β€Ή
40. Yang Keluar dari Sumur

Yang Keluar dari Sumur

Kos Nomor 13 β€’ 1,311 kata

Ilustrasi Yang Keluar dari Sumur

Listrik kos mati pukul 02.40 β€” dan dalam cahaya merah redup lampu darurat, saya melihatnya: jejak kaki basah kecil-kecil berjejer dari arah kamar mandi umum sampai tepat di depan pintu kamar saya. Lalu berhenti. Terputus. Seolah yang berjalan... masuk ke dalam pintu. Atau tidak pernah membutuhkan pintu sama sekali.

Jari-jari kaki itu terlalu panjang. Saya menghitungnya dalam cahaya merah itu sebelum saya sempat melarang diri sendiri: satu, dua, tiga, empat, lima β€” dan setiap jari seperti meleleh sedikit lebih panjang dari yang seharusnya. Saya tidak membuka pintu. Saya duduk dengan punggung menempel daun pintu sampai azan Subuh terdengar, dan dari luar β€” sangat pelan, sangat dekat β€” suara saya sendiri berbisik, "Bang... bukain, Bang. Dingin."

Saya mengunci pintu dari dalam β€” kunci yang kini terasa seperti lelucon. Dari bawah celah pintu, bau pisang goreng gosong merembes masuk, tipis tapi jelas. Saya menutup hidung dengan bantal. Bau itu tidak hilang. Bau itu seperti sudah tinggal di dalam hidung saya, di dalam kepala saya. Sampai azan Subuh, saya tidak berani memejamkan mata.

Pagi harinya kos ini berubah menjadi rumah duka yang tidak ada jenazahnya. Mbak Rina dari kamar 4 pucat seperti kertas β€” semalam suara saya memanggil namanya dari depan pintunya, memintanya membukakan pintu, dan ia hampir melakukannya. "Untung kucing saya mengeong," katanya dengan suara bergetar. Mas Yoga dari kamar 9 melihat anak perempuan kecil bergaun di ujung koridor; anak itu melambai dengan jari-jari terlalu panjang dan tersenyum terlalu lebar. Dua penghuni mengemasi barangnya sebelum Zuhur. Bu Sarmi memohon mereka tetap tinggal, tapi matanya memohon saya untuk melakukan sesuatu.

Siang itu ruang depan penuh. Penghuni yang biasanya tidak saling sapa kini duduk melingkar, pucat, saling bertukar cerita semalam. Ada yang mendengar ketukan. Ada yang mendengar suaranya sendiri memanggil dari luar pintu. Bu Sarmi membuatkan teh manis dengan tangan gemetar, meminta maaf berulang-ulang seolah semua ini salahnya. Mungkin memang salahnya β€” tapi bukan salah yang bisa diperbaiki dengan teh manis.

"Kita butuh bantuan," kata Fajar. "Bantuan yang beneran. Bukan kita berempat sok berani lagi."

Kami memanggil Ustadz Mahmud dari musala ujung gang β€” beliau yang dulu, bertahun-tahun lalu, pernah diminta Bude memagari kos ini dengan doa. Beliau datang selepas Magrib, membawa tasbih kayu dan botol air doa. Beliau mendengarkan cerita kami sampai selesai tanpa menyela. Lalu beliau meminta melihat kunci itu.

Beliau tidak langsung masuk. Beliau berdiri di gerbang kos, memandang bangunan tua itu lama sekali, bibirnya bergerak membaca sesuatu. 'Kos ini...' katanya pelan, 'tiga puluh tahun lalu saya pernah ke sini. Waktu itu saya masih muda. Bude kamu memanggil saya.' Beliau menatap Bu Sarmi. 'Waktu itu saya bilang sumurnya harus ditutup dengan benar. Bude bilang biayanya mahal. Jadi mereka tutup dengan papan dan tanah.' Beliau menghela napas. 'Papan lapuk. Tanah turun. Tiga puluh tahun.'

Dengan kain beliau mengambil kunci dari kaus kaki β€” beliau tidak mau menyentuhnya langsung. Beliau mengamatinya lama, lalu berkata pelan, "Nak Dimas. Ini bukan kunci pintu."

"Maksud Ustadz?"

"Ini tanda." Beliau menatap saya lurus-lurus. "Ia menandai penjaga barunya. Dulu, yang menjaga sumur itu... yang memberinya nama, yang bernyanyi untuknya... adalah Ibu Lastri. Sekarang ia memilih pengganti. Kamu."

"Terus gimana, Ustadz? Diusir bisa?"

Sebelum berjalan ke koridor, beliau meminta kami semua berwudu. 'Jangan ada yang bicara kecuali saya yang menyuruh,' katanya. 'Jangan menjawab apa pun yang memanggil nama kalian. Dan Nak Dimas β€” kunci itu tetap di dalam kaus kaki. Jangan dikeluarkan apa pun yang terjadi.'

Ustadz Mahmud berjalan ke depan kamar 7. Kunci asli sudah tidak ada di lubang kunci β€” hilang, entah kapan, entah bagaimana. Pintu itu kini terkunci tanpa kunci di luar. Beliau meletakkan telapak tangan di daun pintu, memejamkan mata, dan mulai berdoa. Kami semua menahan napas.

Doa itu mengalir khusyuk β€” sampai tiba-tiba berhenti. Bukan karena beliau berhenti. Karena dari BAWAH lantai, dari kedalaman yang tidak terlihat, suara manis itu menimpali. Dengan suara Ustadz Mahmud sendiri. Melafalkan doa yang sama β€” tapi terbalik. Kata per kata terbalik. Lalu terkikik.

