Malam Ketukan
Kos Nomor 13 β’ 1,558 kata
Tok. Tok. Tok.
Tiga ketukan dari dalam dinding β pelan, sabar, berirama. Seperti seseorang yang tahu bahwa Dimas terjaga, dan bersedia menunggu sampai kapan pun.
Dimas tidak bergerak. Bahkan tidak bernapas. Di layar HP yang tergeletak di kasur, angka-angka itu menyala redup: 23.19. Dua menit sejak ketukan pertama. Atau dua jam. Di kamar ini, waktu kehilangan bentuknya.
Kata-kata Bu Sarmi berputar di kepalanya, jernih seperti baru diucapkan sedetik lalu: malam Jumat, kalau dengar suara-suara... tutup telinga. Baca doa. Jangan keluar kamar apa pun yang terjadi. Jangan menyahut kalau ada yang memanggil namamu.
Untungnya β atau sayangnya β belum ada yang memanggil namanya. Baru ketukan. Tok. Tok. Tok. Lagi. Dari titik yang sama di dinding kanan. Dinding yang dingin. Dinding yang berbagi dengan kamar tujuh.
Dari sudut matanya, Dimas melirik kantong garam di atas meja. Masih utuh. Masih belum dibuka. Sari bilang: taruh di depan pintu setiap malam, jangan sampai kelewat. Dan dia β Dimas β menertawakannya. Tawa itu sekarang terasa seperti barang milik orang lain, dari kehidupan yang lain.
Bau melati semakin kuat. Tidak lagi samar β pekat, manis, memuakkan. Seperti ada yang menuangkan sebotol sabun mandi ke dalam kamarnya, ke dalam paru-parunya.
Dimas memejamkan mata dan menangkupkan kedua tangannya ke telinga. Dia membaca doa β suaranya gemetar, ayat-ayatnya tersendat di beberapa tempat, tapi dia terus membaca, lagi dan lagi seperti kaset rusak. Di sela-sela doa, dia mendengarnya: langkah kaki basah, menjauh dari dinding. Lalu hening.
Hening itu berlangsung lama. Perlahan, Dimas menurunkan tangannya. Sunyi. Mungkin sudah selesai. Mungkin dia β itu β sudah pergi. Mungkinβ
Tok. Tok. Tok.
Kali ini dari bagian dinding yang berbeda β lebih dekat ke arah pintu. Seolah dia bergerak di dalam dinding. Atau di dalam kamar tujuh, berjalan mengikuti denah kamarnya dari atas, berhenti tepat di atas tempat Dimas berbaring.
Dimas tidak tahan lagi. Dengan tangan yang gemetar hebat dia meraih kantong garam, merobek plastiknya dengan gigi, dan menaburkan garis di sepanjang sisi dalam ambang pintunya. Garisnya bengkok, putus-putus di beberapa tempat β tangannya terlalu gemetar untuk membuat garis yang rapi. Dia mundur ke kasur, duduk memeluk lutut, menatap garis garam yang berantakan itu seperti menatap satu-satunya perahu di tengah banjir.
Ketukan itu berhenti.
Hening total. Dimas menunggu β satu menit, lima menit, sepuluh menit. Tidak ada apa-apa. Hanya bau melati yang perlahan-lahan memudar, dan dingin yang meresap dari dinding kanan sampai ke sumsum tulangnya.
Apakah garamnya yang menghentikannya? Atau dia hanya bosan? Dimas tidak tahu. Dan ketidaktahuan itu, perlahan dia sadari, lebih menakutkan daripada ketukan itu sendiri.
Malam itu dia tidak tidur. Dia duduk bersandar di dinding kiri β sejauh mungkin dari dinding kanan β dan menatap pintu sampai pandangannya kabur. Sekali dia terlelap, dan terbangun dengan sentakan keras, karena dalam mimpi dia mendengar ketukan itu lagi β tok, tok, tok β dari dalam kepalanya sendiri.
Lalu, samar-samar dari kejauhan, dari arah masjid di ujung gang: Allahu akbar, Allahu akbar. Adzan subuh. Dimas hampir menangis mendengarnya. Pukul 04.38. Dia selamat sampai pagi.
Dengan kaki yang masih lemas dia membuka kunci pintu dan mengintip ke lorong. Kosong. Cahaya pagi yang kotor merembes dari jendela di ujung tangga. Lorong itu tampak biasa saja β biasa dan damai, seolah malam tadi tidak pernah terjadi.
Lalu dia menunduk. Dan perutnya serasa jatuh menembus lantai.
