β€Ή
96. Pendengar Bersuara Air Jatuh

Pendengar Bersuara Air Jatuh

Kos Nomor 13 β€’ 1,280 kata

Ilustrasi Pendengar Bersuara Air Jatuh

Jam dua belas siang kami sudah berada di sumur, berempat, di tempat terang. Aturan itu kami pegang seperti memegang tali: siang terang, berempat, suara sendiri. Tidak ada yang kami langgar. Matahari tepat di atas, bayangan kami pendek dan rapat di sekeliling bibir sumur, dan untuk sesaat rumah kos ini terasa seperti tempat biasa, tempat orang menjemur pakaian dan menimba air tanpa perlu berpikir dua kali.

Aku membawa buku catatan itu, tapi aku tidak membukanya. Buku itu kubiarkan tertutup di pangkuanku, seperti benda yang sedang kami awasi bersama. Bude Ratna berdiri paling dekat dengan bibir sumur, Tegar di sampingnya, Kirana di sampingku. Kami tidak memanggil siapa-siapa. Kami hanya menunggu, seperti yang dijanjikan semalam, sampai suara itu datang sendiri.

Ia datang bukan sebagai suara dari dalam sumur yang dalam, melainkan sebagai suara dari dekat permukaan air, pelan dan terputus-putus, seperti seseorang yang sedang belajar berbicara setelah lama hanya meniru. "Kalian datang," katanya. "Berempat. Siang. Terima kasih."

Bude Ratna menjawab dengan tenang, "Kami janji, kami tepati. Sekarang giliranmu. Ceritakan tentang pendengar itu, sejauh kamu mampu. Kalau tidak sanggup sampai habis, berhenti. Kami tidak akan memaksamu."

Hening sejenak. Air di dalam sumur beriak kecil, bukan karena angin, karena tidak ada angin siang itu. Lalu suara muda itu mulai, dan sejak kalimat pertama aku tahu cerita ini akan berbeda dari semua cerita yang pernah ia tiru dari perempuan tua Kamar 7. Cerita ini tidak rapi. Ia patah-patah, mengulang, berhenti di tengah jalan, lalu mencoba lagi dari arah yang berbeda, seperti seseorang yang berjalan di lorong gelap dengan tangan meraba dinding.

"Dulu, sebelum aku," katanya, "ada yang duduk di bibir sumur. Lama. Diam. Hanya mendengarkan. Aku tidak tahu dia datang dari mana. Aku tidak tahu dia pergi ke mana. Aku tahu dia duduk, karena air mengingat duduknya. Air mengingat beratnya. Air mengingat diamnya."

Kirana berbisik, "Air mengingat?" Tegar menyentuh lengannya pelan, mengingatkan tanpa kata-kata: dengarkan dulu, jangan menyela.

Suara itu melanjutkan, "Dia tidak bercerita. Dia tidak bertanya. Dia hanya mendengarkan, dan mendengarkan itu lama sekali, sampai orang-orang yang datang ke sumur mulai bercerita kepadanya tanpa diminta. Mereka bercerita karena ada yang mendengarkan. Dan dia mendengarkan semua, tanpa memilih, tanpa bosan, tanpa pergi."

Aku bertanya, hati-hati, "Dia itu orang?"

Jawaban itu lama datangnya. Ketika datang, suaranya lebih kecil. "Aku pikir dia orang. Dulu. Tapi setiap aku mengingat wajahnya, aku hanya melihat air. Setiap aku mengingat suaranya, aku hanya mendengar diriku sendiri. Karena dia tidak pernah bicara dengan suaranya sendiri. Dia bicara dengan suara orang yang sedang ia dengarkan. Seperti air jatuh yang meniru bunyi apa pun yang jatuh ke dalamnya."

Bude Ratna mengangguk pelan, seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang sudah lama ia curigai. "Jadi pendengar itu meniru juga," katanya. "Sama seperti kamu meniru perempuan tua itu."

"Tidak sama," kata suara itu, cepat, hampir panik. "Aku meniru karena aku ingin punya cerita. Dia meniru karena itu caranya mendengarkan. Aku meniru untuk belajar. Dia mendengarkan untuk... untuk menyimpan. Dia tidak belajar. Dia mengumpulkan."

Kata terakhir itu membuat air di sumur beriak lagi, lebih besar kali ini, dan Tegar mundur setengah langkah. Aku memegang buku di pangkuanku lebih erat, bukan karena takut bukunya jatuh, tapi karena aku tiba-tiba sadar: buku catatan itu juga mengumpulkan. Setiap malam aku menulis, dan setiap tulisan adalah cerita yang kusimpan. Apakah aku, tanpa sadar, sedang melakukan hal yang sama seperti pendengar itu?

Suara muda itu melanjutkan, suaranya semakin terputus. "Dia berkata kepadaku, dengan suara seperti air jatuh, kalau aku bercerita kepadanya, dia akan mengingatku. Selama diingat, aku tidak akan hilang. Aku percaya. Aku bercerita. Aku bercerita lama. Dan setelah aku selesai, aku tidak bisa pergi. Karena untuk pergi, aku harus berhenti diingat. Dan dia tidak pernah berhenti mengingat. Dia tidak tahu cara berhenti. Mendengarkan adalah satu-satunya yang ia tahu."

