β€Ή
55. Yang Bermimpi

Yang Bermimpi

Kos Nomor 13 β€’ 1,565 kata

Ilustrasi Yang Bermimpi

Saya membuka mata di dasar sumur.

Tapi "dasar sumur" ternyata bukan dasar. Di dalam mimpi, sumur itu tidak punya dasar β€” ia punya langit. Saya berdiri di sebuah ruangan luas yang gelap, air setinggi mata kaki, dingin tapi tidak menusuk. Di sekeliling saya, puluhan lampu minyak kecil mengapung di udara seperti kunang-kunang raksasa, cahayanya hangat dan goyang, menari-nari pelan. Dinding-dinding ruangan itu bukan batu β€” melainkan bayangan-bayangan yang bergerak, memutar ulang adegan yang sama berulang-ulang.

Saya mengenali mereka. Nelayan tua dari dongeng malam ketiga, melempar jalanya berkali-kali ke laut yang tidak pernah berubah. Penjaga mercusuar dari dongeng malam ketujuh, memutar lampunya dalam lingkaran yang tidak pernah selesai. Anak yang menanam bintang dari dongeng malam kesebelas, menggali lubang yang sama selamanya.

Dongeng-dongeng saya. Diputar ulang di sini β€” seperti kaset yang diputar terus karena tidak ada kaset baru.

"Dongengnya habis."

Di tengah ruangan, di atas batu datar yang licin oleh air, duduk sosok kecil.

Ia terbuat dari bayangan β€” tapi di tepi-tepinya ada garis-garis crayon merah, seperti gambar anak kecil yang hidup dan bernapas. Wajahnya tidak jelas, seperti wajah yang belum selesai digambar. Tapi matanya β€” dua titik cahaya kuning kecil, persis seperti lingkaran kuning goyang di dinding kamar saya.

Ia mendongak. Menatap saya.

"Abang...?"

Dengan suara saya. Persis suara saya β€” nada, jeda, bahkan cara saya menghela napas di ujung kalimat.

Saya diam. Jantung saya berdegup begitu keras sampai saya takut suaranya terdengar sampai ke permukaan. Aturan kedua Ustadz Mahmud: kalau ia memanggilmu dengan suaramu sendiri β€” jangan jawab. Diam.

Sosok itu memiringkan kepalanya β€” gerakan kecil yang begitu familiar sampai dada saya nyeri. Lalu, perlahan, suaranya berubah. Mengecil. Melembut. Menjadi suara anak kecil yang saya kenal β€” suara lima belas malam, suara "besok lagi".

"Abang?" katanya lagi. "Abang beneran?"

"Abang di sini," kata saya pelan, melangkah mendekat. Air beriak di pergelangan kaki saya, riaknya memantulkan cahaya lampu-lampu minyak.

Ia berdiri β€” kecil, hanya setinggi pinggang saya β€” dan berlari kecil ke arah saya, lalu berhenti dua langkah di depan saya. Ragu. Garis-garis crayon merah di tepinya bergetar halus, seperti menahan diri untuk tidak langsung memeluk.

"Abang... masuk ke mimpi aku?" bisiknya.

"Abang berkunjung," kata saya. Saya berjongkok agar mata kami sejajar β€” dua titik cahaya kuning itu menatap saya, berkedip. "Nggak lama. Abang harus pulang sebelum Subuh."

"Kayak dulu." Suaranya kecil. "Abang selalu pulang."

Di sekeliling kami, bayangan-bayangan di dinding terus bergerak β€” nelayan itu melempar jala untuk kesekian ribu kalinya, mercusuar itu berputar, anak itu menggali. Pengulangan yang sama, tanpa akhir, tanpa kejutan. Saya tiba-tiba mengerti kenapa ia kedinginan: bukan suhu. Kebosanan yang membeku. Penantian yang tidak punya ujung.

"Dongengnya habis, Bang," katanya, seolah membaca pikiran saya. "Semuanya udah diputar. Berkali-kali." Ia menunduk. Garis-garis crayon merah di tepinya meredup sedikit, seperti lampu yang kehabisan minyak. "Di sini... dingin, Bang."

Saya merasakan tenggorokan saya tercekat. Inilah dia. Inilah yang ditakutkan Ustadz Mahmud: bukan lapar β€” dingin. Yang kedinginan dalam mimpi akan terbangun. Dan yang terbangun...