Jejak kaki basah. Telanjang. Kecil β seukuran kaki perempuan remaja β berderet dari arah tangga, menyusuri lorong semen, dan berhenti tepat di depan pintunya. Tidak berbalik. Tidak berlanjut ke kamar lain. Berhenti. Seolah pemiliknya berdiri di sana. Lama.
Perlahan Dimas mendongak. Di pintu kamarnya β di sisi luar, tepat setinggi wajahnya β ada cap tangan yang basah. Kecil. Jari-jarinya meregang, menempel rata di kayu. Seolah dia menempelkan wajahnya ke pintu. Mendengarkan.
Dimas menyentuhnya dengan ujung jari. Dingin. Dingin yang tidak wajar, dingin yang menusuk sampai ke tulang jari. Dia cepat-cepat menarik tangannya dan berdiri di sana, tidak bergerak, sampai cap itu perlahan mengering dan menghilang β seolah tidak pernah ada.
Di dalam kamarnya, garis garam yang dia tabur semalam masih utuh. Bengkok, berantakan, tapi tidak terputus.
Garam itu menahannya. Atau subuh yang menyelamatkannya. Dimas tidak tahu. Dan dia mulai membenci ketidaktahuan itu.
Pukul sepuluh pagi, ketukan di pintunya membuat Dimas melompat β ketukan biasa, dari luar, di siang hari. "Bro! Ini gue!" Suara Fajar. Dimas membuka pintu. Fajar menatapnya β wajah pucat, mata merah, rambut acak-acakan β dan bersiul pelan. "Astaga. Lo kayak mayat hidup."
"Semalam..." Dimas tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Parah ya?" Fajar mengangguk-angguk seperti sudah menduga. "Ngopi, gih. Lo butuh udara. Dan gue perlu cerita sesuatu β tapi enggak di sini." Dia melirik sekilas ke arah tangga menuju lantai dua.
Warung kopi di ujung gang itu kecil dan berisik β suara motor, suara ibu-ibu menawar sayur, suara dangdut dari radio butut. Normal. Dimas tidak pernah sebersyukur ini mendengar suara dangdut. Di bangku plastik yang goyang, dia menceritakan semuanya: bau melati, suara shower dari kamar kosong, langkah kaki basah, ketukan dari dalam dinding, dan pagi ini β jejak kaki dan cap tangan di pintunya. Fajar mendengarkan tanpa menyela. Wajahnya semakin pucat setiap kalimat.
"Garamnya lo pakai?" tanya Fajar akhirnya.
Dimas mengangguk. "Telat. Tengah malam, pas udah enggak tahan. Aku tabur di dalam pintu."
Fajar menghela napas panjang, mengusap wajahnya. "Denger, bro. Gue cerita ini karena lo udah ngalamin sendiri β jadi lo berhak tahu. Kamar tujuh itu... dulu ditempatin anaknya Bu Sarmi sendiri."
Dimas menatapnya. "Anaknya?"
"Namanya Nisa, katanya. Mahasiswi. Seumuran kita." Fajar menunduk, memutar-mutar gelas kopinya yang sudah dingin. "Tujuh tahun lalu, dia meninggal. Di kamar itu. Di kamar mandi. Malam Jumat."
Tenggorokan Dimas mengering. "Gimanaβ"
"Yang cerita ke gue anak kamar lima yang dulu. Rian namanya." Fajar menurunkan suaranya, meski tidak ada siapa-siapa di dekat mereka. "Tiga bulan dia nempatin kamar lima. Terus satu malam β tengah malam, bro β dia cabut. Ninggalin uang deposit dua bulan. Katanya..." Fajar berhenti.
"Katanya apa?"
"Katanya dia dengar namanya dipanggil. Malam Jumat. Dan dia..." Fajar menelan ludah. "Dia menyahut."
"Terus?"
"Gue enggak tahu apa yang terjadi setelah dia menyahut. Dia enggak cerita. Yang jelas, besok paginya dia udah enggak ada. Barang-barangnya masih di kamar β diambil seminggu kemudian sama kakaknya." Fajar menyeruput kopinya. "Makanya tiap malam Jumat gue nginep di kos temen gue. Udah dua tahun begini, bro. Dua tahun gue enggak berani tidur di sini tiap malam Jumat."
"Kenapa lo enggak pindah aja sekalian?" tanya Dimas.
Fajar tertawa hambar. "Dua ratus lima puluh ribu, bro. Dekat kampus. Di mana lagi lo dapat harga segitu? Lagian..." Dia melirik ke arah gang, ke arah atap bangunan kos yang terlihat dari sini. "Selain malam Jumat, kos ini normal-normal aja. Asal lo ikut aturan. Aturannya ada karena suatu alasan, bro."
