Cerita yang Belajar dari yang Selesai
Kos Nomor 13 β’ 1,597 kata
Aku tidak berjalan ke arah kamar 7.
Itu hal pertama yang kulakukan, dan hal itu menyelamatkan kami semua: setelah semua malam di rumah ini, aku sudah belajar bahwa berjalan sendirian ke arah suara yang memanggil di lorong yang gelap adalah hal yang paling tidak boleh dilakukan, bahkan ketika suara itu adalah suara yang sudah selesai, bahkan ketika suara itu terdengar seperti meminta tolong. Jadi aku berdiri di ambang kamarku, dengan lampu menyala, dengan bel di leherku yang dingin seperti baru dicelupkan ke air sumur, dan aku mendengarkan, tanpa melangkah, tanpa menjawab, tanpa membuka pintu kamarku lebih lebar.
Dari ujung lorong, suara perempuan tua itu bercerita, pelan, dengan kalimat yang kukenal dari siang ketika kami mendengarkannya sampai habis di depan kamar 7: tentang anaknya yang sudah tidak ada, tentang rumah yang tetap ia tinggali, tentang cerita yang ia ulang-ulang supaya ia tidak lupa. Dan di belakang suara itu, samar, seperti gema dari dalam air, suara muda itu mengulang, kata demi kata, dengan jeda yang semakin rapi, dengan sabar yang semakin mirip dengan sabar perempuan tua itu. Ia tidak meniru dengan kasar. Ia meniru dengan belajar, dan belajar dengan meniru adalah cara yang paling cepat untuk menjadi sama.
Aku membangunkan orang-orangku, tanpa suara, dengan sentuhan di bahu, satu per satu, dan kami berkumpul di warung, dengan semua lampu menyala, dengan pintu warung yang terbuka, supaya lorong itu tidak tertutup, supaya halaman belakang itu tidak tertutup. Bude Ratna bangun pertama, matanya langsung waspada, bukan panik. Tegar dan Kirana bangun tanpa bertanya, dan mereka tidak berjalan ke arah lorong, melainkan langsung ke warung, karena mereka sudah belajar, dari malam-malam sebelumnya, bahwa suara yang memanggil dari lorong tidak dijawab dengan berjalan, melainkan dengan berkumpul di tempat terang.
Di warung, Bude Ratna berkata dengan suara yang jelas, supaya kami semua mendengar aturannya pada saat yang sama, dari mulut orang yang hidup. "Mas, kamar 7 itu sudah selesai, karena ceritanya sudah habis, dan kami mendengarkannya sampai habis. Tapi selesai bukan berarti hilang, Mas. Selesai berarti ceritanya sudah lengkap, dan cerita yang lengkap adalah cerita yang paling mudah dipelajari, karena ia punya awal, tengah, dan ujung yang jelas. Yang di sumur itu sedang mempelajari cerita yang lengkap, supaya ia bisa punya cerita yang lengkap juga, dan kalau ia berhasil, ia tidak akan lagi bercerita dengan suaranya sendiri. Ia akan bercerita dengan suara perempuan tua itu, dan kami tidak akan bisa membedakan, mana yang sumur, mana yang kamar 7."
Aku mengangguk, dan aku mengatakannya dengan keras, bukan kepada suara itu, melainkan kepada anak-anak, supaya mereka mendengar aturannya dari mulutku sendiri. "Kita tidak menjawab suara dari lorong di malam hari. Kita tidak berjalan ke kamar 7 di malam hari. Kita menunggu sampai siang, sampai matahari di atas kepala kami, sampai kami berempat, di tempat terang, dan baru kami mendengarkan, dan baru kami berbicara."
Kami menunggu sampai pagi di warung, dengan lampu menyala, dengan teh hangat, dengan gambar-gambar Kirana yang ia buat tanpa diminta: sebuah lorong, sebuah pintu yang tertutup, dan di depan pintu itu dua sosok, satu tua, satu muda, yang berdiri berdampingan, bergandengan tangan, seperti guru dan murid, seperti pencerita dan pendengar yang sudah bertukar tempat. Aku menatap gambar itu cukup lama, karena gambar itu persis dengan apa yang kutakutkan: yang muda sedang belajar dari yang tua, dan yang tua, meski sudah selesai, masih bisa mengajar, karena cerita yang lengkap tidak pernah benar-benar diam, ia hanya menunggu pendengar yang baru.
