β€Ή
8. Suara yang Lebih Tua

Suara yang Lebih Tua

Kos Nomor 13 β€’ 1,599 kata

Ilustrasi Suara yang Lebih Tua

Gagang pintu itu berhenti berputar β€” dan justru itulah yang paling menakutkan.

Kalau gagang itu terus berputar, Dimas bisa meyakinkan dirinya bahwa itu angin, atau engsel tua, atau halusinasi dari tiga malam kurang tidur. Tapi gagang itu berhenti. Berhenti dengan bunyi klik yang pelan dan tegas, seperti seseorang di dalam kamar tujuh yang baru saja memutuskan: cukup. Dan keheningan yang mengikuti terasa penuh β€” sesak β€” seperti lorong itu menahan napas.

“Bu,” bisik Dimas. “Bu Sarmi.”

Bu Sarmi tidak bergerak. Air matanya berhenti di tengah pipi, berkilau di cahaya senter Fajar dari bawah tangga. Bibirnya terbuka sedikit, tapi tidak ada suara keluar. Matanya β€” mata ibu kos yang selalu tegas mengatur jadwal piket β€” kini kosong, menatap pintu seolah pintu itu menatap balik.

Dari dalam kamar tujuh, suara itu terdengar lagi.

“Sarmi...”

Lebih basah dari sebelumnya. Lebih dekat. Seolah yang berbicara kini menempelkan mulutnya ke celah bawah pintu. Dimas menciumnya saat itu β€” bukan melati. Bau melati sudah pergi, surut seperti air. Yang datang menggantikannya adalah bau tanah basah. Bau got. Bau lumpur di dasar sumur yang sudah lama tidak disentuh matahari.

Sari mencengkeram lengan Dimas sampai kuku-kukunya menancap. “Jangan jawab,” bisiknya cepat. “Nek bilang β€” yang memanggil mengambil yang menyahut. Jangan jawab, jangan sebut nama, janganβ€””

“Aku tahu,” potong Dimas. Dia melangkah maju, meraih bahu Bu Sarmi yang kecil dan gemetar. “Bu. Bu, lihat aku. Jangan jawab. Jangan bilang apa-apa.”

Bu Sarmi menoleh β€” perlahan, seperti orang yang bergerak di dalam air. “Dimas,” bisiknya. “Itu suara yang memanggil Nisa. Malam itu. Aku dengar dari bawah. Aku dengar dia memanggil nama anakku dan akuβ€”” suaranya pecah, “β€”aku tidak naik. Aku ketakutan dan aku tidak naik.”

“Bu, sekarang bukan waktunyaβ€””

“Dia kenal namaku.” Bu Sarmi menatap Dimas, dan ada sesuatu yang baru di matanya β€” bukan cuma takut. Pasrah. “Tujuh tahun dia manggil Nisa di rumahku. Sekarang dia manggil aku. Giliranku, Dimas.”

“Enggak ada giliran-giliran!” Dimas menariknya mundur selangkah dari pintu. Garis garam di lantai berderak di bawah sandal mereka. “Nisa sudah pergi, Bu. Ibu berhasil. Shower-nya berhenti, ketukannya berhenti. Ibu menang. Yang ini β€” yang ini beda permainannya. Kita turun sekarang.”

Seolah mendengar kata “turun”, lampu lorong berkedip.

Sekali. Dua kali. Lalu mati total β€” bukan cuma lorong lantai dua, tapi seluruh kos. Kegelapan menelan mereka bulat-bulat, dan dalam gelap itu Dimas mendengar sesuatu yang membuat darahnya berhenti mengalir: bunyi tetesan air. Bukan dari dalam kamar tujuh. Dari tangga. Tes. Tes. Tes. Menjauhi mereka β€” atau mendekati Fajar di bawah.

“JAR!” teriak Dimas. “Naik! Sekarang!”

Senter Fajar bergoyang liar dari bawah. “Ada yangβ€” sumpah, Dim, ada yang turun, gue dengarβ€”” Bunyi langkah Fajar menghantam anak tangga, dua-dua sekaligus. Dia muncul di ujung lorong dengan wajah seputih kapur, senter di tangannya bergetar. “Tangga basah, Dim. Anak tangganya basah. Padahal enggak hujan.”

Dimas tidak menoleh ke belakang untuk memastikan. Dia mendorong Bu Sarmi pelan tapi tegas ke arah tangga. “Jalan. Jangan lari, jangan lihat ke belakang.”

