β€Ή
5. Kamu Datang

Kamu Datang

Kos Nomor 13 β€’ 1,205 kata

Ilustrasi Kamu Datang

"Dimas... kamu datang."

Suara itu tidak menangis lagi. Hampir lega. Hampir senang. Dan justru itu yang membuat lutut Dimas lemas β€” tangisan masih bisa dijelaskan sebagai kesedihan, tapi kelegaan berarti dia sudah lama menunggu, dan yang ditunggu akhirnya tiba.

Pintu kamar tujuh terbuka ke dalam β€” perlahan, tanpa suara β€” menuju kegelapan yang pekat dengan melati. Dari ujung ruangan: suara shower, menyala. Celah pintu kamar mandi memuntahkan cahaya kuning yang redup dan goyang, dan uap tipis merembes keluar seperti napas.

Dimas seharusnya lari. Setiap sel di tubuhnya berteriak lari. Tapi kakinya melangkah masuk β€” satu langkah melewati ambang β€” dan udara di dalam terasa berbeda: lebih berat, lebih basah, seperti melangkah ke dalam akuarium. Bau melati yang tadi samar di lorong kini pekat, menempel di langit-langit mulutnya.

Aturan pertama Bu Sarmi sudah dia langgar setengah jam lalu, saat dia membuka kunci kamarnya pukul 22.14. Aturan kedua β€” jangan pernah mengetuk pintu kamar nomor tujuh β€” hancur bersama tiga ketukannya sendiri. Yang tersisa hanya peringatan Mbah Suro, yang kini terngiang di kepalanya melalui suara Bu Sarmi: jangan pernah menyahut kalau dia memanggil namamu. Sekali kamu menyahut, dia akan mengikutimu. Dia akan mengira kamu mau menemaninya.

Dia belum menyahut. Belum. Tapi dia datang. Apakah datang sama dengan menyahut?

Tangannya meremas garam di saku celana β€” sisa garam pemberian Sari, segenggam, lembap oleh keringatnya sendiri. Garam kasar. Pagar. Pagar tidak menghentikan orang yang diundang masuk β€” dan dia baru saja mengetuk. Dia yang mengundang.

"Nisa?" Suaranya keluar serak, asing di telinganya sendiri. "Nisa, ini aku. Dimas."

Uap di ujung ruangan bergerak. Bukan tertiup angin β€” tidak ada angin di sini. Bergerak seperti tirai yang disibak dari dalam.

Dia berdiri di sana.

Punggungnya menghadap Dimas. Rambut hitam panjang, basah, menempel di punggung. Kemeja putih β€” seragam, pikir Dimas dengan ngeri, seragam SMA persis seperti di foto itu β€” basah kuyup menempel di tubuhnya. Dia berdiri menghadap pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, dari celahnya cahaya kuning dan suara air yang tidak berhenti.

Di bawah cahaya kuning itu Dimas bisa melihat ruangan ini β€” cerminan kamarnya sendiri, tapi salah: meja kayu dengan buku harian bersampul batik yang masih terbuka persis seperti dia tinggalkan hari Rabu, kaset Nisa β€” Untuk Ibu di sampingnya, dan lantai tengah ruangan yang tampak baru dipel, masih lembap, memantulkan cahaya.

Dimas memaksa suaranya keluar. Inilah alasan dia naik. Inilah kalimat yang dia siapkan sejak tadi berbaring terjaga di kasur: "Ibumu percaya sekarang, Nis. Aku baca buku harianmu. Aku tahu kamu tidak mengada-ada. Ada yang dengar sekarang. Kamu tidak sendirian."

Hening. Shower terus menyala.

Lalu bahunya β€” bahu gadis itu β€” turun, seperti beban tujuh tahun terangkat sekaligus. Dan ketika dia berbalik, Dimas melihat wajahnya.

Wajah dari foto itu. Tersenyum. Utuh. Hidup.

Tapi matanya tidak ikut tersenyum. Matanya menatap Dimas seperti menatap satu-satunya pintu keluar dari ruangan yang terbakar.

"Kamu dengar aku," katanya. Bukan pertanyaan. "Tidak ada yang dengar aku. Ibu tidak dengar. Mereka semua pergi. Tapi kamu dengar."

"Ibumu dengar sekarang," kata Dimas cepat β€” terlalu cepat, seperti orang yang takut kalimatnya direbut. "Tadi pagi dia cerita semuanya ke aku. Dia nangis, Nis. Dia bilang... dia bilang kata-kata terakhirnya ke kamu adalah hal yang paling dia sesali seumur hidupnya."

"'Kamu mempermalukan keluarga.'" Nisa mengatakannya datar, seperti mengutip. "Aku tahu. Aku dengar dari bawah β€” maksudku, aku ingat. Aku ingat semuanya. Aku ingat dia tidak naik."

Tenggorokan Dimas menyempit. "Dia membersihkan kamarmu setiap beberapa hari. Tujuh tahun, Nis. Dia rawat kamar ini seperti makam. Fotonya β€” yang di ruang tamu β€” dia yang mencoret wajahmu karena dia tidak sanggup menatapnya. Bukan karena benci. Karena setiap dia lihat wajahmu, dia dengar kamu menangis malam itu."

Nisa menatapnya lama. Uap mengepul di antara mereka, dan untuk sesaat wajahnya berkabut β€” lalu jelas lagi. Senyum itu masih ada, tapi kini terlihat seperti sesuatu yang dipaksakan menempel, seperti foto yang terlalu lama dipajang.

