β€Ή
22. Yang Lebih Tua dari Lasmi

Yang Lebih Tua dari Lasmi

Kos Nomor 13 β€’ 1,466 kata

Ilustrasi Yang Lebih Tua dari Lasmi

Aku tidak bertanya baik-baik. Pagi itu, setelah semalaman tidak tidur dan seharian berpura-pura normal, aku meletakkan buku catatan baru di depan Bu Sarmi di meja dapur, menaruh pulpen di atasnya, dan berkata:

"Bu. Sekarang. Semuanya. Saya nggak mau setengah-setengah lagi. Saya mau tahu sumur itu apa, yang di bawah itu apa, dan kenapa Ibu tahu banyak hal yang kami nggak tahu."

Bu Sarmi menatapku lama. Lalu dia menarik napas panjang β€” bahunya naik-turun seperti orang yang akhirnya meletakkan beban yang terlalu lama dipikul β€” dan mulai menulis.

Dia menulis selama hampir satu jam. Teh yang kubuatkan dingin tak tersentuh. Fajar dan Sari duduk di sekeliling meja, membaca dari balik bahunya, tidak ada yang berani bersuara. Halaman demi halaman, tulisan tangannya yang gemetar menyusun cerita yang membuat darahku semakin dingin setiap barisnya.

"Inilah yang kuceritakan," tulisnya, "yang tidak pernah kuceritakan ke siapa pun selama empat puluh tahun."

Sumur itu lebih tua dari kos ini. Lebih tua dari gang ini. Lebih tua dari siapa pun yang masih hidup di kampung ini.

Kakeknya Bu Sarmi β€” mandor kebun di zaman Belanda, tahun 1920-an β€” yang menggali sumur itu. Bukan karena butuh air. Tapi karena para pekerjanya bersumpah mendengar suara TETESAN AIR dari dalam tanah kering β€” di tempat yang menurut semua orang tidak mungkin ada airnya. Mereka menggali mengikuti suara itu. Semakin dalam mereka menggali, semakin jelas tetesannya. Seperti sesuatu di bawah sana... memanggil mereka turun.

Mereka tidak pernah menemukan mata air. Air di sumur itu tidak pernah surut dan tidak pernah meluap, tidak peduli musim hujan atau kemarau. Dan orang-orang yang minum dari sumur itu setelah magrib β€” selalu setelah magrib, tidak pernah siang β€” bermimpi sama: tenggelam di air yang hitam dan tidak berdasar, dengan sesuatu yang berenang mengelilingi mereka dalam lingkaran yang semakin sempit. Mereka terbangun dengan kaki yang basah, sprei yang lembap, seolah mimpi itu bocor ke dunia nyata.

"Dulu orang kampung bilang sumur itu 'dijaga'," tulis Bu Sarmi. "Tapi bukan dijaga supaya aman. Dijaga supaya tidak lapar."

Aku merinding sampai ke ubun-ubun. "Terus... Lasmi?"

Tangan Bu Sarmi berhenti. Dia menatap kosong ke dinding dapur selama hampir satu menit. Lalu menulis lagi, lebih lambat:

"Lasmi anak kos kamar tujuh. Tahun 1983. Empat puluh tiga tahun lalu. Dia cantik, periang, baru dua bulan ngekos. Lalu dia mulai dengar tetesan itu manggil NAMANYA. Malam-malam dia duduk di bibir sumur, ngobrol sendiri, ketawa sendiri. Kami kira dia gila. Suatu malam dia... dia bersandar terlalu jauh. Atau ditarik. Tidak ada yang lihat. Paginya cuma sendalnya yang ketinggalan di bibir sumur."

Setelah Lasmi jatuh, mimpi-mimpi itu menyebar. Bukan cuma yang minum airnya β€” semua penghuni kos mulai mimpi tenggelam. Dan satu per satu, nama-nama itu mulai dipanggil: Minah, 1990-an. Yuni. Ratna. Wulan. Tari. Setiap beberapa tahun, satu nama. Setiap nama yang jatuh, tetesan di sumur terdengar... lebih puas. Lebih kenyang. Untuk sementara.

