β€Ή
99. Yang Memanggil dengan Suara Kami

Yang Memanggil dengan Suara Kami

Kos Nomor 13 β€’ 1,306 kata

Ilustrasi Yang Memanggil dengan Suara Kami

Pagi itu aku terbangun karena ada yang memanggil namaku dari depan pintu kamar. "Dimas. Dimas, bangun. Bude masak sayur lodeh, katanya suruh ke warung."

Itu suara Tegar. Lugas, sedikit serak, seperti biasa. Aku mengucek mata, membuka pintu, dan lorong kos kosong. Tidak ada Tegar. Pintu kamarnya di ujung lorong masih tertutup rapat. Dari celah bawah pintunya tidak ada cahaya. Sepatu Tegar tidak ada di rak depan pintu. Tegar sudah berangkat kerja sejak subuh, seperti biasa. Aku tahu itu. Aku sudah tinggal di kos ini cukup lama untuk tahu jadwal Tegar lebih hafal daripada jadwal tidurku sendiri.

Tapi suara itu tadi nyata. Sangat nyata. Bukan mimpi, karena aku sudah bangun, kakiku sudah menyentuh lantai yang dingin, tanganku sudah memegang gagang pintu. Suara itu datang dari lorong, dari jarak dua langkah di depan pintuku, dan berhenti tepat saat pintu terbuka.

Aku berdiri lama di ambang pintu, menatap lorong yang kosong. Lalu aku menutup pintu lagi, pelan-pelan, dan menguncinya dari dalam. Jantungku berdetak terlalu cepat untuk pagi yang baru dimulai.

Semalam Bude Ratna sudah memperingatkan: jangan menjawab kalau ada yang memanggil. Aku kira maksudnya jangan menjawab suara dari sumur. Ternyata maksudnya lebih luas. Pendengar itu tidak lagi memanggil dari sumur. Ia memanggil dari mana saja. Dari lorong. Dari balik pintu. Dengan suara orang-orang yang kukenal.

Aku mandi dengan air dingin, berpakaian, dan keluar kamar dengan langkah cepat, seolah lorong itu bisa menggigit kalau aku berjalan terlalu pelan. Di dapur umum, Kirana sudah duduk dengan segelas teh. Wajahnya pucat. Kantung matanya dalam, seperti orang yang tidak tidur semalaman.

"Kamu juga?" tanyaku, tanpa perlu menjelaskan.

Kirana mengangguk. "Jam tiga pagi. Suara Ibu. Dari depan kamar. Ibu memanggil namaku, menyuruhku pulang, bilang Bapak sakit. Ibuku di kampung, Dimas. Ibuku tidak mungkin ada di sini. Tapi suaranya persis. Bahkan cara beliau memanggilku, 'Nak,' dengan nada yang naik di akhir, itu persis."

Kami saling menatap. Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Pendengar itu semalam belajar mendengarkan lewat anak muda itu, dan sekarang ia belajar memanggil lewat kami. Bukan meniru satu suara. Ia memanggil dengan suara siapa pun yang pernah didengarnya bercerita. Suara Tegar. Suara ibu Kirana. Besok mungkin suara Bude Ratna. Lusa mungkin suaraku sendiri.

"Apa kamu menjawab?" tanyaku.

Kirana menggeleng. "Aku hampir. Tanganku sudah di gagang pintu. Tapi aku ingat kata Bude. Jangan menjawab kalau ada yang memanggil. Jadi aku diam. Aku duduk di kasur sampai azan subuh. Suara itu memanggil tiga kali. Tiap kali lebih pelan. Tiap kali lebih mirip Ibu. Yang ketiga, suaranya menangis. Itu yang paling susah ditahan."

Aku duduk di depannya. Teh di gelasku sudah dingin, tapi aku meminumnya juga, sekadar supaya tanganku punya pekerjaan. "Kita harus bicara dengan Bude," kataku. "Dan dengan Tegar. Kita harus membuat aturan. Kalau dia bisa memanggil dengan suara siapa saja, kita tidak bisa lagi percaya pada suara."

Siang itu, saat Tegar pulang makan siang, kami bertiga berkumpul di kamar Tegar. Tegar mendengarkan ceritaku dan cerita Kirana tanpa memotong, wajahnya makin lama makin tegang. Lalu ia berkata, pelan, "Aku juga dipanggil."

"Siapa?" tanya Kirana.

Tegar menatap lantai. "Bapakku. Semalam, dari arah sumur. Bapakku sudah meninggal lima tahun lalu. Suaranya menyuruhku mendekat. Bilang ada yang mau diceritakan. Bilang sumur itu menyimpan cerita Bapak yang belum selesai."

Hening. Tiga orang di dalam kamar, tiga suara yang memanggil dari luar, tiga orang yang dicintai yang suaranya dipakai untuk memancing.

"Dia memakai suara orang yang kita sayang," kata Tegar akhirnya. "Karena suara orang yang kita sayang paling susah diabaikan. Dia tahu itu. Dia belajar itu dari kita. Dari cerita-cerita kita."

Aku teringat halaman-halaman buku semalam. Setiap cerita berhenti di tengah kalimat. Setiap cerita adalah cerita tentang seseorang yang disayang, seseorang yang hilang, seseorang yang dirindukan. Pendengar itu tidak mengumpulkan cerita sembarangan. Ia mengumpulkan cerita tentang kerinduan. Karena kerinduan adalah cerita yang tidak pernah selesai. Kerinduan selalu menunggu jawaban.