Saya duduk di batu datar itu, di sampingnya. Batu itu dingin menembus celana saya. "Dinginnya kayak apa?"

"Kayak..." Ia berpikir. Titik-titik cahaya itu berkedip pelan. "Kayak nunggu. Nunggu yang nggak datang-datang."

Dada saya nyeri seperti ditusuk. Tiga puluh tahun Ibu Lastri menunggu di bibir sumur. Lima belas malam saya datang setiap malam tanpa absen. Lalu saya pergi β€” saya menepati janji dengan cara tidak datang β€” dan saya meninggalkannya menunggu lagi, di dalam mimpi, tanpa tahu kapan "nanti" itu datang, tanpa tahu apakah "nanti" itu ada.

"Abang punya janji baru," kata saya. "Dengerin baik-baik. Ini janji penjaga β€” janji yang lebih kuat dari janji Abang yang dulu."

Ia mendongak. Dua titik cahaya itu membesar sedikit.

"Setiap malam Jumat, Abang datang ke mimpimu." Saya menatapnya lurus-lurus. "Bukan ke pintu kamar 7 β€” pintunya sudah tutup, dan harus tetap tutup, itu tidak bisa ditawar. Abang datang ke sini. Ke mimpi. Abang bawain dongeng baru setiap kali β€” dongeng yang belum pernah diputar di dinding-dinding ini. Itu janji."

Saya mengangkat satu jari. "Tapi ada syaratnya. Syarat penjaga. Kamu harus tidur lagi setiap Abang pulang. Tidur yang nyenyak, sampai Abang datang lagi. Nggak boleh bangun duluan. Kalau kamu bangun duluan..." saya berhenti, memilih kata-kata saya hati-hati, "kalau kamu bangun duluan, janjinya batal. Dan Abang nggak mau janji ini batal. Sepakat?"

Titik-titik cahaya itu membesar β€” lalu mengecil lagi, ragu. "Tapi... malam ini dingin, Bang. Sekarang. Nunggunya... lama sampai Jumat."

Jumat masih tiga hari lagi. Tiga hari dalam mimpi bisa terasa seperti tiga tahun.

Saya mengangguk. "Makanya Abang bawain satu dongeng malam ini. Dongeng pengantar tidur β€” yang baru, yang belum pernah ada di dinding ini. Dengerin baik-baik."

Saya menarik napas β€” dan mulai bercerita. Dongeng yang belum pernah saya ceritakan sebelumnya, yang muncul begitu saja dari mulut saya seperti sudah menunggu lama di sana:

"Dulu, di dasar sumur yang paling dalam, tinggal sebuah lampu minyak kecil. Lampu itu tidak besar, tidak terang-terang amat β€” apinya cuma sebesar ujung jari. Tapi ia punya tugas penting: menjaga gelap agar tidak terlalu gelap."

Selama saya bercerita, sosok kecil itu bergeser mendekat β€” lalu bersandar ke sisi saya. Ringan. Seperti bayangan yang hangat. Seperti anak kecil yang menyandarkan kepalanya ke lengan ayahnya.

"Setiap malam, gelap di sekitarnya berbisik: 'dingin... sepi...' Dan lampu kecil itu menjawab β€” bukan dengan api yang lebih besar, tapi dengan cerita. Ia bercerita tentang bintang-bintang yang dilihatnya dari celah sumur. Ia bercerita tentang pagi β€” tentang bagaimana pagi selalu datang, bahkan ke tempat yang paling dalam. Gelap itu mendengarkan. Lama-lama, bisikannya berubah: 'lagi... cerita lagi...'"

Dua titik cahaya kuning itu meredup perlahan. Dari dalam sosok kecil di sisi saya β€” kecil, nyata, begitu manusiawi sampai mata saya panas β€” terdengar bunyi kuapan. Sama persis seperti malam dongeng terakhir.

"Lalu lampu itu bernyanyi." Suara saya melembut sampai hampir berbisik. Saya menyanyikan lagu yang samar-samar saya ingat β€” lagu nina bobo Ibu Lastri, yang dulu menidurkan yang di bawah dari balik dinding kamar 7. "Nina bobo... oh nina bobo... kalau tidak bobo digigit nyamuk..."

Napas kecil di sisi saya menjadi teratur. Dalam. Tenang. Sama seperti yang didengar Sari di belnya.

