β€Ή
53. Sunyi yang Retak

Sunyi yang Retak

Kos Nomor 13 β€’ 1,392 kata

Ilustrasi Sunyi yang Retak

Tiga hari setelah "untuk sekarang", saya mulai berani percaya bahwa kami benar-benar selamat.

Saya tahu itu kalimat yang berbahaya. Di kos nomor 13, kalimat seperti itu biasanya dibayar mahal. Tapi tiga hari itu berjalan dengan kewajaran yang nyaris menyakitkan: saya berangkat kerja pagi-pagi, pulang sore dengan baju bau keringat dan debu jalanan, makan malam di meja yang sama dengan Bu Sarmi, Fajar, dan Sari, lalu tidur β€” tidur yang sebenarnya, tanpa ritual, tanpa garam di ambang pintu, tanpa menajamkan telinga menunggu suara kecil memanggil "Abang".

Tidak ada gambar crayon baru di bawah pintu saya. Koridor depan kamar 7 sunyi. Pintu kamar 7 tetap menutup rapat, dan setiap kali saya melewatinya β€” cepat, tanpa menoleh, seperti orang melewati kuburan di malam hari β€” saya merasa pintu itu ikut tidur. Seperti seluruh kos ini akhirnya bisa bernapas lega.

Pagi hari keempat, Bu Sarmi bahkan sempat bercanda.

"Dim, kamu kurusan," katanya sambil menyendokkan nasi ke piring saya sampai menggunung. "Muka kamu kayak orang habis dikejar utang sebulan. Sekarang utangnya lunas?"

"Lunas, Bu," kata saya, dan saya tertawa β€” tawa yang sebenarnya, yang pertama dalam berminggu-minggu.

Fajar menyikut saya. "Gue bilang juga apa. Parang gue yang bikin dia takut." Ia menepuk pinggangnya yang kosong β€” parang kecilnya sudah ia simpan lagi di dalam lemari sejak malam dongeng terakhir. "Aura preman kos nomor 13."

"Preman kesiangan," kata Sari, dan kami semua tertawa. Belnya tergantung di lehernya seperti biasa β€” dan saya perhatikan, bel itu tidak lagi ia genggam erat-erat seperti jimat. Ia memakainya seperti kalung biasa. Hangat. Normal.

Semuanya normal. Semuanya baik-baik saja.

Masalahnya: saya sudah terlalu lama tinggal di kos ini untuk percaya pada kata "normal".

Retakan pertama datang lewat mimpi.

Malam keempat, saya bermimpi berdiri di bibir sumur tua. Langit di atas saya hitam tanpa bintang β€” hitam yang tebal, seperti kain beludru yang basah. Di bawah saya, air sumur itu diam. Terlalu diam. Lalu, dari kedalaman, saya mendengar suara air bergerak. Pelan. Berirama. Seperti seseorang mengaduk air dengan tangan yang kecil.

Lalu ketukan itu datang.

Dua kali. Dari bawah air.

Tuk. Tuk.

Saya terbangun dengan jantung berdegup dan kaus basah oleh keringat. Kamar saya gelap. Jam di ponsel menyala redup: 02.50 β€” sepuluh menit sebelum jam tiga. Jam yang dulu menjadi jam saya. Jam dongeng.

Saya duduk di tepi ranjang, lama, menunggu. Tidak ada apa-apa. Koridor sunyi. Dinding kamar saya diam β€” gambar crayon merah itu hanya gambar. Sosok kecil melambai itu hanya crayon. Lingkaran kuning goyang itu hanya lingkaran.

"TIDUR DULU YA BANG."

Saya membaca tulisan goyang itu dalam gelap, dan untuk sesaat β€” sesaat saja β€” rasanya seperti membaca pesan dari anak sendiri yang sudah tidur di kamar sebelah. Pesan yang manis. Pesan yang seharusnya menenangkan.

Saya berbaring lagi. Saya memaksa diri tidur lagi. Pagi harinya, sambil menyeduh kopi di dapur yang masih sepi, saya bilang ke diri sendiri: cuma mimpi. Lima belas malam begadang plus syok perpisahan β€” wajar kalau otak saya masih memutar ulang kaset yang sama.

Saya percaya itu. Setidaknya sampai retakan kedua datang β€” dari Sari.

Malam kelima, saya terbangun bukan karena mimpi, tapi karena suara langkah pelan di koridor. Saya mengintip dari celah pintu kamar. Sari berdiri di depan kamarnya dalam daster, memegang belnya, menempelkannya ke telinga. Wajahnya pucat dalam cahaya lampu koridor yang redup.

"Sari?" Saya keluar, mengucek mata. "Kenapa?"

Ia menoleh, terkejut. "Mas Dimas. Maaf, aku nggak bermaksud bangunin." Ia menurunkan belnya perlahan, tapi jemarinya tetap melingkar di sana, enggan melepas. "Belnya... bunyi."

Saya mendekat. Lantai koridor dingin di telapak kaki saya yang telanjang. "Bunyi gimana?"

"Bukan bunyi kring kayak biasa." Ia menatap bel kecil itu seperti menatap hewan yang sakit. "Tadi jam tiga kurang aku kebangun. Belnya anget banget β€” angetnya beda, Mas. Kayak... kayak habis dipegang orang. Terus aku tempel ke kuping." Ia menelan ludah, suaranya mengecil sampai hampir hilang. "Ada suaranya. Pelan banget. Kayak..."

"Kayak apa?"

"Kayak orang tidur." Ia menatap saya, matanya berkaca-kaca dalam cahaya redup. "Napas, Mas. Napas anak kecil yang lagi tidur nyenyak. Mas pernah dengar ponakan tidur? Ya kayak gitu. Teratur. Dalam. Tenang." Jemarinya mengerat bel itu. "Itu... itu dia, kan, Mas? Dia beneran tidur?"

