β€Ή
32. Rencana di Siang Bolong

Rencana di Siang Bolong

Kos Nomor 13 β€’ 1,414 kata

Ilustrasi Rencana di Siang Bolong

Siang itu, untuk pertama kalinya sejak saya pindah ke Kos Nomor 13, saya takut pada suara siang hari.

Nyanyian itu datang dari belakang kos β€” dari arah sumur yang setengah tercor itu. Lagu anak-anak. Riang. Melengking kecil di antara dengung kipas angin dan suara motor yang lewat di ujung jalan. Di siang bolong, di bawah matahari yang terik, suara itu terdengar salah. Seperti tawa di tengah pemakaman.

Kami berempat duduk di ruang tamu dan tidak ada yang berani menoleh ke pintu belakang.

"Dia nungguin janji kamu," kata Bu Sarmi pelan. Tangannya meremas tasbih β€” saya baru sadar beliau punya tasbih, kayu, warnanya gelap seperti sering digenggam. "Dia denger kamu janji mau buka sumur. Sekarang dia nungguin."

Saya mengangguk. Tenggorokan saya masih kering sejak subuh tadi, seolah kata-kata yang saya ucapkan tadi malam β€” janji itu β€” masih menggantung di sana, berat.

Sari duduk di sudut sofa, memeluk lututnya. Sejak menemukan sandal itu di atas bantalnya, dia belum banyak bicara. Kaus kakinya β€” saya lihat β€” masih basah kuyup. Padahal tadi pagi, setelah adzan subuh, kaus kaki kami semua kering.

"Dim," bisiknya, "tadi malam... waktu kamu ngomong sama dia... aku dengar dia manggil namaku juga."

"Suaranya kayak gimana?" tanya Fajar. Wajahnya pucat, tapi dia berusaha terdengar biasa saja.

"Kayak... kayak adik kecil yang manggil kakaknya." Sari menatap lantai. "Dia bilang, 'Mbak... cobain, Mbak.' Terus ketawa. Aku kira aku mimpi. Tapi pas bangun..." Dia mengangkat kakinya sedikit. Kaus kaki itu menetes. "Basah."

Sunyi. Nyanyian dari belakang kos berhenti β€” lalu mulai lagi dari awal. Riang. Sabar.

Bu Sarmi berdiri. "Sandalnya jangan disentuh pakai tangan kosong," katanya, nadanya berubah β€” tegas, seperti ibu kos yang biasa mengatur jadwal piket. "Mas Dimas, ambil kantong plastik di dapur. Yang besar."

Saya menurut. Dengan tangan yang β€” saya akui β€” gemetar, saya membungkus sandal jepit kecil sebelah kiri itu dengan dua lapis kantong plastik. Dinginnya menembus plastik sampai ke telapak tangan saya. Basah. Selalu basah.

"Taruh di kardus," kata Bu Sarmi. "Taruh di ruang tamu. Biar kelihatan."

Fajar mengernyit. "Bukannya dibuang aja, Bu? Atau dibakar?"

"Jangan." Bu Sarmi menatapnya tajam. "Kamu buang, dia balikin sepuluh. Kamu bakar, dia marah. Kita simpan, kita awasin. Sampai kita ngerti maunya apa."

Saya meletakkan kardus itu di tengah ruang tamu, di atas meja kecil. Sandal sebelah kiri itu tergeletak di dalam plastik, menghadap pintu β€” persis seperti tadi di atas bantal Sari. Menunggu.

"Kita buka sumurnya kapan?" tanya Sari. Suaranya kecil.

Bu Sarmi menatap saya. "Janji kamu tadi malam, Mas Dimas. Ibu pegang. Tapi kita nggak bisa asal bongkar. Kita butuh alat. Linggis. Palu godam."

