Suara Tegar dari Kamar 7
Kos Nomor 13 β’ 1,225 kata
Suara itu tidak menunggu jawaban saya, tapi pertanyaan itu tinggal di kamar saya sepanjang malam, seperti tamu yang tidak pulang-pulang. "Besok, giliran siapa yang bercerita?" Saya mengulang kalimat itu dalam kepala sampai ia kehilangan bentuknya dan tinggal artinya saja: antrean itu tidak puas dengan satu cerita. Ia selalu menanyakan giliran berikutnya. Saya sudah memberi cerita tentang penjaga pintu, lalu cerita tentang diri saya sendiri, dan tetap saja ada pertanyaan yang sama, diajukan dengan suara saya sendiri dari balik pintu kamar 7.
Pagi harinya saya membuka buku catatan saya sebelum melakukan apa pun. Halaman tentang malam lampu padam itu masih ada, tulisan tangan saya masih bisa dibaca, tapi ada yang berbeda. Beberapa kata tampak lebih pudar daripada kata lainnya, seolah tinta itu sudah lama ditulis dan sebagian sudah menguap. Kata "selimut" masih jelas. Kata "gema" nyaris hilang. Saya mengusap halaman itu dengan jari, berharap pudarnya hanya karena lampu kamar yang redup, tapi di bawah cahaya pagi yang masuk dari jendela, halaman itu tetap saja seperti itu: setengah cerita, setengah bayangan cerita. Saya menutup buku itu pelan-pelan. Saya tidak berani menulis ulang apa yang memudar. Menulis ulang kenangan yang sudah diserahkan ke sumur rasanya seperti mencoba mengambil kembali barang yang sudah diberikan dengan tangan sendiri. Lagi pula, saya tidak yakin tulisan ulang itu akan sama. Kenangan yang sudah diceritakan dari sisi lain tampaknya kembali dalam bentuk yang sedikit berbeda setiap kali, seperti cerita yang disalin dari mulut ke mulut: intinya sama, detailnya bergeser, dan pada akhirnya tidak ada yang bisa memastikan versi mana yang asli.
Siang itu saya pergi ke warung depan dengan alasan membeli air, padahal alasan sebenarnya adalah saya ingin berada di tempat yang ramai. Di warung, orang-orang berbicara tentang harga, tentang hujan yang belum juga turun, tentang motor yang mogok di tikungan. Tidak ada yang berbicara tentang kamar 7 atau sumur atau antrean. Saya duduk agak lama, menyeruput es yang sudah mencair, dan memperhatikan Tegar yang membantu mengangkat kardus dari belakang warung. Ia bekerja dengan cekatan, sesekali menyeka keringat dengan ujung kausnya. Ketika ia melihat saya, ia melambaikan tangan dan tersenyum, seperti anak yang tidak menyimpan apa-apa di kepalanya selain tugas hari itu. Saya membalas lambaian itu, dan sesaat saya berharap hidup saya sesederhana itu: angkat kardus, antar belanjaan, pulang sebelum magrib.
Dalam perjalanan kembali, di lorong kos, ibu kos menyapa saya dan bertanya dengan nada yang dibuat ringan, apakah semalam saya mendengar anak kecil di lorong. Saya menjawab hati-hati, bahwa saya mendengar sesuatu, tapi tidak yakin apa. Ibu kos mengangguk, lalu berkata bahwa cucunya yang menginap di rumah sebelah juga bertanya hal yang sama pagi tadi: kenapa ada anak kecil bercerita di lorong kos padahal kos ini tidak punya penghuni anak kecil. Ia tertawa kecil setelah mengatakannya, tawa orang yang ingin percaya bahwa semua itu hanya mimpi yang kebetulan dialami banyak orang. Saya ikut tertawa, tapi di dalam kepala saya, potongan baru itu jatuh ke tempatnya dengan bunyi yang tidak enak. Suara itu tidak lagi hanya datang kepada saya. Ia mulai terdengar oleh orang lain, dan pertanyaan tentang giliran berikutnya mungkin bukan hanya ditujukan kepada saya, melainkan kepada siapa pun yang cukup dekat untuk mendengarnya. Antrean itu sedang mencari telinga baru, dan ia tidak lagi malu-malu.
Saya tidak mengatakan apa-apa lagi kepada ibu kos. Saya hanya mengangguk dan melanjutkan langkah ke kamar, sambil memikirkan satu hal yang tidak bisa saya elakkan: kalau antrean itu menemukan pendengarnya sendiri, tanpa saya yang mengatur, ceritanya bisa sampai kepada siapa saja, termasuk anak-anak yang tidak mengerti aturan kos ini. Dan cerita yang diceritakan tanpa mengerti aturan, di tempat ini, bisa menjadi pintu yang terbuka tanpa penjaga. Pikiran itu membuat langkah saya lebih cepat, bukan karena saya takut berjalan di lorong, melainkan karena saya sadar waktu saya untuk menjawab pertanyaan itu tidak sebanyak yang saya kira.
