β€Ή
58. Habis Cerita, Pulang

Habis Cerita, Pulang

Kos Nomor 13 β€’ 1,213 kata

Ilustrasi Habis Cerita, Pulang

"Dulu," kata saya β€” dan suara saya pecah di kata pertama, tapi saya teruskan, "dulu, di dasar sumur yang paling dalam, ada seorang anak yang menunggu."

Api sebesar biji beras itu berdenyut β€” seolah mendengarkan.

"Anak itu tidak punya nama. Karena nama adalah hal pertama yang diberikan kepada orang yang ditunggu kepulangannya β€” dan tidak ada yang menunggu anak itu pulang. Jadi ia menunggu tanpa nama, menggambar dengan crayon merah di dinding, supaya kalau suatu hari ada yang turun, mereka tahu: di sini pernah ada yang menunggu."

Sosok kecil itu menatap saya. Lapar di matanya meredup β€” berganti sesuatu yang lain. Harap.

"Setiap malam," lanjut saya, "datang suara seorang nenek dari bibir sumur. Nenek itu bercerita β€” tentang pasar, tentang hujan, tentang anak-anak yang main petak umpet. Tiga puluh tahun. Sampai suatu malam suara itu berhenti. Dan anak itu belajar satu hal: bahwa menunggu yang tidak selesai akan berubah menjadi lapar. Dan lapar akan belajar bermimpi."

Di dinding, gambar-gambar crayon itu... berubah. Saya melihatnya dari sudut mata β€” sosok kecil yang melambai memanggil di gambar terakhir, lengannya yang terangkat kini bergerak dengan cara yang berbeda. Lebih pelan. Bukan kemarilah.

Selamat tinggal.

"Tapi nenek itu meninggalkan satu kalimat," kata saya, dan saya menatap sosok kecil itu lurus-lurus. "Satu kalimat titipan, untuk seorang Abang yang suatu hari berani turun. Kalimatnya begini: habis cerita, pulang."

Sosok kecil itu terisak β€” sekali, pendek, seperti anak kecil yang menahan tangis terlalu lama.

"Dan Abang itu datang," kata saya. "Ia turun dengan lampu di satu tangan dan janji di tangan lain. Ia duduk di lantai yang basah. Ia mendengarkan. Dan ketika gilirannya bercerita tiba, ia memberikan kepada anak itu satu hal yang tidak pernah diberikan siapa pun kepadanya."

"Apa, Bang?" bisik sosok kecil itu.

"Akhir." Saya tersenyum β€” dan kali ini senyum saya tidak getir, tidak takut. "Ia bercerita tentang pagi hari. Tentang cahaya yang turun ke dasar sumur untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun. Tentang anak yang menaiki tangga β€” bukan tangga batu, tapi tangga cahaya β€” dan di ujungnya ada suara nenek yang berkata: habis cerita, pulang."

Saya bercerita tentang setiap anak tangga cahaya itu: tentang bagaimana anak itu ragu di tangga pertama, karena tiga puluh tahun adalah waktu yang lama untuk percaya pada pagi. Tentang bagaimana di tangga kelima ia mendengar suara nenek β€” bukan dari atas, tapi dari dalam dadanya sendiri, tempat ia menyimpan semua cerita selama ini. Tentang bagaimana di tangga terakhir, ia menoleh ke bawah untuk terakhir kalinya, dan melihat dasar sumur yang gelap itu... tersenyum. Karena sumur pun, ternyata, hanya ingin diceritakan sampai selesai.

"Dan anak itu..." Saya menarik napas. "Anak itu pulang."

Sunyi.

Lalu api lampu itu β€” api sebesar biji beras yang sekarat β€” mekar.

Bukan membesar perlahan. Mekar, seperti bunga api. Cahaya hangat membanjiri ruang kecil itu, menyentuh setiap gambar crayon di dinding β€” dan gambar-gambar itu memudar, satu per satu, seperti pagi yang menghapus mimpi. Sosok yang melambai kini hanya goresan samar. Wajah saya di dinding menipis menjadi bayangan, lalu hilang.

Sosok kecil di depan saya menatap tangannya sendiri. Tangannya... bercahaya. Tepi-tepinya menipis seperti kabut pagi.

"Makasih, Bang," katanya. Senyum masa kecil saya β€” senyum yang dulu saya miliki sebelum dunia mengajari saya takut β€” merekah sempurna di wajahnya. "Nenek bener. Abang berani selesai."

"Jaga dia," kata saya β€” mengulang titipan itu untuk terakhir kalinya. "Sudah saya jaga. Sekarang... pulang."

Ia mengangguk. Cahaya di sekelilingnya menguat β€” dan saya harus memalingkan muka, karena terlalu terang, terlalu...

Ketika saya membuka mata lagi, ia sudah tidak ada.

Hanya lampu minyak di lantai tanah β€” apinya kini tenang dan kuning dan penuh, seperti baru diisi. Dan bel kecil Sari di leher saya β€” hangat.

Saya mengambil lampu itu. Tangan saya tidak gemetar lagi.

