Tiga Puluh Tahun Lalu
Kos Nomor 13 β’ 1,426 kata
Bu Sarmi menangis sebelum mulai bercerita β dan itu lebih menakutkan daripada nyanyian apapun.
Setelah magrib, kami berkumpul di ruang tamu seperti biasa. Semua lampu menyala. Teh manis panas mengepul di meja β Bu Sarmi yang membuatnya, tangannya gemetar saat menuang. Sari duduk rapat di samping beliau. Fajar di sofa. Saya di lantai, bersandar ke dinding, tasbih masih melilit pergelangan tangan saya.
"Tiga puluh tahun lalu," kata Bu Sarmi, menatap cangkirnya, "saya berumur dua puluh empat. Baru menikah. Kos ini milik mertua saya." Beliau menarik napas panjang. "Kamar 7 disewa keluarga Raharjo. Pak Raharjo kerja di pabrik, istrinya jahit di rumah. Dan anak mereka..." Suaranya pecah. "Lasmi. Umur enam tahun. Anak manis. Giginya ompong satu di depan."
Sari menggenggam tangan Bu Sarmi. Beliau melanjutkan, suaranya bergetar tapi tegas β seperti orang yang sudah tiga puluh tahun menahan cerita ini dan akhirnya jebol juga.
"Saya sering goreng pisang sore-sore. Lasmi suka nongkrong di dapur, nungguin. 'Bu Sarmi, pisangnya udah mateng belum?' Katanya." Bu Sarmi tertawa kecil yang berubah jadi isak. "Makanya... makanya makhluk itu nawarin pisang goreng ke Mas Dimas. Ia pakai kenangan paling bahagia Lasmi sebagai topeng. Ia pakai..." Beliau mengusap air mata. "Ia pakai kemanisan anak itu untuk memancing orang."
Perut saya mual. Tawaran pisang goreng itu β yang dulu terdengar ganjil dan hampir lucu β kini terasa seperti penghinaan terhadap anak kecil yang sudah mati.
"Suatu sore hujan, Lasmi hilang," lanjut Bu Sarmi. "Kami cari ke mana-mana. Sampai malam. Besok paginya, suami saya menemukan... satu sandal kecil di bibir sumur belakang." Beliau menatap saya. "Cuma satu, Mas. Yang sebelahnya tidak pernah ketemu. Sampai... sampai semalam."
Sandal sepasang yang berjejer di bibir sumur tadi malam. Makhluk itu menyimpan sebelahnya selama tiga puluh tahun. Seperti trofi.
"Keluarganya pindah sebulan kemudian. Ibunya... ibunya tidak pernah bicara lagi setelah itu. Mertua saya..." Bu Sarmi mengepalkan tangannya. "Mertua saya bilang: demi nama kos, ini ditutup. Dibilang anak itu tenggelam, laporannya dibuat, tapi tidak ada yang benar-benar menyelidiki. Dan saya..." Air matanya jatuh ke cangkir teh. "Saya diam. Tiga puluh tahun saya diam, Nak. Saya yang gorengkan pisang untuk anak itu tiap sore, dan saya diam saat ia hilang."
Sunyi. Di luar, angin menggesek pohon jambu.
"Penghuni kamar 7 setelah itu tidak pernah betah," kata Bu Sarmi. "Ada yang dengar anak kecil nyanyi tengah malam. Ada yang cium bau pisang goreng jam dua pagi. Ada yang menemukan jejak kaki kecil basah di lantai β padahal tidak hujan. Rata-rata pindah dalam tiga bulan."
"Terus kenapa kamarnya dikunci, Bu?" tanya Fajar pelan.
Bu Sarmi memejamkan mata. "Lima belas tahun lalu. Ada anak santri ngekos di kamar 4. Namanya Harjo. Umur dua puluh dua. Anak baik, rajin, shalatnya tidak pernah telat." Beliau menarik napas. "Suatu malam ia ketuk kamar saya. Katanya: 'Bu, saya mimpi anak kecil nangis di sumur belakang. Saya mau nolong dia.' Saya larang. Saya bilang jangan. Ia cuma senyum." Air mata beliau jatuh lagi. "Besok subuh, tali dan senternya ketemu di bibir sumur. Senternya masih nyala, Bu. Talinya..." Suaranya nyaris tak terdengar. "Talinya terlipat rapi di sampingnya. Seperti dilipat dengan hati-hati oleh seseorang."