"Sampai tujuh tahun lalu," tulis Bu Sarmi, dan di sini tulisannya mulai belepotan, tintanya meleber di beberapa titik. "Mbak Rina masih SMA. Lasmi... Lasmi sudah kuat sekali waktu itu. Dia datang ke tangga kos, malam-malam, manggil-manggil Mbak Rina turun. Nisa β€” anak tetangga, 17 tahun, main ke sini sore itu β€” dia lihat. Dia teriak 'AMBIL AKU!' sekeras-kerasnya di tangga itu, supaya Lasmi... supaya yang di bawah... ngambil dia aja, bukan Mbak Rina."

Sari menutup mulutnya dengan tangan. Fajar menunduk, rahangnya mengeras.

"Sejak itu Nisa yang nahan. Bukan cuma Lasmi β€” tapi yang di bawah Lasmi. Yang..."

Di sini Bu Sarmi berhenti lama. Pulpennya melayang di atas kertas. Lalu dia menulis satu kalimat, hurufnya besar dan tegas:

"YANG DI BAWAH ITU BUKAN ORANG. TIDAK PERNAH JADI ORANG."

Aku menelan ludah. "Maksud Ibu?"

"Sumur itu digali MENGIKUTI suara tetesan. Suara itu sudah ada SEBELUM sumurnya. Sebelum kakekku. Mungkin sebelum kampung ini. Itu bukan hantu orang mati, Dimas. Itu... lapar yang tinggal di tanah. Yang belajar bentuk manusia dari orang-orang mati yang jatuh ke dia. Lasmi memberinya bentuk perempuan pertama. Memberinya NAMA pertama untuk dipakai. Setiap nama yang disebut ke dalam sumur β€” setiap nama yang dipanggil orang hidup β€” menjadi GANJAL yang melebarkan pintunya. Makanya ritualmu berhasil: lima nama pulang, lima ganjal lepas, pintunya menyempit."

Jantungku berdebar kencang. "Terus Nisa? Kenapa dia nggak ikut pulang? Kenapa dia harus jadi penjaga?"

Bu Sarmi menatapku β€” dan untuk pertama kalinya, aku melihat kemarahan di matanya. Bukan ke aku. Ke dirinya sendiri.

"Karena kalau dia pergi, tidak ada yang memegang pintunya dari dalam. Tapi lebih dari ituβ€”" Pulpennya bergetar hebat. "Dia memberinya NAMANYA untuk dipegang. Selama yang di bawah itu menggenggam nama Nisa, dia tidak bisa belajar nama yang baru. Nama itu seperti... seperti mainan yang diberikan ke anak kecil supaya dia tidak merusak barang lain. Tapi mainan itu..."

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia tidak perlu. Aku yang menyelesaikannya dengan suara bergetar:

"...mainannya mulai rusak. Tujuh tahun digenggam. Dan semalam, waktu Ibu menyebut namanyaβ€”"

Bu Sarmi mengangguk, air matanya jatuh ke kertas dan meleberkan tintanya.

"Nama yang disebut orang HIDUP bisa DIJAWAB," tulisnya cepat. "Itu aturannya. Nama itu tali dua arah. Orang mati memanggil nama orang hidup β€” itu tarikan. Orang hidup memanggil nama orang mati β€” itu UNDANGAN. Semalam aku mengundangnya. Dan dia menjawab... dengan memakai suara Nisa. Karena nama Nisa sekarang... sudah hampir jadi miliknya."

Ruang dapur terasa menyempit. Aku teringat suara ceria di sumur tadi malam β€” "Halo? Dimas?" β€” tanpa ketukan dulu, tanpa pola. Bukan Nisa yang bicara. Itu DIA, yang sudah belajar memakai suara Nisa seperti baju.

"Terus tape recorder?" tanya Sari pelan. "Kenapa dia pakai kaset?"

Bu Sarmi menulis: "Kaset itu merekam suara. Suara adalah namanya yang lain. Setiap kali kalian mendengarkan kaset itu, dia ikut mendengarkan KALIAN. Kemarin malam kalian mendengarkan dia belajar. Tadi malam dia... dia menulis di bukuku. Dia sudah tidak butuh kaset lagi untuk mencapai kita."

