β€Ή
54. Halaman Terakhir

Halaman Terakhir

Kos Nomor 13 β€’ 1,371 kata

Ilustrasi Halaman Terakhir

Keesokan paginya, Ustadz Mahmud datang ke kos. Saya belum bercerita apa pun kepada siapa pun β€” Fajar dan Sari pun belum saya ajak bicara soal semalam; kami sarapan dalam diam yang aneh, seperti tiga orang yang sama-sama tahu tapi tidak berani mulai duluan. Tapi Ustadz Mahmud duduk di teras dengan buku catatan tuanya, menatap wajah saya lama, dan berkata:

"Wajah kamu yang cerita, Nak."

Saya menceritakan semuanya. Mimpi tentang sumur dan ketukan dari bawah air. Bel Sari yang berbisik napas anak tidur. Gambar crayon segar di bibir sumur. Dan β€” dengan suara yang masih gemetar meski matahari sudah tinggi β€” ketukan dua kali dari dalam dinding kamar saya, tepat jam tiga pagi.

Ustadz Mahmud mendengarkan tanpa menyela. Tangannya mengelus sampul buku catatan tua itu β€” pelan, seperti menenangkan sesuatu. Ketika saya selesai, ia membuka buku itu. Lembar demi lembar ia balik β€” tulisan tangan rapat tiga puluh tahun, tanggal-tanggal tua, nama-nama yang sudah lama meninggal β€” sampai ke halaman terakhir.

Halaman yang selama ini kosong.

"Tiga puluh tahun halaman ini kosong, Dimas," katanya pelan. "Setiap malam sebelum tidur saya buka. Tiga puluh tahun. Kosong."

Halaman itu tidak kosong lagi.

Di tengah halaman, ada tulisan. Tulisan tangan kecil, goyang, seperti anak SD kelas satu yang baru belajar menulis β€” huruf-hurufnya miring ke sana kemari, beberapa menabrak satu sama lain. Tintanya terlihat baru. Terlalu baru. Seperti ditulis... tadi malam.

Saya membaca tulisan itu, dan tangan saya mulai gemetar.

"BANG. DI SINI DINGIN. DONGENGNYA HABIS."

"Kemarin malam belum ada," kata Ustadz Mahmud. Suaranya tetap tenang, tapi saya melihat jemarinya meremas sampul buku itu lebih erat. "Saya cek setiap malam. Tiga puluh tahun saya cek, tidak pernah ada apa-apa. Tadi Subuh saya buka β€” sudah ada."

Saya menatap tulisan itu. "Bang". "Dingin". "Dongengnya habis". Tiga kalimat pendek yang membuat seluruh tubuh saya dingin meski matahari pagi menyengat teras.

"Ustadz," suara saya serak. "Apa artinya? Dia... bangun?"

"Belum." Ustadz Mahmud menutup buku itu perlahan. "Tapi dia bermimpi, Dimas. Dan mimpinya... bocor."

Ia menatap ke arah halaman belakang β€” ke arah sumur tua yang tidak terlihat dari teras, tapi kami berdua tahu ada di sana.

"Sumur itu tempat tipis, Nak. Batas antara dunia yang terjaga dan dunia mimpi di sana tipis seperti kulit ari. Tidur yang nyenyak pun bermimpi β€” dan mimpi yang kuat bisa merembes keluar, seperti air merembes dari tempayan yang retak." Ia menghitung dengan jarinya. "Napas tidur yang didengar Sari di belnya β€” itu mimpinya. Coretan di bibir sumur β€” itu mimpinya. Ketukan dari dalam dinding kamarmu β€”" ia menatap saya lurus-lurus, "ia mengetuk dari dalam mimpinya, Dimas. Dan mimpinya bocor ke dinding kamarmu. Dinding kamarmu... dekat dengan sumur, Nak. Pipa-pipa tua, tanah yang sama. Retakannya merambat lewat sana."

Saya meremas lutut sendiri. "Tapi kenapa sekarang? Kenapa tidak dari dulu?"

"Karena dulu ia tidak tidur." Ustadz tersenyum tipis β€” senyum yang sedih. "Yang terjaga tidak bermimpi, Dimas. Baru sekarang β€” setelah dongeng terakhirmu β€” ia tidur. Dan yang tidur... bermimpi."

Lalu senyum itu hilang.

"Masalahnya, Nak: yang kedinginan dalam mimpi akan terbangun. Dingin membangunkan lebih cepat daripada lapar. Lapar bisa ditahan β€” perut bisa dibujuk. Dingin tidak. Dingin merambat ke tulang." Ia membuka kembali buku itu, menatap tulisan goyang di halaman terakhir. "'Di sini dingin.' Itu bukan keluhan, Dimas. Itu peringatan."

Tenggorokan saya kering. "Kalau ia terbangun..."

"Jangan pikirkan itu dulu." Ustadz meletakkan tangannya di bahu saya β€” berat, hangat, mantap. "Pikirkan ini: ia tidak minta dibangunkan. Ia minta dongeng. 'Dongengnya habis.' Ia kedinginan karena cerita-ceritamu sudah habis diputar. Ia butuh yang baru β€” tapi kamu tidak bisa lagi duduk di depan pintu kamar 7. Pintu itu sudah tutup. Dan harus tetap tutup."

"Lalu saya harus bagaimana?"

Ustadz Mahmud diam lama. Di kejauhan, tukang sayur lewat sambil membunyikan bel sepedanya β€” bunyi yang normal, bunyi dunia yang tidak tahu apa-apa. Akhirnya ia berkata:

"Kamu masuk ke dalam mimpinya."

Saya menatapnya. "Masuk... ke mimpi?"

