β€Ή
10. Jangan Menyahut

Jangan Menyahut

Kos Nomor 13 β€’ 1,329 kata

Ilustrasi Jangan Menyahut

Gagang pintu kamarku berputar β€” pelan, seperti diputar oleh tangan yang tidak terburu-buru.

Lalu berhenti.

Kami berempat menahan napas di dalam lingkaran garam.

Sari yang mengusulkan lingkaran itu β€” bukan garis di ambang pintu, tapi lingkaran penuh di tengah kamar, cukup besar untuk kami berempat duduk bersila di dalamnya. Tiga kantong plastik garam dituang sampai membentuk garis tebal yang tidak terputus. “Nek bilang: yang ditandai dijaga tiga malam,” katanya. “Ini malam pertama. Kita enggak keluar dari lingkaran sampai azan subuh.”

Di sobekan kertas, Sari menulis aturan β€” hurufnya besar dan tegas β€” lalu menempelkannya di dinding:

1. JANGAN JAWAB PANGGILAN APA PUN.
2. JANGAN SEBUT NAMA β€” NAMA SENDIRI MAUPUN ORANG LAIN.
3. JANGAN BUKA PINTU SAMPAI AZAN SUBUH.
4. KALAU ADA YANG BERDIRI, TAHAN.

Kapas dibagi β€” bergantian. Dua orang menyumbat telinga, dua orang berjaga. Bu Sarmi berbaring di tengah lingkaran, diselimuti sarung, napasnya cepat dan pendek. Sesekali dia mengigau: “Nisa... Sarmi...” β€” dan setiap kali itu terjadi, Sari mengusap keningnya sambil berbisik doa, mengisi udara dengan suara manusia, seperti pesan Nek.

Pukul sebelas, gagang pintu berhenti berputar. Keheningan turun β€” dan Dimas belajar malam itu bahwa keheningan bisa lebih berat daripada suara.

Tengah malam, ketukan itu datang.

Tok. Tok. Tok. Pelan. Sabar. Tujuh tahun sabar. Dari balik pintu kamar Dimas.

“Bu...” Suara kecil itu β€” suara Nisa. “Ibu janji naik...”

Bu Sarmi menggeliat dalam tidurnya. Tangannya terangkat sedikit. Sari langsung menggenggamnya, mengusapnya, berbisik: “Nisa sudah pergi, Bu. Nisa sudah tenang. Tidur, Bu.”

Ketukan itu berhenti. Tapi Dimas tahu β€” ini baru pemanasan.

Pukul satu, giliran Dimas. Dari luar jendela β€” suara Bu Sarmi, lemah dan kedinginan: “Dimas... buka pintunya, Nak... Ibu kedinginan di luar...”

Dimas menoleh. Bu Sarmi terbaring dua meter darinya, bibirnya tertutup, napasnya tersengal dalam demam. Bukti yang tidak terbantahkan β€” dan tetap saja, sesuatu di dalam dadanya mencelos mendengar suara itu. Dia memejamkan mata dan menggenggam tasbih Sari yang dipinjamkan kepadanya.

Pukul dua, nenek Sari memanggil cucunya dalam bahasa Jawa halus dari arah ventilasi: “Nduk Sari... simbah kangen...” Sari menyumbat kapas lebih dalam, air matanya mengalir, bibirnya tidak berhenti komat-kamit.

Pukul setengah tiga, ibu Fajar memanggil dari lorong: “Jar... pulang, Nak... Ibu masakin sayur asem kesukaanmu...”

Fajar berdiri.

Matanya kosong β€” seperti tadi malam, tapi lebih dalam. Dia melangkah ke tepi lingkaran garam, kakinya hampir menyentuh garis putih itu.

Dimas dan Sari serentak menerkamnya. Mereka menyeretnya kembali ke tengah lingkaran β€” Fajar meronta, tenaganya mengejutkan, air matanya mengalir deras.