Aku teringat kalimat di buku itu: BESOK AKU DATANG DENGERIN.

"Kenapa aku?" tanyaku akhirnya, suaraku hampir tidak keluar. "Kenapa dia bilang 'giliranmu, dengerin'? Kenapa harus aku?"

Bu Sarmi menatapku dengan tatapan yang membuatku ingin menghilang.

"Karena kamu yang menyebut enam nama itu. Kamu pemanggilnya, Dimas. Dalam aturannya, pemanggil berutang DENGARAN. Lima nama sudah dibayar dengan kepergian. Satu nama menolak pergi β€” dan utang dengarannya... jatuh ke kamu."

Aku bersandar ke kursi, lututku lemas. Jadi itu maksudnya. Aku yang membuka mulut di sumur malam itu. Aku yang memanggil. Dan sekarang tagihannya datang.

Sore itu kami melakukan satu-satunya hal yang masuk akal: kami mengambil tape recorder dari kamar tujuh β€” Fajar yang masuk, dengan sarung tangan dan doa yang tidak berhenti di bibirnya β€” dan kami menguncinya di dalam lemari gudang, dibungkus kain, ditindih kardus-kardus tua. Sari menempel kertas di pintunya: "JANGAN DIBUKA. JANGAN DIDENGARKAN."

Kami makan malam dalam diam. Tidak ada yang banyak bicara. Bu Sarmi masuk kamar lebih awal. Aku duduk di ruang tengah sampai jam sebelas, menatap langit-langit, menghitung tetesan khayalan.

Tepat tengah malam, dari dalam gudang yang terkunci β€” KLIK.

Desis pita. Memenuhi rumah yang sepi.

Kami berempat berkumpul di depan pintu gudang dalam hitungan detik β€” bahkan Bu Sarmi, dengan daster dan wajah pucatnya. Tidak ada yang berani membuka pintu. Tidak ada yang berani pergi.

Dari dalam gudang, dari dalam lemari yang terkunci, dari dalam kain pembungkusnya, speaker kecil tape recorder itu menyuarakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah kami dengar.

Suara anak kecil. Menghitung. Pelan dan sabar.

"Satu... dua... tiga... empat..."

Hening.

Lalu tetesan air. Tes... ... ...tes... ... ...tes...

Melambat. Semakin lambat. Seperti detak jantung yang kehabisan tenaga.

Tes... ... ...

...tes.

Lalu β€” tidak ada apa-apa. Hening total. Kaset itu terus berputar dengan desis kosongnya, tapi tidak ada lagi tetesan. Tidak ada lagi suara.

Aku tidak berpikir. Kakiku bergerak sendiri. Aku berlari ke halaman belakang, menerobos udara malam yang dingin, dan berlutut di depan sumur. Aku tidak peduli aturan. Aku menempelkan telingaku ke tutup kayu yang dingin β€” tidak menyentuhnya dengan tangan, hanya mendengarkan dari jarak sehelai rambut.

Hening.

Tidak ada tetesan. Tidak ada ketukan. Tidak ada pola dua lambat tiga cepat.

Tidak ada apa-apa. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, sumur itu diam sepenuhnya.

Janji itu terngiang di kepalaku, kata demi kata, dengan suara Nisa yang lelah dari malam ritual:

"Kalau suatu hari tetesannya berhenti... cari aku. Karena kalau tetesannya berhenti, berarti aku udah nggak kuat nahan."

Tanganku gemetar di atas tutup kayu itu. Aturan pertama yang dia minta: jangan buka sumur ini. Jangan pernah, apa pun yang terjadi.

Tapi janji yang kedua...

Dan saat itulah, dari jauh di bawah β€” sangat jauh sampai aku tidak yakin apakah aku mendengarnya dengan telingaku atau dengan tulang-tulangku β€” terdengar suara yang kecil, lelah, dan selesai:

"...tolong."

Tetesannya telah berhenti. Dia sudah tidak kuat menahan.

Dan besok... kami harus mencarinya. Ke bawah. Ke tempat yang tidak boleh dibuka.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!