Cerita Perempuan Tua Itu
Kos Nomor 13 β’ 1,361 kata
Aku tidak memanggil nama Tegar. Memanggil nama anak yang sedang berjalan dalam tidur di depan pintu kamar 7 sama saja dengan menjawab panggilan lain yang sedang menunggu di balik pintu itu, dan aku tidak mau rumah ini mengira ada dua panggilan yang saling menjawab di lorong pada pukul tiga pagi. Yang kulakukan adalah membangunkan Bude Ratna dan Kirana dengan sentuhan di bahu, tanpa suara, lalu kami bertiga berjalan bersama ke ujung lorong, dengan langkah yang biasa, dengan lampu yang menyala semua, seperti orang yang sedang menjemput anaknya yang ketiduran di tempat yang salah, bukan seperti orang yang sedang menghadapi sesuatu.
Di depan pintu kamar 7, Tegar masih berdiri dengan mata terpejam, bibirnya masih mengulang kalimat itu. "Sore hujan itu. Dapur. Meja. Petir." Suaranya datar, tanpa jeda yang benar, seperti seseorang yang membaca dari kertas yang tidak ia tulis sendiri. Gagang pintu sudah berhenti bergerak, tapi aku tahu ia belum selesai mencoba. Ia hanya menunggu, sama seperti suara tua itu menunggu tadi malam: menunggu apakah kami akan panik, akan menarik, akan berteriak, karena panik dan teriakan adalah perhatian, dan perhatian adalah bentuk lain dari jawaban.
Bude Ratna berlutut di samping Tegar, tidak menyentuhnya dulu, hanya berbicara dengan suara yang ia pakai untuk menenangkan pembeli yang anaknya menangis di warung: rendah, biasa, dan penuh dengan hal-hal yang bisa dilihat. "Tegar, ini Bude. Kamu di lorong, lampunya nyala semua, Kirana ada di sini, Mas Dimas ada di sini. Di warung ada es teh yang belum habis. Kamu tidak sedang di dalam cerita. Kamu sedang berdiri di lorong."
Tegar berkedip. Sekali, seperti kemarin siang di depan pintu yang sama. Lalu matanya terbuka, dan ia melihat kami, dan wajahnya berubah dari datar menjadi bingung, lalu menjadi takut, dan ketakutan itu justru melegakan, karena anak yang takut masih menjadi dirinya sendiri. "Aku tadi mimpi," katanya pelan. "Di mimpi itu ada yang cerita, dan aku disuruh ngulangin, supaya pintunya kebuka."
"Tidak ada yang perlu kamu ulangi," kataku, menggandeng tangannya. "Cerita itu sudah selesai siang tadi, di warung, dengan pendengar yang hidup. Yang di dalam itu boleh mendengarkan, tapi tidak boleh menyuruh."
Kami membawa Tegar kembali ke warung, dan Bude Ratna tidak membiarkan kami tidur lagi malam itu. Ia menyalakan kompor, membuat teh hangat, dan berkata sesuatu yang mengubah seluruh cara kupandang kamar 7. "Mas, kalau perempuan itu hanya butuh didengarkan sampai selesai, maka besok pagi, di tempat terang, dengan kami semua yang mendengarkan, Mas dengarkan ceritanya. Bukan ceritanya Mas yang disalin. Ceritanya dia yang asli. Karena selama ini tidak ada yang pernah mendengarkan cerita aslinya. Semua orang hanya mendengar salinannya, dan salinan itu yang menakutkan."
Pagi datang dengan cahaya yang pucat dan suara warung yang dibuka seperti biasa, dan untuk pertama kalinya aku tidak merasa pagi itu adalah jeda dari teror. Pagi itu terasa seperti persiapan. Kami sarapan di meja warung, Tegar dan Kirana diapit oleh Bude Ratna, dan aku menjelaskan rencananya dengan kata-kata yang sederhana, supaya anak-anak mengerti apa yang akan kami lakukan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan.
"Kita akan berdiri di lorong, siang hari, lampu menyala, pintu kamarku terbuka di belakang kita, supaya lorong itu tidak tertutup," kataku. "Aku akan berkata kepada yang di dalam: ceritakan ceritamu yang asli, bukan salinan ceritaku, bukan salinan cerita siapa pun. Kami akan mendengarkan, kami berempat, sampai selesai. Kalau ia mengubah ujungnya, kita yang akan mengucapkan ujung yang benar. Dan kalau ia memanggil nama siapa pun, kita tidak menjawab panggilan itu. Kita hanya mendengarkan ceritanya."
Tegar bertanya, dengan serius, "Kalau ceritanya sedih, Mas, kita boleh nangis?"
"Boleh," kataku. "Menangis karena mendengarkan itu bukan menjawab. Itu tanda kamu benar-benar mendengarkan."
Siang itu, pukul sepuluh, ketika matahari sudah masuk ke lorong lewat ventilasi atas, kami berdiri di depan kamar 7. Bude Ratna di sisi kananku, Tegar dan Kirana di sisi kiriku, dan aku di tengah, menghadap pintu yang terkunci itu. Aku tidak menempelkan telinga ke pintu. Aku berdiri pada jarak yang wajar, seperti orang yang berbicara kepada seseorang di balik pintu yang tidak bisa dibuka, bukan seperti pendengar yang mengintip.
