β€Ή
27. Cor Tengah Malam

Cor Tengah Malam

Kos Nomor 13 β€’ 1,651 kata

Ilustrasi Cor Tengah Malam

"Kita tidak menunggu siang."

Kata-kata itu keluar dari mulut saya sebelum saya sempat berpikir, dan begitu terucap, saya tahu tidak ada jalan kembali. Di bilik kamar mandi yang sempit, berempat berdesakan dengan keran-keran yang sudah kering, tirai air terakhir menetes habis di ambang pintu β€” dan gadis bersandal sebelah itu melangkah masuk ke dalam cahaya.

Dia tidak menyerang. Itu yang paling menakutkan. Dia hanya berdiri di sana, di tengah bilik dua kali dua meter yang seharusnya tidak muat untuk lima orang, meneteskan air ke lantai. Menatap kami satu per satu. Tersenyum.

"Bang Dimas mau ngecor aku?" tanyanya. Nadanya seperti anak kecil yang kecewa karena tidak diajak main. "Padahal aku sudah baik. Aku sudah diam tiga puluh tahun."

"Kita tidak menunggu siang," ulang saya. Lebih keras. Saya menatap Sari, Fajar, Bu Sarmi. "Rencana awal: cor besok siang, ramai-ramai. Dia dengar. Dia keluar duluan. Jadi kita balik: kita cor SEKARANG. Malam ini. Sebelum dia sempatβ€”" Saya menatap gadis itu. "Sebelum dia sempat melakukan yang lebih buruk."

"Gila," bisik Fajar. Tapi tangannya yang membekap mulutnya sendiri β€” yang tadi hampir menjawab panggilan β€” masih gemetar. "Mas, dia di sini. Di depan kita."

"Justru karena dia di sini," kata Sari. Matanya menyala. Saya tidak pernah melihat Sari setakut ini dan seberani ini dalam waktu bersamaan. "Sumurnya kosong sekarang. Badannya β€” badannya ada di sini, bukan di sumur. Kalau kita cor sumurnya sekarang, kita kunci pintunya dari luar sementara dia di luar. Dia tidak bisa pulang."

Gadis itu memiringkan kepala. "Pulang?" Suaranya berubah. Lapisan yang tua itu naik ke permukaan, seperti minyak di atas air. "Kalian pikir... sumur itu rumahku?"

Bu Sarmi tiba-tiba tertawa. Tawa yang salah, tawa orang yang sudah lewat batas. "Bukan rumah. Penjara. Dan kamu tahu itu, Lasmi. Atau... apa pun kamu sekarang."

Gadis itu menatap Bu Sarmi lama. Air menetes dari dagunya. "Sarmi kecil," katanya pelan. "Dulu kamu yang ngajarin aku lagu itu. Waktu kita main di belakang. Sebelum..." Dia tidak melanjutkan. Senyumnya tidak hilang, tapi ada sesuatu yang retak di sana. Sesuatu yang seperti sedih. Atau seperti lapar.

Lalu dia mundur. Satu langkah. Dua langkah. Keluar dari bilik kamar mandi, kembali ke koridor yang gelap. Nyanyiannya mulai lagi β€” pelan, periang, menjauh.

Dia memberi kami jalan. Atau dia menggiring kami ke tempat yang dia mau.

Kami tidak punya pilihan lain.

Gudang peninggalan kakek Bu Sarmi ada di samping kos, bangunan setengah terbuka yang bau oli dan tikus. Di dalamnya, seperti yang dibilang Bu Sarmi: tumpukan semen β€” belasan sak, masih bersegel β€” gundukan pasir, kerikil, gerobak dorong, ember-ember, dan sebuah molen kecil manual yang kakek beli entah untuk proyek apa.

"Rencana," kata Sari sambil menyalakan senter dan menjepitkannya di antara gigi β€” cahayanya bergoyang liar setiap dia bicara. "Satu orang jaga selang. Air mengalir itu perisai kita. Satu orang aduk. Dua orang angkut dan tuang. Bu Sarmiβ€”"

"Saya ikut tuang," potong Bu Sarmi. Tangannya masih gemetar tapi matanya sudah mantap. "Ini urusan keluarga saya. Sudah tiga puluh tahun keluarga saya menutup-nutupi. Malam ini saya yang tutup permanen."

Kami bekerja seperti orang kesurupan. Selang taman disambung ke keran depan β€” keran yang untungnya masih mengalir karena jalurnya langsung dari PDAM, bukan dari tandon yang sudah kami kosongkan. Fajar memegang selang, menyemprotkan lingkaran air di sekeliling sumur tua itu β€” lingkaran air yang mengalir, berputar, hidup. Di dalam lingkaran itu: saya dan Sari mengaduk semen. Di luar lingkaran, Bu Sarmi siaga dengan ember.