Sari merinding sampai ke leher. Saya pun sama. Terlipat rapi. Seperti ucapan terima kasih yang sopan dari sesuatu yang baru saja makan.
"Pagi itu juga saya kunci kamar 7," kata Bu Sarmi. "Lima belas tahun tidak pernah dibuka. Kuncinya..." Beliau merogoh saku mukenanya, mengeluarkan kunci kuningan tua yang kehijauan, tergantung di tali merah yang sudah lusuh. "Selalu saya bawa."
"Bu," kata saya, "tadi Bu bilang makhluk itu tidak sabar. Maksudnya?"
Bu Sarmi menatap kunci di tangannya. "Waktu Harjo hilang, saya panggil seorang kyai sepuh. Beliau bilang: makhluk seperti itu hanya bisa menjamah yang membuka diri." Beliau mengangkat wajah, menatap kami satu-satu. "Yang menjawab panggilannya. Yang menerima tawarannya. Yang melangkah masuk atas kemauan sendiri. Ia tidak bisa memaksa, Nak. Makanya ia terus mengemis β cobain, cobain, masuk, masuk. Selama kita tidak bilang iya, ia tidak bisa menyentuh kita."
"Tapi Sariβ" kata Fajar.
"Sari berjalan sendiri ke sumur dalam tidur," kata Bu Sarmi lembut. "Ia setengah sadar. Itu celahnya." Beliau menatap saya. "Dan Mas Dimas... janji Mas ke Lasmi itu janji yang baik. Tapi ia pintar memutar kata. Jangan pernah bilang 'iya' untuk apapun yang ia minta. Jangan pernah bilang 'masuk' β bahkan dalam hati. Mengerti?"
"Mengerti, Bu."
Sari tiba-tiba bicara, suaranya kecil. "Bu... tadi malam, waktu adzan... ada tangan kecil yang genggam tangan saya. Lembut. Terus dilepas." Ia menatap Bu Sarmi dengan mata berkaca. "Itu Lasmi ya, Bu? Yang asli?"
Bu Sarmi menangis lagi β kali ini sambil tersenyum. "Itu Lasmi, Nak. Tiga puluh tahun di bawah sama makhluk itu, dan dia masih sempat... pamit ke kamu." Beliau mengusap kepala Sari. "Anak itu... anak itu tidak pernah berhenti berusaha menolong orang."
Dada saya sesak. Tiba-tiba semuanya jelas β dengan cara yang menyakitkan. Lasmi yang asli menulis peringatan dengan kukunya dalam gelap. Lasmi yang asli menggenggam tangan Sari untuk pamit. Yang asli selalu memperingatkan dan menolong. Yang palsu selalu mengajak dan menawarkan. Itu pembedanya. Sesederhana itu β dan semematikan itu kalau salah bedakan.
"Kita tidak bisa menunggu terus," kata saya akhirnya. Semua menatap saya. "Dia makin berani. Kemarin cuma nyanyi dari sumur. Tadi malam nyanyi dari kamar 7. Sekarang dia ngetuk-ngetuk. Besok apa? Lusa apa?" Saya menatap kunci kuningan di tangan Bu Sarmi. "Dia maunya saya. 'Bang Dimas' β dia sebut nama saya terus. Jadi..."
"Jangan," kata Fajar cepat. "Gue tahu mau lu ngomong apa. Jangan."
"Kita buka kamar 7," kata saya. "Saya masuk. Kalian jaga dari luar."
"MAS DIMAS!" Bu Sarmi setengah berdiri.
"Dengar dulu, Bu." Saya mencondongkan badan. "Aturannya jelas: dia cuma bisa nyentuh yang membuka diri. Saya tidak akan menjawab ajakannya. Saya tidak akan terima tawarannya. Saya cuma mau... lihat. Cari tahu apa yang Lasmi mau tunjukkan ke kita. Dia nulis peringatan di dinding sumur β mungkin di kamar itu ada petunjuk lain. Sesuatu yang bisa bantu kita keluarin dia."