Saya menunggu sampai napasnya dalam dan tenang, sampai garis-garis crayon merah di tepinya melembut seperti lilin yang meleleh pelan. Lalu saya berbisik β€” kata-kata yang dulu ia tulis untuk saya di dinding kamar, kini saya kembalikan kepadanya:

"Tidur dulu ya."

Dari dalam tidurnya, sangat pelan, dengan suaranya sendiri yang kecil dan mengantuk, ia menjawab:

"...tidur dulu ya, Bang."

Saya duduk diam lama, membiarkannya tidur di sisi saya. Lampu-lampu minyak di sekeliling kami bergoyang pelan, cahayanya menghangat β€” atau mungkin hanya perasaan saya. Bayangan-bayangan di dinding melambat: nelayan itu menurunkan jalanya, duduk di perahunya, menatap laut yang akhirnya diam. Penjaga mercusuar itu memadamkan lampunya, duduk, memejamkan mata. Anak itu meletakkan cangkulnya, berbaring di samping lubangnya, memeluk bintang yang ditanamnya.

Dongeng-dongeng saya β€” akhirnya istirahat juga.

Lalu saya mendengarnya. Dari jauh β€” sangat jauh, seperti dari permukaan air yang dalam, seperti dari dunia lain β€” suara yang samar tapi merdu.

Azan Subuh.

Waktunya pulang.

Saya berdiri perlahan, hati-hati agar tidak membangunkannya. Saya melangkah menuju lingkaran cahaya yang terbuka di atas β€” dan dunia mimpi itu menipis di sekitar saya seperti kabut pagi yang tersibak matahari...

...Saya terbangun di ranjang saya.

Cahaya pagi masuk dari jendela, hangat di wajah saya. Fajar tertidur di kursi dengan parang di pangkuan, kepalanya terkulai. Sari duduk di lantai di samping ranjang, menangis lega, tangannya menggenggam tangan saya β€” dan di pergelangan tangan saya, belnya masih melingkar. Hangat. Bu Sarmi berdoa di sudut kamar, tasbih bergerak cepat di jemarinya.

"Mas!" Sari hampir berteriak. "Mas bangun! Alhamdulillah, Mas bangunβ€”"

Saya duduk. Kepala saya pening, mulut saya kering seperti habis berenang jauh. "Jam berapa?"

"Setengah enam," kata Fajar, mengucek matanya yang merah. "Lu tidur kayak orang mati, Dim. Gue tiga kali mau bangunin, tapi kata Ustadz jangan β€” katanya lu lagi 'di jalan'." Ia menatap saya. "Lu... ketemu dia?"

Saya mengangguk. Saya selamat. Saya pulang sebelum Subuh. Janji baru terucap. Dia tidur lagi. Semuanya...

Lalu saya melihat tangan saya.

Di bawah kuku jari telunjuk kanan saya β€” ada merah. Tipis, seperti sehelai benang. Tapi ada. Merah yang dulu hilang setelah dongeng terakhir, kini kembali β€” sedikit, tapi kembali.

Jantung saya berdegup. Perlahan, saya menoleh ke dinding kamar.

Gambar crayon merah itu masih ada. Sosok kecil melambai. Lingkaran kuning goyang. "TIDUR DULU YA BANG."

Tapi ada tambahan baru.

Sosok kecil itu β€” tangannya yang melambai kini digambar memegang sesuatu. Sebuah tangan yang lebih besar, digambar dari atas kertas menjulur ke bawah, jari-jarinya melingkar lembut di tangan kecil itu. Tangan Abang. Tangan saya.

Dan di bawahnya, huruf-huruf goyang yang baru β€” masih terlihat segar, masih berminyak:

ABANG IKUT.

Saya menatap tulisan itu lama. Di belakang saya, Sari bertanya kenapa saya diam. Fajar memanggil nama saya, suaranya makin cemas. Bu Sarmi membaca doa lebih keras.

Tapi saya tidak mendengar mereka.

Karena dari dalam dinding β€” pelan, sabar, seperti seseorang yang sudah menunggu lama dan akhirnya menemukan jalan β€” terdengar ketukan.

Dua kali.

Tuk. Tuk.

Dan saat itulah, dengan darah yang membeku di seluruh tubuh, saya menyadari hal yang paling menakutkan dari semuanya:

Saya tidak ingat suara azan Subuh tadi. Saya tidak ingat Fajar menggoyang bahu saya. Saya tidak ingat membuka mata.

Saya tidak ingat... bangun.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!