Sore harinya, sebelum ke warung, aku mencoba satu hal yang sejak pagi menggangguku. Aku berdiri di depan sumur, cukup jauh agar tidak menyentuhnya, dan memanggil nama Tegar dengan suara keras. Tidak ada jawaban. Aku memanggil nama Kirana. Tidak ada jawaban. Lalu aku memanggil namaku sendiri, dan dari dalam sumur, sangat pelan, seperti gema yang datang terlambat, namaku kembali. Bukan gema biasa. Gema tidak menunggu selama itu. Gema tidak menyebut namamu dengan nada seperti orang yang baru saja belajar mengeja. Aku mundur. Air di dalam sumur itu tenang, gelap, tapi di permukaannya, sekilas, aku melihat bayangan wajahku sendiri. Wajah itu tersenyum lebih dulu daripada aku. Aku tidak jadi tersenyum hari itu.

Sore harinya aku pergi ke warung Bude Ratna. Bude sedang menyapu halaman, seperti tidak terjadi apa-apa semalam. Tapi saat aku mendekat, ia langsung berkata, tanpa menoleh, "Sudah mulai memanggil, ya?"

Aku mengangguk, lalu sadar ia tidak melihatku. "Iya, Bude. Dengan suara Tegar. Dengan suara ibu Kirana. Dengan suara bapak Tegar yang sudah meninggal."

Bude berhenti menyapu. "Itu tandanya dia sudah kenyang mendengarkan. Sekarang dia lapar memanggil. Pendengar yang sudah terlalu banyak mendengar, lama-lama ingin didengar juga. Tapi dia tidak punya suara sendiri. Dia tidak punya wajah sendiri. Jadi dia meminjam suara dan wajah orang lain. Semakin banyak ia mendengar, semakin banyak suara yang bisa dipinjamnya."

"Bagaimana cara menghentikannya, Bude?" tanyaku.

Bude menatapku. "Tidak bisa dihentikan. Hanya bisa diatur. Seperti api. Kau tidak mematikan api, kau memberinya tempat, kau memberinya batas, kau memberinya makan secukupnya supaya tidak menjalar ke mana-mana. Pendengar itu sama. Dia sudah terlalu tua untuk diusir. Yang bisa kita lakukan hanya membuat perjanjian baru dengannya. Aturan baru."

"Aturan seperti apa?"

Bude tidak langsung menjawab. Ia menunjuk sumur yang terlihat dari warung, di ujung gang kos. "Nanti malam, kita kumpul. Kamu, Kirana, Tegar, dan aku. Kita buat aturan itu bersama. Karena aturan yang dibuat sendirian tidak akan didengarnya. Dia hanya mendengar kalau kita bicara bersama. Dia hanya menghormati perjanjian yang dibuat ramai-ramai, seperti dulu."

"Dulu?" tanyaku.

Bude mengangguk pelan. "Dulu, sebelum kos ini ramai, para penghuni lama pernah membuat perjanjian dengannya. Itu sebabnya dia diam bertahun-tahun. Perjanjian itu yang rusak. Entah siapa yang melanggarnya duluan. Mungkin seseorang yang bercerita tanpa akhir. Mungkin seseorang yang menjawab panggilannya."

Malam itu, sebelum kami berkumpul, aku kembali ke kamarku untuk mengambil jaket. Lorong sudah gelap. Lampu lorong yang biasanya menyala, mati. Aku berjalan pelan, meraba dinding. Dan tepat di depan pintu kamar tujuh, aku mendengar suaraku sendiri.

Bukan dari luar. Dari dalam kamar. Dari dalam kamarku.

Suara itu bercerita. Dengan suaraku. Tentang malam pertama aku tidur di kamar tujuh. Tentang suara tangis di dalam dinding. Tentang ketakutanku pada gelap. Tentang semua cerita yang pernah kuceritakan pada siapa pun, di mana pun, sejak aku tinggal di kos ini. Suara itu menceritakan kembali hidupku, kalimat demi kalimat, dengan nada yang persis, dengan jeda yang persis, seperti kaset yang diputar ulang.

Dan di akhir cerita, suara itu berkata, dengan suaraku sendiri, "Dimas, masuklah. Ada yang mau kuceritakan padamu. Cerita tentangmu, yang belum selesai."

Tanganku sudah terangkat ke gagang pintu. Jari-jariku sudah menyentuh logam yang dingin itu. Satu putaran lagi, pintu akan terbuka. Satu langkah lagi, aku akan masuk dan mendengarkan ceritaku sendiri diceritakan oleh sesuatu yang bukan aku.

Aku menarik tanganku. Mundur selangkah. Lalu selangkah lagi. Aku berbalik dan berjalan ke ujung lorong, ke kamar Tegar, tanpa menoleh, tanpa menjawab, sambil mengulang di dalam kepala satu kalimat yang sama, seperti doa, seperti perjanjian yang belum dibuat: aku tidak akan menjawab. Aku tidak akan menjawab. Aku tidak akan menjawab.

Tapi di belakangku, dari dalam kamarku yang kosong, suaraku sendiri terus bercerita. Dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di kos ini, aku sadar: pendengar itu tidak lagi menunggu di sumur. Ia sudah masuk. Ia sudah ada di dalam kamarku. Ia sedang menunggu di dalam cerita yang kuceritakan pada diriku sendiri, setiap malam, sebelum tidur.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!