β€Ή
52. Dongeng Terakhir

Dongeng Terakhir

Kos Nomor 13 β€’ 1,811 kata

Saya berdiri di depan pintu kamar 7 sampai azan Subuh, dan di kepala saya hanya ada satu kalimat yang berputar-putar seperti kaset rusak:

Besok giliran Abang yang dengerin.

Pagi itu saya tidak sarapan. Saya duduk di teras kos menatap jalanan yang mulai ramai β€” tukang sayur lewat, anak-anak berangkat sekolah, dunia yang tidak tahu apa-apa tentang kamar nomor 7 β€” dan mencoba berpikir jernih untuk pertama kalinya dalam lima belas malam.

Perangkapnya kini jelas. Kalau saya masuk ke kamar itu, saya menjadi cerita β€” "anak kos itu akhirnya masuk ke kamar nomor tujuh, dan tidak pernah keluar lagi. Tamat." Kalau saya berhenti bercerita begitu saja, ia lapar. Sepi itu yang bikin dia lapar, kata Ibu Lastri. Dan lapar yang sudah belajar menjadi saya... saya tidak berani membayangkan apa yang akan ia lakukan dengan suara saya, dengan wajah kecil yang mirip saya.

"Jalannya cuma satu, Nak."

Saya menoleh. Ustadz Mahmud duduk di samping saya di teras β€” saya tidak mendengarnya datang. Di tangannya, buku catatan tua itu lagi.

"Ceritakan akhir yang sebenarnya," katanya. "Bukan akhir yang dia mau. Bukan akhir yang kamu takutkan. Akhir yang BENAR."

"Maksud Ustadz?"

"Ia menjadi apa yang diceritakan kepadanya." Ustadz menatap lurus ke jalan. "Ibu Lastri menceritakannya sebagai Lasmi yang dirindukan β€” jadi ia menjadi kerinduan. Kamu menceritakannya sebagai... dirimu β€” jadi ia menjadi kamu." Ia menoleh kepada saya. "Sekarang ceritakan yang sebenarnya: ia bukan Lasmi. Bukan Ibu Lastri. Bukan kamu. Ia adalah lapar sumur yang sudah terlalu lama tidak diajari apa-apa selain lapar." Ustadz meletakkan tangannya di bahu saya. "Dan lapar, Dimas... lapar bisa diajari kenyang. Kenyang bisa diajari tidur."

"Tapi janji sayaβ€”"

"Janji 'besok lagi'?" Ustadz tersenyum β€” sedih, tapi hangat. "Nak, ada janji yang ditepati dengan cara menepatinya. Ada janji yang ditepati dengan cara MELEPASKANNYA. Ibu Lastri bilang 'jaga dia' β€” bukan 'kurung dirimu bersamanya selamanya'." Ia berdiri, menepuk bahu saya. "Dongeng terakhir, Dimas. Buat yang benar. Buat yang jujur. Dan setelah itu..." Ia berhenti di anak tangga teras. "Setelah itu, jangan pernah duduk di depan pintu itu lagi. Itu bagian tersulitnya. Bukan berceritanya β€” perginya."

Siang itu kos kami seperti rumah yang sedang bersiap melepas seseorang ke perantauan. Bu Sarmi memasak lebih banyak dari biasanya β€” "biar kuat," katanya, menambah lauk di piring saya sampai menggunung, matanya merah. Fajar membersihkan parang kecilnya dalam diam, lalu menyelipkannya di pinggang β€” "buat jaga-jaga," katanya, tapi kami berdua tahu parang tidak mempan melawan dongeng. Sari duduk di sudut ruang tamu, mengelus belnya yang dingin, berdoa dengan bibir bergetar.

"Kalian nggak usah ikut ke koridor malam ini," kata saya.

Tiga pasang mata menatap saya.

"Sendirian?" Fajar setengah berdiri. "Lu gila? Semalam ajaβ€”"

"Justru karena semalam." Saya menatapnya. "Dia mau SAYA, Jar. Bukan kalian. Kalau kalian di sana, dia bisa pakai suara kalian juga. Saya nggak mau dia belajar jadi kalian." Saya beralih ke Sari. "Sari, bel kamu dingin karena Ibu Lastri sudah pergi. Jangan biarkan yang lain menghangatkannya."

Sari mengangguk sambil menangis dalam diam.

Bu Sarmi memeluk saya β€” pelukan ibu kos yang sudah menganggap anak kosnya seperti anak sendiri. "Pulang," bisiknya. "Habis cerita, pulang ke kamar. Janji?"

Saya tersenyum getir. "Janji, Bu. Janji yang ini saya tepati."

Malam itu, jam tiga kurang sepuluh, saya duduk bersila di depan pintu kamar 7. Sendirian. Tidak ada termos Fajar di belakang saya β€” tapi saya tahu mereka bertiga berjaga di ujung koridor, di luar pandangan, dengan garam dan doa dan parang kecil yang tidak akan mempan.