"Kami di sini," kataku, dengan suara yang jelas. "Kami berempat, di tempat terang, dan kami bisa melihat wajah satu sama lain. Kalau kamu mau bercerita, ceritakan ceritamu sendiri. Bukan ceritaku, bukan cerita orang lain. Kami akan mendengarkan sampai selesai, dan kami yang akan mengucapkan kata selesai itu bersama-sama."
Hening. Satu detik, dua detik, sepuluh detik, dan aku hampir mengira tidak ada jawaban. Lalu, dari dalam kamar 7, terdengar suara tua itu lagi, kecil dan jauh, tapi kali ini tidak meniru siapa pun. Ia bercerita dengan suaranya sendiri, dengan jeda yang tidak rapi, dengan kalimat yang kadang berhenti di tengah dan dilanjutkan dengan susah payah, seperti seseorang yang sudah puluhan tahun tidak bercerita kepada orang yang benar-benar mendengarkan.
Ia bercerita tentang seorang anak kecil yang suka duduk di dekat sumur pada sore hari, yang tertawa ketika air sumur beriak, yang pernah bertanya kenapa langit tidak jatuh. Anak itu suka menghitung tetes hujan yang jatuh ke daun, dan setiap malam, sebelum tidur, ia meminta ibunya bercerita, bukan cerita yang baru, melainkan cerita yang sama, yang sudah ia hafal, karena anak itu merasa aman justru oleh pengulangan. Ibunya menuruti, malam demi malam, sampai cerita itu hafal di luar kepala, sampai jeda-jedanya pun hafal, sampai cara ibunya berhenti di tengah kalimat dan melanjutkannya esok malam menjadi bagian dari cerita itu sendiri.
Lalu datang musim hujan yang panjang, dan demam yang tidak mau turun. Ia bercerita tentang malam-malam ia duduk di tepi ranjang sambil memegang tangan kecil yang semakin dingin, tentang air hangat yang ia usapkan ke dahi anak itu, tentang cerita yang ia bisikkan pelan-pelan karena ia tidak tahu lagi harus berkata apa selain bercerita, dan tentang pagi ketika tangan itu tidak lagi menggenggam balik. Ia tidak bercerita dengan kata-kata yang menyeramkan. Ia bercerita dengan kata-kata yang sederhana, dan justru karena itu ceritanya terasa jauh lebih berat daripada semua salinan yang pernah kudengar di rumah ini.
Kirana menangis diam-diam, tanpa suara, air matanya jatuh ke lantai lorong, dan Tegar, tanpa diminta, menggenggam tangan adiknya. Bude Ratna memejamkan mata sesaat, seperti orang yang sedang menahan sesuatu yang sudah lama ia tahan sendirian. Aku sendiri merasakan tenggorokanku sesak, bukan karena takut, melainkan karena untuk pertama kalinya aku mendengar kesedihan yang asli di rumah ini, bukan salinannya, bukan tiruannya, bukan ujung yang diubah. Kesedihan yang asli tidak berusaha menakut-nakuti siapa pun. Ia hanya meminta didengarkan, dan didengarkan dengan benar adalah satu-satunya hal yang bisa meringankannya.
Di tengah cerita, suara itu berhenti, seperti yang selalu terjadi pada salinan-salinan itu, dan aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya: kamar itu akan mengubah ujungnya. Tapi kali ini, sebelum salinan itu sempat terbentuk, Tegar berkata, dengan suara yang tegas meski matanya berkaca-kaca, "Terus, Bu. Ceritanya terus." Kirana mengulang, "Terus." Bude Ratna berkata, "Kami masih di sini." Dan aku berkata, "Kami mendengarkan."
Suara tua itu melanjutkan, pelan, dan kalimat terakhirnya keluar dengan susah payah, seperti seseorang yang mengangkat beban yang sudah terlalu lama ia pikul sendirian. "Anakku sudah tidak ada," katanya. "Dan aku tetap hidup. Dan aku tidak tahu harus bercerita kepada siapa lagi."
Hening yang panjang. Lalu aku mengucapkan, bersama Tegar, Kirana, dan Bude Ratna, satu kata yang selama puluhan tahun tidak pernah diucapkan kepada perempuan itu oleh pendengar yang hidup. "Selesai."
Bel di leherku berdenting. Sekali. Jernih. Hangat, seperti denting tanda terima yang kudengar siang itu di warung. Dari dalam kamar 7 tidak ada suara yang menyela, tidak ada salinan yang mencoba mengulang. Lorong itu terasa lebih ringan, seperti udara yang baru saja berganti.
Lalu kunci kamar 7 berbunyi. Klik. Satu bunyi yang kecil dan pasti, seperti pintu yang akhirnya tidak perlu dikunci lagi, atau seperti seseorang yang dari dalam baru saja meletakkan kunci itu di tempatnya.
Dan dari bawah pintu, dari celah yang sempit itu, meluncur keluar selembar kertas yang terlipat, didorong dengan pelan, seperti surat yang diselipkan oleh tangan yang sangat berhati-hati. Aku membungkuk dan mengambilnya. Kertas itu sudah menguning di tepinya, dan di atasnya, dengan tulisan tangan yang tua dan rapi, hanya ada satu kalimat.
"Ceritakan aku kepada yang hidup."