β€Ή
38. Dia Bohong

Dia Bohong

Kos Nomor 13 β€’ 1,336 kata

Ilustrasi Dia Bohong

Kunci kuningan itu terasa seperti bongkahan es di telapak tangan saya β€” dan dari balik pintu kamar 7 yang baru saja membanting menutup, dengan suara saya sendiri, ia bernyanyi. Lagu anak-anak itu. Riang. Sabar. Dengan nada yang persis sama seperti saya menyanyikannya waktu kecil, sesuatu yang bahkan tidak saya ingat pernah saya ajarkan kepada siapa pun.

Saya duduk di lantai koridor dan tidak bisa berdiri. Lutut saya lemas seperti tali basah. Fajar masih mencengkeram ujung tali yang melilit pinggang saya, buku-buku jarinya memutih. Sari berdiri mematung dengan bel di tangannya β€” bel yang tadi berdering liar kini diam, dan diamnya justru lebih menakutkan. Bu Sarmi masih berdoa tanpa henti, tasbih bergerak di jari-jarinya, tapi air matanya jatuh tanpa suara.

"Mundur," kata Fajar akhirnya. Suaranya serak seperti orang yang baru berteriak. "Kita mundur ke depan. Sekarang."

Tidak ada yang membantah. Kami berjalan beriringan menyusuri koridor seperti rombongan pengantar jenazah β€” Bu Sarmi paling depan dengan doa yang tak putus, saya di tengah dengan tali masih melilit pinggang, Fajar tepat di belakang saya dengan satu tangan menempel di bahu saya seolah takut saya tiba-tiba berbalik dan berjalan kembali ke kamar 7, Sari paling belakang dengan bel terangkat seperti perisai.

Di ruang depan, Bu Sarmi menyalakan semua lampu. Lampu ruang tamu, lampu teras, bahkan lampu dapur yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai. Terang benderang. Seolah kegelapan adalah sesuatu yang bisa diusir hanya dengan saklar. Sebagian dari saya ingin percaya begitu. Sebagian yang lain tahu kami hanya sedang menghibur diri sendiri.

"Buka tanganmu, Nak," kata Bu Sarmi. Saya membuka kepalan tangan kanan saya β€” dan saya bersumpah, saya tidak ingat mengepalkannya. Kunci kuningan tua itu tergeletak di telapak saya, berkilau kusam di bawah lampu. Dinginnya merambat naik sampai ke pergelangan tangan. Bu Sarmi mengulurkan tangan untuk mengambilnya, lalu berhenti di tengah jalan dan menarik napas tajam. "Ya Allah..."

Di telapak tangan beliau, tepat di tengahnya, ada bekas merah pucat β€” samar tapi jelas berbentuk seperti kunci. Seperti cap. Seperti luka bakar oleh dingin. Saya menatap telapak saya sendiri. Di kulit saya, di tempat kunci itu menempel, ada bekas yang sama. Persis sama. Seolah kunci itu dicetak di daging kami berdua.

"Bu," kata Fajar pelan. "Tadi saya lihat sendiri. Ibu yang mencabut kunci itu dari lubang kunci. Ibu yang memegang terus."

"Ibu tidak pernah melepaskannya," kata Bu Sarmi. Suaranya bergetar. "Demi Allah, Nak, Ibu genggam terus dari tadi. Waktu pintu membanting, Ibu merasa... ada yang dingin menyentak dari genggaman Ibu. Ibu kira Ibu menjatuhkannya karena kaget. Ibu kira kunci itu jatuh di lantai koridor."

"Terus gimana caranya pindah ke tangan gue?" Fajar menatap saya. "Dim, lu ingat ngambil? Jujur."

"Gue nggak ingat ngepalin tangan," kata saya. "Tiba-tiba udah ada aja di genggaman."

Sunyi. Hanya bunyi jam dinding dan napas kami yang masih memburu. Lalu Sari bicara, pelan sekali sampai kami harus mencondongkan badan untuk mendengar. "Gambar yang baru itu. Yang crayonnya masih cerah." Ia menelan ludah. "Di bawahnya tertulis... DIA BOHONG."

"Siapa yang bohong?" tanya saya.

"Dia," kata Sari. "Makhluk itu. Suara yang manis itu." Ia memeluk belnya erat-erat sampai buku jarinya memutih. "Waktu di kamar, dia bilang ke lu, Dim β€” 'cobain lihat ke bawah, Bang, dinginnya enak'. Tapi Sari pernah cerita kan? Dinginnya dia itu nyakitin. Dingin yang menusuk sampai ke tulang. Dia bohong soal itu."

Fajar mengangguk perlahan. "Terus dia bilang 'kamarnya nggak dingin lagi, cobain masuk'. Itu juga bohong. Dia cuma mau kita masuk lagi. Semua yang keluar dari mulut manisnya itu umpan."

"Tapi kenapa gambarnya nunjuk ke gue?" Saya menatap kunci di telapak saya. "Kenapa sosok hitam itu digambar nempel di bahu gue? Kenapa kuncinya pindah ke tangan gue?"

Bu Sarmi menatap saya lama sekali. "Karena ia memilihmu, Nak."

"Maksud Ibu?"