"Garamnya," kata Dimas. "Itu beneran ngaruh?"
"Sari yang paling paham soal itu. Neneknya orang kampung, katanya β ngerti hal-hal begitu." Fajar menatap Dimas lurus-lurus. "Pokoknya pakai tiap malam. Jangan bolong. Jangan sampai garisnya putus." Dia berhenti, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan: "Dan satu saran dari gue, bro. Jangan kepo. Jangan cari tahu lebih jauh soal Nisa, soal kamar tujuh. Makin lo ngubek-ngubek, makin dia perhatiin lo."
"Dia siapa?"
"Gue enggak tahu," kata Fajar cepat. Terlalu cepat. "Dan gue enggak mau tahu."
Sore harinya, Dimas berpapasan dengan Sari di lorong β dia sedang mengangkat jemuran yang sudah kering. Dimas menghampirinya. "Sar, makasih ya buat garamnya. Semalam, kalau enggak ada ituβ"
Sari menoleh. Tatapannya berhenti di wajah Dimas β lalu turun, menyapu tangannya, bajunya, seolah memeriksa sesuatu yang tidak terlihat. Wajahnya mengeras.
"Kamu enggak pakai semalam, kan?" katanya datar. Bukan pertanyaan.
Dimas tergagap. "Akuβ aku pakai, tapi telat. Tengah malam, pas ketukannya enggak berhentiβ"
"Aku tahu," potong Sari. Dia kembali melipat baju dengan gerakan kaku dan cepat. "Baunya beda."
"Baunya?"
Sari tidak menjelaskan. "Dengar, Dimas. Aku kasih garam itu karena kamarmu tepat di bawah kamarnya. Kamar enam β yang paling dekat. Yang paling..." dia mencari kata, "...diperhatikan."
"Diperhatikan maksudnya?"
Sari mengangkat keranjang jemurannya. "Aku enggak akan kasih dua kali. Garam di warung lima ribu perak β beli sendiri kalau habis." Dia berjalan pergi, lalu berhenti. Tanpa menoleh dia berkata: "Kalau kamu mati konyol di sini, itu bukan urusanku lagi."
Dimas berdiri mematung di lorong. Ini pertama kalinya Sari bicara sepanjang itu kepadanya. Dan setiap katanya terdengar seperti peringatan terakhir.
Malam itu β malam Sabtu β Dimas menaruh garam dengan benar. Garis tebal, tidak terputus, melintang di depan pintunya di sisi luar, persis seperti yang dimaksud Sari. Dia mengunci pintu pukul sepuluh tepat, mematikan lampu, dan berbaring dengan HP digenggam.
Dia terbangun pukul tiga pagi. Tidak ada suara β justru itu yang membangunkannya. Hening yang terlalu penuh, terlalu padat. Dan samar-samar, di udara kamarnya yang pengap: melati. Tipis. Seperti sisa dari sesuatu yang baru saja pergi.
Dia berbaring kaku, mendengarkan. Tidak ada ketukan. Tidak ada langkah kaki. Hanya jantungnya sendiri, berdebar di telinganya. Perlahan, dengan susah payah, dia terlelap lagi β tidur yang gelisah, penuh mimpi tentang lorong basah yang tidak berujung.
Adzan subuh membangunkannya. Dimas membuka pintu β dan garis garamnya masih utuh. Tidak terputus. Dia menghela napas lega yang panjang.
Lalu dia melihat lorongnya.
Lantai semen di depan kamarnya lembap β bukan basah kuyup, tapi lembap merata, seperti habis dipel. Dan di atasnya: jejak kaki. Banyak. Bertumpuk-tumpuk, saling menindih β mondar-mandir di depan pintunya. Maju, mundur, maju lagi. Berjam-jam, sepertinya. Seolah sesuatu berjalan mondar-mandir di depan kamarnya sepanjang malam. Menunggu. Mencoba. Menghitung.
Semua jejak itu berhenti tepat di garis garam. Tidak satu pun yang melintasinya.
Dimas mendongak perlahan. Di pintu kamarnya β sisi luar, tepat setinggi wajahnya β ada cap tangan yang basah. Kecil. Jari-jarinya meregang, menempel rata.
Garam itu menahannya di luar. Tapi dia tidak pergi. Dia mondar-mandir. Dia menunggu. Dia mendengarkan.
Dan Dimas berdiri di ambang pintu dengan perut yang mual, karena dia akhirnya mengerti maksud peringatan Fajar: dia sudah diperhatikan.