β€Ή
24. Kaki yang Basah

Kaki yang Basah

Kos Nomor 13 β€’ 1,419 kata

Ilustrasi Kaki yang Basah

Lagu itu berhenti tepat saat kaki kami menyentuh tanah becek halaman belakang.

Bukan berhenti seperti orang selesai bernyanyi. Berhenti seperti... seseorang menutup mulutnya sendiri dari dalam. Mendadak. Di tengah nada.

Senter Sari menyapu halaman belakang. Pohon mangga tua berdiri seperti raksasa bungkuk di sisi kiri, akar-akarnya mencuat dari tanah seperti urat. Di kanan: gudang kayu yang miring, catnya mengelupas, pintunya digembok rantai berkarat. Dan di tengah-tengah, dikelilingi tanah yang anehnya tidak ditumbuhi rumput β€” lingkaran tanah gundul selebar tiga meter β€” berdiri sumur tua itu.

Aku pernah melihatnya siang hari, waktu pertama survei kos. Waktu itu biasa saja: sumur tua dari bata merah yang berlumut, tutup kayu yang sudah lapuk, rantai besi melintang di atasnya. Tapi malam ini, diterangi senter dan bulan yang separuh tertutup awan, sumur itu terlihat... salah. Proporsinya salah. Terlalu lebar untuk tingginya. Bibir batanya terlalu tebal, seperti mulut yang menganga.

Dan tetesannya β€” sekarang jelas. Tes... tes... tes. Dari dalam sumur. Pelan tapi tak terputus, seperti detak jantung raksasa yang tidur.

"Gudangnya dulu," bisik Fajar, suaranya dipaksakan stabil. "Amb l bukunya, terus masuk. Jangan lama-lama."

Aku mengangguk. Kunci besi tua itu terasa makin dingin di genggamanku, sampai telapak tanganku kebas. Kami bergerak mengitari lingkaran tanah gundul itu β€” tidak ada yang mau menginjaknya, tanpa perlu dibicarakan. Sari berjalan paling dekat denganku, senternya tidak pernah lepas dari sumur, seolah kalau ia berpaling sedetik, sumur itu akan pindah tempat.

Gembok gudang itu berkarat parah. Kuncinya masuk dengan susah payah, harus kugoyang-goyang sampai terdengar klik yang memuakkan. Rantai itu jatuh ke tanah dengan bunyi yang terlalu keras di malam yang sunyi.

Pintu gudang terbuka dengan derit panjang.

Bau yang keluar membuat kami bertiga mundur selangkah: lembap, busuk manis, seperti dedaunan yang membusuk di dasar kolam. Sari menutup hidungnya. Fajar menyalakan senter HP-nya.

Di dalam: tumpukan perkakas tua β€” cangkul berkarat, linggis, ember-ember penyok. Sarang laba-laba di setiap sudut, tebal seperti kain kasa. Dan di pojok, di atas peti kayu: sebuah buku. Buku catatan bersampul kulit, tebal, diikat tali rami.

Aku mengambilnya. Berat. Kulit sampulnya dingin dan... lembap. Seolah buku ini baru diangkat dari air, padahal gudang ini kering.

"Buka di sini aja," kata Sari cepat. "Gw nggak mau lama-lama di sini."

Aku membuka tali ramianya. Halaman pertama: tulisan tangan miring dengan tinta yang sudah cokelat dimakan usia.

Milik Mandor Sastro Pawiro, Kebun Karet Cikampek, Tahun 1921.

Jantungku berdebar. Kakek Bu Sarmi. Orang yang menggali sumur itu.

Aku membalik halaman. Catatannya rapi, seperti laporan kerja:

12 Januari 1921 β€” Mulai gali di titik yang ditunjuk para pekerja. Tanah kering. Tidak ada tanda air. Tapi mereka bersumpah mendengar tetesan dari bawah. Aku sendiri mendengarnya malam ini. Jelas. Seperti ada air menetes di ruang kosong yang dalam.

20 Januari 1921 β€” Kedalaman 8 meter. Belum ada air. Tapi tetesannya makin jelas. Para pekerja mulai gelisah. Paijo bilang tetesannya memanggil namanya. Aku marahi dia. Takhayul kampung.