"Gue usul panggil tukang," kata Fajar cepat. "Tukang bangunan, beres sejamβ€”"

"Nggak." Bu Sarmi menggeleng, keras. "Jangan libatkan orang luar. Ini urusan kita." Beliau berhenti, menatap kami satu-satu β€” saya, Sari, Fajar. Matanya berkaca-kaca. "Kalian sudah kayak keluarga Ibu sendiri. Yang tiga puluh tahun Ibu pendam sendirian... mulai sekarang kita tanggung bareng."

Ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuat dada saya sesak. Tiga puluh tahun sendirian. Sama seperti Lasmi β€” tiga puluh tahun sendirian di bawah sana. Dua perempuan, satu masih hidup satu sudah mati, sama-sama menunggu dalam diam.

"Besok pagi," kata saya. "Kita mulai besok pagi. Hari ini kita siapin alat."

Fajar mengangguk, lalu β€” dengan gaya khasnya yang memaksa normal β€” dia menepuk pahanya. "Oke. Gue sama Dimas ke toko bangunan. Sari, lo temenin Ibu di sini. Jangan ke mana-mana sendirian."

"Gue ke kamar mandi aja ditemenin?" tanya Sari, setengah bercanda, setengah tidak.

"Ya," jawab kami bertiga hampir bersamaan.

Dia tertawa kecil β€” tawa asli yang pertama sejak pagi. Tapi tawanya berhenti di tengah jalan, seperti tersangkut.

Karena dari belakang kos, nyanyian itu berhenti. Dan dalam sunyi yang tiba-tiba itu, kami semua mendengar sesuatu yang lain: bunyi air. Srek. Plok. Seperti langkah kecil yang basah β€” mendekat β€” lalu berhenti.

Kami tidak bergerak sampai adzan Zuhur berkumandang dari masjid di ujung jalan. Di tengah satu nada, bunyi itu hilang.


Toko bangunan itu tidak jauh β€” lima menit jalan kaki, di pertigaan sebelum masjid. Siang yang terik membuat aspal berkilau. Normal. Terlalu normal, sampai rasanya seperti kebohongan.

Penjaga tokonya lelaki tua, kurus, dengan kacamata yang melorot di hidung. Dia melayani kami dengan lambat tapi ramah β€” sampai Fajar menyebut alamat untuk nota.

"Kos Nomor 13? Yang di ujung jalan, dekat masjid?" tanya si bapak.

Saya mengangguk.

Tangannya berhenti di atas buku nota. Lama. Lalu dia menatap saya β€” benar-benar menatap, dari balik kacamata yang melorot itu.

"Linggis sama palu godam," katanya pelan. "Buat apa, Nak?"

"Renovasi, Pak," jawab Fajar cepat. "Benerin belakang."

Si bapak tidak langsung menulis. Dia membuka laci, mengambil kunci, lalu kembali menatap saya. "Dengerin bapak, Nak." Suaranya turun sampai hampir berbisik. "Yang sudah ditutup... kalau mau dibuka, buka sekalian sampai tuntas. Jangan setengah-setengah. Yang setengah-setengah itu yang bikin marah."

Tengkuk saya merinding. "Maksud Bapak?"

Tapi si bapak sudah berbalik, mengambil linggis dari rak. "Nggak apa-apa. Bapak ngomong ngawur. Sudah tua." Dia menyodorkan nota, dan β€” saya bersumpah β€” tangannya sedikit gemetar. Dia memberi kami diskon sepuluh persen tanpa kami minta. "Buat... renovasi," katanya.

Di perjalanan pulang, Fajar menenteng palu godam dengan wajah pucat. "Gue nggak suka, Dim," bisiknya. "Bapak itu kayak... kayak dia tahu."

"Dia nggak tahu apa-apa," kata saya. Tapi saya tidak yakin. Dan dari cara Fajar mempercepat langkahnya, dia juga tidak yakin.

Di belakang kami β€” jauh, dari arah kos β€” samar-samar terdengar lagu anak-anak. Riang. Fajar berhenti. "Lo denger?"

Saya mengangguk. Kami berlari kecil sisa perjalanan.