“Itu persis... persis suara ibuku,” isaknya, tanpa suara, seperti anak kecil. “Gue kangen ibu gue, Dim...”

“Gue tahu,” bisik Dimas, memeluk bahu temannya yang gemetar. “Gue tahu, Jar. Bertahan. Sedikit lagi.”

Pukul setengah empat, dia mengeluarkan jurus yang paling kejam.

Dari balik pintu β€” suara Dimas sendiri.

“Dim... buka, ini gue. Gue kedinginan di luar, Dim. Buka, Dim...”

Dimas menatap pintu. Suaranya sendiri β€” santai, persis logatnya, persis caranya memanggil diri sendiri dalam hati β€” memohon dari luar. Tangannya terangkat setengah jalan sebelum dia menyadarinya. Dia menangkap pergelangan tangannya sendiri dengan tangan yang lain dan menggigit buku jarinya sampai berdarah. Rasa sakit itu nyata. Rasa sakit itu miliknya.

“Jangan,” bisik Sari, matanya membelalak ngeri. “Itu bukan kamu.”

“Aku tahu,” kata Dimas β€” dan suaranya bergetar. “Aku di sini. Aku di dalam.”

Lalu β€” keheningan. Dari pukul empat sampai setengah lima, tidak ada suara apa pun. Tidak ada ketukan, tidak ada panggilan. Hanya dengung malam dan napas mereka berempat.

Itu setengah jam terburuk dalam hidup Dimas. Karena dalam keheningan itu, dia bisa mendengar sesuatu yang lain β€” bisikan. Bukan satu suara, tapi banyak β€” seperti kerumunan orang berbisik di bawah air β€” merembes dari ventilasi, dari celah pintu, dari dinding. Tidak ada kata yang jelas. Hanya desakan. Hanya lapar.

Pukul lima kurang seperempat β€” langit di luar jendela mulai pucat β€” serangan terakhir datang.

Suara Nisa. Tapi bukan Nisa yang tenang dan sabar. Nisa yang ketakutan β€” menangis, terisak:

“Bu... aku takut... dia pegang kakiku, Bu... dingin... Bu, tolong...”

Bu Sarmi duduk tegak. Matanya terbuka β€” tapi kosong, tidak melihat. Tidak melihat Sari, tidak melihat Dimas, tidak melihat lingkaran garam.

“NDUKβ€””

Tangan Sari membekap mulut Bu Sarmi.

Bu Sarmi meronta β€” kuat, liar, seperti orang tenggelam. Dimas menahan bahunya, Fajar menahan kakinya. Kukunya mencakar lengan Sari sampai berdarah, tapi Sari tidak melepaskan. Tidak melepaskan.

Di luar, suara itu berubah. Nisa yang menangis lenyap β€” digantikan suara basah yang tua, yang tidak lagi menyamar, mendesis dalam bahasa yang bukan bahasa manusia. Marah. Lapar. Ditolak.

Lalu β€” dari musala ujung jalan β€” azan subuh.

Keheningan jatuh seperti napas yang akhirnya dilepas.

Mereka terduduk di dalam lingkaran garam, basah oleh keringat, gemetar. Bu Sarmi terkulai di pelukan Sari, pingsan lagi β€” atau tertidur β€” air matanya masih mengalir.

Dimas menatap lingkaran garam itu.

Di sisi Bu Sarmi β€” tempat dia meronta tadi β€” garis garam itu buyar. Tersebar. Terputus.

“Dia enggak sempat nyebut,” bisik Sari, membaca pikirannya. Tangannya yang berdarah masih menempel di mulut Bu Sarmi. “Tanganku nutup. Dia enggak sempat nyebut apa-apa.”

Dimas mengangguk. Tapi dia tidak bisa berhenti menatap garis yang terputus itu.

Subuh itu, mereka membakar kasetnya.

Di halaman belakang β€” jauh dari sumur, di dekat jemuran β€” Dimas menyalakan api kecil dalam kaleng bekas. Kaset itu berat di tangannya. Labelnya, ditulis tangan Nisa tujuh tahun lalu: untuk yang mau dengerin.