3 Februari 1921 β€” Kedalaman 15 meter. Tanah makin keras, seperti menggali batu. Tapi tetesannya... semakin keras juga. Tidak masuk akal. Semakin dalam kami menggali, semakin dekat suaranya. Seperti kami menggali MENUJU suara itu, bukan menjauhinya.

Aku berhenti membaca. Fajar membaca dari bahuku, napasnya berat.

"Terus," desaknya.

17 Februari 1921 β€” Kedalaman 22 meter. Semalam aku bermimpi. Aku tenggelam di air hitam yang tidak berdasar. Ada sesuatu berenang mengelilingiku, melingkar, menyempit. Aku terbangun dan kakiku basah. Kasurku basah. Tapi aku tidur di barak, jauh dari sungai. Dari mana air ini?

Aku tidak memberi tahu siapa-siapa. Seorang mandor tidak boleh takut.

2 Maret 1921 β€” Kedalaman 30 meter. Tidak ada mata air. Tidak akan pernah ada. Aku sekarang paham. Kami tidak menggali sumur. Kami menggali... jalan. Tetesan itu bukan air yang menetes ke bawah. Itu suara sesuatu yang naik. Pelan-pelan. Setetes demi setetes.

Semalam Paijo hilang. Kami menemukannya pagi ini di dasar galian, berdiri, menatap ke bawah β€” ke tanah yang masih kami gali. Matanya terbuka tapi dia tidak melihat kami. Dia bilang, "Dia haus." Lalu dia tertawa. Tertawa seperti anak kecil yang senang.

Paijo kami pulangkan ke kampungnya. Dia tidak pernah sembuh. Sampai mati tahun 1934, dia selalu mengetuk-ngetuk lantai rumahnya setiap malam. Tes... tes... tes. Kata istrinya, dia bilang sedang "menjawab panggilan."

Tulisanku... tanganku gemetar sampai buku itu hampir jatuh. Sari meraih bahuku.

"Dimas, udah. Kita baca di dalam aja β€” "

"Sebentar." Aku membalik ke halaman terakhir yang bertuliskan. Tanggalnya: 19 Maret 1921.

Kami berhenti menggali di kedalaman 34 meter. Aku perintahkan tutup. Aku bilang ke tuan kebun sumurnya gagal, tidak ada air. Itu bohong. Airnya ada β€” airnya NAIK sendiri sampai 10 meter di bawah permukaan, tanpa mata air, tanpa hujan. Air hitam yang dingin seperti es dan berbau besi.

Semalam aku turun untuk terakhir kali, memastikan tutupnya kuat. Aku menyalakan lentera dan melihat ke bawah. Airnya tenang. Terlalu tenang. Dan di permukaan air itu, aku melihat... bukan bayanganku. Aku melihat wajahku, tapi lebih tua. Jauh lebih tua. Dan di belakang wajahku, ada wajah-wajah lain. Banyak. Berlapis-lapis, seperti orang berdesakan di balik kaca. Mereka semua menatapku. Mereka semua tersenyum.

Lalu air itu beriak. Bukan karena angin. Karena sesuatu bergerak di bawahnya. Besar. Melingkar.

Aku naik secepat yang kubisa. Aku perintahkan tutup sumur dengan kayu dan batu. Aku tulis ini supaya anak-cucuku tahu: JANGAN PERNAH BUKA SUMUR ITU. JANGAN MINUM AIRNYA SETELAH MAGRIB. DAN YANG PALING PENTING β€”

Kalimatnya terputus. Halaman berikutnya kosong. Dan halaman-halaman setelahnya juga kosong. Seolah penulisnya tidak pernah sempat β€” atau tidak berani β€” menyelesaikan kalimat itu.

Atau seolah sesuatu tidak mengizinkannya selesai.

"Dan yang paling penting apa?" bisik Fajar. "Apaan? Kok berhenti?"

Aku membalik-balik halaman kosong itu. Di halaman paling belakang, ada sesuatu yang ditempel: kertas kecil, tulisan tangan yang berbeda β€” lebih muda, tulisan perempuan. Bu Sarmi muda, mungkin.