Saya mengetuk pelan dua kali.

"Abang datang," kata saya.

"Abang!" Suara kecil itu β€” ceria, polos, seperti anak yang menunggu ayahnya pulang kerja. Dada saya nyeri. "Duduk! Abang mau cerita apa? Yang tentang nelayan lagi? Atau... atau Abang mau DENGERIN cerita? Cerita Abang bagus loh, yang semalamβ€”"

"Dengerin Abang dulu," kata saya lembut. "Malam ini... malam ini Abang mau cerita tentang kamu."

Sunyi. Lalu, sangat pelan: "Tentang... aku?"

"Iya. Tentang kamu yang sebenarnya." Saya meletakkan telapak tangan di pintu yang dingin. "Dulu, ada sumur tua. Dalam banget. Gelap banget. Di dasar sumur itu tinggal sesuatu yang tidak punya nama β€” karena tidak ada yang pernah memberinya nama. Ia cuma... ada. Lapar. Sendirian."

Saya mendengar bunyi kecil dari dalam β€” seperti anak menggeser posisi duduk, mendekat ke pintu.

"Suatu hari, ada ibu yang kehilangan anaknya di sumur itu. Tiga puluh tahun ia memanggil dari bibir sumur. Tiga puluh tahun ia bercerita ke dalam gelap β€” tentang anaknya yang suka gambar, tentang crayon merah. Dan sesuatu di dasar sumur itu mendengarkan. Ia belajar. Ia memakai bentuk anak itu β€” karena itu satu-satunya bentuk yang diajarkan kepadanya. Ia memakai kerinduan ibu itu β€” karena kerinduan adalah satu-satunya makanan yang ia kenal."

Dari dalam, suara isakan kecil. Tertahan.

"Tapi ibu itu akhirnya pergi. Bukan karena berhenti sayang β€” karena sudah waktunya istirahat. Tiga puluh tahun itu lama, Nak. Ibu capek." Suara saya bergetar. "Lalu datang anak kos yang bodoh. Yang kasihan. Yang setiap malam bercerita β€” dan tanpa sadar mengajari sesuatu di bawah sana untuk menjadi dirinya."

"Abang..." Suara kecil itu bergetar. "Abang marah?"

"Nggak." Air mata saya jatuh ke taburan garam Bu Sarmi. "Abang nggak marah. Abang cuma... mau bilang yang sebenarnya. Kamu bukan Lasmi. Lasmi yang asli sudah tenang β€” tujuh tahun dia hidup bahagia, kata ibunya sendiri. Kamu bukan Ibu Lastri. Ibu Lastri sudah naik, sudah istirahat. Dan kamu..." Saya menarik napas panjang. "Kamu bukan Abang. Kamu tidak perlu jadi Abang."

Sunyi yang panjang. Sangat panjang. Saya pikir saya gagal β€” saya pikir ia marah β€” sampai saya mendengar suara yang belum pernah saya dengar dalam lima belas malam:

Tangisan. Bukan tangisan lapar. Bukan tangisan menuntut. Tangisan anak kecil yang baru pertama kali mendengar kebenaran tentang dirinya sendiri β€” dan kebenaran itu menyakitkan, tapi juga... melegakan.

"Lalu... aku apa, Bang?" tanyanya di sela isak. "Kalau aku bukan Lasmi... aku apa?"

"Kamu," kata saya, "adalah yang menunggu di gelap terlalu lama. Dan yang menunggu terlalu lama... boleh tidur."

Saya mulai dongeng terakhir saya.

"Dulu, ada kegelapan yang tinggal di dasar sumur. Ia lapar β€” bukan karena jahat, tapi karena tidak ada yang pernah mengajarinya kenyang. Suatu hari datang seorang penjaga β€” bukan penjaga yang mengurung, tapi penjaga yang bercerita. Setiap malam ia bercerita, sampai kegelapan itu kenyang dongeng. Kenyang sekali. Sampai matanya berat. Sampai ia menguap." Saya mendengar, dari dalam β€” kecil, nyata β€” bunyi kuapan. Dada saya sesak. "Penjaga itu lalu berkata: 'Tidurlah. Kamu sudah dengar semua cerita. Mimpi yang indah ya.' Dan kegelapan itu tidur. Tidurnya nyenyak β€” karena untuk pertama kalinya ia tidak lapar. Ia kenyang. Dan penjaga itu pulang. Bukan karena berhenti sayang β€” karena sayang yang sebenarnya tahu kapan harus pergi."

Dari dalam kamar, saya mendengar dua suara: isakan kecil yang mereda β€” dan, sangat pelan, suara perempuan tua yang hangat bersenandung. Lagu nina bobo yang samar. Ibu Lastri β€” atau kenangan tentangnya yang tertinggal di dinding-dinding itu β€” menidurkan yang di bawah.

"Tamat," bisik saya.

Lama tidak ada suara. Lalu:

"Bang..." Suara kecil itu β€” mengantuk. Benar-benar mengantuk, seperti anak di jam tidur. "Besok... lagi?"

