β€Ή
70. Cerita Sebagai Tawaran

Cerita Sebagai Tawaran

Kos Nomor 13 β€’ 1,434 kata

Ilustrasi Cerita Sebagai Tawaran

Malam itu saya memutuskan untuk bercerita lagi. Bukan karena saya berani. Justru karena saya takut, dan saya sudah belajar satu hal dari kos ini: hal yang ditakuti tidak pergi kalau dihindari. Ia menunggu. Ia mengetuk. Ia menghitung sampai tiga, lalu mengulang dari awal. Satu-satunya cara yang pernah berhasil, setidaknya untuk semalam, adalah bercerita β€” memberikan cerita itu tempat untuk pulang, supaya ia tidak terus mengembara mencari pendengar.

Saya membawa lampu minyak kecil dari dapur β€” bukan lampu sosok di cermin itu, lampu biasa, yang apinya bergoyang kalau ada angin β€” dan berjalan ke halaman belakang. Sumur itu ada di sana, bibir batunya dingin, air di bawahnya hitam dan tenang. Di sekelilingnya, halaman kosong. Tidak ada antrean. Tidak ada langkah kecil. Hanya saya, dan dingin yang menempel di kulit seperti tangan yang tidak jadi memegang.

Saya duduk di bibir sumur, seperti semalam. Saya meletakkan lampu di samping saya. Lalu saya mulai bercerita. Bukan cerita yang sama. Cerita baru, yang saya susun dari semua yang saya pelajari hari ini: tentang penjaga pintu, tentang kamar 7, tentang cermin, tentang pergantian yang tidak pernah diumumkan.

"Tapi kali ini," kata saya, pelan, ke arah sumur, ke arah kamar 7, ke arah cermin kamar mandi yang jauh di dalam kos, "saya tidak bercerita untuk mengantar pulang. Saya bercerita untuk menawar."

Saya tidak tahu kepada siapa saya menawar. Kepada sosok di cermin? Kepada penghuni kamar 7? Kepada rumah ini sendiri? Mungkin kepada ketiganya, karena di kos ini, ketiganya mungkin adalah hal yang sama yang dilihat dari sisi berbeda.

"Tawarannya begini," kata saya. "Kamu boleh tetap jaga pintu. Kamu boleh tetap di cermin. Tapi jangan pakai wajah saya untuk memanggil orang lain. Jangan pakai suara saya untuk mengundang pendengar baru. Kalau kamu mau penjaga baru, cari dengan caramu sendiri. Jangan lewat saya."

Hening. Lampu minyak bergoyang sekali, meski tidak ada angin. Air sumur di bawah saya beriak pelan, satu lingkaran kecil, seperti ada sesuatu yang baru saja menyentuh permukaannya dari bawah.

Lalu suara itu datang. Bukan dari sumur. Dari belakang saya. Suara saya sendiri, tapi lebih ringan: "Itu bukan tawaran, Dimas. Itu permintaan."

Saya menoleh. Sosok itu berdiri di ujung halaman, di batas cahaya lampu saya. Ia memakai bel. Ia memegang lampu minyaknya yang apinya tenang, tidak bergoyang. Wajahnya wajah saya. Senyumnya senyum lega orang yang baru sampai setelah perjalanan jauh. Tapi matanya β€” matanya sekarang lelah, seperti mata saya di pagi hari yang biasa.

"Permintaan boleh," katanya. "Tapi permintaan ada harganya. Kamu tahu aturannya. Setiap cerita harus dibayar dengan cerita. Kamu sudah menerima cerita dari nenek itu, lewat anak-anak, lewat sumur. Kamu sudah memakainya untuk mengantar mereka pulang. Sekarang cerita itu menagih."

"Menagih apa?" tanya saya. "Kamu sudah bilang, kamu yang jaga pintu. Bukan saya."

"Aku jaga pintu dari sisi ini," katanya, mengangkat lampu minyaknya. "Tapi pintu punya dua sisi. Sisi sana β€” sisi tempat anak-anak itu antre β€” masih butuh seseorang yang berdiri di bibir sumur dan bercerita. Seseorang yang hidup. Seseorang yang masih bisa dipanggil Bang oleh anak-anak. Aku tidak bisa. Aku sudah di antara. Anak-anak tidak memanggil orang di antara dengan sebutan itu. Mereka memanggilnya dengan diam."

Saya mengerti, perlahan, dengan cara yang membuat perut saya mual. Pergantian itu tidak pernah selesai dalam satu malam. Penjaga lama dan penjaga baru harus berdiri bersama di ambang untuk sesaat, seperti dua orang yang berpapasan di pintu sempit. Sosok itu sudah menjadi penjaga dari sisi cermin. Tapi sisi sumur masih kosong, karena saya β€” yang seharusnya mengisi sisi itu β€” menolak.

"Jadi tawaran saya ditolak?" tanya saya.

Sosok itu menggeleng. "Tawaranmu didengar. Dan inilah balasan saya: saya akan tetap di cermin, menjaga dari sisi ini, dan saya tidak akan memakai wajahmu untuk memanggil siapa-siapa. Tapi kamu harus tetap bercerita. Bukan setiap malam. Sekali-sekali saja. Kepada siapa pun yang datang ke sumur ini dan bertanya. Karena kalau tidak ada yang bercerita, anak-anak itu akan datang sendiri, tanpa dipanggil, dan mereka akan mengetuk pintu kamarmu, bukan pintu kamar 7."