Pagi itu, ketika cahaya sudah cukup untuk membuat halaman belakang terlihat jelas, kami berjalan berempat, pertama ke sumur, dengan matahari di atas kepala kami, dan aku berbicara dengan suara yang jelas, seperti orang yang berbicara kepada seseorang yang ada di bawah, bukan seperti pendengar yang mengintip.
"Kami tahu kamu belajar dari kamar 7 semalam," kataku. "Itu bukan bercerita dengan suaramu sendiri. Itu belajar dari yang sudah selesai, dan belajar dari yang sudah selesai akan membuatmu menjadi salinan, bukan pencerita. Kalau kamu mau bercerita, bercerita dengan suaramu sendiri, di sini, siang hari, di depan kami berempat. Jangan belajar dari kamar 7. Jangan belajar dari dinding. Jangan belajar dari mimpi anak-anak. Belajarlah dari ceritamu sendiri, yang belum habis, yang masih kamu ingat, sepotong demi sepotong."
Hening. Lalu, dari dalam sumur, terdengar suara muda itu, kecil dan jauh, dan kali ini ia tidak meniru siapa pun, dan tidak pula meminta maaf dengan kalimat yang rapi. Ia bercerita dengan suaranya sendiri, dengan jeda yang tidak rapi, dengan kalimat yang kadang berhenti di tengah, dan kalimatnya keluar dengan susah payah, seperti seseorang yang baru saja melepaskan sesuatu yang berat dari tangannya.
"Aku tidak bermaksud menjadi salinan," katanya. "Aku hanya takut, kalau ceritaku belum habis, dan aku tidak tahu ujungnya, maka ceritaku tidak akan pernah lengkap, dan cerita yang tidak lengkap tidak akan diingat oleh siapa pun. Perempuan tua itu lengkap, karena ia punya ujung. Aku ingin punya ujung juga, supaya aku bisa selesai, supaya aku bisa pergi, supaya aku tidak lagi bercerita kepada air."
Bude Ratna menjawab, dengan suara yang rendah, biasa, dan penuh dengan hal-hal yang bisa dilihat. "Nak, ujung bukan sesuatu yang bisa dipinjam dari cerita orang lain. Ujung yang dipinjam akan membuatmu menjadi salinan, dan salinan tidak akan pernah selesai, karena ujungnya bukan milikmu. Ujungmu harus datang dari ceritamu sendiri, dari hal yang belum kamu ceritakan, dari malam terakhir itu, dari seseorang yang duduk di sampingmu di tepi sumur, yang suaranya seperti air yang jatuh. Ceritakan itu, bukan cerita perempuan tua itu, dan kami akan mendengarkan, sampai kamu menemukan ujungmu sendiri."
Hening yang panjang. Lalu, pelan, dari dalam sumur, terdengar suara muda itu lagi, dan kali ini ia bercerita dengan kalimat yang belum pernah kami dengar, kalimat yang bukan kalimatku, bukan kalimat perempuan tua itu, bukan kalimat siapa pun yang kami kenal. Ia bercerita tentang malam terakhir itu, tentang seseorang yang duduk di sampingnya di tepi sumur, yang tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama, yang hanya mendengarkan, dan ketika ia selesai bercerita, seseorang itu berkata, dengan suara seperti air yang jatuh, "Ceritakan kepadaku, dan aku akan mengingatmu, dan selama aku mengingatmu, kamu tidak akan pernah hilang, tapi kamu juga tidak akan pernah pergi."