Saya tidak tahu harus menjawab apa. Sebagian dari saya ingin memeluknya dan berkata: iya, itu dia, dia tidur nyenyak berkat dongeng kita, berkat kamu, berkat kita semua. Sebagian saya yang lain β€” bagian yang sudah lima belas malam duduk bersila di depan pintu kamar 7 β€” hanya bisa mengangguk pelan.

"Mungkin," kata saya akhirnya. "Mungkin dia mimpi indah."

Sari tersenyum β€” senyum tipis yang tidak sampai ke matanya. "Semoga mimpinya tentang kita, Mas. Tentang kos ini." Ia mengelus belnya sekali, lembut, seperti mengelus kepala anak kecil. "Biar dia tahu... di sini ada yang sayang sama dia."

Ia masuk ke kamarnya. Saya berdiri di koridor yang dingin itu lama, menatap pintu kamar 7 yang diam di ujung sana. Pintu itu tidak bergerak. Tidak ada suara dari baliknya. Tapi saya tiba-tiba ingat kalimat Ustadz Mahmud malam itu: lapar bisa diajari kenyang. Kenyang bisa diajari tidur.

Tidak ada yang bilang: yang tidur tidak boleh bermimpi.

Dan tidak ada yang bilang: mimpi tidak bisa bocor.

Retakan ketiga β€” yang paling tidak bisa saya jelaskan, yang paling tidak bisa saya tertawakan β€” datang dari Fajar, siang hari keenam.

Saya pulang kerja dan mendapati Fajar jongkok di dekat sumur tua di halaman belakang. Parang kecilnya tergeletak di sampingnya di atas rumput β€” ia mengambilnya lagi dari lemari, rupanya. Diam-diam, tanpa bilang siapa-siapa.

"Jar, ngapain?"

Ia menoleh. Wajahnya tegang dengan cara yang belum pernah saya lihat sejak malam dongeng terakhir. "Dim. Sini. Lihat ini."

Saya mendekat. Bibir sumur itu terbuat dari batu bata tua yang disemen kasar, berlumut di sisi yang tidak kena matahari. Dan di sana β€” di permukaan semen yang kasar itu, setinggi lutut orang dewasa, atau setinggi tangan anak kecil yang berjinjit β€” ada gambar.

Gambar crayon merah. Kecil. Goyang. Segar.

Sosok kecil melambai. Persis seperti yang ada di dinding kamar saya. Persis.

"Kemarin ada nggak?" tanya saya, dan saya benci betapa gemetarnya suara saya.

Fajar menggeleng pelan. "Sumpah, Dim. Demi apa pun. Kemarin sore gue lewat sini buang sampah, tembok ini bersih. Bersih total, gue inget banget karena gue sempat mikir lumutnya makin tebal." Ia menatap saya lurus-lurus. "Lu pikir... dia yang gambar? Dari dalam?"

Saya berjongkok, menyentuh gambar itu dengan ujung jari telunjuk. Crayon merah menempel di kulit saya β€” berminyak, segar. Baru. Seperti digambar tadi malam. Atau tadi pagi. Atau β€” tenggorokan saya kering β€” beberapa menit yang lalu, saat kami semua masih di dalam.

"Atau," kata Fajar pelan, "ada anak kecil manjat pagar dan iseng gambar."

Kami berpandangan. Kami berdua tahu pagar belakang tingginya hampir tiga meter dan gemboknya dari dalam. Kami berdua tahu tidak ada anak kecil di gang ini yang punya crayon merah dengan warna persis seperti itu. Kami berdua tidak mengatakannya.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak "dongeng terakhir", saya tidak bisa tidur.

Saya berbaring menatap langit-langit yang gelap, mendengarkan kos yang sunyi. Di kamar sebelah, Fajar mendengkur pelan β€” ia kembali tidur dengan parang di bawah bantal, saya tahu, saya mendengar ia menggesernya tadi sebelum lampu dimatikan. Di ujung koridor, tidak ada suara dari kamar Sari. Di luar jendela, jangkrik bersahutan. Sesekali motor lewat di jalan depan, suaranya menjauh lalu hilang.

Lalu ponsel saya bergetar pelan di meja: pengingat yang tidak pernah saya hapus. 02.50.

Sepuluh menit sebelum jam tiga.

Saya tidak bergerak. Tidur, Dimas. Tidur. Semuanya sudah selesai. Dia tidur. Kamu juga harus tidur. Besok kerja. Hidup normal. Hidup yang...

02.55. Sunyi. Hanya dengkur Fajar dari kamar sebelah.

02.58. Jantung saya berdegup begitu keras sampai saya yakin satu kos bisa mendengarnya.

03.00.

Tuk.

Darah saya berhenti mengalir.

Tuk.

Dua kali. Pelan. Sabar. Familiar β€” ketukan yang sama yang dulu saya ketukkan di pintu kamar 7, setiap malam, selama lima belas malam. Ketukan saya. Ketukan yang artinya: Abang datang.

Tapi bukan dari koridor. Bukan dari arah pintu kamar saya.

Dari dinding.

Dari dalam dinding kamar saya β€” dinding yang di atasnya ada gambar crayon merah, sosok kecil melambai, lingkaran kuning goyang, dan tulisan goyang: TIDUR DULU YA BANG.

Saya tidak bergerak. Saya bahkan tidak berani bernapas.

Karena ketukan itu datang dari dalam dinding β€” dan dinding tidak bisa mengetuk.

Kecuali ada yang berdiri di sisi yang lain. Sisi yang seharusnya tidak ada.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!