Tawaran Bu Sarmi
Kos Nomor 13 β’ 1,508 kata
Pagi harinya, Sari menempel kertas baru di pintu kulkas. Tulisannya rapi, tegas, dengan spidol merah yang tebal:
ATURAN BARU β MULAI HARI INI: 1. Jangan ke lorong lantai dua lewat jam 11 malam. 2. Jangan sentuh tape recorder di kamar tujuh. Jangan masuk kamar tujuh. 3. Jangan ke sumur sendirian. Jangan ke sumur malam-malam. 4. Jangan sebut nama itu. Kalian tahu nama yang mana. 5. Kalau dengar tetesan berhenti... bilang ke yang lain. Langsung.
Di bawahnya, Fajar menambahkan dengan spidol hitam, hurufnya besar-besar: "6. JANGAN MATI KONYOL."
Kami tertawa β tawa yang kering dan dipaksa, tapi tawa juga. Rasanya seperti menghirup udara setelah terlalu lama menahan napas.
Siang itu terasa... normal. Berbahaya normalnya. Mbak Rina turun ke dapur dengan wajah yang lebih segar dari biasanya dan bilang mimpi buruknya berhenti β dua malam berturut-turut tidak ada perempuan yang duduk di tepi kasurnya. "Mungkin ritual kalian beneran berhasil," katanya sambil menuang kopi, dan untuk sesaat, aku membiarkan diriku percaya.
Fajar bahkan sempat bercanda waktu makan siang, menirukan suara basah dari kamar tujuh dengan suara dibuat-buat: "Dimas... giliranmu... bayarin indomie." Sari melempar sendok ke arahnya, dan Bu Sarmi β Bu Sarmi tersenyum. Senyum tipis yang pertama sejak malam ritual.
Aku ingin percaya kami menang. Aku ingin sekali.
Tapi sore itu, waktu aku lewat halaman belakang untuk jemput jemuran, aku berhenti di dekat sumur. Bukan mendekat β aku berdiri jauh, di luar lingkaran garam yang masih utuh melingkarinya β dan aku mendengarkan.
Tes... ... ...tes...
Tetesannya masih ada. Tapi... lebih lambat. Dan ada sesuatu di nadanya yang tidak bisa kujelaskan β seperti orang yang mengetuk pintu dengan sisa tenaga terakhirnya. Seperti tangan yang sudah terlalu lelah tapi tidak berani berhenti.
Aku buru-buru masuk ke dalam rumah dan tidak cerita ke siapa-siapa. Untuk apa? Supaya mereka ikut tidak bisa tidur sepertiku?
Malamnya aku tidur dengan lampu menyala dan pintu dikunci β aturan nomor satu versi pribadiku. Aku tertidur sambil menghitung tetesan khayalan di kepalaku, dan mimpiku dipenuhi air yang hitam dan dalam.
Aku terbangun karena keheningan.
Bukan suara yang membangunkanku β justru ketiadaannya. Jangkrik yang biasanya berisik di halaman belakang... diam. Total. Seperti malam ritual itu, saat semua suara dimatikan serempak.
Jam di HP-ku menunjukkan pukul 02.14.
Lalu aku mendengarnya: derit pelan pintu belakang.
Aku bangkit, jantungku langsung berdebar kencang, dan mengintip dari jendela kamarku yang menghadap halaman belakang.
Bulan separuh menggantung rendah. Halaman belakang diterangi cahaya pucat yang membuat semuanya tampak seperti foto hitam putih.
Dan di sana β di depan sumur β berdiri Bu Sarmi.
Sendirian. Dengan senter kecil di tangannya. Lingkaran garam yang kemarin masih utuh... sudah disapunya sendiri. Butiran-butiran putih itu berserakan tidak beraturan di tanah, seperti salju yang diacak-acak.
Bu Sarmi berlutut di depan tutup kayu sumur. Bibirnya bergerak-gerak. Terus. Berulang-ulang. Dan meskipun aku tidak bisa mendengar suaranya dari jendela lantai dua, aku bisa MEMBACA gerakan bibirnya. Aku tahu persis kata apa yang sedang diucapkannya, dua suku kata yang kami semua dilarang mengucapkannya.
Darahku serasa berhenti mengalir, lalu berbalik menjadi es.
Dia memanggil namanya. Lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Aku menghambur keluar kamar sambil berteriak membangunkan Fajar: "FAJAR! BANGUN! BU SARMI DI SUMUR!"
