingat apa-apa," bisiknya. "Terakhir yang gue ingat... gue mimpi. Anak kecil itu. Dingin. Terus..." Ia menggeleng. "Gelap."

"Lo nggak salah apa-apa, Sar," kata Fajar cepat. Terlalu cepat.

"Tapi dia pakai mulut gue." Sari menatap tangannya sendiri seperti tangan itu milik orang lain. "Dua kali. Kemarin dia pakai badan gue. Sekarang dia pakai mimpi gue." Air matanya jatuh. ""Gue ini apa? Pintu?"

"Semua orang adalah pintu," kata Ustadz pelan. "Pertanyaannya: pintu untuk apa. Ibu Lastri membuka pintunya untuk menahan β€” ia memberi suaranya supaya yang di bawah kenyang dan tidak naik. Kamu, Sari..." Ia menatap Sari dengan lembut. "Kamu membuka pintumu karena kamu baik. Dan ia β€” yang hanya lapar β€” tidak bisa membedakan kebaikan yang menahan dan kebaikan yang menyerahkan. Baginya semua pemberian sama: makanan."

Sari mengusap air matanya dengan kasar. "Terus gue harus jadi orang jahat?"

"Tidak." Ustadz menggeleng. "Kamu harus jadi orang baik yang TAHU kapan kebaikannya sedang dimakan. Itu saja. Itu bedanya kamu dengan Ibu Lastri: ia tahu. Tiga puluh tahun ia tahu persis berapa banyak yang ia berikan, dan tidak setetes pun lebih.""

Saya teringat kata-kata Ustadz: kebaikanmu adalah pintu yang paling ia suka, karena pintu itu selalu terbuka dari dalam.

"Kita ke Ustadz pagi ini," kata saya. "Habis Subuh. Kita harus ngerti cara dia nagih. Kalau nggak, kita cuma bisa nunggu."

Ustadz Mahmud mendengarkan cerita kami dengan wajah semakin pucat. Di akhir, ia memejamkan mata lama sekali.

"Suara tidak butuh pintu," katanya pelan. "Sumur itu terkunci. Tapi kos ini dibangun DI ATASNYA. Lantai, dinding, udara β€” semua ini pernah mendengar suaranya selama tiga puluh tahun. Ia tidak perlu keluar. Ia hanya perlu... meminjam."

"Meminjam apa, Ustadz?" tanya Fajar.

"Mulut yang terbuka karena kasihan. Mimpi yang terbuka karena sayang." Ustadz menatap Sari dengan iba. "Ia tidak bisa mengambil Sari β€” Sari tidak memberikan apa-apa. Tapi ia bisa MENUMPANG di rasa kasihan Sari. Seperti menumpang perahu orang lain untuk menyeberang."

Sari menutup mulutnya. Bahunya berguncang.

"Lalu dia maunya apa?" Fajar mengepalkan tangan. "Kalau dia nggak bisa maksa, ngapain dia pakai mimpi Sari?"

Saya yang menjawab. Karena tiba-tiba semuanya jelas β€” sejelas gambar crayon di bantal basah saya.

"Dia mau gue turun dengan sukarela," kata saya pelan. "Itu satu-satunya cara dia bisa dapat gue. Janji gue bunyinya 'Ambil saya' β€” tapi dia nggak bisa ambil. Dia cuma bisa nunggu gue MENYERAHKAN diri." Saya menatap Sari. "Dan cara tercepat bikin gue nyerah... adalah lewat orang yang gue sayang."

Hening.

"Maksud lo," kata Fajar perlahan, "dia bakal pakai Sari buat... bikin lo turun?"

"Dia sudah mulai." Suara saya serak. "Semalam, lewat mulut Sari, dia bilang: 'Besok Abang turun, ya?' Kalau Sari yang sadar β€” Sari yang nangis dan bilang 'kasian dia, Dim, tolongin dia' β€” " Saya berhenti. Tenggorokan saya tercekat. "Gue nggak yakin gue bisa nolak."

