Sumur di Belakang Kos
Kos Nomor 13 β’ 1,314 kata
Sari hanya memejamkan mata sebentar β katanya.
Kalimat itu diulangnya tiga kali di dapur, Sabtu pagi, dengan suara yang semakin kecil setiap kali. Dimas tidak menyalahkannya. Dia tahu rasanya β kelopak mata yang seperti digantungi batu setelah semalaman tidak tidur, dan tubuh yang menyerah tanpa minta izin.
“Aku duduk di kursi sebelah kasurnya,” kata Sari, menatap lantai. “Bu Sarmi tidur. Napasnya normal. Aku... aku cuma merem sebentar. Pas azan subuh aku kebangun β kasurnya kosong. Mukenanya enggak ada. Sandalnya enggak ada.”
“Kamu enggak dengar apa-apa?” tanya Fajar.
Sari menggeleng, air matanya mengalir. “Enggak. Itu yang paling nakutin. Aku enggak dengar apa-apa.”
Mereka mencari ke seluruh kos β kamar mandi, dapur, jemuran, warung depan. Tidak ada. Lalu Dimas menatap tangga ke lantai dua, dan perutnya melilit.
“Jangan bilang,” bisik Fajar.
Lorong lantai dua terang benderang oleh matahari pagi β dan justru itu yang membuatnya mengerikan. Tidak ada bayangan untuk bersembunyi, tidak ada gelap untuk disalahkan. Pintu kamar tujuh terbuka lebar. Dan di depannya, terlipat rapi dengan lipatan tajam seperti baru disetrika, mukena putih Bu Sarmi.
Dimas berlutut. Kain itu dingin. Bukan dingin pagi β dingin seperti habis direndam air es.
“Bu Sarmi masih pakai ini tadi malam waktu kita turun,” kata Fajar pelan. “Gue ingat. Gue ingat jelas.”
“Terus siapa yang ngelipet?” bisik Sari. “Dan kenapa... rapi begini?”
Dimas tidak menjawab. Dia berdiri di ambang kamar tujuh β kamar yang selama tujuh tahun tidak pernah dimasuki siapa pun kecuali Bu Sarmi untuk membersihkan β dan melangkah masuk.
Kamar itu kecil. Ranjang single dengan sprei bersih. Meja belajar. Lemari. Dan di sudut β pintu kamar mandi yang terbuka sedikit. Dari dalamnya terdengar suara shower menyala.
Dimas menatap Fajar dan Sari. Mereka mengangguk β serentak, pucat. Dimas mendorong pintu kamar mandi.
Kosong. Shower menyala dengan air dingin yang menghantam lantai keramik. Tidak ada siapa-siapa. Dimas memutar kerannya sampai berhenti β tangannya langsung kebas. Keran itu dingin seperti es, padahal airnya air biasa.
“Jejak kaki,” bisik Sari dari belakangnya.
Di lantai kamar mandi yang basah: jejak kaki kecil, telanjang, mengarah keluar β dari shower ke tengah kamar. Berhenti di tengah kamar. Tidak berlanjut ke mana-mana. Seolah yang berjalan... berhenti ada. Atau turun.
Dimas mengikuti jejak itu dengan mata β dan di bawah ranjang, dia melihat sudut kertas menyembul.
Dia menariknya keluar. Kertas HVS yang sudah menguning, dilipat dua. Gambar crayon anak-anak: lingkaran besar dengan atap segitiga di atasnya β sumur. Di sebelahnya, gambar anak perempuan kecil dengan rambut panjang. Dan di bawahnya, huruf-huruf yang belum rapi, ditulis dengan crayon merah:
dia manggil dari bawah
Tangan Dimas gemetar. “Dari bawah,” bisiknya. “Selama ini kita kira suaranya dari dalam kamar. Dari dalam pintu. Tapi Nisa nulis β dari bawah.”
“Sumur,” kata Sari pelan. “Di belakang kos. Sumur tua itu.”
Fajar menatap mereka bergantian. “Sumur yang di dekat jemuran? Yang tutup kayunya? Gue kira itu cuma... pajangan?”
Mereka keluar ke halaman belakang. Matahari sudah tinggi, tapi di sudut dekat jemuran, udaranya terasa lebih dingin. Sumur tua itu β batu-batunya berlumut, tutup kayunya diganjal batu-batu besar β tutupnya tergeser. Celah gelap menganga di satu sisi, cukup lebar untuk tangan anak kecil. Atau untuk suara.
Di sekitar bibir sumur: jejak kaki kecil berlumpur. Telanjang. Mengarah ke sumur β dan tidak kembali.
Bau itu β tanah basah, lumpur, got β menusuk hidung Dimas. Bau yang sama seperti di lorong tadi malam.
“Kita harus telepon nenekku,” kata Sari β suaranya mantap untuk pertama kalinya pagi itu. “Sekarang.”
Nek mengangkat telepon di dering ketiga. Suaranya tua dan tenang β suara yang membuat Dimas, yang mendengarkan lewat loudspeaker, ingin menangis tanpa tahu kenapa.
Sari menceritakan semuanya β cepat, terbata. Nek mendengarkan tanpa menyela. Ketika Sari selesai, keheningan panjang. Lalu Nek berkata:
“Itu penunggu sumur, Nduk.”
Dimas dan Fajar saling pandang.
“Lebih tua dari rumah. Lebih tua dari jalan. Dia tinggal di air yang diam.” Nek berhenti sebentar. “Nek tanya: dia manggil nama, kan?”
