Sarapan Pagi yang Dingin
Kos Nomor 13 • 1,541 kata
Pagi itu saya tidak menjawab ketika Bu Sarmi memanggil. “Mas Dimas! Sarapan!” Suaranya melambung dari dapur, ceria dengan cara yang dipaksakan, seperti orang menempelkan plester kecil di atas luka bacok. Saya tetap berdiri di ambang pintu kamar saya — kamar nomor tujuh — dan menatap bantal saya.
Sandal itu masih di sana.
Kecil. Basah. Sandal jepit anak perempuan, warna merahnya sudah pudar dimakan waktu, untuk kaki gadis sembilan belas tahun. Hanya sebelah. Yang kanan. Tadi malam, waktu saya menemukannya, saya pikir saya sedang bermimpi. Sekarang, di bawah cahaya pagi yang abu-abu, dia tetap di sana. Nyata. Menunggu.
“Mas Dimas!”
“I-iya, Bu! Sebentar!” Suara saya keluar serak, seperti bukan suara saya.
Saya melangkah masuk. Lantai kamar saya masih lembap — bukan basah kuyup seperti tadi malam, tapi lembap, seperti kamar yang habis dipel dan tidak pernah kering. Kasur saya masih berat oleh air. Saya mengulurkan tangan ke arah sandal itu, lalu menariknya kembali. Jari-jari saya gemetar.
Bau itu masih ada. Samar, sampai saya tidak yakin hidung saya tidak sedang mengarang: pisang goreng. Minyak panas. Gula aren.
Dia sudah memilih. Malam ini, dia memilihku.
Kalimat itu berputar di kepala saya sejak saya menemukannya. Saya belum menceritakannya kepada siapa pun — tidak kepada Sari, tidak kepada Fajar, tidak kepada Bu Sarmi. Biar saya yang menanggungnya sendiri. Merekalah yang semalam hampir kehilangan saya; saya tidak akan menambah beban mereka pagi ini.
Saya mengambil sandal itu dengan ujung dua jari, seperti memegang sesuatu yang bisa menggigit. Dingin. Basah. Ringan. Saya membungkusnya dengan kaus kaki kotor, lalu menyelipkannya ke dalam ransel saya, di antara buku-buku kuliah yang sudah dua minggu tidak saya buka. Biar dia ikut saya ke mana pun saya pergi hari ini. Setidaknya saya tahu dia ada di mana.
Di dapur, meja makan sudah penuh. Nasi goreng — Bu Sarmi menggorengnya dengan gerakan cepat dan berisik, gerakan orang yang butuh melakukan sesuatu yang normal. Telur dadar. Kerupuk. Teh manis dalam empat gelas yang mengepul. Tidak ada yang menyentuh apa pun.
Kami duduk seperti empat orang asing yang kebetulan selamat dari kecelakaan yang sama. Sari pucat, matanya sembap — dia pasti menangis di kamarnya tadi, sendirian, seperti yang saya duga. Fajar duduk di ujung, menatap kakinya sendiri. Bu Sarmi mondar-mandir antara kompor dan meja, tidak bisa diam.
“Makan,” kata Bu Sarmi. “Kalian harus makan. Nanti malam butuh tenaga.”
Nanti malam. Dua kata itu jatuh di antara kami seperti batu.
Sari mengaduk nasi gorengnya tanpa mengangkatnya ke mulut. “Bu,” katanya pelan, “tadi malam Ibu bilang — Ibu yang kasih dia nama kami.”
Bu Sarmi berhenti. Sodetan di tangannya terkulai.
“Waktu Paijo mati, saya panik,” katanya, dan suaranya yang tadi dipaksakan ceria itu retak. “Saya lari ke sumur. Saya teriak-teriak di sana. Saya manggil nama kalian satu-satu. Dimas! Sari! Fajar! Saya pikir — saya pikir kalau saya kasih tahu dia siapa yang harus dia hindari—” Dia tertawa pendek, tawa yang hancur. “Bodoh. Saya justru kasih dia daftar.”
Tidak ada yang menyalahkannya. Tidak ada gunanya juga.
“Ceritain semuanya, Bu,” kata saya. “Tentang Lasmi. Tentang sumur. Tentang penjaga itu. Kami harus tahu semuanya kalau mau selamat malam ini.”
