Aturan Baru untuk Bertahan
Kos Nomor 13 β’ 1,277 kata
Kami berkumpul di warung Bude Ratna tepat setelah magrib. Bukan di dalam warung, melainkan di halaman belakangnya, di tempat yang cukup jauh dari sumur tapi masih bisa melihatnya. Bude membawa empat gelas teh dan satu buku catatan yang semalam membuka sendiri. Buku itu kini tertutup, diikat dengan tali rafia, seperti sesuatu yang dibungkus agar tidak bergerak lagi. Tegar membawa senter. Kirana membawa selimut tipis, entah untuk menghangatkan diri atau untuk menutupi sesuatu. Aku tidak membawa apa-apa kecuali diriku sendiri, dan itu pun terasa sudah terlalu banyak.
"Perjanjian lama sudah rusak," kata Bude, membuka pembicaraan tanpa basa-basi. "Kita tidak tahu siapa yang merusaknya, dan tidak penting lagi. Yang penting, kita buat yang baru. Malam ini. Berempat. Karena pendengar hanya menghormati perjanjian yang dibuat ramai-ramai."
"Apa saja aturannya, Bude?" tanya Tegar.
Bude mengangkat satu jari. "Pertama: jangan pernah menjawab panggilan yang tidak bisa kau lihat wajahnya. Suara saja tidak cukup. Kalau Tegar memanggilmu, lihat dulu Tegar. Kalau Ibu memanggilmu, lihat dulu Ibu. Kalau tidak ada wajahnya, itu bukan dia. Diam saja. Biarkan memanggil sampai lelah."
Ia mengangkat jari kedua. "Kedua: jangan bercerita pada sumur, pada kamar kosong, pada cermin, pada dirimu sendiri setelah tengah malam. Cerita yang diceritakan sendirian di tengah malam adalah makanan yang paling mudah diambil. Kalau mau bercerita, ceritakan pada orang. Di siang hari. Sampai selesai. Cerita yang selesai tidak bisa diambil."
Jari ketiga. "Ketiga: setiap cerita harus selesai. Jangan berhenti di tengah kalimat. Jangan menggantungkan cerita tentang orang yang hilang. Kalau kau mulai bercerita, selesaikan, meski akhir ceritanya sedih. Karena cerita yang tidak selesai adalah pintu. Dan dia masuk lewat pintu yang tidak ditutup."
Lalu Bude diam cukup lama. Kirana bertanya, pelan, "Terus yang keempat, Bude?"
Bude menatap sumur di kejauhan. "Keempat: setiap minggu, satu orang harus duduk di bibir sumur dan mendengarkannya. Bukan bercerita. Mendengarkan. Karena pendengar itu lapar bukan hanya karena ingin mendengar cerita. Dia lapar karena tidak pernah didengarkan. Anak kecil itu duduk di sana puluhan tahun dan tidak ada yang mendengarkan ceritanya. Jadi kita yang mendengarkan dia. Kita beri dia apa yang tidak pernah ia dapatkan. Supaya dia tidak perlu lagi mencuri suara orang lain untuk didengar."
Hening. Aturan keempat itu terasa paling berat, meski kedengarannya paling sederhana. Duduk di bibir sumur. Mendengarkan. Sesuatu yang tidak punya suara sendiri, yang hanya bisa meminjam suara orang lain.
"Siapa yang pertama?" tanya Tegar.
"Aku," kataku, sebelum sempat berpikir. Kata itu keluar begitu saja, tapi begitu keluar, aku tahu itu benar. Ceritaku yang tertulis di buku itu. Namaku yang tertulis di halaman terakhir. Suaraku yang bercerita di dalam kamarku sendiri. Dia sudah memilihku. Atau aku sudah memilihnya. Mungkin tidak ada bedanya lagi.
Bude menatapku lama, lalu mengangguk. "Baik. Tapi tidak malam ini. Malam ini kita hanya membuat perjanjian. Duduk mendengarkan itu minggu depan, di siang hari, dan kami bertiga menunggu di sini. Tidak sendirian. Tidak pernah sendirian."
Kami mengucapkan keempat aturan itu bersama-sama, keras-keras, menghadap ke arah sumur. Suara kami berempat bercampur di udara malam. Bude bilang perjanjian harus diucapkan, bukan ditulis, karena pendengar mendengarkan suara, bukan tulisan. Kecuali tulisan di bukunya sendiri, kataku dalam hati, tapi aku tidak mengatakannya keras-keras.
Setelah itu, Bude membuka tali rafia pada buku catatan itu, membukanya pada halaman terakhir, dan menulis sesuatu dengan penanya sendiri. Tangannya gemetar sedikit, tapi tulisannya tegas. Ia menulis keempat aturan itu, satu demi satu, lalu menutup bukunya dan mengikatnya kembali.
"Mulai malam ini," katanya, "kalau ada yang memanggil dengan suara orang yang kau sayang, kau jawab dengan aturan ini. Kau sebut aturannya. Kau bilang: aku tidak menjawab suara tanpa wajah. Itu saja. Ucapkan, meski hanya di dalam hati."