Mereka turun β€” Dimas di belakang, Sari di tengah memapah Bu Sarmi, Fajar di depan dengan senter yang bergoyang. Setiap anak tangga berderit di bawah kaki mereka, dan di antara derit itu Dimas mendengar sesuatu yang lain. Bukan langkah. Lebih seperti seretan basah. Seperti karung goni yang diseret di lantai semen. Dari atas. Dari lorong yang baru saja mereka tinggalkan.

Di ruang tamu lantai satu, Fajar membanting pintu dan menguncinya β€” meski mereka semua tahu kunci tidak ada artinya. “Garam,” kata Sari, napasnya tersengal. “Garis garam di pintu kamar Dimas. Tebal. Sekarang.”

Kamar Dimas di lantai satu, di ujung lorong. Mereka berempat masuk β€” Dimas, Sari, Fajar, dan Bu Sarmi yang masih seperti orang linglung. Sari menuang garam dari kantong plastik membentuk garis tebal di ambang pintu, di kusen jendela, bahkan di lubang ventilasi. Tangannya gemetar tapi garisnya tidak putus. “Nek bilang garam cuma nahan yang mengetuk,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. “Tapi... tapi lebih baik daripada enggak ada.”

Fajar menutup jendela rapat-rapat dan menahannya dengan kursi. “Gue enggak mau mati di kos sepetak,” katanya, mencoba bercanda, tapi suaranya bergetar. Tidak ada yang tertawa.

Bu Sarmi duduk di tepi kasur Dimas. Dia menatap tangannya sendiri β€” tangan tua berurat yang tadi menempel di pintu kamar tujuh. “Dingin,” bisiknya. “Tanganku masih dingin. Kayak habis megang es.”

Dimas duduk di sampingnya. “Bu, dengar aku. Dia manggil nama Ibu bukan berarti Ibu harus datang. Sari bilangβ€””

“Dia manggil Nisa tujuh tahun,” potong Bu Sarmi pelan. “Tujuh tahun, Dimas. Tiap malam Jumat. Nisa cerita ke aku β€” dia bilang ada yang manggil dari... dari bawah. Aku bilang dia halu. Aku bilang dia kurang tidur.” Air mata mengalir lagi, diam-diam. “Malam itu Nisa naik ke kamar tujuh dan enggak pernah turun. Dan aku masih bilang ke polisi itu kecelakaan. Aku masihβ€””

“Bu.” Dimas menggenggam tangan dingin itu. “Nisa sudah pergi. Tadi Ibu dengar sendiri β€” shower-nya berhenti. Ibu membebaskan dia. Itu yang penting sekarang.”

Bu Sarmi menatapnya lama. Lalu mengangguk β€” kecil, rapuh. Tapi matanya masih kosong, menatap ke arah pintu kamar seolah bisa menembus sampai ke tangga, sampai ke lorong lantai dua, sampai ke kamar tujuh.

Malam itu mereka tidak tidur. Mereka duduk di kamar Dimas yang sempit β€” empat orang, satu lampu belajar, dan keheningan yang terasa seperti menunggu.

Pukul satu dini hari, panggilan itu dimulai.

Awalnya Dimas mengira dia menghayal. Suara itu datang dari luar jendela β€” lembut, jauh, hampir tenggelam dalam dengung malam: “Dimas...”

Dia menegakkan badan. Sari langsung menatapnya, menggeleng cepat. Jangan jawab.

“Dimas...” Suara itu lagi β€” dan kali ini Dimas mengenalinya. Itu suara Bu Sarmi. Bu Sarmi yang duduk dua meter darinya, yang bibirnya tertutup rapat, yang menatapnya dengan mata membelalak ngeri. Suara dari luar jendela itu memakai suara Bu Sarmi.

“Jangan,” bisik Sari. “Itu bukan dia. Itu caranya.”

Lalu giliran Sari. Dari arah pintu: suara seorang perempuan tua, bergetar, memanggil dengan bahasa Jawa halus: “Nduk Sari... Nduk...” Wajah Sari runtuh seketika. “Nek...” bisiknya. “Itu suara nenekku.” Tangannya terangkat β€” setengah jalan ke arah pintu β€” sebelum Dimas menangkap pergelangan tangannya.

“Jangan, Sar. Nenekmu di kampung. Itu bukan dia.”

Sari menarik tangannya kembali seperti tersengat. Dia memeluk lututnya, tasbih neneknya digenggam sampai buku-buku jarinya memutih, bibirnya komat-kamit membaca doa.