Bu Sarmi duduk. Bahunya turun, seperti karung yang kehilangan isi. “Lasmi itu teman main saya,” katanya. “Waktu kecil. Dia yang ngajarin saya lagu itu — lagu anak-anak yang dia nyanyiin terus itu. Kami main di kebun pisang belakang kos ini. Kos ini dulu rumah kakek saya.”
“Terus?” Sari mencondongkan badan.
“Waktu dia hilang ke sumur itu, saya umur delapan. Saya ada di sana. Saya lihat dia—” Bu Sarmi berhenti. Matanya menatap kosong ke dinding dapur. “Kakek bilang jangan cerita ke siapa-siapa. Seminggu kemudian sumurnya ditutup. Keluarga kami menjaga diam itu tiga puluh tahun.”
“Jatuh?” tanya Fajar. “Dia jatuh ke sumur?”
Bu Sarmi tidak menjawab. Dia menatap Fajar, lalu menunduk. “Setiap generasi, satu orang harus jadi penjaga. Jaga tutupnya. Jaga jangan sampai ada yang tahu. Saya pikir kalau saya diam, dia juga diam. Saya pikir saya bisa lindungi penghuni kos dengan tidak memberi tahu.” Air matanya jatuh ke meja. “Bodoh. Saya bodoh.”
Saya mencatat yang tidak dia katakan: dia tidak pernah bilang Lasmi jatuh. Dia bilang hilang. Dan dia bilang dia melihat — tapi tidak pernah menyelesaikan kalimatnya.
“Terus kenapa sekarang dia keluar?” tanya Sari.
“Tutupnya sudah tua. Semennya retak. Dan—” Bu Sarmi melirik saya. “Kamar nomor tujuh itu kamar paling dekat dengan sumur. Dulu kamar Lasmi, waktu keluarganya masih tinggal di sini sebelum kos ini dibangun.”
Darah saya berdesir. Kamar saya. Kamar nomor tujuh yang misterius itu — dulunya kamar Lasmi.
“Makanya dia manggil saya terus,” bisik saya. “Makanya dia—” Saya hampir bilang memilih saya, tapi saya menelannya. Belum saatnya.
Fajar berdiri tiba-tiba, kursinya berderit. “Gue nggak bisa. Gue balik ke rumah ortu gue aja. Hari ini juga.”
“Terus kaki lo?” tanya Sari datar.
Fajar menatap kakinya. Kaus kakinya masih bisa diperas — sama seperti kaki saya, sama seperti kaki kami semua. Sudah lewat adzan subuh, sudah lewat pagi, tapi kaki kami tetap basah.
“Dia tahu semua rencana kami,” kata Sari pelan, mengulang kalimat yang semalam kami sepakati dalam diam, “karena kaki kami yang basah adalah kupingnya. Lo kabur, dia dengar. Lo sembunyi, dia dengar. Satu-satunya cara biar dia nggak dengar — kaki kita kering. Dan kaki kita nggak kering-kering.”
Fajar duduk kembali. Pelan. Seperti balon kempes.
“Jadi rencananya apa?” tanyanya.
“Sama seperti semalam,” kata Bu Sarmi. “Kita kumpul di ruang tamu. Semua lampu nyala. Jangan tidur. Jangan menjawab kalau dipanggil. Jangan ambil apa pun darinya. Dia tidak suka cahaya dan keramaian.”
“Dan kita beli persediaan,” tambah Sari. “Lampu cadangan. Kopi yang banyak. Makanan. Kita nggak boleh lapar — tadi malam saya hampir—” Dia melirik saya. “Kita nggak boleh lapar.”
Dia tidak menyelesaikannya, tapi saya tahu maksudnya: tadi malam saya hampir mengambil pisang goreng dari tangan Lasmi karena saya lapar. Bau itu — bau manusiawi yang hangat di tengah teror — hampir membunuh saya.
Siang itu saya dan Fajar pergi ke minimarket. Dunia di luar kos berjalan normal sampai terasa menghina: tukang bakso lewat sambil membunyikan kentongannya, anak-anak pulang sekolah berlari-larian, matahari bersinar seolah tidak terjadi apa-apa. Di dalam minimarket yang ber-AC, saya berdiri lama di depan rak kopi, tidak bisa memutuskan antara kopi tubruk dan kopi instan, sampai Fajar menarik lengan saya.
“Dim. Lo kenapa?”
“Hah? Nggak. Nggak apa-apa.”