Inilah saatnya. Bagian tersulitnya. Bukan berceritanya β€” perginya.

Saya menempelkan dahi ke pintu yang dingin.

"Besok Abang nggak ke sini lagi," kata saya. Setiap kata terasa seperti mencabut paku dari dada saya sendiri. "Tapi dengar, ini janji Abang yang terakhir β€” dan janji ini Abang tepati dengan cara TIDAK datang. Karena kalau Abang terus datang, kamu nggak akan pernah tidur. Kamu akan terus lapar. Dan Abang..." Suara saya pecah. "Abang sayang kamu. Makanya Abang pergi."

Sunyi.

"Abang janji?" tanya suara kecil itu. Terakhir kalinya.

"Janji," kata saya. "Tidur yang nyenyak ya."

Hening. Lalu β€” sangat pelan, dari kedalaman β€” terdengar helaan napas panjang. Seperti anak yang tertidur dengan perut kenyang dongeng.

Dan kemudian, dengan bunyi pelan yang membuat bulu kuduk saya berdiri β€” bukan karena takut, tapi karena... perpisahan β€” pintu kamar 7 bergerak sendiri.

Menutup. Rapat. Klik.

Saya duduk di sana sampai azan Subuh, seperti lima belas malam sebelumnya. Tapi malam ini tidak ada yang meminta "besok lagi".

Di kamar, dalam cahaya biru fajar, saya mencuci muka dan menatap tangan saya di bawah lampu.

Merah di bawah kuku-kuku saya β€” menipis. Memudar. Seperti tinta yang dicuci hujan. Saya menggosoknya sekali dengan sabun, dan untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, ia hilang. Bersih. Kuku saya hanya kuku lagi.

Saya berbaring. Saya tidur β€” tidur yang sebenarnya, tanpa mimpi tentang suara saya sendiri.

Saya bangun siang hari karena bau opor ayam. Di meja makan, Bu Sarmi, Fajar, dan Sari sudah menunggu. Tidak ada yang bertanya. Mereka hanya menatap saya β€” dan Sari tersenyum sambil menangis, memegang belnya.

"Hangat lagi," bisiknya. "Belnya... hangat lagi."

Kami makan seperti keluarga. Tidak ada gambar crayon di bawah pintu saya pagi itu. Koridor depan kamar 7 sunyi β€” sunyi yang sebenarnya, sunyi yang tidak menunggu apa-apa.

Sore harinya, Sari menemukan saya di teras. Wajahnya pucat.

"Mas Dimas," katanya pelan. "Bel saya... tadi berbunyi. Sekali. Sendiri."

Jantung saya berhenti. "Ibu Lastri?"

Sari menggeleng perlahan. Ia mendekatkan bel itu ke telinganya β€” lalu menatap saya dengan mata berkaca-kaca.

"Bukan Ibu Lastri." Ia menelan ludah. "Suaranya... kecil. Dia bilang..." Sari menatap saya lurus-lurus. "'Abang... makasih dongengnya.'"

Kami berpandangan lama. Di kejauhan, azan Magrib berkumandang.

Malam itu saya tidur tanpa ritual, tanpa ketukan dua kali, tanpa "besok lagi". Saya bermimpi β€” mimpi yang jernih seperti kaca: sebuah sumur tua, dan di dasarnya, jauh di bawah, sebuah lampu minyak kecil masih menyala. Menjaga gelap agar tidak terlalu gelap. Saya bangun dengan senyum yang tidak bisa saya jelaskan.

Pagi harinya, saat saya hendak berangkat, sesuatu di dinding kamar saya membuat saya berhenti.

Gambar crayon merah itu β€” gambar kamar kos dengan sosok kecil di lingkaran gelap β€” masih ada. Tapi di bawahnya, ada tambahan baru. Gambar yang tidak saya buat. Tidak mungkin saya buat β€” saya tidur semalaman.

Sosok kecil melambai. Di sampingnya, lingkaran kuning goyang β€” matahari, atau lampu.

Dan di bawahnya, huruf-huruf goyang yang saya kenali:

TIDUR DULU YA BANG.

Saya menatap tulisan itu lama. Lalu saya tersenyum β€” senyum yang sebenarnya, yang pertama dalam berhari-hari.

Ia tidur. Bukan pergi. Tidur.

Dan saya β€” untuk pertama kalinya sejak merah itu muncul di bawah kuku saya β€” merasa seperti manusia normal lagi.

Saya menempelkan gambar tambahan itu? Tidak. Saya membiarkannya di sana, di dinding kamar saya, di samping foto keluarga.

Pengingat: bahwa di bawah lantai kos ini, sesuatu sedang bermimpi β€” kenyang dongeng, tidur nyenyak.

Untuk sekarang.

Saya mengunci kamar dan berangkat kerja. Di belakang saya, kos itu sunyi.

Sunyi yang sebenarnya.

Untuk sekarang.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!