Ustadz Mahmud membuka matanya. Wajahnya pias. "Ia mengejek," bisik beliau. "Nak... kamar ini sudah kosong. Ia sudah tidak di dalam."

"Maksud Ustadz?" Sari mencengkeram belnya.

"Dinginnya sekarang datang dari bawah. Dari sumur." Beliau menatap lantai koridor. "Ia sudah naik. Ia tidak butuh kamar 7 lagi. Kamar itu hanya... kulit yang ia tinggalkan."

'Berapa lama waktu yang kita punya, Ustadz?' tanya saya. Beliau menggeleng pelan. 'Saya tidak tahu, Nak. Ia belajar cepat. Kemarin ia hanya bisa meniru suara anak kecil. Hari ini ia memakai suaramu. Besok...' Beliau tidak menyelesaikan kalimatnya. 'Kita kerjakan saat fajar. Beton, tanah, doa. Tapi ingat β€” untuk mencapai sumur itu, seseorang harus masuk ke kamar 7. Dan kamar itu...'

"Jadi kita ngapain, Ustadz?" tanya Fajar, suaranya putus asa.

"Sumur itu harus ditutup dengan benar. Bukan papan dan tanah seperti dulu. Beton. Doa. Sebelum ia belajar lebih banyak suara. Sebelum ia..." Beliau tidak melanjutkan. "Tapi sumur itu ada di bawah lantai kamar 7. Untuk mencapainya, seseorang harus masuk ke kamar itu. Dengan kunci itu." Beliau menunjuk kaus kaki di tangan saya. "Kunci yang ia berikan padamu."

"Jangan," kata beliau kemudian, cepat, seperti baru sadar. "Itu yang ia mau, Nak. Ia memberimu kunci supaya KAMU yang membukakan jalan. Supaya kamu yang turun."

'Kenapa harus saya?' tanya saya, meski saya sudah tahu jawabannya. 'Karena hanya kuncimu yang tersisa,' kata beliau. 'Kunci asli sudah tidak ada. Ia mengambilnya kembali β€” atau menyembunyikannya. Ia mau hanya kamu yang bisa membuka. Ia mau kamu yang datang.' Fajar mencengkeram bahu saya. 'Nggak. Cari cara lain. Kita bobol pintunya, kitaβ€”' 'Pintu bisa dibobol,' kata Ustadz Mahmud pelan. 'Tapi yang di bawah... tidak bisa dibobol. Ia menunggu di bawah. Ia menunggu Dimas.'

Malam itu saya tidak bisa tidur. Menjelang tengah malam, saya menemukan sesuatu terselip di bawah pintu kamar saya: gambar crayon. Lima figur tongkat: Fajar, Bu Sarmi, Sari, saya... dan Ustadz Mahmud. Sosok hitam tinggi dengan lengan terlalu panjang kini tangannya menempel di bahu USTADZ. Di bawahnya, huruf goyang yang sama: DIA BOHONG.

Tentang siapa kebohongan kali ini? Tentang Ustadz? Atau... tentang kami yang percaya Ustadz bisa menolong? Saya menatap gambar itu sampai mata saya perih, dan bau pisang goreng gosong tiba-tiba memenuhi kamar saya β€” padahal tidak ada yang menggoreng apa pun jam segini.

Saya mencoba tidur tapi setiap kali memejamkan mata saya mendengar tetesan air. Tes. Tes. Tes. Semakin lama semakin jelas, semakin dekat β€” seperti berasal dari bawah tempat tidur saya sendiri. Pukul dua saya menyerah dan duduk di kursi, menatap pintu. Pukul setengah tiga, bel Sari di kamar sebelah berdering sekali. Pelan. Seperti peringatan. Seperti hitungan mundur.

Pukul tiga pagi, Sari menggedor pintu kamar saya sambil menjerit. Bel di tangannya berdering sendiri tanpa henti, liar, seperti kesakitan. "DIM! KORIDOR! LIHAT KORIDOR!"

Saya membuka pintu. Di tengah koridor yang gelap berdiri anak perempuan kecil bergaun, memegang crayon merah, tersenyum. Di belakangnya, sosok hitam tinggi mengurai dari langit-langit, lengan-lengannya yang terlalu panjang menyentuh kedua dinding koridor sekaligus.

Anak itu menatap saya. Dan dengan SUARA SAYA SENDIRI ia berkata, "Bang, pintunya sudah kubuka. Sekarang giliran sumurnya."

Dari bawah papan lantai terdengar bunyi air. Naik. Tes. Tes. TES. Semakin cepat, semakin dekat β€” seperti sesuatu yang berenang ke atas melalui kegelapan.

Dan kemudian β€” dari dalam kamar saya sendiri, di belakang saya β€” sesuatu yang kecil, basah, dan dingin menyentuh pergelangan kaki saya. Dingin yang menyakitkan. Dingin yang saya kenal.

Saya tidak berbalik. Saya tidak berani berbalik. Karena saya tahu β€” saya TAHU β€” tidak ada siapa pun di kamar saya. Pintu terkunci dari dalam. Jendela terkunci. Tapi sesuatu yang kecil, basah, dan dingin kini melingkari pergelangan kaki saya seperti tangan anak kecil yang meminta digendong. Dan dengan suara saya sendiri, dari belakang saya, ia berbisik, 'Bang... giliran Abang yang nemenin Lasmi di bawah.'

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!