"Pikirkan baik-baik, Nak." Bu Sarmi duduk, tasbihnya berhenti sejenak di tangannya. "Kalau ia benar-benar terjebak di kamar itu β€” kalau ia benar-benar tidak bisa keluar β€” bagaimana ia bisa memberikan kunci kepada orang lain? Kunci itu bukan benda yang jatuh begitu saja. Kunci itu... diberikan. Diselipkan."

Bulu kuduk saya meremang sampai ke tengkuk. "Jadi dia nggak kejebak."

"Mungkin tidak pernah," kata Bu Sarmi pelan. "Mungkin selama ini ia hanya menunggu. Lima belas tahun kamar itu terkunci, tiga puluh tahun ia menunggu. Menunggu orang yang cukup berani β€” atau cukup bodoh β€” untuk masuk. Dan orang itu..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.

Fajar berdiri tiba-tiba. "Gue nggak mau percaya sebelum lihat buktinya. Kita cek pintunya. Kalau kunci aslinya masih nancep di lubang kunci, berarti kunci di tangan lu itu kunci kedua. Kunci yang... dibuat."

"Janganβ€”" Bu Sarmi hendak mencegah, tapi Fajar sudah mengambil senter. Sari ikut berdiri, belnya tetap di tangan. "Kita bertiga," kata Fajar. "Bu Sarmi di sini. Doanya jangan berhenti sedetik pun."

Kami berjalan kembali menyusuri koridor yang kini terasa dua kali lebih panjang dari tadi. Lampu koridor yang tadi terang benderang kini... saya tidak tahu, rasanya meredup. Mungkin hanya perasaan saya. Mungkin juga bukan. Pintu kamar 7 tertutup rapat. Dan di lubang kuncinya β€” berkilau di bawah cahaya senter β€” kunci kuningan tua itu masih menancap. Persis seperti tidak pernah dicabut.

Fajar mendekat perlahan dan menyentuh kunci itu dengan ujung jari. Ia langsung menarik tangannya. "Dingin. Tapi ini kunci yang tadi. Gue ingat goresan di gagangnya."

Saya menatap kunci di genggaman saya, lalu kunci di lubang pintu. Sama. Persis sama β€” bentuknya, warnanya, bahkan goresan-goresan halusnya. Seperti kunci yang difotokopi oleh sesuatu yang tidak paham bahwa kunci seharusnya hanya ada satu.

"Jadi ada dua," bisik Sari. Suaranya hampir tidak keluar. "Kenapa... kenapa dia bikin dua?"

Saat itulah kunci di tangan saya bergerak. Bukan saya yang menggerakkannya. Ia bergetar pelan, lalu ujungnya berputar dengan sendirinya β€” seperti jarum kompas yang mencari utara β€” dan menunjuk. Bukan ke pintu kamar 7. Ke bawah. Ke lantai koridor. Ke arah bawah kamar 7. Ke arah sumur kedua.

Fajar mundur selangkah sampai punggungnya menempel dinding. "Astaga. Dia nunjuk ke sumurnya."

Saya mencoba melepaskan kunci itu. Jari-jari saya tidak mau terbuka. Bukan karena saya menahannya β€” karena dinginnya sudah merambat sampai ke persendian dan membuat jari-jari saya kaku seperti patung. Atau... karena sebagian kecil dari diri saya, sebagian yang jujur dan memalukan, ingin tahu kunci ini sebenarnya membuka apa.

"Dim." Sari mencengkeram pergelangan tangan saya. "Lepasin. Sekarang. Gue mohon."

Saya memaksa jari-jari saya terbuka satu per satu, seperti membuka genggaman mayat. Kunci itu jatuh ke lantai dengan bunyi ting yang terlalu nyaring untuk benda sekecil itu. Ia tergeletak di sana, ujungnya masih menunjuk ke bawah, ke kegelapan di bawah lantai. Sabar. Seolah tahu saya akan mengambilnya lagi. Seolah hanya menunggu waktu.

Kami tidak mengambilnya dengan tangan kosong. Fajar menyodoknya dengan ujung sandal sampai masuk ke dalam kaus kaki bersih yang saya ambil dari kamar β€” jangan tanya kenapa kaus kaki, kami sedang panik dan itu benda terdekat yang bisa membungkus β€” lalu kaus kaki itu diikat kencang dan ditaruh di atas meja ruang depan, sejauh mungkin dari kami semua.

Malam itu tidak ada yang tidur. Kami duduk berempat di ruang depan sampai azan Subuh terdengar dari musala ujung gang. Bu Sarmi berdoa tanpa henti. Fajar menatap kaus kaki di atas meja seperti menatap ular berbisa. Sari memegangi belnya. Setiap kali ada bunyi dari arah koridor β€” dan ada beberapa kali, bunyi seperti tetesan air, pelan, teratur β€” kami semua menahan napas sampai bunyi itu hilang sendiri.

Menjelang pagi, saat yang lain akhirnya terlelap di sofa dalam posisi duduk, saya memberanikan diri membuka ikatan kaus kaki itu. Kunci itu masih di sana. Tapi tidak dingin lagi. Ia hangat. Hangat seperti baru saja digenggam seseorang β€” seperti baru saja dilepaskan dari genggaman yang lama. Dan di gagangnya, yang tadi malam masih polos, kini ada goresan-goresan halus. Huruf-huruf kecil, goyang, seperti tulisan anak kecil yang baru belajar menulis. Saya mendekatkannya ke lampu. Empat huruf. B U K A.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!