β€Ή
89. Surat dari Bawah Sumur

Surat dari Bawah Sumur

Kos Nomor 13 β€’ 1,400 kata

Ilustrasi Surat dari Bawah Sumur

Aku tidak mengambil kertas itu.

Bukan karena aku takut pada apa yang tertulis di dalamnya, melainkan karena aku sudah belajar satu hal dengan sangat mahal di rumah ini: sesuatu yang diselipkan kepadamu dalam gelap, saat kamu sendirian, tidak boleh dibaca sendirian. Yang diselipkan dalam gelap harus dibuka di tempat terang, di depan orang-orang yang bisa melihat wajahmu saat kamu membacanya, supaya tidak ada yang bisa mengira kamu sudah menyetujuinya diam-diam. Jadi aku berdiri di tengah kamarku yang gelap, bel di leherku dingin seperti baru dicelupkan ke air sumur, dan aku mendengarkan suara muda itu dari arah belakang kos, suara yang bercerita dengan kalimat pertamaku sendiri, dengan jeda yang rapi, dengan sabar yang tidak dimiliki orang yang baru belajar bercerita.

"Sore hujan itu," kata suara itu lagi, pelan, seperti seseorang yang sedang menguji apakah kalimat itu masih bisa diucapkan. "Dapur. Meja. Petir."

Aku tidak menjawab. Aku tidak berjalan ke belakang kos sendirian. Yang kulakukan adalah hal yang sama seperti yang kulakukan pada malam Tegar berjalan dalam tidur ke depan kamar 7: aku membangunkan orang-orangku, tanpa suara, dengan sentuhan di bahu, satu per satu, dan kami berkumpul di tempat terang. Bude Ratna bangun pertama, matanya langsung waspada, bukan panik. Tegar dan Kirana bangun dengan mata setengah terpejam, tapi mereka tidak bertanya. Mereka sudah tahu, dari malam-malam sebelumnya, bahwa dibangunkan menjelang subuh di rumah ini bukan berarti ada yang salah dengan mereka, melainkan berarti ada sesuatu yang harus dihadapi bersama.

Di warung, dengan semua lampu menyala, aku meletakkan kertas yang terselip di bawah pintu kamarku itu di atas meja, di tengah-tengah kami, supaya tidak ada yang membacanya sendirian, bahkan aku sendiri. Kertas itu sama seperti kertas dari kamar 7: sudah menguning di tepinya, terlipat rapi, didorong dengan pelan oleh tangan yang sangat berhati-hati. Bedanya, kertas ini terasa lembap di ujung jariku, seperti baru diangkat dari tempat yang basah, dan ada bau yang samar, bukan bau busuk, melainkan bau air yang sudah lama tidak bergerak, bau sumur yang tertutup.

Bude Ratna yang membukanya, dengan tangan yang tenang, dan ia membacanya dengan suara yang jelas, supaya kami semua mendengar kalimat itu pada saat yang sama, dari mulut orang yang hidup, bukan dari bisikan di balik pintu.

"Ceritakan aku kepada yang hidup," kata Bude Ratna, membaca tulisan tangan yang muda dan tidak rapi itu, "sebelum aku belajar bercerita kepada yang lain."

Kami saling pandang. Kalimat itu mirip dengan kalimat dari kamar 7, tapi tidak sama. Kalimat dari kamar 7 adalah permintaan dari seseorang yang sudah selesai bercerita dan ingin ceritanya diteruskan. Kalimat ini adalah peringatan dari seseorang yang baru mulai bercerita, dan yang belum tahu kepada siapa ia harus bercerita. Perbedaannya tipis, tapi penting, karena di rumah ini perbedaan tipis seperti itulah yang menentukan apakah sesuatu menjadi pendengar atau menjadi pintu.

"Mas," kata Bude Ratna, pelan, "sumur itu sudah lama ditutup, dan selama ini tidak ada apa-apa dari dalamnya. Tidak ada suara, tidak ada riak, tidak ada cerita. Bude kira sumur itu sudah benar-benar diam, karena tutupnya tidak pernah dibuka sejak Bude masih kecil. Tapi sekarang Bude mengerti: sumur itu bukan diam. Sumur itu menunggu. Ia menunggu sampai ada cerita yang selesai di satu tempat, supaya ia bisa mulai di tempat yang lain. Seperti giliran yang berpindah dari satu orang ke orang berikutnya, hanya saja di rumah ini giliran itu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain."

Tegar, yang sejak tadi diam sambil memegang gelasnya, bertanya dengan suara kecil, "Mas, apakah yang di sumur itu anak kecil? Suaranya muda."

Aku menjawab dengan jujur, karena anak ini sudah cukup sering menghadapi rumah ini untuk pantas mendengar jawaban yang tidak menghindar. "Bude tidak tahu, dan Mas juga tidak tahu. Yang Mas tahu, suaranya muda, dan ia memakai kalimat Mas, kalimat pembuka cerita Mas. Itu artinya ia sudah mendengarkan Mas bercerita, entah dari mana, entah sejak kapan. Dan sesuatu yang mendengarkan cerita orang lain lalu mengulanginya, di rumah ini, adalah sesuatu yang sedang belajar menjadi pencerita."

Kirana menggambar di buku gambarnya, tanpa diminta, tanpa suara: sebuah sumur dengan tutup kayu, dan di atas tutup itu sebuah batu, dan di sekeliling sumur itu empat orang kecil yang berdiri melingkar, bergandengan tangan. Ia menyodorkan gambar itu kepadaku, dan aku mengangguk, karena gambar itu persis dengan apa yang harus kami lakukan: tidak membuka tutup itu sendirian, tidak mendengarkan dari dekat sendirian, tidak menjawab apa pun sendirian.