"Atau sesuatu yang mancing lu masuk perangkap," kata Fajar.
"Makanya pakai tali," kata saya. "Ikat di pinggang saya. Ujungnya kalian pegang. Kalau saya kenapa-napa β kalau saya senyum yang aneh, kalau saya mulai nyanyi β tarik. Tarik sekuatnya."
Perdebatan itu berlangsung hampir satu jam. Fajar menentang keras, lalu menyerah dengan syarat ia yang pegang tali. Sari menangis, lalu menyeka air mata dan bilang ia yang akan awasi wajah saya β "aku tahu bedanya senyum asli dan senyum... yang lain." Bu Sarmi shalat istikharah dulu, lalu kembali dengan wajah pasrah: "Kalau ini jalan yang Allah bukakan... saya baca doa terus. Tidak berhenti. Apapun yang terjadi, saya tidak berhenti."
Persiapan kami sederhana dan menyedihkan: tali tambang bekas ikat barang di motor Fajar, dua senter, kertas-kertas doa tulisan Bu Sarmi untuk ditempel di kusen pintu, dan sebuah bel kecil yang Sari ikatkan ke tali β "kalau belnya bunyi terus-terusan tanpa sebab, artinya tarik."
Fajar menatap saya sambil mengikat simpul. "Lu yakin?"
"Nggak," kata saya jujur. "Tapi Sari hampir jadi Lasmi kedua tadi malam. Gue nggak mau ada Lasmi ketiga."
Fajar mengangguk pelan. "Kalau lu jadi hantu, jangan gentayangan di kamar gue ya. Serem."
"Kalau gue jadi hantu, yang pertama gue hantui itu lu. Biar utang kopi lu lunas."
Kami tertawa β tawa yang dipaksakan, tawa orang-orang yang ketakutan setengah mati tapi tidak punya pilihan lain.
Setelah isya, kami berdiri di depan kamar 7. Koridor terasa lebih sempit dari biasanya. Bu Sarmi menempelkan kertas doa di kusen pintu satu-satu, tangannya gemetar tapi tulisannya tegas. Fajar mengikat tali di pinggang saya β dua simpul, dikencangkan, lalu ujungnya dililitkan ke tiang koridor dan ke pinggangnya sendiri. Sari memegang bel, wajahnya pucat.
Bu Sarmi mengeluarkan kunci kuningan itu. Tepat saat beliau hendak memasukkannya ke lubang kunciβ
Ctek.
Seluruh kos gelap gulita. Listrik mati.
Senter kami menyala hampir bersamaan, berkas cahayanya bergoyang liar. Dari ujung koridor yang gelap, terdengar nyanyian. Lagu anak-anak itu. Riang. Tapi kali ini bukan dari dalam kamar 7 β dari koridor. Dari arah... kamar saya.
Lalu tiga ketukan. Tok. Tok. Tok. Pelan. Sabar. Di pintu kamar saya.
Dan suara anak kecil itu, manis, tepat di depan pintu kamar saya: "Bang Dimas..."
Saya berdiri mematung di koridor yang gelap, senter di tangan, tali melilit pinggang. Jantung saya berdebar sampai ke telinga. Jangan jawab. Jangan terima. Sebut namanya.
"Lasmi," kata saya ke kegelapan, suara saya bergetar tapi jelas. "Kalau itu kamu, berhenti."
Nyanyian itu berhenti.
Satu detik. Dua detik.
Lalu nyanyian itu mulai lagi β dari ujung koridor yang lain. Dari depan kamar 7. Seolah ia berpindah, seolah ia tertawa dalam hati karena berhasil membuat kami menoleh.
Bu Sarmi mulai membaca doa, suaranya membahana di koridor yang gelap. Nyanyian itu surut β mundur β padam. Lampu kos menyala kembali dengan bunyi nging yang panjang.
Sunyi.
Saya menatap pintu kamar 7. Lalu menatap Fajar, Sari, Bu Sarmi. Tangan saya masih gemetar, tapi suara saya mantap saat saya berkata:
"Cukup. Kita buka malam ini juga."