"Ibu... menangis?" bisiknya.

"Tadi pagi," kata Dimas. "Di depan aku."

Dia melangkah mendekat β€” kakinya basah meninggalkan jejak di lantai β€” dan Dimas mundur setengah langkah sebelum bisa menahannya. Gadis itu berhenti. Senyumnya tidak hilang, tapi sesuatu di wajahnya berubah, seperti permukaan air yang disentuh jari.

"Jangan takut," katanya. "Aku tidak mau menakutimu. Aku cuma..." Dia menatap tangannya sendiri yang basah, yang menetes. "Aku cuma kesepian. Setiap malam Jumat aku mengetuk, dan tidak ada yang membuka. Sampai kamu."

Dia mengetuk, mencari orang yang mau menyahut. Dia kesepian.

"Dengar aku," kata Nisa, dan suaranya kini lebih dekat meski dia tidak bergerak. "Tinggal di sini. Dengar aku. Setiap malam. Jangan pergi seperti yang lain."

Seperti yang lain. Penghuni-penghuni yang pergi satu per satu, kata Bu Sarmi. Makin lo ngubek-ngubek, makin dia perhatiin lo, kata Fajar.

Dimas memahami dengan kejernihan yang mengerikan: ini bukan permintaan. Ini tawaran dengan satu pintu. Sekali dia mengiyakan β€” sekali dia menyahut dengan sungguh-sungguh β€” dia akan menjadi pendengar selamanya. Pengganti. Tujuh tahun dari sekarang, yang mengetuk berikutnya akan mendengar suaranya memanggil dari depan pintu. Namanya akan dipelajari. Namanya akan dipanggil setiap malam Jumat.

"Aku tidak bisa," bisik Dimas.

Senyum itu akhirnya goyah. "Kenapa?"

"Karena kalau aku tinggal, aku tidak bisa menceritakan tentangmu ke ibumu." Itu kalimat paling jujur sekaligus paling pengecut yang pernah dia ucapkan β€” karena alasan sebenarnya adalah dia takut, takut sampai tulangnya bergetar. "Dan dia perlu mendengarnya. Dari orang yang masih hidup."

Nisa menatapnya. Uap mengepul. Lalu dia mengangguk β€” pelan, seperti orang tua yang akhirnya mengerti sesuatu yang menyakitkan β€” dan melangkah mundur ke dalam uap, ke arah cahaya kuning kamar mandi.

"Sampaikan ke Ibu," katanya, suaranya mulai jauh, mulai basah lagi. "Sampaikan... aku tidak marah."

"Nis, tungguβ€”"

"Dimas." Namanya keluar dari dalam uap, tajam, mendesak. "Kaset itu β€” yang untuk Ibu. Jangan diputar. Jangan pernah."

"Kenapa?"

"Karena dia ada di dalamnya."

"Siapa? Siapa yangβ€”"

"Yang memanggilku."

Uap menutupnya. Shower terus menyala. Dan Dimas lari.

Dia tidak ingat menuruni tangga β€” yang dia ingat hanya kakinya yang telanjang menghantam semen lorong lantai satu, tangannya yang gemetar memutar kunci kamarnya, dan garam yang dia taburkan dengan tangan yang tidak mau berhenti bergetar: garis tebal di depan pintu, dari dalam. Dua lapis. Lalu dia duduk di lantai dengan punggung menempel ke kasur, dan menunggu.

Tidak ada ketukan. Tidak ada suara shower dari atas. Hanya detak jantungnya sendiri β€” terlalu keras, terlalu cepat β€” dan bau melati yang menempel di bajunya, di kulitnya, di rambutnya.

Dia duduk di lantai dengan punggung menempel ke kasur, butiran garam menempel di telapak tangannya yang basah oleh keringat. Kata-kata Nisa terngiang tanpa henti: dia ada di dalamnya. Bukan Nisa yang perlu dia takuti β€” Nisa hanya kesepian, hanya ingin didengar. Yang perlu dia takuti adalah yang memanggil Nisa. Yang kini tahu namanya. Yang tadi berdiri di belakangnya di lorong tanpa dia sadari, sedekat napas.

Jam di HP-nya: 23.41. Dia mengambil HP itu dengan jari-jari yang mati rasa β€” hanya untuk melihat sesuatu yang biasa, sesuatu yang punya penjelasan. Galeri. Foto-foto buku harian dari hari Rabu.

Dan di bawahnya β€” foto yang tidak dia ambil.

Foto itu diambil pukul 22.14 malam ini. Dari dalam kamar tujuh. Dari ambang pintu kamar mandi.

Foto dirinya β€” punggungnya β€” berdiri di ambang pintu kamar tujuh, menatap ke dalam.

Tangannya berhenti gemetar. Itu lebih buruk dari gemetar. Dia memperbesar foto itu dengan dua jari yang kaku, dan jantungnya β€” yang tadi berdetak terlalu cepat β€” berhenti separuh ketukan.

Karena di belakangnya β€” di lorong lantai dua yang tadi kosong, yang dia lewati tanpa menoleh β€” berdiri sesuatu yang basah.

Lebih tinggi darinya. Tanpa wajah. Menatap lensa.

Dia tidak sendirian di kamar itu. Dan sesuatu mengikutinya turun.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!