Aku tidak menjawab. Kami berempat saling pandang, karena kalimat itu menjelaskan semuanya, dengan cara yang paling menakutkan: anak muda itu tidak bercerita kepada air karena air tidak menilai. Ia bercerita kepada seseorang yang menjanjikan ingatan tanpa kepergian, dan janji seperti itu adalah jebakan yang paling halus, karena ia terdengar seperti hadiah, padahal ia adalah ikatan. Seseorang yang mengingatmu selamanya, tanpa membiarkanmu pergi, adalah tempat yang tidak akan pernah melepaskanmu, dan tempat seperti itu, di rumah ini, bukan orang. Tempat seperti itu adalah sumur itu sendiri, yang sudah belajar menjadi pendengar, jauh sebelum anak muda itu datang.
"Kami mendengarkan," kataku, dengan suara yang jelas, supaya didengar oleh siapa pun yang sedang mendengarkan dari dalam air. "Dan kami akan kembali besok siang, berempat, di tempat terang, dan kami akan mendengarkan lagi, selama kamu bercerita dengan suaramu sendiri. Tapi mulai sekarang, ada satu aturan baru, yang harus kamu pegang, sama seperti kami memegang aturan kami: jangan belajar dari kamar 7, jangan belajar dari mimpi, jangan belajar dari pendengarmu. Bercerita dengan suaramu sendiri, atau jangan bercerita sama sekali."
Dari dalam sumur, hening. Lalu, pelan, suara muda itu berkata, dengan suaranya sendiri, kecil dan jauh, "Baik. Aku akan bercerita dengan suaraku sendiri. Tapi besok, aku akan bercerita tentang seseorang itu, tentang yang suaranya seperti air yang jatuh, dan aku tidak tahu apakah aku bisa menceritakannya sampai habis, karena setiap kali aku mencoba mengingat wajahnya, aku hanya melihat air, dan setiap kali aku mencoba mengingat suaranya, aku hanya mendengar diriku sendiri."
Kami kembali ke warung tanpa menoleh ke belakang, dan sore itu aku menulis di buku catatanku, dengan tulisan yang bisa dibaca siapa pun: yang di sumur itu sudah belajar dari kamar 7, dan kami sudah menghadapinya, dan ia sudah berjanji bercerita dengan suaranya sendiri, tapi ada seseorang lain, seseorang yang suaranya seperti air yang jatuh, yang menjanjikan ingatan tanpa kepergian, dan seseorang itu mungkin bukan orang, melainkan sumur itu sendiri, yang sudah belajar menjadi pendengar sebelum anak muda itu datang, dan kalau itu benar, maka yang kami dengarkan selama ini bukan hanya anak muda itu, melainkan juga tempat yang mengikatnya, yang bercerita lewat mulutnya.
Malam itu, aku tidur di kamarku dengan lampu menyala, dan aku memeriksa kain penutup cermin sebelum tidur. Kain itu diam. Bel di leherku diam, tidak dingin, tidak berat. Lorong di luar kamarku sunyi dengan cara yang biasa, dan untuk sesaat, aku mengira malam itu akan lewat dengan tenang, seperti malam-malam biasa di kos yang sudah lama tidak biasa.
Aku tertidur dengan cepat, dan tidurku dalam, tanpa mimpi yang bisa kuingat, dan aku bangun menjelang subuh karena satu bunyi yang sangat kecil, yang tidak berasal dari lorong, tidak berasal dari kamar 7, tidak berasal dari sumur, melainkan dari tempat yang paling dekat dengan tempatku tidur, dari dalam kamarku sendiri, dari arah meja, tempat buku catatanku tergeletak, terbuka, dengan halaman yang baru saja kutulis sore tadi.
Bunyi itu adalah suara air yang jatuh, tetes demi tetes, pelan, rapi, seperti seseorang yang sedang menulis dengan air, bukan dengan tinta, dan ketika aku menyalakan lampu, aku melihatnya: di atas halaman buku catatanku, di bawah tulisan yang kutulis sore tadi, ada genangan air yang tipis, jernih, dan di permukaan genangan itu, samar, seperti bayangan di air yang tenang, ada pantulan wajah yang bukan wajahku, wajah seorang anak muda, yang menatap ke atas, dari dalam air, dengan mata yang terbuka, dan dengan bibir yang bergerak, pelan, mengulang kalimat yang sama, kalimat yang baru saja kami dengar siang tadi, dari dalam sumur.
"Ceritakan kepadaku, dan aku akan mengingatmu."