Kami berlari turun tangga, hampir jatuh, dan menerobos pintu belakang. Tanah halaman yang dingin dan basah menampar telapak kakiku yang telanjang.
"BU! BERHENTI!" teriakku.
Bu Sarmi menoleh. Wajahnya basah oleh air mata dalam cahaya senter. Tapi dia tidak berhenti. Bibirnya terus bergerak. Tangannya menekan tutup kayu sumur itu, seperti memohon.
Fajar menerjang dan menarik bahunya. Bu Sarmi meronta β untuk perempuan setua itu, tenaganya mengejutkan. Dia mencakar, menendang, menggigit lengan Fajar sampai Fajar meringis kesakitan tapi tidak melepaskan.
"Bu, sadar! Ini jebakan! Ibu nggak bolehβ" Aku meraih tangannya, dan saat itulah aku melihat buku catatannya tergeletak di tanah, terbuka, halamannya basah oleh embun. Di halaman terakhir, tulisannya besar dan berantakan:
"dia masih anak-anak. tujuh tahun sendirian di bawah sana. aku ibunya. biar aku yang gantiin. aku udah tua. aku nggak takut."
"BU, JANGAN!" Aku memegang wajahnya dengan kedua tanganku, memaksanya menatapku. "Ingat malam itu! Ingat yang aku bilang! Nama itu tali DUA ARAH! Kalau Ibu nawarin diri, Ibu KEIKAT ke sana! Ibu udah lunas, Bu! Jangan sia-siain!"
Untuk sesaat β sesaat yang terasa seperti selamanya β matanya yang berkaca-kaca menatapku, dan aku melihat keraguan di sana. Perang antara akal dan rasa bersalah seorang ibu.
Lalu dia melepaskan diri dari peganganku dengan sentakan keras, berdiri menghadap sumur, dan dengan suara serak yang sudah tujuh tahun tidak kudengar β suara yang pecah karena tidak dipakai, tapi JELAS β dia berteriak ke tutup kayu itu:
"NISA! AMBIL AKU! AKU GANTIIN KAMU! DENGER AKU, NISA!"
Keheningan yang jatuh setelahnya begitu total sampai aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.
Lalu tutup kayu sumur itu BERGETAR. Bukan getaran pelan seperti malam ritual β ini KERAS, brutal, seperti ada sesuatu yang menghantamnya dari dalam dengan kedua tangan. Debu dan kerikil berjatuhan dari sela-sela papan. Senter Bu Sarmi jatuh dan menggelinding, cahayanya berputar-putar liar di tanah.
Dan tetesan itu β tetesan yang tidak pernah berhenti sejak tujuh tahun lalu, tetesan yang menjadi janji dan penanda dan satu-satunya bukti bahwa dia masih bertahan β BERHENTI.
Total. Tidak ada satu tetes pun.
Kami berempat β aku, Fajar, Bu Sarmi β berdiri mematung di halaman yang tiba-tiba terasa terlalu luas dan terlalu gelap. Aku menghitung dalam hati. Sepuluh detik. Dua puluh. Tiga puluh. Satu menit penuh tanpa satu tetes pun.
Itu adalah satu menit paling menakutkan dalam hidupku. Karena dalam keheningan itu, aku bisa merasakan sesuatu yang BESAR di bawah sana... mendengarkan kembali. Menimbang. Memutuskan.
Lalu, pelan-pelan, tetesan itu kembali.
Tes... tes... tes...
Dan bersamaan dengan itu β suara. Jernih. Ceria. Akrab.
"Halo? Dimas? Fajar? Aku denger kalian manggil-manggil. Aku di sini. Aku baik-baik aja. Beneran."
Aku membeku. Itu suara Nisa. Persis suara Nisa β nada mudanya, cara bicaranya yang cepat.
Tapi ada yang salah. Sangat salah. Aku tidak langsung bisa menunjuk apa β sampai Bu Sarmi, dengan tangan yang gemetar hebat, memungut bukunya dari tanah dan menulis tiga baris dengan cepat, lalu menyodorkannya tepat ke depan wajahku:
"BUKAN DIA. NISA SELALU NGETUK DULU SEBELUM NGOMONG. TADI NGGAK ADA KETUKAN."
