β€Ή
85. Cerita untuk Pendengar yang Hidup

Cerita untuk Pendengar yang Hidup

Kos Nomor 13 β€’ 1,303 kata

Ilustrasi Cerita untuk Pendengar yang Hidup

Aku berlari, dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di kos ini, aku berlari tanpa memikirkan bel di leherku, tanpa memikirkan cermin, tanpa memikirkan aturan apa pun yang baru saja dijelaskan Bude Ratna. Yang kupikirkan hanya satu: Tegar tidak boleh menjawab. Kalau aturan yang dikatakan Bude Ratna itu benar, maka jawaban adalah pintu, dan pintu yang terbuka dari dalam kamar 7 bukan pintu yang bisa ditutup lagi dengan kunci biasa.

Lorong itu terang, lampu-lampunya menyala semua, dan justru karena itu pemandangan di ujung lorong terasa semakin salah. Tegar berdiri di depan pintu kamar 7, tidak menempelkan telinga ke pintu seperti aku semalam, melainkan berdiri tegak, menghadap pintu, seperti anak yang sedang mendengarkan guru di kelas. Bahunya rileks. Wajahnya tenang. Dan ketenangan itu yang paling menakutkan, karena anak yang ketakutan masih bisa ditarik pergi, sedangkan anak yang tenang sudah setengah percaya pada apa yang ia dengar.

"Tegar," kataku, menahan suaraku agar tetap rendah. "Mundur. Sekarang."

Ia tidak menoleh. Bibirnya bergerak, pelan, seperti mengulang sesuatu yang baru saja ia dengar. Aku mendekat, dan baru pada jarak tiga langkah aku mendengar apa yang ia ulang: "Sore hujan itu. Dapur. Meja. Petir."

Cerita itu. Ceritaku. Diucapkan oleh mulut anak yang seharusnya menjadi pendengarnya, bukan penceritanya. Rumah ini tidak lagi puas menyalin ceritaku lewat suaraku sendiri. Ia mulai menyalinnya lewat mulut orang lain.

Aku tidak menarik Tegar dengan paksa. Anak yang sedang setengah percaya akan melawan tarikan, dan perlawanan akan membuat suara di dalam kamar semakin senang, karena perlawanan adalah perhatian. Yang kulakukan adalah berdiri di sampingnya, tepat di antara dia dan pintu, lalu berkata dengan suara yang jelas dan biasa, suara yang kupakai siang tadi di warung, "Tegar, ceritanya sudah selesai. Siang tadi aku yang bercerita, dan kamu yang mendengarkan. Yang di dalam itu bukan aku. Aku di sini."

Tegar berkedip. Sekali. Dua kali. Seperti orang yang bangun dari tidur yang tidak dalam. Ia menoleh kepadaku, dan matanya kembali menjadi mata Tegar yang kukenal, mata anak yang serius dan sedikit keras kepala. "Mas," katanya, "tadi suaranya bilang, kalau aku yang cerita, pintunya kebuka dari dalam, dan Mas bisa masuk lihat kamarnya."

"Tidak ada yang perlu dilihat di dalam," kataku. "Dan tidak ada yang perlu kamu ceritakan ke pintu. Cerita itu milikmu sekarang karena kamu mendengarkannya dengan senang. Hadiah tidak boleh ditagih lagi. Ingat kata Bude?"

Ia mengangguk, pelan, lalu membiarkan aku menggandeng tangannya menjauhi pintu. Di belakang kami, dari celah kamar 7, tidak ada suara yang mengejar. Hanya hening yang terasa kecewa, seperti pendengar yang ditinggalkan di tengah cerita.

Aku membawa Tegar dan Kirana ke warung, dan Bude Ratna menyambut mereka tanpa bertanya apa-apa, hanya meletakkan dua gelas es teh di meja dan duduk di dekat mereka sampai napas mereka kembali normal. Melihat mereka berdua duduk di tempat yang terang, dengan benda-benda biasa di sekeliling mereka, aku menyadari bahwa ketakutan terbesar rumah ini bukanlah kegelapan atau suara, melainkan kesendirian. Rumah ini menyerang ketika seseorang sendirian: aku di depan pintu, Tegar di depan pintu, perempuan tua itu di kamarnya selama puluhan tahun. Selama ada pendengar yang hidup di samping kita, rumah ini hanya bisa meniru, bukan memanggil.

Malam itu aku mengambil keputusan yang sudah kutimbang sejak siang, sejak Bude Ratna menjelaskan bahwa rumah ini belajar bercerita karena terlalu lama didongengi oleh kamar yang kosong. Kalau akar masalahnya adalah cerita yang diberikan kepada tempat yang kosong, maka lawannya bukan diam. Lawannya adalah cerita yang diberikan kepada pendengar yang hidup, di tempat yang terang, dengan saksi yang cukup banyak sehingga rumah ini tidak bisa lagi mengaku-ngaku sebagai pendengarnya.

Aku tidak pergi ke kamar 7 sendirian. Aku mengajak Bude Ratna, Tegar, dan Kirana. Kami berdiri di lorong, di depan pintu kamar 7, dengan lampu lorong menyala semua dan pintu kamarku terbuka di belakang kami, sehingga lorong itu tidak terasa seperti tempat tertutup. Bude Ratna membawa senter, bukan karena kami butuh cahaya, melainkan karena senter adalah benda yang jelas milik orang hidup, yang bisa dinyalakan dan dimatikan oleh tangan.