"Kamu sudah pernah masuk, Dimas." Matanya menatap saya dalam-dalam. "Setiap malam, selama lima belas malam, lewat cerita. Ceritamu adalah jalan yang kamu bangun sendiri β€” bata demi bata, dongeng demi dongeng β€” dari kamarmu sampai ke dasar sumur. Sekarang kamu tinggal berjalan di atasnya." Ia menepuk buku catatan itu. "Ibu Lastri tidak pernah bisa masuk β€” ia hanya bisa memanggil dari bibir sumur. Tapi kamu... mimpinya terbuat dari dongengmu, Nak. Hanya penceritanya yang bisa masuk tanpa tersesat. Orang lain akan tenggelam."

Saya menelan ludah. "Caranya?"

"Malam ini. Tidur sebelum jam tiga β€” jangan tunggu sampai jamnya tiba, dahului ia. Pegang bel Sari." Ia melirik ke arah kamar Sari. "Benda itu hangat karena terhubung dengannya. Ia akan menjadi jangkar β€” penanda bahwa kamu datang sebagai tamu, bukan sebagai penghuni." Ia merogoh sakunya, mengeluarkan kantong plastik kecil berisi garam. "Garam di empat sudut ranjangmu. Bukan untuk mengurung dia β€” untuk menandai jalan pulangmu. Agar kamu tahu mana jalan kembali."

Ia mengeluarkan selembar kertas terlipat kecil, sudah menguning di tepinya. "Selipkan di bawah bantal. Baca dalam hati sebelum tidur."

"Terus?"

"Terus berniat." Ustadz menatap saya tajam. "Niatkan: aku berkunjung, bukan tinggal. Aku pulang sebelum Subuh. Niat adalah kunci dan gemboknya, Dimas. Jangan main-main dengan niat."

Ia berdiri, bersiap pergi. Tapi di anak tangga teras, ia berhenti β€” seperti dulu, malam sebelum dongeng terakhir.

"Tiga aturan," katanya tanpa menoleh. "Dengarkan baik-baik, karena tidak ada aturan keempat."

"Pertama: jangan makan atau minum apa pun yang ditawarkan di sana. Apa pun. Makanan mimpi mengikat. Sekali kamu telan, kamu menjadi bagian dari mimpi itu."

"Kedua: kalau ia memanggilmu dengan suaramu sendiri β€” jangan jawab. Diam. Tunggu sampai ia memakai suaranya sendiri. Suaramu adalah milikmu. Jangan serahkan."

"Ketiga β€”" ia akhirnya menoleh, dan wajahnya... saya belum pernah melihat Ustadz Mahmud setegang itu, "keluar sebelum azan Subuh. Kalau azan berkumandang dan kamu masih di dalam..." Ia berhenti. Menarik napas. "Yang terbangun bersama tidak selalu pulang sendiri-sendiri, Dimas."

Ia pergi, meninggalkan saya di teras dengan kantong garam, kertas doa, dan halaman terakhir yang kini bertuliskan permintaan tolong.

Siang itu saya bicara dengan Sari. Ia meminjamkan belnya tanpa banyak tanya β€” hanya menatap saya lama, lalu mengaitkan tali bel itu ke pergelangan tangan saya sendiri, mengencangkannya seperti ibu memasangkan jimat ke anaknya yang mau pergi jauh.

"Jaga dia ya, Mas," bisiknya.

Saya menggeleng pelan. "Jaga kalian berdua. Dia... dan saya."

Sari tersenyum sambil menangis β€” ia makin pandai melakukan keduanya bersamaan akhir-akhir ini.

Sore harinya Fajar menabur garam di empat sudut ranjang saya dengan wajah serius yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Parang kecilnya ia letakkan di samping bantal saya β€” "bukan buat dia," katanya cepat sebelum saya protes, "buat jaga-jaga kalau ada apa-apa di dunia nyata. Lu tidur, gue jaga." Ia menatap saya. "Lu ngorok aneh-aneh, gue bangunin. Lu keringetan dingin, gue bangunin. Lu..." ia berhenti, "lu jangan lama-lama, Dim."

Bu Sarmi tidak banyak bicara. Ia hanya memeluk saya lama di dapur β€” pelukan yang sama seperti malam sebelum dongeng terakhir β€” dan membisikkan doa yang tidak saya mengerti artinya tapi saya rasakan hangatnya sampai ke tulang.

Malam itu, jam dua kurang sepuluh, saya berbaring di ranjang yang empat sudutnya sudah ditaburi garam. Bel Sari melingkar di pergelangan tangan kanan saya β€” hangat, seperti baru saja dipegang seseorang. Kertas doa Ustadz terselip di bawah bantal. Fajar duduk di kursi di sudut kamar, parang di pangkuan, mata mengawasi saya seperti elang.

Saya memejamkan mata.

Saya membaca doa itu dalam hati β€” kata demi kata, perlahan.

Lalu saya berniat, sejelas-jelasnya, seperti mengucapkan janji di depan saksi:

Aku berkunjung, bukan tinggal. Aku datang membawa dongeng. Aku pulang sebelum Subuh.

Saya memejamkan mata lebih dalam β€” dan jatuh.

Bukan ke dalam tidur. Bukan ke dalam mimpi.

Ke dalam sumur.

Airnya dingin. Gelapnya lembut seperti selimut yang basah. Saya tenggelam perlahan, tanpa takut, tanpa sesak β€” seperti pulang ke tempat yang sudah lama menunggu.

Dan dari jauh di bawah β€” sangat jauh, dari kedalaman yang tidak punya dasar β€” saya mendengar suara kecil memanggil.

Dengan suara saya sendiri:

"Abang...?"

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!