Sore itu kami habiskan dengan hal-hal normal. Atau berusaha normal.

Bu Sarmi memasak β€” lagi. Kali ini sayur asem dan tempe goreng. Bau bawang dan asam jawa memenuhi kos, menutupi sisa-sisa bau lumpur yang masih menempel di hidung saya. Kami makan di ruang tamu, mengelilingi meja kecil β€” dan kardus berisi sandal itu.

Fajar makan dua piring. "Gue sumpah," katanya di antara suapan, "kalau semua ini selesai, gue mau tidur tiga hari. Nggak bangun-bangun. Kaki kering, kasur kering, nggak ada yang nyanyi-nyanyi."

"Amin," kata Sari pelan. Dia makan sedikit, tapi dia makan. Itu sudah kemajuan.

Bu Sarmi menatap kami β€” anak-anak kosnya β€” dengan pandangan yang sulit saya artikan. Bangga? Sedih? Takut? Mungkin semuanya.

Setelah makan, Sari ke kamar mandi. Kami mendengar keran dibuka β€” lalu suara Sari yang tajam: "Bu!"

Kami bergegas. Sari berdiri di depan wastafel, menunjuk keran yang masih mengucur. Airnya hitam. Pekat. Seperti tinta yang dicampur lumpur.

Bu Sarmi mematikan keran dengan cepat. Kami menatap genangan hitam di wastafel itu. Bau lumpur menusuk hidung.

"Jangan dipakai," kata Bu Sarmi, suaranya datar. "Jangan diminum, jangan buat wudu, jangan buat apa-apa. Malam ini kita pakai air galon."

"Bu," bisik Sari, "ini karena kita mau buka sumur, ya? Dia... marah?"

Bu Sarmi tidak menjawab. Tapi tangannya meremas tasbih semakin erat.

Malam itu kami sepakat tidur di ruang tamu β€” berempat. Kasur lipat digelar, bantal disusun. Tidak ada yang mau tidur di kamar masing-masing. Fajar bahkan menyeret TV ke ruang tamu β€” "biar rame," katanya, meski kami semua tahu TV tidak akan dinyalakan.

Kami tidur dengan lampu menyala semua. Kardus berisi sandal itu tetap di atas meja, menghadap kami. Mengawasi kami mengawasi dia.

Saya terbangun tengah malam karena haus. Jam di dinding menunjukkan pukul dua lewat sedikit. Ruang tamu hening β€” Fajar mendengkur pelan, Bu Sarmi tidur miring memeluk tasbih, Sari...

Tempat Sari kosong.

Jantung saya berhenti. Saya bangkit, menahan napas, memindai ruangan. Pintu kamarnya β€” sedikit terbuka. Dari celahnya, keluar suara.

Nyanyian. Lagu anak-anak itu. Dinyanyikan dengan suara perempuan β€” suara Sari β€” tapi dengan cengkok riang anak kecil.

Pelan-pelan saya mendekat. Saya mengintip dari celah pintu.

Sari berdiri di tengah kamarnya, menghadap dinding. Membelakangi saya. Kaus kakinya β€” basah, menetes di lantai. Dia bernyanyi sambil bergoyang pelan, seperti anak kecil yang sedang bermain sendirian.

Dan di lantai kamarnya β€” berjejer rapi, menghadap pintu, basah dan sabar β€” ada sandal jepit kecil.

Sepasang. Lengkap. Kanan dan kiri.

Tangan saya mencengkeram kusen pintu. Aturan itu berteriak di kepala saya: jangan bicara. Jangan menjawab. Jangan memanggil.

Nyanyian berhenti.

Sari menoleh. Perlahan. Sangat perlahan. Wajahnya setengah tertutup rambut. Tapi saya bisa melihat senyumnya β€” senyum kecil, manis, periang.

"Bang..." katanya dengan suara Sari yang ditumpangi sesuatu yang lebih kecil, lebih muda. "Dengerin aku nyanyi?"

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!