Sumur itu... tutup kayunya bergeser. Saya melihatnya pertama kali saat senter Sari menyapu ke sana. Papan-papan kayu yang menutup lubang sumur selama tiga puluh tahun itu tidak lagi rapat. Ada celah selebar telapak tangan di salah satu sisi. Dan dari celah itu, bau itu naik β€” bau air yang diam terlalu lama, bau tanah basah, dan di bawahnya, samar, bau gorengan.

"Jangan lihat ke dalam," kata Bu Sarmi cepat. "Jangan panggil. Jangan sebut nama. Kerja saja."

Kami bekerja. Tangan saya melepuh. Keringat bercampur air selang yang memercik. Setiap beberapa menit, saya melirik ke lingkaran air β€” masih mengalir, masih utuh. Fajar tidak berani mengalihkan selang sedetik pun.

Lalu nyanyian itu datang dari dua arah sekaligus.

Dari dalam sumur β€” samar, menggema dari kedalaman tiga puluh empat meter, suara Lasmi yang periang memantul di dinding batu.

Dan dari belakang kami β€” dari kegelapan kebun pisang di sisi kos β€” suara yang sama, jernih, dekat.

"Bang," kata suara dari kebun pisang. "Ngapain malem-malem? Besok aja. Siang. Ramai-ramai."

Kata-kata kami sendiri. Rencana kami sendiri, dikembalikan dengan nada periang.

Sari berhenti mengaduk. "Dia dengar semuanya," bisiknya. "Sejak awal."

"Kerja!" bentak Bu Sarmi. "Jangan dengarkan! Jangan jawab!"

Ember pertama siap. Saya dan Sari mengangkatnya berdua β€” berat, lengan saya bergetar β€” dan kami menuangkannya ke celah tutup sumur, ke dalam kegelapan tiga puluh empat meter itu.

Suara yang keluar dari sumur membuat kami berempat membeku.

Mendesis. Seperti air yang disiram ke besi panas. Seperti sesuatu yang hidup tersiram air keras. Dari kedalaman itu terdengar lengkingan β€” bukan jeritan manusia, bukan juga jeritan hewan. Seperti uap yang dipaksa keluar dari celah sempit. Bau busuk menyembur naik, membuat Sari muntah ke samping.

"Itu berhasil!" teriak Fajar. "Dia kesakitan! Terus!"

Ember kedua. Ketiga. Setiap tuangan dibalas lengkingan dan desisan. Lingkaran air selang bergetar β€” bukan, tanahnya yang bergetar. Genangan-genangan hitam mulai muncul di luar lingkaran selang, merayap mendekat dari segala arah, tapi setiap kali menyentuh aliran air yang mengalir, genangan itu surut. Tertahan.

Kami hampir percaya kami akan menang.

Lalu Lasmi muncul di tepi cahaya senter.

Dia berdiri tepat di luar lingkaran air. Basah kuyup. Tersenyum. Di tangannya, kantong plastik itu lagi β€” mengepul.

"Bang Dimas," katanya. "Capek ya? Istirahat dulu. Makan dulu." Dia mengangkat kantong itu. "Masih anget."

"Jangan lihat dia!" Sari menarik kerah baju saya. "Aduk! Terus aduk!"

Saya mengaduk. Tangan saya bergerak sendiri. Tapi mata saya β€” mata saya tidak bisa lepas dari gadis itu. Karena sekarang, dalam cahaya senter yang bergoyang, saya melihatnya lebih jelas. Gaunnya bukan gaun. Itu seragam. Seragam SMA? Bukan β€” lebih tua dari itu. Model tahun tujuh puluhan. Dan di dadanya, ada nama yang dibordir. Saya tidak bisa membacanya dari jauh. Saya tidak mau membacanya dari jauh.

"Bu Sarmi," kata saya, suara saya serak. "Ceritakan sisanya. Tentang air hitam itu. Tentang dia yang sebenarnya. Sekarang, selagi kita kerja. Saya mau tahu apa yang sedang kita cor."

Bu Sarmi menuang ember keempat. Tangannya mantap. Suaranya tidak.

"Kakek punya buku catatan," katanya. "Dulu saya kira itu buku hutang. Baru saya baca ulang tahun lalu, setelah Paijo mati." Dia berhenti, mengatur napas. "Kakek tulis: air di sumur itu bukan air. Itu badannya. Sumur itu bukan sumur β€” itu luka. Luka di tanah, tempat dia... merembes keluar. Tiga puluh empat meter, dan dia terus naik, karena badannya tidak muat di bawah sana. Dia mau keluar."

Ember kelima. Desisan dari bawah semakin lemah. Atau semakin marah β€” saya tidak bisa bedakan.

"Terus Lasmi?" tanya Sari pelan.

Bu Sarmi diam lama. Hanya suara adukan semen dan selang yang mengalir.

