β€Ή
42. Dia Bohong

Dia Bohong

Kos Nomor 13 β€’ 1,362 kata

Ilustrasi Dia Bohong

Kunci itu hangat seperti baru saja digenggam seseorang.

Saya duduk di tepi tempat tidur sampai azan Subuh, kaus kaki saya lepas, kunci itu tergeletak di telapak tangan saya. Besi tua, berkarat di ujungnya, dingin β€” tidak, hangat. Hangat yang salah. Benda mati tidak boleh hangat jam empat pagi.

"Abang udah megang kuncinya. Berarti Abang udah janji."

Kata-kata itu mengulang-ulang di kepala saya seperti kaset rusak. Saya tidak pernah janji apa-apa. Saya tidak pernah minta kunci ini. Kunci ini DIBERIKAN pada saya β€” diselipkan, ditandai, dipaksakan. Tapi di dunia mereka, mungkin menerima sama dengan setuju. Mungkin menggenggam sama dengan menandatangani.

Pagi harinya saya mencari Ustadz Mahmud. Beliau duduk di musala kecil ujung gang, sendirian, tasbih kayunya bergerak pelan di antara jari-jarinya. Cahaya pagi masuk dari jendela anyaman bambu, menggores wajahnya yang lelah.

Saya duduk di hadapannya. Dari saku saya, saya mengeluarkan gambar crayon itu β€” yang semalam terselip di bawah pintu kamar saya. Lima figur tongkat: Fajar, Bu Sarmi, Sari, saya, dan Ustadz Mahmud. Tangan sosok hitam menempel di bahu Ustadz. Di bawahnya, huruf goyang: DIA BOHONG.

Saya meletakkannya di antara kami.

"Ustadz," kata saya. "Gambar ini bilang Ustadz bohong. Tentang apa?"

Tasbih itu berhenti bergerak.

Beliau menatap gambar itu lama sekali. Lalu ia memejamkan mata, dan ketika membukanya lagi, ada sesuatu di wajahnya yang membuat dada saya sesak β€” bukan takut. Pasrah.

"Yang menggambar ini," katanya pelan, "ingin kamu tidak percaya padaku. Kalau kamu tidak percaya padaku, kamu sendirian. Kalau kamu sendirian..." ia menghela napas, "kamu lebih gampang diambil."

"Tapi apa Ustadz bohong?"

Hening. Dari luar terdengar anak-anak berangkat sekolah, suara motor, kehidupan normal yang terasa seperti berasal dari planet lain.

"Duduk yang tenang, Nak," kata beliau akhirnya. "Saya ceritakan yang sebenarnya. Yang tidak pernah saya ceritakan ke siapa pun selama tiga puluh tahun."

Beliau bercerita.

Tiga puluh tiga tahun lalu, setelah Lasmi jatuh ke sumur dan jasadnya tidak pernah ditemukan, Ibu Lastri datang kepadanya. Ustadz Mahmud waktu itu masih muda, baru pulang dari pesantren, penuh keyakinan bahwa semua masalah ada jawabannya di kitab.

Ibu Lastri tidak minta didoakan. Ia minta diturunkan.

"Turunkan saya ke sumur itu, Ustadz," katanya. "Anak saya di bawah sana. Sendirian. Gelap. Saya ibunya. Saya harus nemenin dia."

Ustadz muda itu menolak. Tapi Ibu Lastri kembali tiap malam selama sebulan. Tiap malam ia duduk di bibir sumur dan bernyanyi. Dan tiap malam, kata Ustadz, sumur itu menjawab.

"Airnya beriak padahal tidak ada angin, Nak. Kadang terdengar suara anak kecil tertawa dari dalamnya. Bukan Lasmi β€” saya yakin bukan Lasmi. Sesuatu yang sudah lama tinggal di bawah sana, sesuatu yang... memakai kesedihan Ibu Lastri sebagai pintu."

Akhirnya Ustadz Mahmud setuju. Bukan karena ia yakin β€” tapi karena ia takut apa yang akan terjadi kalau Ibu Lastri turun sendiri tanpa doa, tanpa penjagaan.

"Ada cara lama," kata beliau, suaranya bergetar. "Cara yang diajarkan guru saya, yang beliau sendiri bilang jangan dipakai kecuali terpaksa. Sumur yang sudah 'berpenghuni' tidak bisa ditutup cuma dengan papan dan tanah. Ia harus disegel dari dalam. Seseorang harus turun β€” hidup-hidup β€” membawa doa penutup, dan segelnya ditutup di atasnya."

Saya merasa darah saya surut dari wajah.

"Ibu Lastri turun dengan lampu minyak dan tasbihnya. Ia bernyanyi sepanjang jalan turun β€” saya mendengarnya, Nak, suaranya makin jauh, makin jauh, sampai hilang. Lalu kami β€” saya dan Bude β€” menutup mulut sumur itu. Bude cuma mau papan dan tanah. Katanya beton mahal." Beliau tertawa pendek, pahit. "Saya bilang ke orang-orang Ibu Lastri pergi. Meninggal karena sakit. Tidak ada yang tanya lebih jauh. Orang lebih gampang percaya duka daripada percaya pengorbanan."

"Ibu Lastri..." suara saya serak. "Jadi yang 'bernyanyi untuknya'..."

"Ia masih bernyanyi di bawah sana. Tiga puluh tahun. Nyanyiannya yang menahan... yang di bawah. Tapi suaranya makin lemah, Nak. Tiga puluh tahun dalam gelap, siapa yang kuat?" Beliau menatap saya lurus-lurus. "Papan lapuk. Tanah turun. Nyanyian melemah. Dan ia mulai naik lagi. Ia butuh penjaga baru. Ia memilihmu."