Fajar yang paling parah. Pukul dua, suara dari ventilasi β€” suara perempuan paruh baya, hangat, yang memanggil: “Jar... Fajar... pulang, Nak...” Fajar berdiri. Matanya kosong. “Ibu?” bisiknya, dan dia melangkah ke arah ventilasi seperti orang berjalan dalam tidur.

Dimas dan Sari serentak menahannya. “Jar! Itu bukan ibumu! Ibumu di Surabaya!”

“Tapi suaranya...” Fajar meronta, air matanya mengalir. “Itu persis suara ibuku, Dim...”

“ITU BUKAN IBUMU!” Dimas mengguncang bahunya. “Dengar aku. Dia pakai suara orang yang kita sayang biar kita nyahut. Kalau kamu jawab, dia ambil kamu. Paham?”

Fajar menatapnya β€” dan perlahan, kesadarannya kembali. Dia mundur dari ventilasi, duduk di lantai, dan menangis tanpa suara, bahunya terguncang.

Bu Sarmi tidak dipanggil dengan suara orang lain. Dia dipanggil dengan suaranya sendiri β€” atau lebih tepatnya, dengan suara Nisa.

“Bu...” Suara kecil dari balik pintu kamar Dimas, diiringi ketukan pelan yang sangat mereka kenal: tok. Tok. Tok. “Bu... Ibu janji naik...”

Bu Sarmi berdiri. Wajahnya berubah β€” kekosongan tadi pecah, digantikan sesuatu yang mentah dan putus asa. “Nisa?” bisiknya. “Nduk?”

“BU, JANGAN!” Tiga suara serentak. Dimas melompat, menahan bahu Bu Sarmi. “Nisa sudah pergi! Ibu sendiri yang membebaskan dia! Itu bukan Nisa!”

“Tapi dia manggil aku...” Bu Sarmi meronta, tenaganya mengejutkan untuk perempuan setua itu. “Anakku manggil aku, Dimas!”

“ITU BUKAN ANAKMU!” Dimas membentaknya β€” dan langsung menyesal melihat wajah Bu Sarmi yang hancur. Dia melunakkan suaranya. “Bu... Nisa sudah tenang. Yang di luar itu pakai suaranya. Kalau Ibu jawab, tujuh tahun Ibu nunggu jadi sia-sia. Nisa enggak mau itu.”

Bu Sarmi menatapnya. Napasnya tersengal. Lalu β€” perlahan β€” dia duduk kembali. Tapi dia tidak berhenti menatap pintu. Dan Dimas melihat bibirnya bergerak β€” tanpa suara β€” membentuk satu kata, berulang-ulang.

Dia tidak tahu kata apa. Dia takut menebak.

Menjelang subuh, panggilan itu berhenti. Bukan melemah β€” berhenti, seperti sebelumnya. Dan dalam keheningan yang tiba-tiba itu, mereka mendengar azan dari musala ujung jalan. Tidak pernah dalam hidupnya Dimas merasa begitu bersyukur mendengar suara azan.

Mereka keluar kamar saat langit mulai terang. Kos itu tampak normal β€” terlalu normal, seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi garis garam di ambang pintu kamar Dimas terputus di satu titik β€” terhapus sebagian, seperti terseret sesuatu.

Dimas tidak mau memikirkannya.

“Bu Sarmi mau istirahat di kamarnya,” kata Sari. “Aku temenin.”

Kamar Bu Sarmi di lantai satu bagian belakang, dekat dapur. Mereka mengantarnya, memastikan garis garam di ambangnya utuh, dan Sari berjanji tidak akan meninggalkannya. Dimas dan Fajar naik ke lantai dua β€” untuk memastikan.

Lorong lantai dua terang oleh cahaya pagi. Pintu-pintu kamar tertutup. Semuanya tampak biasa saja. Sampai mereka sampai di ujung lorong.

Pintu kamar tujuh terbuka.

Bukan terbuka sedikit. Terbuka lebar β€” menganga seperti mulut. Dan di depannya, terlipat rapi dengan lipatan tajam seperti baru disetrika, tergeletak mukena putih milik Bu Sarmi.

Dimas menatap Fajar. Fajar menatap Dimas.

“Bu Sarmi pakai mukena tadi malam,” bisik Fajar. “Waktu kita turun, dia masih pakaiβ€””

Dari dalam kamar tujuh yang terbuka itu, terdengar suara shower menyala.

Dan di bawahnya β€” samar, hampir tidak terdengar β€” senandung perempuan.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!