“Iya, Nek. Nama kita semua.”
“Dia ngumpulin nama, Nduk. Tiap nama yang dia tahu, jadi talinya. Makanya dia manggil-manggil terus β biar ada yang nyahut. Sekali kamu nyahut, talinya nyambung. Dia bisa narik.”
Dimas merinding. “Terus Bu Sarmi, Nek?” tanya Sari. “Namanya sudah disebut. Dia... hilang semalam.”
“Yang sudah ditandai harus dijaga, Nduk. Tiga malam. Jangan sampai dia sendirian, jangan sampai dia menjawab kalau dipanggil. Kasih suara manusia terus di dekatnya β ngobrol, ngaji, apa aja. Biar suara yang dari bawah enggak kedengeran.”
“Terus kasetnya, Nek?” Dimas ikut bicara. “Kaset rekaman Nisa β suaranya ada di situ. Suara... yang itu juga.”
Nek diam lebih lama. “Rekaman itu mulutnya yang kedua, Le. Suara yang keperangkap di situ jadi jalannya dia masuk lewat telinga. Selama kaset itu ada, dia punya pintu cadangan.” Lalu, pelan tapi tegas: “Bakar. Abunya buang ke air mengalir β kali, selokan depan. Jangan dikubur. Jangan dibuang ke sumur.”
Dimas menatap tape recorder tua di meja kamarnya β terlihat lewat pintu yang terbuka. Di dalamnya, kaset Nisa. Satu-satunya suara Nisa yang tersisa di dunia.
“Nek...” suaranya serak. “Itu... suara Nisa terakhir.”
“Nisa sudah pergi, Le,” kata Nek lembut. “Nek bisa dengar dari ceritamu β anak itu sudah tenang. Yang di kaset itu bukan cuma Nisa lagi. Ikhlaskan.”
Telepon ditutup. Mereka bertiga duduk diam di ruang tamu.
“Bakar,” kata Sari akhirnya. “Besok subuh. Setelah malam ini lewat.”
“Kenapa enggak sekarang?” tanya Fajar.
Dimas menatapnya. “Karena dia dengar, Jar. Kalau kita bakar sekarang, siang bolong, dia tahu kita takut. Kita bakar pas kita sudah menang satu malam. Biar dia tahu abunya itu... perayaan.”
Fajar menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Oke. Oke, Dim.”
Sore harinya, Dimas menemukan Bu Sarmi.
Dia mencarinya ke mana-mana β dan akhirnya, dengan firasat yang membuat kakinya lemas, dia berjalan ke halaman belakang. Ke sumur.
Bu Sarmi duduk di bibir sumur. Berkain daster, berkaki telanjang β kakinya berlumpur sampai mata kaki. Tangannya mengelus bibir sumur yang berlumut, berulang-ulang, seperti mengelus kepala anak kecil. Bibirnya bergerak tanpa suara.
“Bu!” Dimas berlari. “Bu Sarmi!”
Dia memapahnya berdiri β tubuhnya ringan dan panas seperti terbakar demam. Matanya setengah terbuka, kosong. Dan dari bibirnya, pelan, seperti zikir yang salah:
“Nisa... Sarmi... Nisa... Sarmi... Nisa...”
Dimas membeku. Itu kata yang dibentuk bibir Bu Sarmi tanpa suara tadi malam. Dua nama β nama anak dan nama ibu β diulang seperti doa. Seperti... panggilan yang dijawab setengah.
“Bu, ini Dimas. Bu dengar aku?”
Bu Sarmi menoleh. Butuh beberapa detik sampai matanya fokus. “Dimas,” bisiknya. “Dia manggil terus... dari bawah... dia bilang... giliranku...”
“Enggak ada giliran, Bu. Ayo masuk.”
Dengan bantuan Fajar, mereka memapah Bu Sarmi ke kamarnya. Sari membersihkan kakinya yang berlumpur dengan air hangat, menyelimutinya, dan tidak melepaskan genggamannya. Bu Sarmi tertidur β atau pingsan β dengan napas cepat dan pendek, sesekali mengigau menyebut dua nama itu.
Malam turun terlalu cepat.
Mereka berkumpul di kamar Dimas β berempat, seperti tadi malam. Tape recorder ada di meja. Fajar menatapnya sejak maghrib.
“Gue pengin denger sekali lagi,” katanya pelan. “Terakhir. Sebelum dibakar.”
“Jangan, Jar,” kata Dimas.
“Gue cuma pengin pastiin suara Nisa masihβ”
Klik.
Tape recorder menyala sendiri.
Dimas melompat. “Kabelnya β kabelnya bahkan enggak dicolok!” Kabel power tergantung lepas di samping meja β dia mencabutnya sendiri tadi pagi.
Dari speaker yang seharusnya mati, suara Nisa β jernih, mendesak, muda:
“jangan dibakar... dia dengar... dia dengar semuanya... janganβ”
Suaranya ditelan statis. Lalu β suara yang lain. Basah. Tua. Sabar. Berbicara pelan, seperti guru mengabsen murid-muridnya:
“Dimas...”
Jeda.
“Sari...”
Jeda.
“Fajar...”
Jeda β lebih panjang.
“Sarmi...”
Hening.
Lalu β dari lantai dua β bunyi tetesan air. Tes. Tes. Tes. Menuruni tangga. Satu per satu. Berhenti β tepat di depan pintu kamar Dimas.
Dan gagang pintunya β mulai berputar.