Kami pulang dengan perasaan yang aneh. Bukan lega. Bukan juga takut seperti sebelumnya. Lebih seperti orang yang baru saja menandatangani perjanjian dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya dipahami, tapi tidak punya pilihan lain. Tegar mengantarku sampai depan kamar. Kirana mengucapkan selamat malam dari lorong, keras-keras, supaya aku mendengar suaranya yang asli, bukan pinjaman.
Di dalam kamar, aku duduk di tepi kasur. Lampu menyala. Pintu terkunci. Jendela tertutup. Aku menunggu. Biasanya, di jam seperti ini, aku akan bercerita pada diriku sendiri, mengulang hari itu, merencanakan besok. Malam ini aku tidak melakukannya. Aku hanya duduk, diam, mendengarkan kamarku sendiri. Suara kipas angin. Suara jangkrik dari luar. Suara langkah Tegar di kamarnya. Suara-suara biasa. Suara-suara yang punya wajah.
Lalu, tepat tengah malam, dari arah sumur, terdengar suara. Bukan memanggil namaku. Bukan meniru siapa pun. Suara itu kecil, ragu-ragu, seperti anak kecil yang baru belajar bicara setelah lama sekali diam. Suara itu berkata, pelan sekali, "Terima kasih sudah mendengarkan."
Aku tidak menjawab. Aturan pertama: jangan menjawab suara tanpa wajah. Aku hanya duduk, dan mendengarkan, dan untuk pertama kalinya, suara itu tidak menuntut apa-apa. Ia hanya berkata terima kasih, lalu diam.
Aku tidur malam itu tanpa mimpi. Atau mungkin aku bermimpi, tapi mimpi itu selesai. Ada awal, ada tengah, ada akhir. Pagi harinya aku bangun dengan perasaan yang belum pernah kurasakan sejak tinggal di kos ini: kamar tujuh terasa seperti kamar biasa. Dindingnya diam. Lantainya tidak dingin. Air di gelasku tidak beriak sendiri.
Pagi harinya, sebelum ke sumur, aku mampir ke warung. Bude Ratna sedang menata gelas dan langsung tahu dari wajahku. "Dia mengucapkan terima kasih, ya?" katanya. Aku mengangguk. Bude tersenyum tipis, senyum pertama yang kulihat darinya sejak semalam. "Bagus. Berarti perjanjian itu didengarnya. Pendengar yang merasa didengarkan tidak perlu lagi berteriak dengan suara orang lain."
Siang itu, aku pergi ke sumur. Sendirian, di siang hari yang terang, seperti yang Bude perintahkan. Aku tidak duduk di bibirnya. Aku hanya berdiri di dekatnya, dan berkata, keras-keras, "Minggu depan, aku akan duduk di sini dan mendengarkanmu. Bukan hari ini. Hari ini aku hanya memberitahumu supaya kau tidak menunggu dalam gelap."
Air di dalam sumur itu tenang. Tidak ada wajah. Tidak ada riak. Hanya pantulan langit siang dan wajahku sendiri, yang kali ini tersenyum bersamaan denganku.
Aku berbalik dan berjalan kembali ke warung, ke kamar, ke hidupku yang biasa. Di belakangku, sumur itu diam. Tapi diamnya berbeda. Bukan diam yang menunggu. Diam yang mendengarkan.
Dan saat aku sampai di depan kamar tujuh, aku mendengar sesuatu dari dalam kamarku. Bukan suaraku. Bukan suara siapa pun yang kukenal. Suara anak kecil, pelan, dari dalam dinding, yang berkata, "Kalau begitu, minggu depan, aku akan bercerita padamu. Cerita yang belum pernah kuceritakan pada siapa pun. Cerita tentang anak kecil yang duduk di bibir sumur, dan menunggu seseorang mendengarkannya."
Aku berhenti di depan pintu. Tanganku di gagang pintu. Aturan kedua terngiang di kepalaku: jangan bercerita pada kamar kosong setelah tengah malam. Tapi ini siang hari. Dan ini bukan aku yang bercerita. Ini dia yang mau bercerita. Dan aturan ketiga berkata: setiap cerita harus selesai.
Aku membuka pintu, pelan-pelan. Kamar itu kosong. Kasurku rapi. Gelas di meja diam. Tidak ada siapa-siapa. Tapi di atas meja, di tempat yang tadi pagi kosong, ada buku catatan. Bukan buku Bude. Buku yang berbeda. Sampulnya baru, halamannya kosong, dan di halaman pertamanya, dengan tulisan tangan anak kecil yang besar-besar dan miring, tertulis satu kalimat:
"Ceritaku dimulai pada hari aku berhenti menunggu didengarkan, dan mulai mendengarkan."
Di bawah kalimat itu, ada satu baris kosong. Menunggu diisi. Menunggu cerita berikutnya. Menunggu giliranku mendengarkan. Dan aku sadar, dengan perasaan yang dingin sekaligus anehnya tenang, bahwa perjanjian baru itu ada harganya: seseorang harus selalu duduk dan mendengarkan. Minggu depan itu aku. Minggu depannya lagi, entah siapa. Tapi mulai malam ini, pendengar itu tidak lagi menunggu di sumur. Ia menunggu di kamarku. Di atas mejaku. Di dalam buku yang baru saja terbuka sendiri, halaman demi halaman, tanpa disentuh siapa pun.