Tapi ransel saya terasa lebih berat di bahu kanan. Saya tahu apa yang ada di dalamnya, terbungkus kaus kaki kotor. Saya tidak berani memeriksanya di depan Fajar.
Di kasir, saat Fajar membayar, saya melihat ke luar kaca minimarket. Di seberang jalan, di bawah pohon — sekilas. Rambut panjang basah. Seragam lama. Saya berkedip. Tidak ada siapa-siapa. Hanya tukang parkir yang melambai ke arah saya, menyuruh saya minggir dari pintu.
Jantung saya berdebar sampai di kos.
Sore harinya, Bu Sarmi duduk di teras dengan tasbihnya. Butiran-butirannya berserakan di atas nampan — tasbih itu putus tadi malam, di tengah teror. Dengan sabar dia mulai merangkai ulang, memasukkan benang ke lubang setiap butir. Sari membantu memegangi.
“Nah,” kata Bu Sarmi lega saat butir terakhir masuk. Dia mengikat simpul—
Ctek.
Benangnya putus sendiri. Butiran-butiran berhamburan lagi di atas nampan, beberapa menggelinding jatuh ke lantai teras.
Sunyi.
“Coba lagi, Bu,” kata Sari pelan.
Bu Sarmi merangkai lagi. Tangannya kini gemetar. Butir terakhir masuk. Simpul diikat—
Ctek.
Kali ini Sari yang memungut butiran-butiran itu dengan wajah pucat. “Nanti saja, Bu,” bisiknya. “Kalau sudah pagi.”
Bu Sarmi memasukkan butiran-butiran tasbih itu ke dalam kantong plastik, lalu menyelipkannya ke saku dasternya. Dia tidak berkata apa-apa lagi. Tapi saya melihatnya melirik ke arah sumur di belakang kos — ke arah cor-coran setengah jadi yang retak-retak, tempat air hitam merembes sedikit, pelan, sabar — dan saya tahu dia memikirkan hal yang sama dengan saya: ditunda, bukan dikalahkan.
Menjelang magrib, langit memerah seperti luka. Kami memindahkan semua kasur lipat, bantal, dan selimut ke ruang tamu. Fajar memasang dua lampu sorot tambahan yang kami beli — ruang tamu kini terang benderang seperti lapangan futsal. Sari menyeduh kopi satu termos besar. Bu Sarmi menggoreng pisang — dan kami semua membeku saat baunya naik.
“Bu!” seru saya.
Bu Sarmi mematikan kompor dengan wajah bersalah. “Maaf. Saya nggak mikir. Kebiasaan.” Pisang goreng setengah matang itu dibuangnya ke tempat sampah, dan dia membuka semua jendela dapur sampai baunya hilang. Tidak ada yang menyalahkannya. Tapi tidak ada yang bisa menatap satu sama lain.
“Jaket saya ketinggalan di kamar,” kata saya, berdiri. “Sebentar.”
Koridor menuju kamar nomor tujuh terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu koridor — yang semalam berkedip-kedip — kini mati total. Saya menyalakan senter HP. Cahaya putihnya bergetar di tangan saya.
Pintu kamar saya setengah terbuka. Saya tidak ingat menutupnya atau membukanya.
Jaket saya tergantung di kursi. Saya meraihnya — lalu tangan saya berhenti. Ransel saya tergeletak di lantai, di tempat saya menaruhnya tadi pagi. Resletingnya — terbuka. Padahal tadi pagi saya menutupnya. Saya yakin saya menutupnya.
Pelan-pelan, saya berjongkok dan mengintip ke dalam ransel.
Kaus kaki kotor itu masih di sana. Tapi ringan. Kosong.
Sandal itu tidak ada.
Tenggorokan saya mengering. Saya menoleh — perlahan, seperti dalam mimpi buruk di mana Anda tahu Anda tidak ingin melihat tapi leher Anda bergerak sendiri — ke arah tempat tidur saya.
Di atas bantal saya, sandal itu sudah tidak sendirian.
Kini ada dua. Sepasang. Berjejer rapi, berdampingan, menghadap ke arah saya — seperti menunggu dipakai. Keduanya basah. Yang kanan — yang tadi pagi saya bungkus kaus kaki — dan yang kiri, yang belum pernah saya lihat sebelumnya.
Dan samar, dari entah di mana — mungkin dari dalam dinding, mungkin dari dalam kepala saya sendiri — tercium bau pisang goreng.
Dia mengembalikannya. Sepasang. Untukku.