Dalam perjalanan kembali ke kos, saya melewati halaman belakang. Saya tidak berniat berhenti, tapi kaki saya melambat sendiri di dekat sumur. Tutup kayunya rapat, pohon pisang diam, tidak ada yang istimewa. Namun bel di leher saya bergetar pelan, getaran yang sekarang saya kenali sebagai sapaan, bukan peringatan. Saya menunduk, menatap celah di antara papan tutup, dan air di bawah sana memantulkan langit siang yang cerah. Tidak ada lorong. Tidak ada pintu kamar saya. Hanya langit, seperti sumur biasa. Saya mengembuskan napas yang tidak saya sadari saya tahan. Mungkin siang hari memang waktunya sumur beristirahat, atau mungkin sumur hanya menunjukkan apa yang ingin ia tunjukkan kepada siapa pun yang menatapnya pada saat itu.
Sore menjelang, saya duduk di kamar dan mencoba menyusun apa yang saya ketahui, seperti orang yang merapikan potongan kertas di atas meja. Pertama, setiap cerita harus dibayar dengan cerita. Kedua, penjaga tetap di cermin, dan wajah saya tidak boleh dipakai untuk memanggil siapa-siapa. Ketiga, kalau saya berhenti bercerita, anak-anak itu tidak mengetuk kamar 7, melainkan kamar saya. Keempat, cerita yang sudah saya ceritakan di sumur tidak lagi sepenuhnya milik saya. Ia diceritakan kembali dari sisi lain, dari kamar 7, dengan suara saya. Kelima, dan ini yang paling baru, antrean itu bertanya tentang giliran berikutnya. Kalau semua potongan itu disusun, gambarnya menjadi jelas dan tidak menyenangkan: saya bukan satu-satunya pendengar antrean itu, tetapi saya adalah satu-satunya yang selama ini bercerita. Dan antrean yang hanya dilayani oleh satu orang, cepat atau lambat, akan menanyakan siapa lagi yang bisa bercerita.
Saya belum selesai merapikan pikiran itu ketika bel di leher saya berdenting sekali, pelan, seperti seseorang yang menyentuh bel itu dengan ujung jari untuk memastikan saya mendengar. Saya menoleh ke cermin kecil di dinding kamar. Pantulan saya menatap balik dengan tenang. Ia tidak terlambat, tidak tersenyum sendiri, tidak memegang lampu minyak. Ia hanya saya, seperti seharusnya. Tapi di sudut cermin, di tempat yang tidak seharusnya ada apa-apa, saya melihat bayangan api kecil yang tenang, seperti nyala lampu minyak yang berdiri di lorong, jauh di belakang pantulan saya. Saya tidak beranjak dari tempat duduk. Saya hanya berkata, dengan suara pelan, bahwa saya mendengar pertanyaannya, dan saya sedang memikirkan jawabannya.
Api kecil itu tidak bergerak. Tidak ada suara yang menjawab. Setelah beberapa detik, bayangan api itu memudar, dan cermin kembali menjadi cermin biasa. Saya tidak tahu apakah itu jawaban, atau hanya cara sosok itu memastikan saya masih memperhatikan. Yang saya tahu, malam ini saya harus tidur dengan pertanyaan yang belum terjawab, dan di kos ini, pertanyaan yang belum terjawab tidak pernah tidur.
Malam datang dengan cara yang biasa: pintu-pintu ditutup satu per satu, televisi di kamar ujung mengecil suaranya, langkah-langkah di lorong mereda. Saya mengunci pintu, menyalakan lampu, dan berbaring dengan buku terbuka di dada, bukan untuk dibaca, melainkan untuk berjaga-jaga. Sekitar pukul sebelas, ketika kos sudah benar-benar sepi, saya mendengarnya. Bukan ketukan. Bukan suara anak kecil. Melainkan suara saya sendiri, pelan dan jelas, datang dari arah kamar 7, menceritakan kenangan malam lampu padam itu untuk kedua kalinya. Kali ini saya mendengarkan dengan lebih tenang, karena saya sudah tahu apa yang akan diceritakan. Anak kecil yang terbangun di gelap. Panggilan yang tidak dijawab. Selimut yang menutupi kepala sampai pagi.
Cerita itu selesai dengan cara yang sama seperti sebelumnya, tanpa tambahan, tanpa perubahan. Lalu hening. Saya menunggu kalimat penutupnya, kalimat yang semalam membuat darah saya berhenti mengalir. Ia tidak datang. Sebagai gantinya, dari arah yang sama, terdengar suara lain, lebih kecil, lebih ragu, suara yang saya kenali sebagai suara anak yang pernah bertanya di bibir sumur.
Suara Tegar, dari balik pintu kamar 7, bertanya dengan pelan, "Mas, kenapa suara Mas ada di kamar ini?"