Kakek meninggal 1923. Dua tahun setelah sumur ditutup. Dia meninggal dalam tidur. Tapi pembantunya bilang, pagi itu kasurnya basah kuyup. Dan di lantai kamarnya, ada jejak kaki basah β€” dari tempat tidur menuju pintu. Lalu hilang. Seolah dia berjalan keluar... atau seolah sesuatu menyeretnya keluar. Atau seolah dia berjalan ke suatu tempat yang lantainya air.

Jangan buka sumur itu. Jangan dengarkan tetesannya. Kalau sudah mulai dengar, JANGAN JAWAB.

β€” Sarmi, 1975

Hening. Hanya suara hujan rintik dan β€” tes... tes... tes β€” dari sumur di belakang kami.

"Jangan jawab," ulang Sari pelan. "Maksudnya apa, jangan jawab?"

Aku tidak sempat menjawab. Karena tepat saat itu, dari arah sumur, terdengar suara. Bukan tetesan. Suara perempuan bernyanyi lagi β€” lagu yang sama, nada yang sama yang salah. Tapi kali ini... kali ini ada kata-katanya. Pelan, hampir seperti bisikan, tapi jelas:

"Di-mas... Di-mas..."

Darahku berhenti mengalir. Senter Sari jatuh ke tanah becek dengan bunyi gedebuk, cahayanya miring menyorot bibir sumur β€” dan aku melihatnya. Di atas bibir bata yang berlumut, ada sesuatu yang basah. Jejak. Jejak kaki kecil, basah, mengarah dari sumur... ke gudang. Ke arah kami.

Jejak kaki yang masih meneteskan air.

"LARI!" teriak Fajar.

Kami lari. Buku catatan itu kupeluk erat-erat di dada. Tanah becek licin, Sari terpeleset, aku menariknya bangun tanpa berhenti. Di belakang kami, suara nyanyian itu mengikuti β€” tidak menjauh, tidak mendekat, TETAP. Seolah penyanyinya berjalan persis di belakang kami dengan kecepatan yang sama. Seolah jaraknya dikunci.

Kami menerobos pintu belakang, Fajar membantingnya, menguncinya. Kami bertiga tersungkur di lantai dapur, terengah-engah. Bu Sarmi berdiri di ambang pintu dalam, wajahnya pucat pasi.

"Kalian buka sumurnya?" tanyanya cepat.

"Nggak! Kami nggak buka apa-apa!" jawabku.

"Tapi dia manggil nama aku, Bu. Dia tahu nama aku."

Bu Sarmi menutup matanya. "Berarti udah mulai. Sama kayak Lasmi. Setelah dia tahu namamu..." Ia tidak melanjutkan.

Aku menatap buku catatan di tanganku. Sampul kulitnya basah. Bukan karena hujan β€” kami melindunginya di dada. Basah dari... dalam? Aku membukanya. Halaman-halaman yang tadi kosong β€” halaman belakang yang kosong β€” sekarang ada tulisan.

Tulisan tangan yang rapi dan ceria. Huruf-huruf melengkung seperti tersenyum.

Tulisan Lasmi.

Di halaman yang tadi kosong, sekarang tertulis satu baris:

Terima kasih sudah bacain surat-suratku. Sekarang gantian aku yang bacain kamu. Setiap malam. Dari bawah.

Aku menjatuhkan buku itu. Fajar memungutnya, membacanya, dan wajahnya berubah seperti mayat.

"Guys," kata Sari dengan suara yang aneh, terlalu tenang. "Kaki kalian... basah."

Aku menunduk. Kaki kami bertiga β€” basah kuyup. Sepatu, kaus kaki, celana sampai lutut. Padahal kami lari di tanah becek, tapi ini bukan becek. Ini air. Air dingin yang berbau lumut dan besi.

Air sumur.

Dan dari bawah lantai dapur β€” dari bawah kami β€” terdengar jelas, untuk pertama kalinya malam ini, bukan dari dinding, bukan dari sumur di luar, tapi dari TEPAT DI BAWAH KAKI KAMI:

Tes... tes... tes.

Lalu suara Lasmi, persis di bawah lantai, persis di bawah telapak kakiku yang basah:

"Bagus. Kalian pulang. Sekarang... siapa yang mau turun duluan?"

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!