Pintu yang Memanggil Pulang
Kos Nomor 13 β’ 1,513 kata
Suara itu tidak berhenti di ambang pintu. Ia masuk ke kamar saya seperti seseorang yang sudah hafal jalan pulang, dan ia memanggil nama saya dengan cara yang sudah lama tidak pernah saya dengar dari mulut siapa pun.
"Dimas, makan malam sudah siap. Pulang, Nak."
Saya tidak menjawab. Saya tidak berani menjawab, karena saya tahu apa yang terjadi pada orang yang menjawab panggilan dari dalam cerita. Orang yang menjawab akan ditunggu. Orang yang ditunggu akan dicari. Dan orang yang dicari, cepat atau lambat, akan ditemukan di tempat ia bersembunyi.
Pintu biru itu masih terbuka selebar jari. Cahaya kuning dari celahnya jatuh ke lantai kamar saya, membentuk garis yang tipis dan hangat, garis yang terlihat begitu biasa sehingga saya hampir percaya bahwa di balik pintu itu memang ada dapur rumah masa kecil saya, lengkap dengan meja, lampu minyak, dan ibu saya yang sedang mengangkat wajan. Hampir. Yang membuat saya tidak percaya adalah suara hujan di atap seng itu. Hujan di rumah masa kecil saya tidak pernah berbunyi seperti itu. Hujan itu berbunyi terlalu rapi, terlalu berirama, seperti hujan yang sedang dibacakan dari sebuah cerita, bukan hujan yang benar-benar turun.
Saya melangkah mendekat, sangat pelan, dan saya meletakkan telapak tangan saya di pintu itu. Kayunya dingin. Bukan dingin kayu yang baru dicat. Dingin dinding kos yang sedang berpura-pura menjadi kayu. Di bawah telapak tangan saya, cat biru itu terasa sedikit kasar, seperti cat yang dilukis dengan crayon yang sangat besar, dan saya sadar dengan ngeri bahwa pintu ini memang dilukis. Bukan dibangun. Dilukis ke dinding saya oleh cerita yang saya ceritakan sendiri, lapis demi lapis, setiap kali saya menambahkan detail tentang rumah masa kecil saya.
"Bang," kata suara anak perempuan itu dari balik pintu, kini jelas, tidak lagi jauh. "Bang di luar, ya? Pintunya susah dibuka dari dalam. Bang dorong, dong. Dari luar lebih gampang."
Saya menarik tangan saya seperti tersengat. Anak itu ada di dalam. Anak yang antre paling lama, anak yang saya beri kamar kecil dengan jendela menghadap kebun, kini tinggal di dalam rumah masa kecil saya, dan ia meminta saya membukakan pintu dari luar. Padahal kemarin, di bibir sumur, saya sendiri yang mengajarinya bahwa rumah yang benar dikunci dari dalam, oleh yang tinggal di dalamnya.
"Kamu yang pegang kuncinya," kata saya, dan suara saya bergetar. "Ingat? Abang yang bilang. Pintu itu dikunci dari dalam. Bukan dari luar."
Diam. Lalu suara itu menjawab, pelan, dan di balik kepelanan itu ada sesuatu yang membuat bulu kuduk saya berdiri: suara itu tidak lagi terdengar seperti anak perempuan yang sopan. Ia terdengar seperti seseorang yang sedang mengulang kalimat yang pernah didengarnya, tanpa mengerti artinya.
"Tapi Bang, kuncinya... kuncinya ada di leher Abang."
Bel di leher saya berdenyut. Panasnya naik setingkat, dan saya mengerti apa yang sedang terjadi, dengan jernih yang membuat perut saya mual. Kunci yang saya berikan kepada anak pertama, kunci kayu yang muncul di bawah bantal Sari, kunci yang saya ceritakan sebagai kunci biasa yang ringan β kunci itu bukan kunci rumah anak itu. Kunci itu adalah kunci saya. Kunci pintu rumah masa kecil saya. Dan selama ini, tanpa saya sadari, saya yang memegangnya di leher saya, dalam bentuk bel yang berdenyut.
Saya mundur selangkah. Lalu selangkah lagi. Punggung saya menyentuh ranjang, dan saya duduk di tepinya tanpa sengaja, karena kaki saya tidak kuat lagi menopang tubuh saya. Di depan saya, pintu biru itu berderit, dan celahnya melebar sedikit lagi, selebar dua jari sekarang. Dari celah itu, saya bisa melihat sepotong dapur: meja kayu, lampu minyak yang menyala di tengahnya, dan di dekat jendela, sosok anak perempuan kecil yang sedang berdiri, menghadap ke arah saya. Ia melambai. Tangannya kecil. Gerakannya pelan, seperti gerakan seseorang yang sedang melambai dari dalam air.
"Dimas, makan malam sudah siap," kata suara ibu saya lagi, kini dari arah dapur itu, dari sosok yang berdiri di dekat kompor dengan punggung menghadap saya. "Pulang, Nak. Sudah lama ibu tunggu."
Saya memejamkan mata. Saya mencoba mengingat wajah ibu saya waktu muda, wajah yang tepinya sudah mulai kabur sejak saya bercerita terlalu banyak. Saya mencoba mengingatnya dengan keras, seperti orang yang mencoba mengingat wajah seseorang dari foto yang terkena air. Rambutnya diikat. Tangannya memegang wajan. Suaranya memanggil saya makan. Itu yang masih tersisa. Wajahnya sendiri, bentuk matanya, garis senyumnya β semuanya sudah menjadi kabur, seperti gambar yang sengaja dihapus dari tengahnya.