Sari terisak. "Gue nggak akan bilang gitu, Dim. Gue janjiβ€”"

"Jangan janji," potong saya cepat. Terlalu cepat. Terlalu keras. "Jangan kasih janji ke SIAPAPUN sekarang. Janji itu..." Saya menatap Ustadz. "Janji itu mata uang di sana, kan?"

Ustadz mengangguk pelan.

Siang itu saya tidak bisa diam. Saya mondar-mandir di kamar seperti setrikaan rusak, sementara gambar ABANG JANJI di bantal basah itu β€” yang masih saya simpan dalam kresek di kolong β€” seolah menatap saya dari kegelapan.

Saya memikirkan Ibu Lastri. Tiga hari ia turun dan memberi suaranya sedikit demi sedikit. Tiga puluh tahun ia berbicara kepada tutup sumur yang terkunci. Ia tidak melawannya dengan kekuatan. Ia melawannya dengan MEMBERI β€” dengan sengaja, dengan takaran, dengan kendali.

Dan saya teringat apa yang saya pahami di dalam sumur, dengan mata terpejam dan air hitam setinggi mata kaki:

Ia tidak pernah menerima pemberian yang DIBERIKAN dengan sengaja. Tiga puluh tahun ia makan pemberian yang dicuri: suara yang dipancing, kunci yang dijebak, tangan yang disambar.

Memberi yang sebenarnya β€” memberi dengan sadar β€” bukanlah kelemahan.

Sore harinya saya mengumpulkan Fajar dan Ustadz di musala. Sari saya minta tetap di kos bersama Bu Sarmi. Bukan karena saya tidak percaya padanya β€” justru karena saya terlalu sayang padanya untuk melibatkannya.

"Gue punya rencana," kata saya.

Fajar menyipitkan mata. "Rencana lo kemarin bikin lo janjiin nyawa lo. Gue nggak suka awalan ini."

"Dengerin dulu." Saya menarik napas. "Dia nagih janji gue. Janji itu utang. Utang yang nggak dibayar bikin dia buas β€” dia nagihnya lewat Sari, lewat mimpi, lewat kasihan. Tapi Ibu Lastri nunjukin caranya: kasih makan dengan sengaja. Sedikit-sedikit. Dengan takaran. Tiga puluh tahun kos ini aman karena itu."

"Lo mau ngasih makan dia?" Fajar menatap saya ngeri.

"Gue mau BAYAR CICILAN." Saya menatapnya lurus-lurus. "Utang gue bunyinya 'ambil saya'. Gue nggak akan kasih itu. Tapi gue bisa kasih yang lain β€” yang gue yang nentuin. Suara gue. Cerita. Sedikit, tiap malam, di depan pintu kamar 7. Kayak Ibu Lastri. Gue yang nentuin takarannya. Gue yang nentuin waktunya. Bukan dia."

"Dim." Fajar mencengkeram bahu saya. "Itu namanya ngasih makan setan."

"Ibu Lastri ngasih makan tiga puluh tahun dan kita semua hidup, Jar." Suara saya tenang β€” ketenangan yang mengejutkan saya sendiri. "Yang bahaya itu kelaparan. Yang bahaya itu utang yang nggak dibayar. Dia nagihnya lewat orang yang gue sayang β€” dan gue nggak akan biarin Sari jadi alat tagihnya."

Ustadz diam lama. Tasbihnya berputar pelan di jarinya.

"Ada syaratnya," katanya akhirnya. "Kalau kamu mulai, kamu tidak boleh berhenti. Ia akan menunggu setiap malam β€” jam tiga, jamnya dia. Satu malam kamu absen, janji cicilanmu putus." Ia menatap saya dalam-dalam. "Dan kalau janji cicilan putus, ia menagih POKOKNYA."

"Pokoknya..." Fajar menelan ludah. "Lo."

Saya mengangguk. "Gue tahu."