Benar. Ya Tuhan, benar. Setiap kali Nisa bicara β di malam ritual, di kaset β selalu ada tetesan dulu. Polanya dulu. Baru suaranya. Seperti mengetuk pintu sebelum masuk.
Suara ini tidak mengetuk. Suara ini langsung masuk. Terlalu mulus. Terlalu bersemangat. Seperti seseorang yang memakai baju orang lain dan berputar-putar di depan cermin, bangga karena bajunya pas.
"Bu Sarmi?" kata suara itu lagi, manis dan hangat. "Makasih udah manggil. Aku kesepian di bawah sini. Mau nemenin aku nggak? Pintunya... pintunya udah kebuka sedikit. Tinggal didorong."
Bu Sarmi mengeluarkan suara β erangan tertahan tanpa kata, suara orang bisu yang jiwanya berteriak β dan dia terhuyung mundur. Fajar menangkapnya sebelum dia jatuh.
"JANGAN JAWAB!" bentakku, suaraku pecah. "JANGAN ADA YANG JAWAB! MASUK! SEKARANG!"
Kami menyeret Bu Sarmi masuk ke rumah. Tanganku gemetar terlalu hebat sampai tiga kali gagal mengunci pintu belakang. Di ruang tengah, Bu Sarmi terduduk di kursinya, menatap kosong ke depan, air matanya mengalir tanpa henti. Buku catatannya tergeletak di pangkuannya. Dia tidak menulis apa-apa. Tidak ada kata yang cukup.
Malam itu tidak ada yang tidur. Kami duduk di ruang tengah sampai langit mulai memucat, tidak ada yang berani bersuara keras, seolah suara kami bisa didengar dari bawah tanah.
Sekitar jam empat pagi, aku mengantar Bu Sarmi ke kamarnya. Dia langsung tertidur di meja β kelelahan total, masih dengan baju yang kotor oleh tanah halaman. Aku menyelimutinya dengan sarung, dan saat itulah aku melihatnya:
Buku catatannya terbuka di halaman baru. Halaman yang belum pernah kutulis, belum pernah kulihat.
Tulisannya rapi. Kecil-kecil. Sangat teratur β sama sekali bukan tulisan Bu Sarmi yang gemetar dan miring.
Dan pinggiran kertasnya basah, seperti baru diangkat dari air.
"TERIMA KASIH SUDAH MEMANGGIL. BESOK AKU DATANG DENGERIN."
Aku membaca kalimat itu tiga kali. Tanganku dingin. Tenggorokanku terkunci.
"Giliranmu, dengerin," katanya malam kemarin.
"Besok aku datang dengerin," katanya sekarang.
Dia membalik permainannya. Kami yang mendengarkan kemarin. Sekarang giliran dia yang datang... mendengarkan kami.
Aku menutup buku itu pelan-pelan, seperti menutup peti mati, dan keluar dari kamar Bu Sarmi dengan kaki yang hampir tidak bisa menopangku.
Saat subuh menjelang, aku tidak tahan lagi. Aku keluar ke halaman belakang β melanggar aturan nomor tiga buatanku sendiri β dan berdiri di depan sumur yang tutupnya kini diam. Lingkaran garam berserakan. Udara berbau tanah basah dan sesuatu yang manis-busuk, samar.
Aku mendekatkan telingaku ke tutup kayu. Tidak menyentuhnya β hanya mendengarkan dari jarak sejengkal.
Tes... ... ...tes... ... ...tes...
Tetesannya kembali. Tapi sekarang terdengar... lelah. Sangat lelah. Seperti tangan yang mengetuk pintu dengan sisa tenaga terakhir, yang tahu kalau dia berhenti, tidak akan ada yang menggantikannya.
Dan di antara tetesan-tetesan itu β jauh di bawah, sangat jauh sampai aku sempat mengira aku menghayal β terdengar suara lain. Bukan tetesan. Bukan suara manusia.
Seperti sesuatu yang sangat besar... berbalik dalam tidurnya. Pergeseran berat yang membuat air di bawah sana bergelombang pelan.
Aku menghitung tetesan itu tanpa sadar. Kebiasaan bodoh manusia: menghitung saat takut.
Satu... dua... tiga...
Berhenti di empat.
Empat tetes. Lalu hening.
Empat orang berdiri di halaman sumur tadi malam: aku, Fajar, Bu Sarmi...
...dan satu lagi yang tidak kami lihat.
Dia sedang menghitung kami.