Saya menatap lampu minyaknya, apinya yang tenang itu, dan saya sadar sesuatu: api itu tidak pernah bergoyang karena tidak ada angin di tempat ia berdiri. Tempat di antara tidak punya angin. Tidak punya pagi. Tidak punya suara ayam tetangga. Hanya cahaya yang diam dan tugas yang tidak pernah selesai. Dan sosok itu β€” saya yang lain, atau apa pun dia β€” telah memilih tempat itu supaya saya tidak perlu memilihnya. Kesadaran itu membuat saya merasa bersalah, sekaligus lega, dengan cara yang tidak bisa saya pisahkan satu sama lain.

"Kamu lelah?" tanya saya, sebelum sempat menahan diri.

Ia tersenyum, dan untuk pertama kalinya senyum itu tidak terasa lega. "Setiap penjaga lelah," katanya. "Tapi lelah penjaga berbeda dengan lelah orang yang belum pulang. Lelah penjaga itu tenang. Seperti lelah orang yang sudah tahu di mana ia harus berdiri."

Ia berhenti, lalu menambahkan dengan suara yang lebih pelan: "Dan satu lagi. Jangan pernah memanggil namamu yang lama itu lagi. Sekali saja sudah cukup untuk membuka pintu. Dua kali akan membuka jalan yang lain. Jalan yang tidak punya penjaga."

Saya mengangguk. Saya tidak tahu apakah saya menyetujui tawarannya atau hanya mengangguk karena tidak ada jawaban lain yang masuk akal. Sosok itu tersenyum, lega, dan melangkah mundur, ke arah gelap halaman, sampai cahaya lampu minyaknya menjadi titik kecil, lalu hilang.

Saya duduk di bibir sumur lama, mendengarkan malam. Bel di leher saya dingin dan diam. Lampu saya masih menyala. Saya pikir semuanya sudah selesai β€” lagi, untuk kedua kalinya saya berpikir begitu β€” dan saya berdiri, membawa lampu, berjalan kembali ke kos.

Lorong kos sepi. Pintu kamar 7 tertutup. Saya melewatinya tanpa berhenti, tapi langkah saya melambat sendiri di depan pintu itu, seperti kaki yang ingat sesuatu yang kepala saya coba lupakan. Dari balik pintu tidak ada suara. Tidak ada bau tanah basah. Hanya kayu yang dingin, dan cat yang mengelupas di tempat yang sama seperti selalu. Saya menahan napas, menghitung sampai tiga, lalu berjalan terus. Di kamar, saya meletakkan lampu di meja, mengganti baju, dan berbaring. Di luar jendela, kos sudah benar-benar sepi, dan sepi itu terasa seperti hadiah. Saya memejamkan mata, dan tidur datang cepat, tanpa mimpi, tanpa langkah kecil.

Lalu saya terbangun.

Saya terbangun di kamar yang sama. Kasur yang sama. Dinding yang sama. Tapi ada sesuatu yang terbalik, dan saya menyadarinya pelan-pelan, seperti orang yang baru sadar bahwa ia sedang bermimpi tapi mimpi itu tidak mau berakhir.

Cahaya dari jendela terlalu hangat untuk pagi hari. Bau kos ini berbeda: bukan bau tanah basah, tapi bau kayu yang baru dipelitur, seperti rumah yang baru selesai dibangun. Dari lorong, terdengar suara anak-anak β€” bukan langkah kecil yang antre, tapi suara anak-anak yang bermain, tertawa, memanggil-manggil nama.

Nama saya. Bukan "Dimas". Bukan "Bang".

Nama panggilan masa kecil saya. Nama dari ibu saya. Nama yang semalam saya bisikkan di bibir sumur, dan yang sosok itu peringatkan untuk tidak pernah saya ucapkan dua kali.

Saya bangkit, membuka pintu kamar, dan lorong itu penuh cahaya. Ibu kos berdiri di ujung lorong, tersenyum, dan menyapa saya dengan nama itu, seolah itu nama saya yang sebenarnya sejak dulu. Mas Andi lewat sambil membawa kopi, menyapa saya dengan nama itu juga, tanpa ragu, tanpa heran. Dari kamar 5, suara televisi menyebut nama itu dalam sebuah lagu anak-anak.

Saya mencoba menjawab dengan nama saya yang biasa β€” "Pagi, saya Dimas" β€” tapi suara saya keluar dengan nama itu juga, seolah mulut saya sudah sepakat dengan kos ini sebelum saya sempat berpikir. Ibu kos tertawa kecil, seperti mendengar lelucon lama, dan berkata, "Sudah, jangan bercanda. Sarapan dulu, nanti keburu dingin." Di meja dapur, ada sepiring nasi dan lauk yang tidak saya pesan, tapi wanginya persis seperti masakan rumah masa kecil saya. Saya tidak ingat pernah meminta itu. Saya tidak ingat pernah menceritakan masakan itu kepada siapa pun di kos ini.

Lalu saya melihat cermin kecil di dinding lorong. Pantulan saya tersenyum lega, memegang lampu minyak, memakai bel. Ia melambai pelan. Dan kali ini, tangan saya tidak terangkat sama sekali. Saya tidak mencoba menyentuhnya. Saya hanya berdiri, menatap, sampai pantulan itu mengangguk pelan, seperti memberi izin, atau seperti mengucapkan selamat tinggal.

Semua orang memanggil saya dengan nama panggilan masa kecil saya. Semua orang, kecuali satu suara.

Dari kamar 7 β€” kamar yang selama ini tertutup, misterius, tidak pernah terbuka β€” pintunya kini terbuka sedikit. Celahnya cukup untuk cahaya keluar, cahaya lampu minyak yang hangat dan tenang. Dan dari balik pintu itu, dengan suara anak kecil yang jernih, seseorang memanggil saya:

"Bang..."

Satu kata. Satu panggilan. Dan bel di leher saya β€” bel yang tadi dingin dan diam β€” mulai berbunyi. Pelan. Teratur. Seperti ketukan. Seperti hitungan. Satu... dua... tiga...

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!