"Karena saya yang paling gampang diambil?" tanya saya, getir.

"Karena kamu yang pertama mendengarnya. Malam pertama kamu dengar tetesan air itu β€” ia sudah menandaimu sejak itu."

Saya menatap kunci di tangan saya. "Dan rencana Ustadz β€” beton, tanah, doa, fajar besok β€” itu artinya..."

Beliau tidak menjawab. Tapi diamnya adalah jawaban.

"Saya yang harus turun," kata saya pelan. "Bukan cuma 'masuk ke kamar 7'. Turun. Ke sumur. Dan sumurnya ditutup di atas saya. Seperti Ibu Lastri."

"Nak Dimasβ€”"

"ITU YANG USTADZ SEMBUNYIKAN!" Saya berdiri, suara saya pecah. "Ustadz bilang 'seseorang harus masuk ke kamar 7' β€” Ustadz tidak bilang orang itu tidak akan keluar lagi! Gambar ini benar! Ustadz BOHONG!"

"Karena kalau saya bilang dari awal, kamu akan lari!" Beliau ikut berdiri, untuk pertama kalinya suaranya meninggi. "Dan kalau kamu lari, ia akan mengambil yang lain! Mbak Rina! Mas Yoga! Sari! Ia sudah bisa memakai suaramu, Nak β€” besok ia bisa memakai suara siapa saja! Saya berharap... saya berdoa ada cara lain. Saya belum menemukan. Tapi saya tidak akan menyerah mencari sampai fajar tiba!"

Kami saling menatap, napas tersengal. Di ambang pintu musala, saya melihat bayangan bergerak β€” Fajar. Ia mendengar semuanya. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras.

"Jadi rencananya ngorbanin Dimas," kata Fajar pelan, berbahaya. "Gitu?"

"Fajarβ€”" saya mencoba.

"NGGAK ADA YANG TURUN!" Fajar masuk, menunjuk Ustadz. "Kita cari cara lain! Kita panggil orang pintar yang lain, kitaβ€”"

"Tidak ada cara lain yang saya tahu, Nak," kata Ustadz Mahmud lelah. "Tiga puluh tahun saya mencari. Kalau ada, Ibu Lastri tidak perlu turun."

Hari itu kos terasa seperti rumah yang menunggu vonis. Sari tidak melepaskan belnya sedetik pun. Bu Sarmi bolak-balik membuat teh yang tidak diminum siapa pun. Mbak Rina mengunci kamarnya dan tidak keluar. Mas Yoga β€” yang kemarin melihat anak bergaun di koridor β€” memindahkan kasurnya ke ruang depan dan tidur di sana siang-siang bolong.

Saya menyembunyikan satu hal dari mereka semua: bekas tangan di pergelangan kaki saya mulai merambat. Pagi ini cuma lingkaran basah. Sore ini, samar-samar, saya bisa melihat lima titik jari kecil merayap naik ke arah betis saya. Seperti tanaman. Seperti akar.

Dan setiap kali saya menyentuhnya, saya mendengar hitungan itu. "Satu... dua... tiga..." Makin jelas. Makin dekat.

Menjelang tengah malam, saya tidak tahan lagi. Saya harus melihat. Saya harus tahu apa yang menunggu saya di balik pintu itu β€” kalau-kalau, kalau-kalau ada celah, kalau-kalau saya bisa menemukan cara lain sebelum fajar.

Saya berjalan ke koridor dengan senter, kunci itu di kaus kaki saya berdenyut hangat. Pintu kamar 7 gelap, diam, seperti selalu. Tidak ada lubang kunci β€” kunci aslinya sudah lama hilang.

Saya berdiri di depannya. Bau pisang goreng gosong merembes dari bawah pintu, tipis.

"Kalau kamu dengar saya," bisik saya, "kasih saya jalan lain. Saya mohon."

Hening. Lalu, dari dalam β€” dari bawah lantai kamar itu β€” senandung itu terdengar lagi. Nina bobo. Tapi kali ini... kali ini ada suara perempuan yang berbicara di sela-selanya. Lelah. Tua. Penuh kasih.

"Nak... jangan turun. Biar Ibu saja yang di sini. Ibu sudah biasa gelap. Kamu masih muda. Kamu pulang saja, Nak. Pulang."

Air mata saya jatuh tanpa aba-aba. "Ibu Lastri?"

"Ibu tidak kuat lama lagi, Nak. Tapi jangan kamu yang ganti. Jangan..."

Senandung itu terputus. Seperti kaset yang diputus paksa.

Dan suara lain mengambil alih. Suara anak kecil β€” dilapisi suara saya sendiri, dua suara dalam satu mulut:

"Ibu Lastri sudah capek, Bang. Tiga puluh tahun nyanyi terus. Tenggorokannya udah berdarah, Bang. Gantian, Bang. Gantian."

Lalu β€” dari DALAM kamar 7 β€” terdengar bunyi kunci berputar di lubang kunci.

Klik.

Saya mundur selangkah. Tidak ada lubang kunci di pintu ini. Tidak ada kunci. Tapi saya mendengarnya lagi. Klik. Krek.

Pintu kamar 7 β€” yang terkunci tanpa kunci β€” mulai terbuka sendiri. Pelan. Satu senti. Dua senti.

Kegelapan di dalamnya pekat seperti air sumur. Bau pisang goreng gosong menerjang keluar, tebal sampai saya terbatuk.

Dan di lantai koridor, di depan kaki saya, jejak-jejak kaki basah kecil mulai muncul satu per satu. Berpasangan. Berjejer.

Keluar dari kamar itu.

Mendekat ke arah saya.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!