Dan di situlah saya mengerti hal yang paling menakutkan malam itu. Bukan pintu yang tumbuh di dinding saya. Bukan anak yang tinggal di rumah masa kecil saya. Yang paling menakutkan adalah bahwa saya sudah tidak bisa lagi mengingat wajah ibu saya dengan jelas, karena saya sudah memberikan ingatan itu, potong demi potong, kepada cerita. Dan cerita, setelah menerima ingatan itu, membangun kembali sosok ibu saya di dapur itu β sosok yang berdiri dengan punggung menghadap saya, sosok yang memanggil saya pulang dengan suara yang persis seperti suara ibu saya, karena suara itu memang berasal dari ingatan saya sendiri.
Saya berdiri. Saya tidak tahu dari mana keberanian itu datang, tapi saya berdiri, berjalan ke arah pintu itu, dan saya meletakkan kedua tangan saya di tepinya, bukan untuk membukanya, melainkan untuk menutupnya. Saya mendorong pintu itu dengan seluruh berat badan saya, dengan bahu, dengan lutut, dengan semua yang tersisa dari diri saya yang masih utuh.
Pintu itu tidak bergerak. Bukan karena berat. Karena pintu itu bukan pintu yang bisa ditutup dengan dorongan. Pintu itu adalah gambar yang sedang dilukis, dan gambar tidak bisa ditutup. Gambar hanya bisa dihapus, dan saya tidak tahu cara menghapus cerita yang sudah saya ceritakan dengan ingatan saya sendiri.
"Bang, jangan ditutup," kata anak perempuan itu, dan kini suaranya terdengar panik. "Kalau ditutup, aku sendirian lagi. Aku nggak mau sendirian lagi. Aku udah antre paling lama. Aku udah nunggu tiga puluh tahun. Bang janji, satu rumah setiap malam. Bang janji, aku nggak sendirian lagi."
Janji itu memang saya buat. Di ambang kamar 7, di bibir sumur, di setiap malam saya bercerita. Janji itu saya buat dengan niat baik, dan niat baik itulah yang kini mengikat tangan saya. Saya tidak bisa menutup pintu pada anak yang sudah saya beri rumah. Saya juga tidak bisa membukanya, karena saya tahu apa yang menunggu di balik pintu yang terbuka sepenuhnya: bukan dapur rumah masa kecil saya, melainkan rumah yang sudah dihuni oleh cerita, rumah yang penghuninya memanggil saya pulang dengan suara ibu saya, rumah yang pintunya hanya bisa dibuka dari dalam oleh orang yang memegang kunci, dan kunci itu ada di leher saya.
Saya melepaskan tangan saya dari pintu. Saya mundur ke tengah kamar, dan saya melakukan satu-satunya hal yang masih bisa dilakukan oleh pencerita yang terjebak di antara janji dan ketakutannya: saya bercerita, bukan untuk membuka pintu, bukan untuk menutupnya, melainkan untuk menahannya tetap di tempatnya, di celah selebar dua jari, tidak lebih lebar, tidak lebih sempit.
"Dengerin," kata saya, dengan suara yang saya paksa tenang. "Abang di sini. Abang nggak pergi. Abang cuma belum bisa masuk sekarang, karena Abang masih jaga pintu yang di sini. Pintu yang bikin cerita ini nggak bocor ke kos. Kamu di dalam, Abang di luar, dan di antara kita ada pintu ini. Pintu ini bukan untuk ditutup, bukan untuk dibuka. Pintu ini untuk dijaga. Kamu jaga dari dalam, Abang jaga dari luar. Begitu perjanjiannya. Begitu dari awal."
Dari balik pintu, terdengar napas yang tertahan, lalu terlepas, seperti anak yang baru mengerti bahwa ia tidak ditinggal, hanya dijaga dari jarak. "Abang janji?" tanyanya.
"Abang janji," kata saya. "Selama Abang masih bisa bercerita, Abang nggak akan ninggalin kamu sendirian."
Celah pintu itu berhenti melebar. Cahaya kuningnya berhenti membesar. Suara hujan di atap seng itu melambat, menjadi gerimis yang pelan, gerimis yang terdengar seperti seseorang yang sedang menenangkan diri. Saya menghela napas, dan untuk sesaat, saya pikir saya berhasil. Saya pikir saya sudah menemukan cara ketiga: bukan membuka, bukan menutup, melainkan menjaga.
Lalu sosok di dapur itu berbalik.
Ia berbalik sangat pelan, seperti seseorang yang sudah lama menunggu giliran untuk menatap saya, dan ketika ia menghadap saya, saya melihat bahwa sosok itu memang memakai bentuk ibu saya: rambutnya diikat, tangannya memegang wajan, celemeknya sama seperti yang saya ingat. Tapi wajahnya tidak ada. Bukan wajah yang rusak, bukan wajah yang menakutkan. Wajahnya kosong, halus, seperti permukaan air yang belum digambar siapa-siapa, dan dari tempat wajah itu seharusnya berada, keluar suara ibu saya, lembut, sabar, dan sangat dekat, seolah ia sedang berdiri tepat di depan saya, bukan di balik pintu.
"Dimas," katanya. "Kenapa kamu tidak pulang-pulang? Ibu sudah tidak ingat wajah kamu. Makanya ibu pakai wajah ini. Wajah yang kamu berikan semalam. Wajah yang belum selesai."
Dan dari balik wajah yang kosong itu, dari dalam dapur yang lampunya menyala, terdengar suara anak perempuan itu, kini berbisik, dengan nada yang sama persis seperti suara ibu saya, "Bang, dari jendela ini aku bisa lihat Abang. Abang di luar, ya? Abang jangan pergi. Pintu ini sudah lama menunggu penghuninya."
Celah pintu itu melebar lagi, selebar telapak tangan, dan dari dalamnya, tangan yang kecil dan dingin menyelinap keluar, menggapai ke arah bel di leher saya.