"Aku akan bercerita," kataku kepada mereka bertiga, dengan suara yang cukup keras untuk didengar oleh siapa pun yang ada di balik pintu, "bukan kepada kamar. Kepada kalian. Kalian yang mendengarkan. Kalau ada yang ikut mendengarkan dari dalam, ia hanya boleh mendengarkan, bukan menyalin, bukan mengubah, bukan memanggil."

Bude Ratna mengangguk. Tegar berdiri di sisi kiriku, Kirana di sisi kananku. Sebelum aku mulai, Bude Ratna memegang lenganku sebentar. "Mas," bisiknya, "kalau di tengah cerita Mas mendengar suara Mas sendiri dari dalam, jangan berhenti. Berhenti itu memberi celah. Teruskan sampai selesai, dan biarkan anak-anak yang mengucapkan kata selesai itu bersama Mas. Cerita yang diselesaikan bersama tidak bisa disalin sendirian."

Aku mengangguk, lalu mulai bercerita, bukan cerita sore hujan itu, melainkan cerita yang baru, cerita yang belum pernah didengar rumah ini: cerita tentang siang tadi, tentang warung, tentang es teh yang diletakkan tanpa diminta, tentang anak yang berkata bahwa kalau kuncinya ada padaku, maka yang membuka pintu juga harus aku. Aku menceritakan ujung yang benar, dengan sengaja, kata demi kata: anak itu tidak menjawab panggilan dari tempat yang tidak kelihatan orangnya. Anak itu pulang ke warung, duduk di meja yang terang, dan ceritanya selesai di sana, karena didengarkan sampai habis oleh orang yang hidup.

Di tengah cerita, tepat pada kalimat tentang anak yang berjalan pulang, dari dalam kamar 7 terdengar suara yang sangat kukenal: suaraku sendiri, mengulang kalimatku, tetapi dengan ujung yang dibelokkan. "Anak itu berhenti," kata suara itu, pelan, "karena ada yang memanggilnya dari balik pintu."

Aku tidak berhenti. Aku mengangkat suaraku sedikit, menatap Tegar dan Kirana bergantian, dan berkata, "Tidak. Anak itu tidak berhenti. Anak itu terus berjalan, karena ia tahu suara yang memanggil dari balik pintu bukan suara orang yang ia kenal. Ia berjalan sampai ke warung, dan di warung ada orang yang menunggu, yang bisa ia lihat wajahnya."

Tegar, dengan suara yang tegas meski kecil, berkata, "Terus berjalan." Kirana mengulang, "Sampai ke warung." Dan salinan dari dalam kamar itu diam, seperti pencerita yang kehilangan pendengarnya karena pendengar yang sebenarnya sudah memilih versi yang benar. Bude Ratna mengangguk pelan, dan aku mengerti apa yang ia maksud siang tadi: cerita yang diselesaikan bersama tidak bisa disalin sendirian.

Selama aku bercerita, bel di leherku diam. Tidak dingin, tidak hangat, hanya diam, seperti sedang mendengarkan juga. Dari dalam kamar 7 tidak ada suara yang menyela, tidak ada salinan yang mencoba mengulang kalimatku. Untuk sesaat, lorong itu terasa seperti lorong biasa, dan aku hampir percaya bahwa caraku berhasil.

Lalu aku menyelesaikan cerita itu. "Dan anak itu pulang," kataku. "Selesai."

Hening. Satu detik. Dua detik. Lalu, dari dalam kamar 7, sesuatu menjawab.

Bukan suaraku. Bukan suara Bude Ratna, bukan suara anak-anak. Suara itu kecil, jauh, dan sangat tua, seperti suara yang sudah lama tidak dipakai untuk berbicara kepada orang, melainkan hanya untuk bercerita kepada dinding. Suara itu berkata, dengan pelan dan jelas, "Ceritanya sudah diterima."

Tegar menggenggam tanganku lebih erat. Kirana menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bude Ratna mengangkat senternya, bukan ke arah pintu, melainkan ke arahku, seperti ingin memastikan aku masih di tempatku.

Dan suara itu melanjutkan, masih dengan nada yang sama, nada seseorang yang baru saja belajar mendengarkan untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun hanya bercerita kepada kamar yang kosong, "Sekarang giliranmu menjawab."

Gagang pintu kamar 7 bergerak. Pelan, sekali, seperti tangan yang mencoba dari dalam apakah pintu itu masih terkunci atau sudah tidak perlu dikunci lagi. Bel di leherku, yang sejak tadi diam, tiba-tiba berdenting. Sekali. Jernih. Bukan sebagai tanda terima, bukan sebagai potongan. Denting itu terdengar seperti pertanyaan. Dan dari dalam kamar, suara kecil yang tua itu mulai memanggilku, bukan dengan suara yang meniru, melainkan dengan suaranya sendiri, mengucapkan suku kata pertama dari nama yang tidak boleh selesai itu, menunggu, dengan sabar yang tidak dimiliki manusia, apakah kali ini aku akan menjawab.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!