β€Ή
19. Nama yang Ketujuh

Nama yang Ketujuh

Kos Nomor 13 β€’ 1,292 kata

Ilustrasi Nama yang Ketujuh

Kami memutuskan melakukannya malam itu juga.

Pagi harinya aku menunjukkan kelopak melati itu kepada Fajar dan Sari β€” masih segar, masih basah, padahal sudah kugeletakkan di atas meja sejak jam tiga pagi. Sari langsung pucat. Fajar mengumpat pelan dan panjang, lalu duduk.

"Kita nggak bisa nunggu besok-besok," kata Sari, suaranya tegang. "Mbak Rina mimpi lagi semalam. Katanya perempuannya makin dekat. Tadi malam dia duduk di tepi kasur Mbak Rina. Ngedeketin."

Bu Sarmi β€” yang mendengarkan dari kursinya di sudut ruang tengah β€” tiba-tiba menulis dengan cepat di buku catatannya, lalu menyodorkannya padaku dengan mantap:

"Aku ikut. Malam ini. Aku yang mulai semua ini β€” aku yang selesaiin."

Kami menyiapkan semuanya sore itu dalam diam yang tegang. Garam β€” sekantong besar dibeli Fajar dari warung Madura, sampai tukang warungnya menatap aneh. Daftar enam nama ditulis Sari di kertas folio, rapi, dengan tahun di samping setiap nama. Tape recorder kami tinggalkan di kamar tujuh β€” Fajar bilang dia tidak mau benda itu ada di dekatnya malam ini, dan sejujurnya aku setuju sepenuhnya.

Lewat tengah malam β€” jam setengah satu, saat kos sudah sepi dan hanya suara jangkrik yang tersisa β€” kami berjalan ke halaman belakang. Sumur itu berdiri di sana dalam gelap, tutup kayunya rapat seperti sejak subuh malam ritual itu. Tidak ada bau melati. Tidak ada suara aneh. Hanya bau tanah basah, rumput malam, dan sesuatu yang dingin di udara yang membuat napasku berasap tipis.

Kami membuat lingkaran garam mengelilingi sumur β€” lingkaran besar, cukup untuk kami berempat berdiri di dalamnya. Bu Sarmi yang menaburkannya sendiri, pelan-pelan, dengan tangan yang masih gemetar tapi pasti, tidak ada sebutir pun yang putus. Lalu dia duduk bersila di dalam lingkaran, menatap sumur itu lurus-lurus, dan mengangguk padaku. Anggukan seorang ibu yang sudah membayar mahal dan tidak mau bayarannya sia-sia.

Giliranku. Kertas daftar nama itu terasa berat seperti batu di tanganku yang berkeringat.

Aku menarik napas panjang. Bau tanah basah memenuhi paru-paruku, dingin dan bersih.

"Minah," kataku, jelas dan pelan, ke arah sumur yang tertutup itu. "Pulang."

Hening. Satu detik. Dua detik.

Lalu β€” dari dalam sumur yang tertutup rapat itu β€” terdengar: tes. Satu tetes. Pelan. Jelas. Seperti jawaban.

Udara di sekeliling kami terasa... sedikit lebih ringan. Seperti ada yang menghela napas lega setelah menahannya puluhan tahun.

"Yuni." Suaraku lebih mantap sekarang. "Pulang."

Tes.

"Ratna. Pulang."

Tes.

"Wulan. Pulang."

Tes.

"Tari. Pulang."

Tes.

Lima tetes. Lima nama. Lima kelegaan yang tidak terlihat tapi terasa nyata β€” seperti tali-tali tak kasatmata yang putus satu per satu di udara malam, seperti beban yang diangkat dari bahu dunia.

Tinggal satu nama. Tanganku berkeringat sampai kertas folio itu lemas dan hampir robek.

Aku menatap Bu Sarmi. Dia mengangguk β€” matanya basah berkilau kena cahaya bulan, tapi anggukannya mantap dan tidak ragu.

"Nisa," kataku β€” dan suaraku pecah di tengah nama itu. Aku mengulang, memaksa: "Nisa. Pulang."

Hening.

Tidak ada tetesan. Tidak ada jawaban. Hanya jangkrik β€” yang tiba-tiba juga diam, serempak, seperti dimatikan.

Lalu tutup kayu sumur itu BERGETAR.

Bukan bergeser β€” bergetar, seperti ada yang mengetuknya dari dalam dengan buku-buku jari. Pelan dulu, lalu makin keras. Duk. Duk. Duk. Tetesan air mulai terdengar β€” bukan satu, tapi banyak, seperti hujan kecil yang turun di dalam sumur. Dan bau melati muncul samar di udara β€” tapi kali ini tidak busuk. Bersih. Segar. Seperti melati yang baru dipetik dari pohonnya.

"Nisa?" bisik Sari, suaranya hampir hilang.

Dan dari dalam sumur β€” bukan dari kaset, bukan dari rekaman, tapi LANGSUNG, hidup, bergema pelan dari kegelapan di bawah tutup kayu itu β€” terdengar suara Nisa.

"Jangan."

Kami membeku. Fajar mencengkeram bahuku.

"Aku dengar kalian," suara itu melanjutkan, jernih dan dekat, seperti dia berdiri tepat di bawah kami, hanya terpisah papan kayu. "Makasih. Beneran, makasih. Lima-limanya udah pergi. Aku yang ngelepasin mereka barusan β€” aku denger kalian nyebut nama mereka satu-satu, dan aku... aku bukain jalannya buat mereka."

Fajar berbisik, suaranya pecah: "Terus lu? Lu ikut pulang dong? Sekarang giliran lu?"

Hening panjang. Bunyi tetesan melambat, satu per satu, seperti ragu.