Kirana bertanya dengan suara bergetar, "Jadi kamu terjebak bukan karena kamu tidak punya akhir, tapi karena kamu punya pendengar yang tidak pernah melepaskan?"

"Ya," kata suara itu. "Akhirku bukan hilang. Akhirku adalah dilepaskan. Dan dia tidak melepaskan siapa pun yang pernah ia dengar. Termasuk... termasuk perempuan tua itu."

Hening yang mengikuti kalimat itu terasa berat. Perempuan tua Kamar 7, yang ceritanya sudah selesai, yang kami kira sudah tenang, ternyata juga pernah didengar oleh pendengar yang sama. Ceritanya lengkap karena punya akhir, kata suara muda itu kemarin. Tapi sekarang kami mengerti sisi lain: ceritanya lengkap, tapi ia tetap tinggal, karena pendengarnya tidak pernah melepaskannya.

Bude Ratna berbicara dengan suara yang sangat tenang, suara yang dipakainya kalau sedang menenangkan orang yang ketakutan. "Dengarkan aku baik-baik. Kami di sini bukan untuk menjadi pendengar yang sama. Kami mendengarkan di siang terang, berempat, dan kami bisa pergi. Kami bisa berhenti mendengarkan. Dan kami akan pulang. Itu bedanya kami dengan dia."

Suara itu diam lama. Lalu, sangat pelan, ia berkata, "Kalau begitu, tolong ajari aku cara berhenti diingat. Karena aku tidak tahu. Aku hanya tahu cara bercerita supaya diingat. Aku tidak tahu cara berhenti."

Aku menatap air sumur. Permukaannya tenang sekarang, seperti cermin yang sedang menunggu. Aku ingin menjawab, tapi aku tidak punya jawaban. Tidak ada dari kami yang punya jawaban. Dan justru di situlah cerita siang itu berhenti, bukan karena suara itu tidak mau melanjutkan, melainkan karena ia sudah sampai di batas yang ia mampu: ia bisa menceritakan pendengar itu, tapi ia tidak bisa menceritakan jalan keluar dari pendengar itu, karena jalan keluar itu adalah sesuatu yang belum pernah ia pelajari.

Sebelum kami pergi, suara itu berkata sekali lagi, dengan kalimat yang paling rapi yang pernah ia ucapkan dengan suaranya sendiri: "Besok, jangan bawa tulisan ke sumur. Tulisan juga bisa didengar. Dan kalau sudah didengar olehnya, tulisan itu tidak lagi hanya milik kalian."

Kami berjalan pulang berempat, tanpa berlari, tanpa menoleh ke belakang, di bawah matahari yang masih terik. Tapi di kepalaku, kalimat terakhir itu terus berputar, dan aku memikirkan buku di pangkuanku, halaman yang lembap, dan kalimat yang tidak kutulis. Kalau tulisan bisa didengar, lalu siapa yang sudah mendengarkan tulisan kami selama ini? Dan kalau pendengar itu belajar menjadi pendengar jauh sebelum anak muda itu datang, dari siapa ia belajar pertama kali? Dari perempuan tua itu? Atau dari sesuatu yang lebih tua lagi, yang bahkan perempuan tua itu tidak pernah ceritakan?

Aku tidak tahu. Dan siang itu, untuk pertama kalinya, aku merasa tidak tahu adalah hal yang paling jujur yang bisa kami pegang.

Di perjalanan pulang, Kirana berjalan di sampingku dan bertanya dengan suara yang dijaga pelan, seolah takut didengar oleh sesuatu selain kami. "Kalau pendengar itu tidak pernah melepaskan siapa pun, apakah perempuan tua Kamar 7 tahu ia masih diingat? Apakah ia keberatan, atau justru ia sudah terbiasa?" Aku tidak punya jawaban, dan aku mengatakannya. Tegar yang berjalan di depan menoleh dan berkata, "Mungkin itu sebabnya ceritanya selesai tapi ia tetap di sini. Selesai itu soal cerita. Tinggal itu soal pendengar. Dua hal yang berbeda." Bude Ratna menambahkan dari belakang kami, "Dan itu sebabnya kita tidak boleh menjadi pendengar yang sama. Kita boleh mendengarkan, tapi kita harus bisa pulang, bisa berhenti, bisa melupakan sebagian. Melupakan sebagian itu bukan kejahatan. Itu cara manusia memberi akhir." Kalimat itu menempel di kepalaku sepanjang jalan pulang. Aku memikirkan semua cerita yang pernah kudengar di kos ini, dan semua cerita yang pernah kutulis di buku itu, dan aku bertanya pada diriku sendiri: kalau suatu hari aku harus melupakan sebagian untuk bisa pergi, bagian mana yang akan kulepaskan duluan? Aku tidak menemukan jawabannya sebelum kami sampai di warung. Mungkin itu bagus. Mungkin beberapa pertanyaan memang harus dibawa pulang tanpa jawaban, supaya tidak berubah menjadi cerita yang diserahkan begitu saja.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!