"Lasmi itu umpannya," katanya akhirnya. "Itu kata kakek. Umpan. Bagian dari dia yang masih ingat jadi manusia. Yang masih ingat caranya tersenyum, caranya nawarin gorengan, caranya nyanyi. Supaya kalau ada yang dengar..." Dia menatap kegelapan. "Supaya ada yang mau mendekat."

Dari tepi cahaya, Lasmi tertawa. Ringan. Periang. Seperti baru mendengar lelucon.

"Dan setiap suara yang dia ambil," lanjut Bu Sarmi, "ikut jadi tetesan. Paijo..." Suaranya pecah. "Waktu Paijo mati, saya dengar tetesan itu berubah. Ada suara baru di dalamnya. Suara laki-laki yang manggil-manggil emaknya."

Fajar tersentak. Selangnya goyang. Lingkaran air terputus sedetik β€” dan dalam sedetik itu, sebuah genangan hitam melesat masuk, menyentuh ujung sandal Fajar.

"Fajar!" teriak saya.

Fajar melompat mundur, menyambung kembali lingkaran air dengan semburan panik. Genangan hitam itu surut. Tapi sandal Fajar β€” basah. Kaki Fajar β€” basah.

Fajar menatap kakinya. Lalu menatap kami. Wajahnya seperti orang yang baru divonis.

"Terus kerja," katanya pelan. "Jangan berhenti. Cor-nya jangan berhenti."

Kami menuang lagi. Ember keenam. Ketujuh. Lubang di tutup sumur mulai tertutup adukan. Desisan dari bawah melemah menjadi geraman. Tanah berhenti bergetar.

Lalu selang itu tersendat.

Bukan berhenti β€” tersendat. Semburannya mengecil, terbatuk-batuk, seperti orang sekarat. Fajar menggoyang-goyangkan ujung selang. "Airnyaβ€” airnya habis? PDAM mati?"

"Pompa!" teriak Bu Sarmi. "Pompa air tanahnya! Kita pakai pompa sanyo untuk selang ini, bukan PDAM langsung! Tandon bawah tanahnya kosong karenaβ€”"

Karena semua keran di rumah tadi kami buka. Karena kami mengosongkan segalanya untuk tirai air yang sudah mati.

Lingkaran air menipis. Menipis. Genangan-genangan hitam di sekeliling kami β€” yang tadi tertahan β€” mulai bergerak lagi. Merayap. Cepat.

"Lari!" teriak Sari.

Kami lari. Meninggalkan molen, ember, gerobak. Fajar menyeret selang mati itu seperti tali pusar yang putus. Di belakang kami, dari sumur yang setengah tercor, terdengar suara. Bukan desisan lagi. Bukan lengkingan.

Tawa. Tawa periang seorang gadis sembilan belas tahun.

Kami tidak berhenti sampai di gudang. Pintu gudang dibanting. Senter Sari menyapu rak-rak β€” dan berhenti.

Sak-sak semen yang tersisa. Belasan sak yang tadi masih bersegel.

Semuanya robek. Disayat dari atas, seperti oleh kuku yang panjang. Isinya β€” bukan bubuk semen lagi. Sudah menjadi gumpalan-gumpalan batu. Keras. Dicampur sesuatu yang hitam dan basah. Bau sumur menyengat dari setiap sak.

"Ini..." Sari menyentuh salah satu gumpalan. Tangannya gemetar. "Ini sudah dirusak. Sejak... sejak kapan? Tadi waktu kita ambil yang pertama, yang lain masih utuh. Masih bersegel."

"Berarti," kata Fajar pelan, "dia ke sini. Tadi. Waktu kita di sumur."

Saya menatap kaki saya. Basah. Kaki Sari β€” basah. Kaki Fajar β€” basah. Kami berdiri di lantai gudang yang kering, tapi kaki kami basah, dan genangan-genangan kecil mulai terbentuk di bawah setiap langkah kami.

"Rencana cor besok siang," kata saya pelan. "Kita membicarakannya di ruang tamu. Berbisik. Kita pikir dia tidak dengar karena kita tidak di dekat sumur." Saya mengangkat kaki saya. Air menetes dari kaus kaki. "Kita salah. Dia tidak perlu dekat-dekat sumur. Dia ada di sini." Saya menunjuk kaki saya. "Di sini. Kaki kita yang basah ini..."

Saya tidak sanggup menyelesaikan kalimat itu. Sari yang menyelesaikannya, suaranya hampir tidak terdengar.

"...kupingnya."

Sunyi. Hanya tetesan air dari kaki kami yang jatuh ke lantai gudang. Plak. Plak. Plak.

Lalu, tepat di belakang telinga saya β€” begitu dekat sampai saya merasakan napas dinginnya β€” suara yang periang:

"Bang, semennya kurang ya?" kata Lasmi. "Biar aku ambilin dari sumur?"

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!