"Aku nggak bisa," kata Nisa akhirnya, pelan sekali. "Dimas... kalian pikir sumur ini cuma kuburannya Lasmi. Bukan." Suaranya bergetar, tapi tidak takut β€” terdengar... pasrah dan teguh. "Sumur ini pintunya. Dari dulu, sebelum Lasmi. Lasmi cuma yang pertama jatuh β€” dan waktu dia jatuh, dia ngebuka pintunya sedikit. Empat puluh tiga tahun dia bikin pintunya makin lebar, pakai nama-nama itu sebagai ganjal. Kalau aku pergi sekarang... nggak ada yang nahan pintunya. Nggak ada yang nutup dari dalam."

Perutku mual sampai aku harus menelan ludah berkali-kali. "Maksud lu... ada yang lain di bawah sana?"

"Aku bukan korban lagi, Dimas. Aku penjaga sekarang." Jeda panjang, hanya tetesan air. "Tujuh tahun aku nahan Lasmi biar dia nggak narik siapa-siapa. Sekarang... giliran aku nahan yang di bawah. Ada yang di bawah sana. Yang lebih tua dari Lasmi. Yang lebih lapar. Yang nunggu pintunya kebuka lebar."

Bu Sarmi tiba-tiba menulis dengan panik di bukunya, kertasnya sampai robek tertusuk pulpen, lalu menyodorkannya padaku dengan tangan yang gemetar hebat:

"JANGAN. BIAR AKU YANG GANTIIN. AKU UDAH TUA."

"BU, JANGAN!" Aku menahan tangannya dengan kedua tanganku. "Inget aturannya! Nama itu tali dua arah! Kalau Ibu nawarin diri jadi pengganti, Ibu keikat ke sana! Ibu udah bayar, Bu β€” Ibu udah lunas! Jangan bikin bayaran Ibu sia-sia!"

Bu Sarmi menangis tanpa suara, bahunya berguncang hebat. Dia menulis lagi, tintanya belepotan air mata sampai hampir tidak terbaca:

"dia masih anak-anak. harusnya aku."

"Dia yang milih, Bu," kataku, dan suaraku sendiri hampir tidak kukenali β€” serak dan berat. "Dari tujuh tahun lalu, waktu dia teriak 'ambil aku' di tangga itu... dia yang milih. Kita nggak bisa ngambil pilihannya."

Dari dalam sumur, suara Nisa terdengar lagi β€” lebih pelan sekarang, seperti menjauh ke dalam air. "Satu janji. Itu yang aku minta di kaset β€” yang belum sempat aku bilang karena pitanya keburu habis." Tetesan air melambat, menemukan irama yang teratur. "Jangan buka sumur ini. Jangan pernah, apa pun yang terjadi. Jangan sebut namaku lagi setelah malam ini β€” setiap sebutan itu tarikan, setiap tarikan itu pintunya kebuka sedikit." Jeda. "Dan... kalau suatu hari tetesannya berhenti... cari aku. Karena kalau tetesannya berhenti, berarti aku udah nggak kuat nahan."

"Kami janji," kata Sari, menangis tersedu. "Kami janji, Nisa. Sumpah."

"Kami janji," aku mengulang, tenggorokanku tercekat. Fajar mengangguk berkali-kali, tidak bisa mengeluarkan suara.

Tetesan itu melambat... melambat... lalu menemukan irama baru: pelan, teratur, dalam β€” seperti... lagu pengantar tidur. Bau melati bersih itu menguar sekali, lembut, lalu menipis, lalu hilang β€” menyisakan bau tanah basah yang normal dan biasa.

Tutup sumur berhenti bergetar. Hening total. Jangkrik mulai berbunyi lagi, ragu-ragu dulu, lalu normal kembali.

Kami duduk di dalam lingkaran garam sampai lewat jam dua pagi, tidak ada yang mau bergerak duluan, tidak ada yang mau memecah keheningan yang akhirnya terasa damai itu. Akhirnya Bu Sarmi berdiri β€” pelan, dibantu Sari β€” dan kami berjalan masuk dengan kaki yang kebas dan hati yang berat tapi enteng.

Di lantai dua, lorongnya gelap dan sepi. Lampu lorong yang biasanya menyala... mati. Dan saat itulah aku menyadarinya, dan darahku langsung dingin.

Pintu kamar tujuh β€” yang tadi sore kami tinggalkan TERBUKA lebar β€” kini TERTUTUP rapat.

Kami berhenti berempat di tengah lorong. Tidak ada yang bernapas.

"Kita nggak nutup itu," bisik Fajar, suaranya bergetar. "Sumpah demi Tuhan. Gue terakhir keluar dari kamar itu, gue biarin kebuka. Gue inget banget."

Dari dalam kamar tujuh yang tertutup rapat itu, terdengar bunyi yang membuat darahku berhenti mengalir:

Klik.

Tape recorder β€” yang kami tinggalkan di dalam kamar itu β€” menyala sendiri.

Desis pita memenuhi lorong yang sepi. Lalu tetesan air: tes... tes... tes... Lalu suara Nisa, jauh dan memudar, seperti tenggelam perlahan ke dalam air: "...makasih... udah dengerin..."

Lalu hening. Hening yang panjang dan penuh.

Lalu β€” suara baru. Kecil. Basah. Dekat. Sangat dekat, seperti bibirnya menempel di daun pintu dari dalam.

"Dimas."

Sari mencengkeram lenganku sampai sakit. Bu Sarmi berbisik tanpa suara, hanya gerakan bibir: "...jangan jawab."

"Giliranmu," kata suara itu, pelan dan sabar dan mengerikan, "dengerin."

Tes. Tes. Tes.

Gagang pintu kamar tujuh β€” perlahan, sangat perlahan β€” mulai berputar. Dari dalam.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!