“Makasih, Nis,” bisik Dimas. “Tadi malam... kamu yang ngingetin kami. Kami dengar.”

Dia menjatuhkan kaset itu ke dalam api.

Sari memimpin doa β€” suaranya tenang, mantap. Fajar berdiri di samping Dimas, bahunya bersentuhan. Bu Sarmi duduk di kursi plastik, diselimuti sarung, menatap api dengan mata kosong.

Plastik kaset itu melengkung dalam panas. Pitanya mengkerut, menghitam. Dan sesaat β€” hanya sesaat β€” dari dalam api terdengar sesuatu seperti desahan panjang. Asapnya berbau melati β€” lalu berubah menjadi bau lumpur.

Lalu tidak ada. Hanya api kecil, dan abu.

Dimas menunggu abunya dingin, mengumpulkannya ke dalam kantong plastik, dan berjalan ke selokan depan kos β€” airnya mengalir jernih setelah hujan semalam. Dia menaburkan abu itu ke air yang mengalir, seperti pesan Nek. Abu itu berputar, larut, dibawa pergi.

“Pintu cadangannya sudah ditutup,” kata Sari pelan di sampingnya.

Dimas mengangguk. Tapi dia tidak merasa menang. Belum.

Siang harinya, Bu Sarmi terbangun β€” jernih.

Demamnya turun. Matanya fokus. Dia meminta minum, lalu meminta Dimas mendekat. Sari dan Fajar ada di kamar itu juga β€” tidak ada yang mau meninggalkan Bu Sarmi sendirian. Aturan Nek: tiga malam. Mereka baru lewat satu.

“Di antara tidur dan bangun tadi,” kata Bu Sarmi pelan, “dia ngomong ke aku. Bukan pakai suara curian. Suara aslinya. Yang basah itu.”

Dimas mencondongkan tubuh. “Dia bilang apa, Bu?”

Bu Sarmi menatap tangannya sendiri β€” tangan yang semalam mencakar lengan Sari. “Dia kasih tahu aku... namanya.”

Keheningan.

“Katanya itu aturannya,” lanjut Bu Sarmi, suaranya bergetar. “Kalau aku nyebut namanya, dia harus datang. Harus menjawab. Itu... itu caranya dia main. Dia enggak bisa nolak panggilan yang pakai nama aslinya.”

“Jangan pernah nyebut, Bu,” kata Dimas cepat. “Jangan pernah.”

Bu Sarmi mengangguk β€” tapi air matanya mengalir. “Tapi dia juga bilang... kalau aku enggak nyebut, dia manggil kita terus. Tiap malam. Sampai ada yang nyahut. Tiga malam, kata nenekmu?” Dia menatap Sari. “Kita baru lewat satu, Nduk.”

Dimas merasakan sesuatu yang dingin merayap di tengkuknya. “Bu... namanya siapa?”

Bu Sarmi menoleh ke langit-langit β€” ke arah lantai dua. Ke arah kamar tujuh. Lalu dia memberi isyarat agar Dimas mendekat, dan membisikkan sesuatu di telinganya.

Dimas tidak akan pernah menceritakan apa yang didengarnya. Bukan karena dia lupa. Tapi karena saat bisikan itu selesai β€” pada detik yang sama β€” dari lantai dua terdengar bunyi:

DUAK!

Pintu kamar tujuh β€” membanting menutup.

Debu berjatuhan dari langit-langit. Tidak ada angin. Tidak ada siapa-siapa di atas sana.

Bu Sarmi menatap Dimas β€” dan untuk pertama kalinya sejak malam Jumat, dia tersenyum.

“Dia dengar, Dimas,” bisiknya.

Lalu, pelan, dengan mata yang berkilat oleh sesuatu yang bukan lagi sekadar takut:

“Sekarang... giliran kita yang memanggil.”

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!