Saya menaiki tangga.

Setiap anak tangga kini terasa berbeda β€” tidak lagi seperti menuruni tenggorokan sesuatu yang besar dan sabar, tapi seperti keluar dari dalamnya. Dinding-dinding di sekeliling saya bukan lagi kosong: di sana-sini masih ada sisa goresan crayon merah yang memudar, seperti bekas luka yang sembuh. Di satu dinding, saya berhenti: ada gambar kecil yang belum sepenuhnya hilang. Sosok kecil melambai. Di bawahnya, tulisan tangan anak-anak yang goyah:

"MAKASIH BANG"

Saya menyentuh tulisan itu dengan ujung jari. Kering. Hangat.

Di dinding seberangnya, saya melihat sisa gambar lain yang belum hilang sepenuhnya: nelayan tua dengan perahunya β€” dongeng malam pertama saya. Di bawahnya, anak kos yang mendengarkan tetesan air β€” malam kelima. Lasmi dengan crayon merahnya. Semua dongeng saya ada di sini, memudar satu per satu seperti foto yang terbakar matahari. Saya berjalan menaiki cerita saya sendiri β€” untuk terakhir kalinya.

Di atas, cahaya. Saya mendongak β€” di ujung tangga, pintu kamar 7 terbuka, dan cahaya pagi Subuh masuk miring, berdebu, nyata. Saya hampir berlari menaiki sisa anak tangga.

Saya mendorong pintu itu dan melangkah ke koridor.

Kosong.

Koridor itu kosong dan sunyi. Tidak ada Bu Sarmi. Tidak ada Fajar, Sari, Rizky. Tidak ada Ustadz Mahmud. Hanya cahaya pagi yang masuk dari jendela ujung koridor, dan debu yang menari di dalamnya, dan suara kicau burung dari luar yang terdengar... terlalu normal.

"Bu?" panggil saya. Suara saya memantul di koridor kosong. "Fajar? Sari?"

Tidak ada jawaban.

Saya melangkah pelan menyusuri koridor. Pintu kamar Fajar setengah terbuka β€” di dalamnya sepi, ranjangnya rapi. Kamar Sari tertutup rapat. Kamar Rizky β€” anak sembilan belas tahun yang baru tiga hari di sini β€” pintunya terbuka lebar, dan di dalam... kosong. Tidak ada tasnya. Tidak ada sandalnya di depan pintu. Seolah ia tidak pernah ada.

Saya mendorong pintu dapur umum. Rantang anyaman β€” rantang yang tadi pagi Bu Sarmi sodorkan kepada saya β€” tergeletak di meja. Masih hangat.

Mereka tadi memanggil-manggil nama saya dari tangga. Saya mendengarnya β€” langkah-langkah mereka, suara panik Bu Sarmi. Ke mana mereka?

Saya berjalan menyusuri koridor dengan lampu minyak masih di tangan β€” menuju kamar saya. Saya harus memastikan. Memastikan apa, saya tidak tahu.

Lampu itu masih menyala β€” apinya tenang dan kuning dan penuh. Terlalu penuh. Saya teringat kata-kata Ustadz: "Ia menyimpannya untukmu β€” di dalam. Ia mengembalikannya lewat mimpi-mimpimu." Lampu ini milik bawah sana. Dan saya membawanya naik. Tangan saya mulai gemetar lagi β€” bukan karena takut. Karena sebuah pikiran menyelinap seperti air: kalau cerita yang selesai menjadi dinding... dan akhir yang saya ceritakan adalah "anak itu pulang"... maka di mana dindingnya sekarang?

Dan di belakang saya β€”

Klik.

Pelan. Hampir lembut. Seperti pintu yang ditutup dengan hati-hati agar tidak membangunkan siapa pun.

Saya berbalik.

Pintu kamar 7 β€” yang saya biarkan terbuka lebar β€” kini tertutup rapat.

Lalu, dari dalam kamar itu β€” dari dalam gelap yang seharusnya sudah kosong, sudah selesai, sudah pagi β€” terdengar tiga ketukan kecil.

Tok. Tok. Tok.

Dan sebuah suara kecil. Ceria. Tidak lapar lagi. Tidak lelah lagi.

"Bang! Aku pulang!"

Suara itu β€” ceria, ringan, seperti anak yang baru pulang sekolah dan berlari menuju pintu rumah. Tidak ada lapar di dalamnya. Tidak ada lelah. Dan justru itu yang membuat lutut saya lemas: ia terdengar... selesai. Tuntas. Seperti akhir cerita yang menemukan jalannya pulang.

Darah saya membeku.

Akhir yang saya ceritakan β€” anak itu pulang. Pulang ke mana? Ke dasar sumur yang sudah terang? Atau...

Atau ke sini. Ke kos nomor 13. Ke kamar 7.

Karena di cerita saya, saya tidak pernah bilang pulang ke mana. Saya hanya bilang: pulang.

Gagang pintu kamar 7 mulai berputar.

Dari dalam.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!