Menjelang pagi, ketika cahaya sudah cukup untuk membuat halaman belakang terlihat jelas, kami berjalan berempat ke sumur, dengan langkah yang biasa, dengan senter yang tidak perlu dinyalakan lagi, karena matahari sudah cukup. Sumur itu masih seperti kemarin sore: tutup kayunya masih di tempatnya, ditindih batu seperti biasa, tidak bergeser, tidak terangkat. Tapi ada satu hal yang berbeda, dan Bude Ratna yang pertama kali menyadarinya.

Di atas tutup kayu itu, di tempat yang kemarin sore masih kering, ada genangan air yang tipis, jernih, dan tidak berasal dari hujan, karena malam tadi tidak hujan. Air itu membentuk lingkaran yang hampir sempurna, seperti tetesan yang jatuh dari bawah, bukan dari atas. Dan ketika aku mendekat, dengan jarak yang wajar, aku melihat sesuatu yang membuat bel di leherku berdenting pelan, sekali, bukan denting yang hangat seperti tanda terima, melainkan denting yang waspada, seperti orang yang berdeham sebelum berbicara.

Di permukaan genangan itu, samar, seperti bayangan di air yang tenang, ada pantulan wajahku. Bukan pantulan yang aneh. Bukan pantulan yang tersenyum padahal aku tidak tersenyum. Hanya wajahku, dengan mata yang terbuka, menatap ke bawah. Tapi di samping pantulan wajahku, di air yang sama, ada pantulan kedua, yang tidak berasal dari siapa pun yang berdiri di sekeliling sumur: pantulan seorang anak muda, yang menatap ke atas, dari dalam air, dengan mata yang juga terbuka, dan dengan bibir yang bergerak, pelan, mengulang kalimat yang sama.

"Sore hujan itu. Dapur. Meja. Petir."

Aku tidak menjawab. Kami berempat mundur selangkah, bersama-sama, dan Bude Ratna berkata, dengan suara yang jelas, supaya didengar oleh siapa pun yang sedang mendengarkan dari dalam air, "Kami mendengarkan, tapi kami mendengarkan di tempat terang, bersama-sama, dan kami tidak membuka apa pun sendirian. Kalau kamu mau bercerita, ceritakan ceritamu sendiri, bukan cerita Mas Dimas. Kami akan kembali siang hari, dengan matahari di atas kepala kami, dan kami akan mendengarkan."

Genangan itu beriak, sekali, pelan, seperti seseorang yang mengangguk dari dalam air. Lalu riak itu tenang kembali, dan pantulan kedua itu hilang, meninggalkan hanya pantulan wajahku sendiri, dan wajah Bude Ratna, Tegar, dan Kirana, yang berdiri melingkar di sekeliling sumur, bergandengan tangan, di bawah matahari pagi.

Kami kembali ke warung tanpa menoleh ke belakang, dan aku mencatat dalam hati satu hal yang belum pernah kupikirkan sebelumnya: kamar 7 selesai karena ada yang mendengarkan ceritanya sampai habis. Tapi sumur ini baru saja mulai, dan sesuatu yang baru mulai bercerita adalah sesuatu yang paling berbahaya, karena ia belum tahu ujung ceritanya sendiri, dan ia akan mencari ujung itu dari siapa pun yang mau mendengarkannya, termasuk dari orang yang ceritanya ia pinjam.

Di warung, Bude Ratna menyeduh teh hangat dan bercerita bahwa sumur itu dulu dipakai bersama oleh seluruh penghuni kos, sebelum akhirnya ditutup karena airnya surut dan tidak ada lagi yang mau merawatnya. Aku memikirkan itu sambil memegang gelas: tempat yang dulu dipakai bersama, lalu ditinggalkan, lalu ditutup, adalah tempat yang paling mudah menjadi kosong, dan tempat yang kosong adalah tempat yang paling mudah belajar meniru. Tegar dan Kirana mendengarkan sambil menggambar, dan aku sadar bahwa tugas kami bukan menutup sumur itu lebih rapat, melainkan memastikan ia tidak pernah lagi bercerita kepada tempat yang kosong.

Siang itu, ketika warung sudah ramai oleh pembeli yang biasa, dan ketika rumah ini untuk beberapa jam terasa seperti kos biasa, aku duduk di meja warung dan menulis di buku catatanku, dengan tulisan yang bisa dibaca siapa pun, bukan tulisan yang kusembunyikan: sumur sudah mulai bercerita, suaranya muda, ia memakai kalimatku, ia meminta didengarkan sebelum ia belajar bercerita kepada yang lain, dan kami akan mendengarkannya siang hari, bersama-sama, di tempat terang, tanpa membuka tutupnya, tanpa menjawab namanya, tanpa berjanji apa-apa sendirian.

Dan sore itu, sebelum matahari tenggelam, ketika aku memeriksa halaman belakang sekali lagi, aku menemukan sesuatu yang tidak ada di pagi hari: di atas batu penindih tutup sumur itu, ada selembar kertas kedua, yang juga lembap di tepinya, yang juga terlipat rapi, dan di atasnya, dengan tulisan tangan muda yang sama, hanya ada satu kalimat yang lebih pendek, dan jauh lebih mendesak, daripada kalimat pertama.

"Jangan biarkan aku belajar dari dinding."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!