"Kamu tahu apa artinya? Kamu mengikat dirimu pada jadwalnya. Mungkin bertahun-tahun. Mungkin..." Ustadz tidak menyelesaikan kalimatnya. Mungkin selamanya.

"Gue tahu," kata saya lagi.

Malam itu Bu Sarmi membekali saya dengan termos teh manis dan singkong goreng. "Buat begadang," katanya, memaksakan senyum. Matanya sembab.

Sari menarik lengan baju saya di koridor. "Dim, gue ikut. Kita gantianβ€”"

"Jangan." Saya memotongnya β€” lalu melunak melihat matanya berkaca. "Sar. Dengerin gue. Dia maunya lo yang kasihan. Kasihan lo itu pintunya. Satu-satunya cara lo bantu gue adalah: jangan kasihan. Jangan mimpiin dia. Jangan mikirin dia." Saya tersenyum pahit. "Benci dia aja. Itu lebih aman."

Sari menangis dan memeluk saya. Saya memeluknya balik β€” erat, sebentar. Lalu saya melepaskannya. Karena setiap detik saya memeluknya, saya membayangkan suara anak kecil berkata "kasian" dari mulutnya.

Pukul dua lebih lima puluh menit, saya duduk bersila di depan pintu kamar 7.

Sepuluh menit menunggu jam tiga terasa seperti satu jam. Saya mendengarkan kos: dengkuran Fajar yang tertahan-tahan di belakang saya β€” ia berusaha tidak tidur dan gagal; bunyi kulkas tua di dapur; dan dari bawah pintu, dari celah hitam tempat papan tidak rapat, tidak ada bunyi apa-apa. Justru itu yang paling menakutkan. Ketiadaan bunyi yang mendengarkan.

Saya memikirkan apa yang akan saya ceritakan. Saya bukan pendongeng. Seumur hidup, keahlian saya adalah mendengarkan β€” mendengarkan tetesan air di malam hari, mendengarkan cerita orang, mendengarkan sampai saya mendengar hal yang seharusnya tidak didengar. Tapi malam ini saya harus menjadi suara. Ibu Lastri memberi suaranya tiga hari untuk menahan kegelapan. Saya akan memberi suara saya β€” sedikit, dengan takaran β€” untuk membayar utang saya.

Tujuh papan kayu masih terpaku di kusennya β€” Fajar menghitungnya waktu memaku, "biar pas". Tasbih rangkai-ulang Ustadz tergantung di paku pintu. Taburan garam Bu Sarmi masih di ambang, belum tersapu.

Fajar duduk di belakang saya, senter HP menyala, linggis di pangkuannya. "Buat jaga-jaga," katanya. Kami berdua tahu linggis tidak ada gunanya melawan suara. Tapi pegangan itu membuatnya merasa bisa melakukan sesuatu. Saya tidak tega mengambilnya.

Dingin merayap dari bawah pintu. Bukan dingin biasa β€” dingin yang SABAR, dingin yang menunggu.

Pukul tiga tepat, saya mendekatkan wajah ke celah pintu β€” ke garis hitam tipis tempat papan tidak rapat β€” dan saya berbicara. Suara saya gemetar. Saya biarkan gemetar. Biar ia dengar saya takut. Biar ia tahu yang datang ini manusia, bukan pahlawan.

"Aku datang," kata saya. "Bukan buat ikut. Buat bayar."

Sunyi.

"Cicilan pertama..." Tenggorokan saya kering. Saya meneguk teh manis yang sudah dingin. "Cicilan pertama: cerita."

Sunyi yang panjang. Begitu panjang sampai Fajar berbisik di belakang saya, "Dim, udahan ajaβ€”"

Lalu, dari bawah pintu β€” dari kedalaman yang terkunci β€” terdengar suara. Kecil. Ragu. Berharap.

Suara anak kecil yang asli. Suara yang pertama kali bertanya, tiga puluh hari lalu, "Abang mau lihat Lasmi?"

"...cerita?"

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!